
Hotel Atlanta
Pagi itu hanna bangun, dia merasakan seluruh tubuhnya terasa pegal dan kelelahan, matanya sedikit mengerjap ketika merasakan hembusan napas normal berada di sampingnya, dia sedikit memutar tubuhnya dan melihat dazon dengan ketelanjangannya, tidur dengan tubuhnya yang tengkurap dengan punggungnya menghadap ke atas. Hanna dengan perlahan bangun dari tidurnya dan duduk dengan selimut meliputi seluruh tubuhnya, dia kini berdiri sambil menahan perih yang dia rasakan. Dazon sialan, dia melakukannya berulang kali, membuat hanna betul-betul kesusahan untuk menghentikan serangannya.
Segera saja hanna memakai dengan cepat pakaiannya, dia sangat khawatir dengan putranya, baru kali ini dia semalaman di luar rumah dan berpisah dengan anaknya selama ini. Hanna belum selesai berpakaian dan kini sedang mencari-cari tasnya, entah tasnya terlempar dimana semalam. Dia sedikit berjinjit dengan pelan karena tidak mau membangunkan dazon yang masih tertidur nyenyak.
"Ugh, sudah jam berapa ini? Darko pasti sedang menangis mencariku." Gumam hanna. Segera saja dia mengenakan kemeja dazon yang sudah tergeletak di lantai, dia memakainya dan tidak perduli dengan apa yang akan dazon kenakan ketika pulang nanti, hanna mengancingkan kemejanya berlapis dengan gaun yang semalam dia kenakan. Dia mengambil tasnya dan segera keluar dari kamar.
Dengan tergesa hanna pun menekan tombol lift, dia tidak perduli dengan tatapan orang lain yang menatap aneh pakaian yang hanna kenakan, segera saja hanna keluar dari gedung hotel itu dan menghentikan taksi. Hana menarik napasnya, dia betul-betul mengikuti alur yang diinginkan oleh dazon, tubuhnya sama sekali tidak bisa berbohong, dia memang sangat merindukan sentuhan dazon, tetapi dia cukup kuat untuk menahan hasratnya, di tidak ingin melihat seringai kemenangan di wajah dazon.
~
Flashback
Malam ketika hanna telah berangkat bersama lexia ke pesta, dan meninggalkan darko bersama pelayan-pelayan dan pengawal, membuat seseorang yang berdiri di dalam kegelapan terlihat menyeringai, setelah mobil limousine berwarna silver itu berangkat, dia merasa berkewajiban menjaga keponakannya.
Pukul 01.27 kediaman Hanna
Salah satu pelayan yang bertugas mengasuh darko sedang menemani darko di kamarnya, setelah darko minum susu, si kecil itu akhirnya tertidur, sementara pengasuhnya duduk di sebelahnya sedang bermain ponsel dan terkadang terkantuk-kantuk karena lelah, apalagi telah lewat tengah malam, sementara nyonyanya belum juga pulang, suara aneh membuat pengasuhnya terbangun dari tidurnya, garukan keras terdengar dari arah jendela kaca. Dia berdiri dan mendekati pintu balkon dan mencari sumber suara, dia menempelkan telinganya pada pintu itu, tidak ada yang aneh, tapi dari mana asal muasal suara aneh itu.
Suara kekehan membuat pengasuh darko terkejut, dia memutar tubuhnya dan melihat seseorang dari balik balkon yang berdiri di sana, tertutup oleh gorden dengan bayangan hitam mengerikan. Pengasuh itu kemudian sangat terkejut dan jatuh pingsan di atas karpet, ketika bayangan itu mendekat menampakkan dirinya, dia masuk, untungnya pelayan itu tidak berteriak sehingga para pengawal tidak akan berlari ke kamar ini.
Riel menatap keponakannya yang sedang tertidur pulas, dia mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Dia kini melepas penutup di kepalanya, sehingga suaranya tidak lagi teredam.
"Halo nak, aku adalah Riel pamanmu, kau bisa tertidur nyenyak sekarang, sepertinya ibumu tidak akan pulang malam ini, dia mungkin sibuk bersama ayahmu, jadi kau tidak perlu mencari mereka, jadi paman yang akan menjagamu." Ucap riel sambil bersenandung. Matanya berkilat ketika pengasuh itu bergerak perlahan.
"Tch, wanita penakut ini mengganggu sekali darko, apa perlu paman singkirkan? Ah sudahlah, nanti ibumu marah jika aku mengakhiri nyawa pengasuhmu darko."
Malam itu dia menemani keponakannya, sampai-sampai dia ikut-ikutan tertidur lelap di sampingnya sampai pagi menyingsing.
~
~
Dazon menutup sebagian wajahnya ketika sang surya telah menyinari ruangan itu, dia mengedipkan matanya mencoba menormalkan penglihatannya karena silaunya cahaya matahari. Dia lalu tersadar dan menatap tempat tidur di sebelahnya, hanna sudah tidak ada di kamar itu, dia kemudian kembali membaringkan tubuhnya dan memijat tulang hidungnya. "Bagaimana dia pulang? Dressnya bagian atas sudah aku tarik hingga robek dan tidak bisa digunakan lagi." Gumam dazon.
Dia kemudian bangun dari tempat tidur, lalu menatap pakaian dalam hanna yang tidak bisa digunakan lagi, robek dan tergeletak dengan menyedihkan di atas lantai, celana panjang dan jasnya berserakan di lantai, tetapi kemeja dan boxernya sudah tidak ada.
"Dia memakainya." Ucap dazon sambil menyeringai senang, dia kemudian segera masuk ke kamar mandi dan menelepon pengawalnya untuk membelikan satu set pakaian ganti untuknya, setelah selesai mandi, sarapan sudah terhidang di atas meja, secangkir kopi menguar memenuhi ruangan dengan harum yang tercium di hidung dazon.
Dia duduk dan menyesap kopinya dan memeriksa ponselnya. Dazon kemudian menelepon hanna, beberapa kali panggilan, hanna akhirnya mengangkatnya.
"Ada apa?" Ucap hanna dengan ketus.
"Kau pulang mengenakan boxerku, setidaknya kau harus membangunkanku agar aku bisa membelikanmu pakaian, sayang." Ucap dazon.
"Aku tidak akan mengenakan kemeja dan boxermu jika saja kau tidak kesetanan semalam, kau merobek semuanya." Ucap hanna, mendengar dazon terkekeh, dia langsung menutup ponselnya dengan suara bantingan.
"Ck, dia menutupnya." Ucap dazon.
Setelah sarapan, dazon segera bersiap-siap, pakaiannya telah di antar oleh petugas hotel, segera saja dia keluar dari hotel menuju ke rumah hanna, dia ingin bertemu istri dan putranya.
~
Mansion Tuan Caesaar saat sarapan pagi
"Kenapa dazon tidak kembali dari pesta dan pulang ke mansion?" Tanya Nara kepada lexia ketika semuanya sedang sarapan pagi di meja makan.
"Entah, semalam dia membawa hanna dengan paksa dari pesta, padahal pesta amalnya saja belum dimulai sama sekali." Jawabnya.
Mereka saling melirik dan tahu apa yang terjadi semalam, jadi mereka mengakhiri pembicaraan mengenai dazon dan hanna.
__ADS_1
"Dimana daren?" Tanya Xaphier kepada lexia.
"Masih tidur, dia sepertinya masih ngantuk, dia tidak membiarkanku tidur semalaman, dan menyerangku sampai hampir fajar, tetapi akhirnya dia sendiri yang terlambat bangun tidur," ucap lexia mengangkat bahunya.
"Berhenti membicarakan kisah percintaanmu dengan daren semalam, anak-anak ada di sini lexia." Tegur xaphier sambil menggelengkan kepalanya.
~
Hanna baru saja selesai memberi makan putranya, lalu memberikan kepada pengasuhnya untuk di bawa jalan-jalan ke halaman rumah, sementara itu hanna membereskan dapurnya dan hendak membereskan rumah, dia senang dengan kesibukan dan rutinitasnya, dia suka dengan dirinya yang sibuk.
Dia menatap pengasuh darko dari luar halaman rumah, lalu mengingat ketika pelayan itu bercerita dengan heboh, padahal hanna waktu itu baru saja pulang, pelayan itu melaporkan bahwa ada seorang pria dengan mantel hitam panjang berdiri di balkon dan seperti patung, dia tidak bergerak tetapi terkekeh mengerikan. Hanna menyadari bahwa pria itu adalah riel, jadi dia sengaja mengatakan bahwa pelayan itu pasti bermimpi, tidak mungkin ada seorang pria masuk ke dalam kamarnya, padahal dia berada di lantai 2 dan rumah sudah di jaga ketat oleh beberapa pengawal di setiap sudutnya.
"Semoga lain kali riel berhati-hati, apalagi bibi lexia menaruh penjagaan cukup ketat kemarin, dan mereka belum beranjak juga sampai sekarang."
~
Mobil sport hitam berhenti di parkiran dan dia segera keluar, matanya langsung menangkap keberadaan putranya yang berceloteh dan menggumam-gumam lucu di taman, dia sedang di gendong oleh seorang pengasuh. Dazon berjalan lalu masuk ke halaman rumah hanna, dia menghampiri putranya dan langsung menggendongnya.
"Dimana nyonya hanna?" Tanya dazon.
"Nyonya ada di dalam, tuan." Jawab pengasuh darko.
Dia memberikan kecupan di pipi putranya dan menggendongnya mengelilingi taman, setelah itu dia memberikan darko kembali kepada pengasuhnya dan hendak masuk ke dalam menemui hanna.
Suara langkah kaki membuat hanna hendak berbalik, tetapi sebelum dia berbalik pinggangnya sudah dipeluk erat oleh dazon.
"Dazon, lepaskan tanganmu, kau kenapa sih." Ucap hanna, dia hendak melepaskan kedua tangan yang memeluk erat pinggangnya.
"Memang kenapa kalau aku memeluk istriku sendiri? Tidak ada yang salah dengan kelakuanku." Bisiknya sambil memberikan kecupan ringan di rahang dan pundak hanna. Pelukannya mengetat hingga hanna harus menahan tangan dazon yang mengeratkan dirinya menempel di tubuh hanna dengan sempurna. Sesaat mereka berdua terdiam, lalu dazon mulai berbicara.
"Jangan marah lagi hanna, kembalilah kepadaku, aku memang salah kepadamu dan anak kita, selama ini aku telah mengabaikan kalian berdua dan menghindari masalah mengenai darko." Ucapnya.
"Aku bukannya mengingkari bahwa anak kita akan baik-baik saja, aku sebagai ayahnya tentu menginginkan kebahagiaan dan yang terbaik untuk darko."
"Jadi apa yang kau inginkan dazon?" Ucap hanna dengan pandangan menuduh kepadanya. Pelukan mesra tadi telah terlepas begitu saja di gantikan dengan perdebatan diantara keduanya.
Dazon diam sejenak, kemudian dia memutuskan untuk berbicara, "Aku ingin darko di bawa ke eropa ketika usianya 10 tahun, di sana ada pengobatan khusus dari seorang dokter terkenal, aku bisa mengatakan terapi itu untuk mencegah berkembangnya racun di dalam tubuhnya kelak."
Hanna terdiam, dia kemudian mengernyitkan alisnya. "Ada terapi seperti itu, mengapa riel tidak pernah menyebutkannya? Jika ada pengobatan yang dapat menyembuhkannya." Ucap hanna, dia berbicara lebih kepada dirinya sendiri dibandingkan dazon.
"Riel? Kenapa kau menyebut nama Riel, hanna. Aku tahu dia kakakmu, tetapi dia sakit, apa kau membiarkan dia berlalu lalang di rumah ini, sementara ada darko di rumah ini?" Ucap dazon marah.
"Aku hanya menemuinya beberapa kali, dan dia tidak berlalu lalang di rumah ini, dia kakakku dazon." Ucap hanna dengan marah.
"Dia memang kakakmu tetapi dia seorang pembunuh hanna, dia seorang pembunuh berantai dan menjadi orang yang paling di cari negara ini, kau bisa di tuduh dan menjadi tersangka jika kau sengaja menyembunyikan keberadaannya." Ucap dazon.
Suara tangisan darko membuat keduanya teralihkan, hanna segera menuju ke kamarnya, sementara dazon duduk di kursi di dekat dapur, dia memijat keningnya, sepertinya dazon sedang berpikir keras.
Hanna keluar dari kamar sambil menggendong putranya, dia berusaha menenangkannya, hanna menggoyang tubuh anaknya agar dia tenang, tetapi darko masih terus menangis. Hanna kembali ke kamar, lalu menyusui putranya sambil berbaring miring di atas tempat tidur.
Dazon masuk ke dalam kamar, dia melepaskan jaketnya dan segera ikut berbaring di atas tempat tidur dan menatap putranya yang sedang menyusu.
"Berhenti menangis darko, ini semua gara-gara suara ibumu yang terlalu besar, sampai-sampai kau terbangun sayang." Ucap dazon sambil memegang tangan mungil darko. Hanna membelalakkan matanya.
"Dan suara ayahnya yang tidak bisa di kontrol, suaranya tidak kalah besar dari mommy darko." Ucap hanna tidak mau kalah. Dazon menatapnya, dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku akan membawa barang-barangku dan tinggal di sini, aku tidak akan membiarkan riel berkeliaran di rumah ini sementara kau dan putraku ada di rumah ini, setidaknya dia bisa bertemu denganmu dan darko jika aku ada diantara kalian." Ucapnya.
"Terserah kau saja, kau bisa memilih kamarmu sendiri, karena aku tidak mau sekamar denganmu." Ucap hanna tanpa menatap wajah dazon.
"Kita lihat saja sayang, kau akan mengundangku ke kamar ini dengan sendirinya, kau tidak bisa menolak sentuhanku hanna sayang." Bisik dazon dengan nada sensual yang membuat hanna merona.
__ADS_1
Hanna mendengus dan tidak memperdulikan dazon yang masih menatapnya dan berbaring di samping putranya.
~
~
"Mereka bertengkar lagi, aku lelah mendengar pertengkaran mereka, karena tuan dazon akan menginap di sini, aku lebih baik bersembunyi untuk sementara waktu."
Gumam riel dari arah balkon kamar, dia kemudian berjalan keluar dari perumahan elite itu.
Riel berjalan pelan di pinggir jalan, dia kemudian melihat mobil sedan berwarna putih sedang berhenti di sana cukup lama, dia tidak curiga sama sekali dengan mobil kusam berwarna putih yang sedang terparkir.
"Perumahan elite seperti ini dengan mobil kusam terparkir? Sungguh aneh." Ucap Riel sambil bersenandung. Langkahnya kini berhenti, dia melirik kembali ke mobil yang sejak tadi sore terparkir di sana.
Riel kemudian bersembunyi dan menaruh curiga pada seseorang yang duduk di dalam mobil itu, seorang wanita yang menatap tajam ke arah rumah hanna, dia memegang botol minuman di tangannya. Riel sedikit mendekati mobil itu dan kini melihat wajahnya dengan jelas.
"Apa yang dilakukan wanita itu di tempat ini? Apa dia tidak jera selama aku bermain-main dengannya."
Wanita itu kini turun dari mobilnya, ketika dia melihat dazon baru saja keluar dari rumah hanna, dia hendak pulang karena mendapat telepon dari thomas, dan juga dia sekalian akan membawa barang-barangnya dan tinggal di rumah hanna.
"Tuan?"
Suara itu mengagetkan dazon, dia berbalik dan menatap seorang wanita yang mendekat ke arahnya. Wajahnya terlihat kusam, bajunya pun terlihat berantakan. Dazon melihatnya dengan pandangan tidak suka.
Apa yang dilakukan para pengawal bodoh itu, mengapa dia membiarkan wanita ini masuk ke dalam perumahan ini.
"Tuan, ini aku Mey." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Mey? Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau bisa berada di tempat ini?" Ucap dazon khawatir, dia khawatir ketika melihat keberadaan wanita ini, dia sudah tahu bahwa bibi lexia mengusirnya dari rumah karena dia sakit-sakitan dan telah melakukan perbuatan tidak layak selama dia tinggal di mansion.
"Tuan, aku tidak bersalah tuan dazon, istri anda pada dasarnya membenciku, aku sama sekali tidak menaruh kebencian kepada nyonya hanna, dia yang membenciku, dia iri karena aku melayani tuan dengan sempurna." Ucap mey.
"Sebaiknya kau pergi dari sini mey, sebelum aku menghubungi polisi." Ucap dazon dengan nada jijik mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Tuan, aku tidak bersalah, maafkan aku tuan, biarkan aku kembali bekerja di mansion, aku akan melayani dengan sungguh-sungguh keluarga tuan Caesaar dengan sepenuh hati." Ucapnya lagi.
Suara kekehan terdengar dari arah taman yang gelap, hal itu membuat mey ketakutan. Dia menatap kiri dan kanannya, dia sangat menghapal suara mengerikan yang selalu mencekiknya hingga lehernya memerah.
"Kau sepertinya tidak pernah belajar dari kesalahanmu."
Dazon berbalik dan melihat riel muncul dari kegelapan.
"Selamat malam tuan dazon."
Ucap riel masih dengan suara dengan nada sopan, sama seperti ketika dia menjadi pengawalnya dulu.
"Kau di sini Riel?" Tanya dazon.
"Ya tuan, aku di sini mengawasi orang-orang yang tidak berguna yang masuk ke lingkungan ini."
Wajah riel tertutup tudung berwarna hitam, mey yang melihatnya mundur beberapa langkah, dia ketakutan, suara mengerikan itu setiap malam menghantuinya.
"Tu-tuan, anda mengenal pria itu?" Tanyanya.
"Kenapa? ya, aku mengenalnya." Jawab dazon.
Wajah mey menjadi pucat, dia tidak menyangka, kalau pria yang selama ini mencekiknya ketika dia masih berada di mansion adalah pria aneh itu, dia merasa tidak ada harapan lagi, dia sengaja datang dan membuntutinya untuk meminta pertolongan kepada tuan dazon, dia pikir kesempatan masih ada padanya setelah bertemu dengannya. Mey mundur, dengan wajah penuh dendam, dia kembali ke mobilnya dan segera pergi dari tempat itu.
Dazon mengambil ponselnya, dengan cepat menelepon Loue.
"Tambahkan penjaga di sekitar rumah Nyonya hanna, lalu pecat petugas yang membiarkan mobil sedan berwarna putih itu masuk ke perumahan ini." Dia lalu menutup ponselnya, dan segera membuka pintu mobil yang terparkir tidak jauh dari rumah hanna, dia berbalik dan mencari Riel, tetapi pria itu telah menghilang, entah kemana dia pergi seakan dia di telan angin.
__ADS_1