The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 26


__ADS_3

Kediaman Caesaar, Oklahoma City


Helikopter berwarna hitam dengan tulisan 576Xaphier sudah siap mengudara, menunggu kedatangan mereka di lapangan, tepatnya di sebelah taman, tempat helikopter saling berbaris rapi di helipad masing-masing. Waktu menunjukkan pukul 00.45 malam.


Malam itu Dazon, Daneil dan Jennifer sudah siap untuk berangkat, pengawal yang bernama Reil, telah mengalihkan perhatian Pengawal-pengawal yang lain, agar ketiganya dapat leluasa untuk keluar dari mansion tanpa seorangpun melihat kepergian mereka. Tepat pukul 1 malam, para pengawal akan beristirahat sekitar 15 menit, dan saat itu juga ketiganya berjalan perlahan-lahan dengan sembunyi-sembunyi ke arah taman.


"Aku tidak akan bertanggung jawab jika nanti kita bertiga akan ketahuan." Ucap Jennifer sambil berbisik, "Dan jika kakekmu membawamu ke Inggris, kau harus menerimanya Daz." Ucapnya lagi sambil mendengus.


"Iya, iya cerewet, cepat jalan, Sebentar lagi kita akan tiba."


Reil sudah menunggu di sana, ketika melihat ketiganya telah mendekati helikopter, reilpun dengan sigap masuk ke dalam helikopter dan memberi isyarat kepada sang pilot agar helikopter itu segera berangkat.


Baling-baling telah berputar, mereka semua telah naik ke atas dan mengenakan helisafety demi keselamatan, helikopter telah mengudara, Dazon tiba-tiba teralihkan ketika melihat seseorang di balkon sedang menatap helikopter mereka, dia menangkap sosok gadis itu yang memandang langsung ke arahnya, helikopter itu mendekati balkon tempat Hanna sedang makan, mata mereka saling bertemu, tanpa sadar, Dazon menaikkan jari telunjuknya ke arah mulutnya kepada hanna, menyuruhnya untuk tutup mulut.


Hanna masih tercengang dengan pemandangan langsung helikopter itu, seumur-umur dia tidak pernah lihat secara langsung helikopter berwarna hitam dalam jarak begitu dekat seperti ini, apalagi tengah mengudara dan akan segera terbang menjauh.


Mata hanna masih tertuju kepada helikopter yang telah pergi menjauh. "Dia menyuruhku untuk tutup mulut? Kenapa? Apa tuan muda itu akan melakukan sesuatu yang terlarang?" Gumam Hanna.


~


Perjalanan mereka cukup menyita waktu, ditengah malam, mereka bertiga berangkat ke desa Turtle The Reaves, pemandangan spektakuler terlihat dari helikopter yang sudah terbang tinggi.


Jennifer cepat-cepat merogoh tas dan segera mengeluarkan ponselnya, dia ingin mengambil gambar pemandangan kota yang berkelap kelip dari atas helikopter dan mengambil gambar bulan purnama yang terbentuk sempurna.


Dazon dan Daneil menatap Jennifer, mereka berdua menggeleng tidak percaya. "Kau yakin hasil jepretanmu akan dapat terlihat? Hasil fotomu itu akan gelap gulita Jenn, tidak ada gambar yang bisa terfoto dengan benar dari atas sini." Ucap Dazon.


"Ck, jangan berisik, Sebentar lagi kau akan lihat hasil foto yang kuambil, kau pasti akan...


"Heran karena tidak ada satupun gambar yang bisa di lihat." Sambung Dazon.


Jennifer hanya mengerutkan hidungnya, dan tidak mau menanggapi ejekan Dazon, hanya Daneil yang selalu menyetujui setiap tindakan Jenni, Hal itu tentu saja tidak luput dari mata tajam Dazon, ya, dia tahu terjadi sesuatu di antara mereka berdua.


~


Para pengawal berlarian di sekitar mansion, mereka berbaris rapat seperti sedang menyambut seseorang, gerbang di buka selebar-lebarnya malam itu, rupanya Tuan Caesaar baru saja datang dari airport di Milan, dia langsung menuju ke Oklahoma.


Tiga mobil mewah berderet dan berhenti di depan taman Mansion. Thomas keluar dari mobil, dia kemudian membukakan pintu mobil untuk tuan Caesaar.


"Tidak usah siapkan apa-apa, aku akan langsung ke Ruanganku, kalian beristirahatlah." Perintahnya.


"Baik tuan."


Mereka semua menunduk ketika dia berjalan, kepala pelayan telah berdiri di ambang pintu dan membungkuk menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Bagaimana kabar anda tuan, apakah anda ingin menginginkan sesuatu?" Tanyanya.


"Tidak Welly, terima kasih Oh ya, bagaimana keadaan mansion." Tanyanya, dia sedikit berbalik menatap kepala pelayan itu.


"Semuanya baik-baik saja tuan, tidak ada masalah apapun."


"Hem, dimana Dazon?" Tanyanya lagi.


"Tuan dazon ada di kamarnya tuan, dia sudah tidur dari tadi, setelah mengerjakan tugas-tugas perusahaan yang diberikan oleh tuan Xaphier."


"Oh ya, kalau begitu kau bisa istirahat."


"Baik tuan."


Tuan Caesaar langsung menuju ke ruangannya untuk beristirahat, apalagi waktu sudah menunjukkan tepat pukul 2 malam.


~


Helikopter itu melakukan landing di belakang rumah Ax yang luas di dekat bukit, di sana sangat cocok untuk melakukan pendaratan, karena lapangan yang luas dan rerumputan yang tidak terlalu tinggi.


"Hirup udaranya." Ucap Dazon Setelah keluar dari helikopter dan menginjakkan pertama kali kakinya di rerumputan yang lebat.


"Benar-benar desa yang sejuk." Ucap Jennifer antusias. Mereka berjalan dilapangan yang gelap gulita dan hanya penerangan dari senter Riel yang berjalan di depan mereka bertiga, akhirnya mereka tiba di pintu belakang Ax, tetapi mereka menuju ke pintu depan dan menatap dengan heran rumah kecil yang terbuat dari kayu, cerobong asap mencuat di atas sana, mengeluarkan asap yang menghangatkan rumah mungil Ax dan Fairley. Hanya pagarnya saja yang berbeda, pagar itu terbuat dari besi dan terlihat sekali kalau pagar itu baru saja di pasang.


"Ukh, kenapa Ax tidak membuka pintu rumahnya, aku kedinginan." Ucap Daneil.


Dazon mengambil ponselnya dari saku jaketnya, dia menelepon Ax, tetapi sepertinya Ax tidurnya sangat pulas sehingga pintu itu tidak bergeming sama sekali.


"Gimana kalau di dobrak saja?" Ucap Daneil, sambil memeluk dirinya dari dinginnya malam.


"Kau bercanda? Ax akan mengusir kita, Sebelum dia membiarkan kita masuk ke dalam rumahnya." Ucap Jennifer.


Tiba-tiba lampu rumah Ax terlihat menyala, mereka bertiga bernapas lega. "Akhirnya dia bangun juga, tanganku sudah mati rasa, dingin sekali di desa ini." Ucap Daneil.


Pintu terbuka, Ax berdiri di ambang pintu sambil menatap heran pengawal yang tidak dikenalnya, lalu matanya tertuju kepada tiga orang tamu yang tidak diundang itu sedang melambai kepadanya.


~


"Apa?? Kalian pergi tanpa sepengetahuan kakek?" Tanya Ax heran.


"Kau berisik sekali Ax, kau tidak senang dikunjungi oleh kami, sangat sulit untuk bersembunyi dan mengendap-endap pergi dari mansion tanpa pengawalan ketat dari Riel." Ucap Dazon memegang segelas coklat hangat buatan Fairley dan Jennifer.


"Dazon benar, Haa akhirnya suhu tubuhku normal kembali, kenapa kau pilih desa sedingin ini Ax, aku sampai menggigil." Ucap Daneil menghirup wangi coklat hangat dan meminumnya sedikit demi sedikit.

__ADS_1


"Kau belum merasakan siang hari di desa ini, cuacanya sangat panas, aku sendiri heran, tapi bukan itu intinya," ucap Ax kembali ke topik pembicaraan.


"Daz, kau tahu apa kata kakek, jika dia mendapatimu lagi? ini yang sudah ketiga kalinya kau melanggar aturannya, Dia akan langsung membawamu ke Inggris, dan kakek tidak bercanda, dia selalu memegang ucapannya." Ucap Ax memperingatinya.


"Tenang saja, kakek masih berada di Milan, lusa baru akan pulang, jadi aku bisa bersantai Sebentar." Dazon tersenyum tenang. "Lagi pula liburan sebentar lagi tiba, aku bosan jika hari-hariku hanya di penuhi pekerjaan dan Perusahaan." Ucapnya.


"Jadi, ngomong-ngomong kalian kesini membawa apa saja? Kalian datang tidak dengan tangan kosong bukan?" Tanya Ax, dia memperhatikan mereka semua, tidak ada satupun barang yang dibawa oleh mereka bertiga.


"Tenanglah, besok pagi Riel akan membawakan apa yang kami bawa di helikopter, kau pasti akan tercengang, tunggu saja." Ucapnya sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Mereka semua sangat lelah dan terkantuk-kantuk. Ax menyiapkan selimut, lalu membentangkannya di ruang tamu dan mereka bertiga akan tidur di sana, sementara itu, Fairley bersama Jennifer tidur di kamar, Ax tidak membiarkan Riel, pengawal Dazon kembali ke helikopter, tetapi Riel memaksa akan kembali ke helikopter dan tidur di sana.


Karena kelelahan, mereka semua berbaring dalam satu tempat, meskipun mereka tidur bersempit-sempitan, mereka terlihat senang dan nampak puas. Ketiganya sudah terlelap dan terbuai dengan mimpi mereka, tanpa mengetahui sesuatu yang mengerikan telah menunggu dazon, Daneil dan Jennifer.


~


Pagi sudah menyambut dengan hangat, mereka bertiga masih tidur beralaskan selimut, sementara Fairley menyiapkan sarapan untuk mereka semua, dia bangun pagi-pagi sekali, dia tidak membangunkan Jennifer karena dia tidur sangat pulas.


Waktu sudah menunjukkan pukul 08.13, Dazon membuka kedua matanya dan menatap di sekelilingnya, dia menguap dan mengucek matanya.


"Huamm, jam berapa ini, aku masih ngantuk." ucapnya.


"Neil, hei Daneil bangun, sudah pagi, kau juga Ax, bangunlah dan siapkan untuk kami sarapan pagi." ucap Dazon masih ingin berlama-lama dan ingin tidur sejenak, dia mencari-cari ponselnya dan mengambilnya dari saku jaketnya. Dazon kemudian menatap beberapa panggilan telepon untuknya. Telepon dari Ayahnya dan ibunya sekitar 10 kali, dari thomas dan yang paling mengerikan pesan yang dikirimkan Thomas untuknya.


"Tuan dazon, segeralah kembali ke mansion, tuan Caesaar sudah kembali ke Oklahoma semalam, sebaiknya anda berada di meja makan tepat waktu sebelum tuan Caesaar mencari anda pagi ini."


Pesan yang dikirimkan Thomas membuat mata Dazon terbuka dengan lebar, dia tidak ngantuk lagi seakan seember es disiram di atas kepalanya, sehingga dia betul-betul sadar dari rasa kantuknya.


"Sial, Neil, Jenni kita harus kembali, sekarang !" Ucap Dazon berdiri dan menggoyangkan tubuh Neil, dia segera mengenakan kembali jaketnya.


"Ada apa Daz, apa kau bermimpi buruk?" ucap Neil masih sulit untuk membuka kedua matanya.


"Kakek sudah berada di mansion, kita harus segera kembali." Ucapnya.


"Apa? kau bercanda Daz !"


Daniel begitu terkejut, matanya yang tadinya setengah tertutup kini terbuka lebar, Daneil lalu mencari jaketnya dan mencari Jennifer, dan segera membangunkannya.


Mereka bertiga telah bersiap-siap untuk kembali. "Apa sebaiknya kalian sarapan dulu sebelum kembali?" tanyanya.


"Terima kasih tawarannya Fairley, tapi kami harus segera berangkat, Sebelum kakek menyadari aku tidak berada di mansion dan kita bertiga dalam masalah." Ucap Dazon.


"Biar kukoreksi, lebih tepatnya kau yang dalam masalah." ucap Axton menepuk punggungnya dengan senyum prihatin.


Mereka sudah berada di lapangan dan siap kembali ke mansion, mereka sudah naik ke atas helikopter. "Kabari aku Daz, jika kau akan dikirim ke Inggris." ucap Ax kepadanya sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


__ADS_2