
Hanna menghentak kakinya di atas karpet beludru berwarna hitam, dia berjalan mondar mandir sambil sesekali menendang pintu kamar itu dengan keras.
Apa yang pria itu lakukan? Apa dia gila, mengurungnya di sini dan dia pergi begitu saja, Hanna memikirkan kembali tentang pembicaraan yang sempat di dengarnya ketika Dazon menelepon pria bernama Daneil.
"Aku mendengar ucapan pria itu, dia bilang tangannya di penuhi darah seseorang." Gumam hanna, apa dia terlibat dalam suatu pembunuhan, tuan muda itu? Hanna tidak habis pikir, mengapa dia mengurungnya di sini. Pemikiran bahwa pria itu menyukainya membuat Hanna berpikir ulang mengenai semuanya.
"Apa dari awal dia sudah mengetahui siapa aku? Dia mendatangi flatku langsung dan menawariku pekerjaan, tadi dia bilang dia ingin aku menjadi miliknya, apa..apa dia menyukaiku?" Ucapnya dengan suara besar dan terkejut.
"Hell, buang jauh-jauh pikiran itu ke dasar tanah Hanna, mana mungkin dia menyukai gadis penjual kopi sepertimu, bagi tuan muda seperti dia, hanya dengan sekali menjentikkan jarinya, dia bisa mendapatkan wanita manapun, mana mungkin dia meyukaiku...." Ucapnya, tetapi dia sendiri terlihat ragu dengan segala perkataannya.
"Ck entahlah, aku tidak mau memikirkannya, yang terpenting aku harus keluar dari tempat ini." Ucapnya.
Terdengar suara dari pintu luar yang membuka, meskipun kedengarannya samar, tapi Hanna yakin, ada seseorang yang membuka pintu itu.
Hanna kemudian memukul pintu kamar berwarna putih itu. "Tolong aku, siapa saja yang ada di luar, tolong aku, kau mendengarku?" Teriak Hanna dari balik pintu, sambil menggedor-gedor pintu itu dengan keras.
Tidak ada suara balasan apapun dari seseorang yang ada di balik pintu, tetapi Hanna sangat yakin ada orang di sana. Langkah kaki yang teredam menandakan bahwa seseorang ada di sana, langkahnya terdengar berat. Sebuah bayangan berhenti tepat di depan pintu kamar dimana Hanna di kurung oleh Dazon.
Hanna tiba-tiba mundur beberapa langkah, garukan keras terdengar sepanjang pintu, dan satu hal lagi, wangi menyengat membuat Hanna menutup hidungnya. Engsel pintu itu bergoyang-goyang. Seakan ingin membuka pintu dengan paksa.
"Siapa di sana? Siapa kau? Kenapa kau bisa ada di tempat ini?" Ucap Hanna dengan suara gemetaran.
"Hehehe, sayang sekali kau tidak menarik, seperti halnya warna rambutmu."
Hanna kembali mundur beberapa langkah. Engsel pintu itu semakin bergoyang dengan keras, Hanna menatap kamar itu mencari apa saja yang bisa dia jadikan senjata untuk melindungi dirinya.
Tiba-tiba gerakan engsel pintu itu berhenti bergerak, hening terasa, tidak ada lagi suara seseorang di balik pintu. Hanna berjalan perlahan mendekati pintu, dia kemudian menunduk dan mensejajarkan dirinya dengan lantai kamar agar dia bisa menatap telapak kaki dari balik pintu itu, "orang itu sudah pergi," gumam Hanna mengambil napas lega.
Mengapa pria itu bisa ada di penthouse ini, garukan yang seringkali di dengarnya di samping kamarnya sama persis dengan garukan yang terdengar tadi, apa pria itu ada hubungannya dengan Dazon? Hanna masih berdiri mematung di depan pintu, berpikir keras dan dia tidak lagi membaui wangi yang menyengat itu.
Pukul 09.34 pagi hari.
Dazon segera kembali ke lantai 5 untuk menemui Hanna yang dia kunci di kamarnya, penthouse Dazon layaknya seperti sebuah bangunan yang terlihat seperti sebuah hotel, terdiri dari 12 tingkat, dan masing-masing memiliki fungsi tertentu untuk Dazon. Di lantai 5 merupakan ruang pribadi Dazon, dan di sana Hanna di kurung, langsung di kamar tempat tidur pribadi Dazon.
Dia membuka pintu kamarnya perlahan dan membukanya, dia mencari Hanna, matanya tertuju pada Hannah yang sedang berdiri di depan jendela kamar dan menatap langsung pemandangan dari bawah.
Hanna kemudian berbalik, menatap marah kepada Dazon. "Kemarilah, kita sarapan." Ucap Dazon.
Hanna menatapnya dengan pandangan tajam, marah dan benci, semua menjadi satu. "Tidak, aku mau pulang, aku tidak mau berada di tempat ini." Ucap Hanna.
Dazon melipat kedua tangannya, dia kemudian berjalan perlahan ke tempat Hanna berdiri. "Kau sangat pembangkang Hanna, tidak ada yang bisa membuatmu meloloskan diri dari sini tanpa seizinku, kau mengerti?" Dia mengangkat dagu Hanna agar menatapnya langsung kepadanya.
"Aku sudah menawarkan kepadamu dengan cara yang paling halus dan lembut, jadilah wanitaku, apa kau mengerti jika aku sudah memutuskan untuk memilihmu, itu berarti kau tidak bisa kemana-mana Hanna, kau tidak memiliki kebebasan lagi seperti dirimu sebelumnya." Ucap Dazon perlahan dengan pandangan mata berbahaya, lingkaran hitam terpeta di bawah matanya, seperti seseorang yang tidak tidur semalaman, meskipun begitu wajah letih dan ngantuk tidak terpancar dari wajah pria ini.
Mata Hanna melebar menatap dazon dengan ucapan yang di lontarkannya. "Kenapa aku, kenapa kau memilihku, aku tidak mau menjadi wanitamu, aku ingin kembali ke rumahku." Ucap Hanna dengan pandangan menantang tanpa ragu membuat penolakan di hadapan Dazon.
Wajahnya kini menggelap, aura yang di pancarkan begitu nyata membuat Hanna mengambil langkah mundur, dia tahu bahwa dia sudah mengucapkan kata-kata yang membuat pria ini menjadi marah.
Tarikan keras Dazon membuat tubuh Hanna dipaksa maju beberapa langkah hingga menabrak tubuh kokoh Dazon yang berdiri di hadapannya. Dia menatap tajam ke arah Hanna.
"Kau mau apa?" Tanyanya dengan suara gemetar.
"Penolakanmu membuat pendapatmu tidak berarti di hadapanku, jika aku sudah memutuskan, tidak akan ada yang bisa membantahnya, kau sama sekali tidak mengerti posisimu di sini Hanna, tidak ada negosiasi yang bisa kau lakukan denganku, hanya satu hal saja yang bisa kau lakukan yaitu kau harus patuh terhadap semua ucapanku." Ucap Dazon dengan pandangan mengerikan kepada Hanna.
~
Para pengawal tengah berkumpul di ruang yang memang di sediakan untuk mereka, tempat itu berada di lantai satu, layaknya sebuah ruangan besar seperti Auditorium yang luas, Thomas terkadang mengumpulkan mereka semua untuk memberitahukan tentang tugas-tugas yang harus para pengawal kerjakan.
Sekitar 40 pengawal tengah berbaris di ruangan itu. Thomas berjalan mengitari mereka semua, menatap dengan pandangan tajam menyelidik setiap pengawal yang berbaris.
Dia menatap Paulo dan Riel yang berdiri di masing-masing sudut, sama halnya dengan dirinya memperhatikan para pengawal-pengawal itu. Telepon berdering, Thomas kemudian mengangkatnya.
"Tuan dazon." Ucapnya.
"Thomas, mengenai kejadian kemarin, jangan beritahukan kepada siapapun tentang Daneil dan usahakan pengawal yang kau bawa kemarin untuk menutup mulut mereka, jangan membicarakan kejadian ini kepada siapapun." Perintahnya.
"Baik tuan." Jawab Thomas, Dia menyimpan kembali ponselnya, lalu mengambil keputusan bahwa tuan Dazon, seperti halnya dirinya, mencurigai salah satu orang di dalam ruangan ini yang terlibat dalam kasus pembunuhan berantai itu. Sejak awal Thomas mencurigai seseorang, tetapi tidak cukup bukti untuk menuduhnya.
Dia berdiri di sana, dengan tenang, memantau dengan cermatnya, apakah dia? Perawakannya sangat cocok dengan pria yang selalu berjalan di tengah malam buta dan mencari mangsa itu, Thomas menyilangkan tangannya, Thomas kemudian berjalan perlahan mendekatinya, memandangnya secermat mungkin, tetapi tidak ada yang aneh dari pria ini.
Dia bergabung sebagai pengawal keluarga Caesar sekitar 7 tahun yang lalu, sama sekali tidak ada yang mencurigakan dari dia, tetapi instingku tidak pernah meleset, aku yakin dialah orangnya, aku tinggal mengawasi segala gerak geriknya, dan jika dia melakukan sesuatu yang mencurigakan, aku akan segera meringkusnya.
~
Napas Hanna naik turun, dia duduk di depan Dazon, yang sarapan tanpa sedikitpun terganggu dengan sikap perlawanan Hanna.
"Kau penculik, yang kau lakukan ini sudah bisa menjebloskan dirimu ke penjara, apa kau tidak tahu perbuatanmu ini tindakan kriminal?"
__ADS_1
Ucap Hanna, dia sama sekali tidak menyentuh sarapan yang di sajikan di depannya.
Dazon tetap makan dengan tenang. Tidak merasa terganggu sama sekali dengan ucapan-ucapan hanna. Dia membersihkan bibirnya dengan serbet, matanya kini tertuju kepada Hanna yang menatapnya dengan garang.
"Kau tidak makan?" Tanyanya.
Hanna membuang wajahnya ke samping, dan tidak menjawab pertanyaan Dazon sama sekali.
"Jadi, kau ingin bilang padaku, bahwa kau tidak ingin menjadi wanitaku?" Tanyanya.
"Tidak, aku tidak mau, dan apa maksudmu menjadi wanitamu, apa aku harus terus berada di sampingmu siang dan malam?" Tanyanya.
Dazon sedikit tersenyum, "Apa kau juga ingin bersama denganku siang hari?" Tanyanya.
"Si..siapa yang ingin bersama denganmu, aku cuma bertanya, apa maksudnya menjadi wanitamu?" Tanyanya
Dazon mengangkat satu alisnya, "Kau yakin tidak tahu apa maksudnya menjadi wanitaku?" Tanyanya. Dazon menyeringai senang.
"Maksudnya, kau akan menjadi milikku seutuhnya, kau akan bersamaku dan siap untukku kapanpun aku membutuhkanmu Hanna," ucap Dazon.
"Ka..kapanpun kau membutuhkanku?" Tanyanya.
Dazon tersenyum melihat kebingungan di wajah wanita ini, membuatnya gemas ingin segera mengecupnya. "Ya, kapanpun aku ingin bercinta denganmu, kau harus siap untukku." Ucap Dazon, hanna membelalakkan matanya.
"Kau gila ya." Tanyanya.
"Tidak, aku masuk akal, jika kau bersedia menjadi wanitaku, aku bisa memenuhi segala keinginanmu, apapun itu." Ucapnya.
"Bukankah, itu sama saja menjadi seorang jlang untukmu?" Ucapnya.
Dazon menipiskan bibirnya, tidak suka dengan ucapan kasar Hanna. "Sebaiknya kau makan, setelah ini, akan datang beberapa pelayan yang akan memenuhi segala kebutuhanmu, dan satu hal lagi, Truck dan flat kusam itu sudah aku beli, dan sekarang tempat itu sudah menjadi milikku." Ucap Dazon, Hanna ternganga mendengar ucapan tidak masuk akal pria di hadapannya.
"Apa maksudmu membeli Truck dan flat itu?" Ucap Hanna sambil menarik jas Dazon sehingga dia berbalik menatap Hanna yang marah di depannya.
"Ya, aku membeli semuanya, dan sekarang, kau tidak memiliki apapun lagi, selain tentunya 'Aku.' jika kau kembali ke flat kusammu, tidak ada gunanya, semuanya sudah di kunci, dan diganti dengan pemilik yang baru." Ucap Dazon.
Mata Hanna tajam menatapnya, air matanya kini menetes-netes di pipinya. Tega sekali pria ini, hanya itu saja yang dimilikinya selama tinggal di kota Atlanta, dan dia bertahan hidup di kota ini untuk membangun mimpinya, dia hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak, hidup normal, dan memiliki kekasih yang normal, menikah dan memiliki keluarga kecil yang bahagia.
Dazon menatapnya, dia hendak mengangkat tangannya menghapus air matanya, tetapi Hanna mundur beberapa langkah, dia kemudian menendang kaki Dazon satu kali dan berlari masuk ke dalam kamar Dazon dan menguncinya rapat-rapat.
~
Sudah tiga hari Hanna berada di penthouse Dazon, dia keluar dari kamar, ketika Dazon telah berangkat kerja di pagi hari, dia menyelidiki di setiap tempat di ruangan itu untuk mencari sedikit celah lalu bisa melarikan diri, jika malam hari tiba, Hanna mengunci pintu kamarnya dan tidak mau bertemu dengannya, meskipun kamar yang di gunakan oleh Hanna adalah kamar pribadi milik Dazon.
Hanna mengintip dari pintu kamarnya, lemari pakaian yang baru berada di samping kamarnya, Hanna membuka lemari pakaian itu dan menatapnya. Wajahnya seketika terheran menatap semua jenis pakaian serta gaun yang bermerek sudah memenuhi lemari itu, semuanya tersedia dengan lengkap.
Hanna Kemudian melirik ke kanan dan kiri, dia ingin segera mengganti pakaiannya, selama ini, dia hanya mengenakan piyama, dia ingin mengganti pakaiannya dengan layak. Dengan kekuatan penuh dia berusaha mendorong lemari besar itu.
"Ugh, berat sekali, aku harus memasukkan lemari ini di dalam kamar, agar aku leluasa berganti baju," gumamnya.
"Perlu bantuan." Suara itu membuat Hanna terperanjat, Dazon berdiri di sana menatap Hanna yang sejak tadi memperhatikan sekelilingnya, melihat situasi di ruangan itu sembunyi-sembunyi dan berkutat dengan lemari yang cukup besar, dan dengan percaya dirinya, Hanna merasa mampu memasukkan lemari itu ke dalam kamar seorang diri.
Wajah Hanna memerah karena kedapatan mendorong lemari itu masuk ke dalam kamar yang di tempatinya. "A..aku hanya ingin memasukkan lemari ini ke dalam kamar." ucapnya terbata.
"Tinggalkan saja di situ, Sebentar lagi akan datang pengawal yang memasukkannya di kamarku, ngomong-ngomong kenapa kau mengunci kamarku? semua pakaianku ada di dalam sana." Ucap dazon.
"Sa..salahkan dirimu, kenapa kau menahanku di sini, aku bisa pulang dan kau bisa memiliki kembali kamarmu." ucapnya.
Dazon tidak mengatakan apa-apa, dia berjalan dan masuk begitu saja ke dalam kamarnya, lalu membuka pakaiannya, Hanna memekik, dia kemudian berlari keluar dari kamar dan menjauhi Dazon.
"Kesempatan, aku bisa keluar dari tempat ini, dia pasti menyimpan kunci ruangan ini di suatu tempat." gumam Hanna, melirik kembali ke kamar itu dan segera menyusuri setiap barang yang ada di sana. "Sial ! tidak ada." ucap Hanna.
Dengan isengnya Hanna mencoba membuka pintu ruangan yang berada di lantai 5 dan beruntungnya ternyata terbuka, Hanna segera mengambil kesempatan itu keluar dari ruangan. Dia berlari kencang dan mencari jalan keluar, sayangnya dia tidak memperhatikan langkahnya hingga tubuhnya menabrak seseorang.
"Ouch, sakit." ucapnya, sambil terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Kenapa kau di luar sini Nona?" tanyanya.
Hanna mendongakkan kepalanya, dia menatap seorang pria berambut cepak, matanya hijau pekat dengan kulit pucat, dia menatap Hanna seakan dia seorang buronan yang lari dari tahanan.
"Kau ! Bi..biarkan aku pergi," ucap Hanna memohon kepada-nya. "Lepaskan aku, biarkan aku pergi dari sini." ucap Hanna.
Pandangannya terlihat datar, tidak ada ekspresi yang di tunjukkan oleh pria itu.
"Riel ! Ada apa?" Seseorang baru saja keluar dari lift dan menatap Riel dan Hanna.
"Ada telepon dari tuan Dazon bahwa seorang wanita baru saja kabur darinya." Ucap Paulo. Kemudian dia menyadari wanita yang dimaksudkan tuannya berdiri di sana.
__ADS_1
"Apa yang kau tunggu Riel, bawa dia kembali ke ruangan tuan Dazon." ucap Paulo, dia kemudian berjalan ke arah Hanna dan segera membawanya kembali menuju ruangan privat milik Dazon.
Hanna berbalik, wewangian itu muncul lagi, sangat terasa di hidungnya, siapa yang menggunakannya, pria bernama Riel atau pria berkepala plontos yang tengah mengantarnya kembali ke ruangan Dazon.
~
Dazon cukup sibuk seminggu itu, dia sedang berada di luar kota Atlanta, tepatnya di Union Country, dia di sana untuk mengurusi beberapa masalah perusahaannya dan membawa Daneil sejauh mungkin dari Atlanta bersama Jennifer. Mereka sedang makan malam bersama di sebuah restaurnat, sudah tiga hari ini Dazon belum kembali ke penthousenya, dia sengaja memberikan keleluasaan kepada Hanna di tempatnya sekarang tinggal.
"Ngomong-ngomong kenapa kau berlama-lama di luar kota Daz, ini bukan seperti dirimu dan satu hal lagi, aku mendengar gosip, kau sedang menyembunyikan seorang gadis di ruangan pribadimu." tuduh Daneil.
"Jangan mempercayai semua yang kau dengar Daz, dan sebaiknya kau tidak keluar ke tempat ramai seperti ini terlalu sering, kau tahu maksudku bukan?" ucap Dazon.
"Sudah aku bilang kita makan di apartemen saja Niel, makan di sini membuatku tambah cemas saja." Jennifer menatap di sekelilingnya seakan seseorang memantau mereka.
"Tenanglah, setelah makan malam kita akan segera pulang." ucap Daneil menenangkan.
"Kenapa lama sekali." ucap Daneil kepada Jennifer.
"Kalian menunggu seseorang?" tanya Dazon.
"Ehm, kau tahu Ketty yang pernah ku ceritakan kepadamu kan? dia ingin sekali bertemu denganmu, jadi malam ini, Jennifer memberinya kesempatan untuk bertemu denganmu." ucap Daneil.
"Benarkah? Ck, kenapa kalian tidak mendengarkan perkataanku? aku sama sekali tidak mau berurusan dengan seorang wanita sekarang ini, mereka merepotkan." ucap dazon, mengerutkan keningnya.
"Sudahlah, jadikan ini keberuntunganmu Daz, lihat ! dia sudah datang." Ucap Daneil. Jennifer segera melambaikan tangannya kepada seorang wanita.
Dazon menatapnya, dia berambut pirang panjang, lurus sebahu dengan gelombang cantik yang terurai jatuh di bahunya, matanya berwarna biru pekat dengan hidung mungil dan bibir penuh, dia tersenyum dan juga melambaikan tangannya ke arah Jennifer. Wanita itu mengenakan dress berwarna biru malam yang cocok dengan kulitnya yang putih mulus.
"Maaf, aku terlambat." ucapnya sambil tersenyum, kini matanya jatuh kepada Dazon yang duduk di hadapan Jennifer dan Daneil.
"Duduklah Ketty, aku akan memperkenalkanmu dengan taipan tampan yang setiap hari kau tanyakan itu." Ucap Jennifer sambil melirik kepada Dazon dan kembali melirik kepada ketty, wanita itu terlihat membelalakkan matanya kepada Jenni, menegurnya dengan memberikan isyarat di matanya.
"Hai, senang berjumpa denganmu, namaku Ketty Laurenz, Jenni dan Daneil sangat sering bercerita tentangmu dan persahabatan kalian." Ucapnya.
"Oh ya, aku tidak tahu kalau mereka senang menggosipkanku," Ucap Dazon dengan mata sinis memperingati kepada mereka berdua.
"Dazon, namaku Dazon Caessar." ucap Dazon tenang dan singkat, Setelah itu dia tidak begitu banyak berbicara hanya mendengarkan Jenni dan wanita itu bercerita tentang karir mereka dan menceritakan bagaimana hebatnya Ketty di usia begitu sangat muda sudah membangun perusahaan miliknya sendiri, tanpa dukungan nama orang tuanya yang juga terkenal.
Dazon sama sekali tidak fokus, dia sering kali menatap layar ponselnya dan mengirim pesan kepada Thomas mengenai keadaan di penthousenya dan keadaan Hanna selama tiga hari ini.
~
~
~
Hanna sungguh bersyukur, sejak kepergian Dazon, dia begitu leluasa berada di ruangan itu, tetapi kadangkala rasa bosan menghinggapinya, sehingga rasa ingin tahunya menyergap dirinya dan ide untuk mengeksplorasi tempat ini muncul begitu saja di kepalanya.
Pukul 12.42 Malam hari.
Hanna membuka pintu kamarnya, dia kemudian keluar ke ruangan depan dan langsung menghadap kaca besar yang terbentang luas, dengan pemandangan malam yang spektakuler terlihat dari atas sungguh begitu indah, sudah lama dia tidak menyaksikan pemandangan indah seperti ini.
Suara pintu depan bergoyang, Hanna kemudian berbalik dan terlihat panik, dia melirik ke kanan dan kiri, mencari tempat persembunyian. Dia menatap di belakang lemari besar yang tertutup oleh tirai dan begitu tersembunyi.
Hanna bersembunyi di sana, jantungnya berdetak kencang, saat mendengar suara pintu itu membuka, seseorang masuk ke dalam ruangan, langkah kakinya yang berat terdengar menghentak di lantai itu, Hanna menutup mulut dan hidungnya, takut jika napasnya yang berat dapat di dengar olehnya.
Suara aneh terdengar dari pintu kamar Hanna, garukan panjang membuat Hanna membelalakkan matanya.
Orang itu, orang itu yang selama ini membuat suara aneh di kamar flatnya dan juga beberapa hari yang lalu, tapi mengapa dia melakukannya? Terdengar suara mengerikan itu lagi, membuat jantung Hanna semakin berdetak keras.
"He he he, di mana kau? mengapa suaramu tidak terdengar?"
Hanna menutup rapat mulutnya, tubuhnya gemetar, suara langkah kaki itu terus terdengar di depan kamar Hanna, dengan garukan sepanjang pintu kamar.
Tiba-tiba pintu kamar Hanna terbuka sedikit, Hanna keluar dari kamar tanpa menutup dengan benar pintunya, lelaki itu kemudian terdiam sejenak, suara kekehan kembali terdengar.
"Rupanya kau di sini? bersembunyi dariku, rupanya kau ingin bermain-main denganku?"
Hanna menutup kedua matanya, tubuhnya gemetar, suara langkah kakinya semakin mendekat ke tempat Hanna bersembunyi. Wangi itu lagi, menyengat membuat hidung siapa saja yang menciumnya terasa mati rasa saking baunya.
Bunyi telepon di ruangan itu, membuat pria itu berhenti melangkah dan menatap bunyi telepon yang terus berdering, dia mengurungkan niatnya untuk mendekati tempat Hanna menyembunyikan dirinya. Dia segera berjalan dengan tergesa dan keluar dari ruangan.
Air mata Hanna hangat terasa di pipinya, dia sangat ketakutan, kaki dan tangannya pun gemetar.
"Kau bisa keluar." ucapnya. Hanna bukan main terkejutnya, dia kemudian menatap seseorang yang tidak disadari Hanna sejak awal bersembunyi bersamanya di tempat yang sama. Matanya menatap pria yang selalu mengikuti kemana Dazon berada, pria itu bernama Thomas.
"Kau boleh keluar sekarang, pria itu sudah pergi." ucapnya menenangkan.
__ADS_1