
Secangkir kopi sudah dihidangkan di atas meja kerjanya, pria itu mencondongkan tubuhnya dan menatap gadis itu dari kaca jendela dari ruang kerjanya, dia tersenyum puas dengan hasil yang diinginkannya. Dia pasti akan terkejut dengan serangan yang kuberikan. Gadis angkuh itu akan tunduk kepadaku dan sikapnya yang berpura-pura di depanku akan terbongkar semua.
Dia hanyalah gadis biasa, dia memiliki cara tersendiri menggoda pria yang memiliki segalanya, aku akan membongkar kedok aslinya, jika aku sudah puas aku akan membuangnya seperti gadis-gadis lainnya, Senyum Xaphier.
Suara ketukan terdengar dari luar pintu setelah lima menit waktu yang ditunggunya.
"Masuk."
Gadis itu masuk dengan gugup, wajahnya masih tertunduk menatap sepatunya sendiri, kegugupan terlihat di wajah pucat cantiknya. Perlahan dia mengangkat wajahnya menatap langsung pria yang berdiri dihadapannya.
"Selamat datang Narana Aroons, mulai hari ini kau akan menjadi sekretaris pribadiku." ucap Xaphier dengan mata safirnya menatap Nara yang terkejut melihatnya.
"Kau..kenapa kau ada di sini?" Ucap Nara tertegun, dia merapatkan kakinya seakan tidak mau beranjak dari tempatnya. Wajah yang tadinya tersenyum bahagia kini terlihat kecewa dan marah, dia merasa di permainkan oleh pria ini.
~
Udara pagi di villa membuat lexia bangun pagi-pagi sekali, bukan hanya udaranya yang sejuk tetapi Axton selalu bangun tengah malam dan membangunkan lexia serta Daren. Lexia mulai menyusui Ax setelah dia kenyang barulah dia menjadi tenang.
"Tidurlah Ax sayang, mommy ngantuk ! Ucap lexia mengecup bayinya dan mulai tertidur. Pagi itu lexia kembali bangun karena mendengar rengekan Ax. "Ck lihat ayahmu, dia tidak bangun sama sekali." Ucap lexia memencet hidung Daren, setelah menyusui Ax, lexia kemudian melangkahkan kakinya ke luar untuk menghirup udara segar, cuaca saat itu begitu cerah membuat perasaan lexia menjadi bersemangat.
Lexia kembali masuk ke dalam kamarnya untuk melihat Ax, sedangkan Daren masih tidur dengan posisi miring dan sedikit agak jauh karena takut menyentuh putranya saat dia tidur.
Langkah lexia masih belum terlalu normal, dia harus berhati-hati saat berjalan, melangkahkan kakinya perlahan, dia duduk di tepi tempat tidur sambil bersedekap, pikirannya tiba-tiba beralih kepada wanita yang datang menjenguknya baru-baru ini ke rumah sakit. Wanita tua dengan segala kelicikan di kepalanya membuat lexia harus selalu bersiaga, lexia ingin mengetahui kisah ibunya dari Xaphier dan bagaimana wanita itu memperlakukan ibunya ketika dia masih hidup, lexia tahu wanita tua itu tidak sesederhana itu untuk menyingkirkannya.
Segala pikiran licik dan segala cara di pikirkan lexia untuk menghalangi serangan nenek itu dan bagaimana dia balas menyerangnya. Lexia terkekeh memikirkan bagaimana mengerjai nenek tua itu membuatnya bersemangat.
"Apa yang kau tertawakan sayang? Mengapa kau tertawa sendiri?" Pertanyaan itu terlontar ketika lexia terkekeh seorang diri sambil membelakangi Daren dan putranya.
Lexia Berbalik dan menatap Daren yang setengah bangun dari tidurnya, dia bangun dengan bertelanjang dada, lalu mengucek-ucek matanya. "Apa yang kau tertawakan sayang?"
"Ha? Aku tidak tertawa? Kau pasti bermimpi Daren." Ucap lexia mengabaikan pertanyaan Daren dan menghampirinya lalu memberikan kecupan selamat pagi.
Kejutan kali ini membuat lexia dan Daren begitu gembira, kedatangan Alvin dan lovelia di villanya pagi itu
Yang tidak di sangka-sangkanya. Mereka berdua datang dengan membawa banyak kado buat Ax, lovelia memeluk lexia erat, mereka terlihat sangat akrab, pertama kalinya mereka berjumpa dengan keadaan yang normal, terakhir kali lexia bertemu lovelia saat dia terikat dan lovelia masih sakit dan setengah wajahnya masih diperban.
"Kau cantik lovelia, kau sungguh cantik." Ucap lexia menaikkan alisnya dan tersenyum melihat wajah cantik lovelia, karena selama ini lexia hanya melihatnya dengan wajah yang diperban dan hanya mendengar suaranya saja.
Lovelia tersenyum manis dan merasa malu dengan pujian lexia kepadanya. "Aku sangat ingin bertemu denganmu lexia, paman Daren dan tentu saja Axton yang tampan." Ucap Lovelia tidak sabar untuk menggendong Ax.
"Kemarilah lovy, Ax pasti sudah bangun lagi, dia akan bangun kalau lagi lapar." Ucap lexia memegang tangannya dan membawa lovelia ke kamarnya.
Setelah menyapa Alvin, mereka berdua beranjak ke kamar lexia dan memperlihatkan Ada kepada lovelia.
"Hm, Aku tidak menyangka kau mengajaknya kemari Alvin, perjalanan kemari tidak singkat, dan kau yakin lovelia sudah sembuh betul?" Ucap Daren menarik kursi untuknya dan untuk Alvin.
__ADS_1
"Ya, aku mengajaknya karena dia ingin sekali bertemu dengan lexia dan putramu, dia sangat menantikan hari ini, kau tahu? Dia bahkan menyiapkan pakaiannya jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan kami, dia juga merindukan pamannya yang jarang menelepon." Ucap Alvin sambil melirik kearah daren.
Pelayan datang membawa dua cangkir kopi dan dihidangkan dihadapan mereka berdua. Wanginya membuat Alvin ingin segera menyeruputnya.
"Ya, ini memang salahku, akhir-akhir ini aku menemui banyak masalah sampai tidak punya waktu untuk menelepon lovelia, lagi pula dia juga paman yang sangat perhatian bukan?" Daren melirik ke arah Alvin. Dia kemudian tersenyum dan mengamati ruangan yang ada di sekitarnya.
"Lovelia sangat membutuhkan perhatian, sekarang ini dia tinggal bersama kami, kau pasti tidak tahu." Ucap Alvin kembali menyerang Daren atas ketidakpeduliannya terhadap keponakannya.
"Kenapa dia tinggal bersama kalian?" Tanyanya heran.
"Semuanya karena kakakmu itu Daren, aku sangat geram karena dia ingin memperkenalkan lovelia kepada pria-pria kaya yang tidak jelas, meskipun tua sekalipun dia akan mencoba memperkenalkan kepada lovelia, aku sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya, dia tidak bisa di sebut seorang ibu."
Mulut daren terkatup rapat, Barbara tidak berubah, dia hanya mencari kesenangan untuk dirinya sendiri. Daren menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan perbuatan Barbara.
"Aku akan bicara dengannya nanti." Ucapnya.
~
Axton baru saja bangun dari tidurnya, lovelia yang menatap wajah mungil bayi lexia memekik senang dan begitu gemas, baru kali ini dia melihat bayi secara langsung.
"Kau mau menggendongnya?" Ucap lexia. Wajah lovelia nampak terkejut dia ternganga dan begitu saja dia menggeleng.
"Aku..aku takut lexia, aku takut jika menggendongnya dan menyakitinya, lihat saja tubuhnya begitu kecil." Ucap lovelia dengan pipi merona karena terlalu bersemangat. Lexia terkekeh melihat lovelia, dia begitu lugu dan manis.
Daren tersenyum lalu mengacak rambut keponakannya. "Tentu saja, aku dan Ax sangat mirip, ngomong-ngomong paman ingin berbincang denganmu lovely." Ucap Daren. Mereka duduk di luar, Beberapa lama mereka berdua saling berbincang dan bercengkrama, menanyakan kabar Barbara dan hidupnya selama tinggal di mansion Tuan Robert.
~
Wajah pucat yang cantik itu tertegun menatap pria yang berdiri dihadapannya, Nara sungguh geram dan kecewa, apakah pria ini merencanakan semua ini? Bermain-main dengan kehidupan seseorang?
Tangannya terkepal, menahan amarahnya, dia mencoba mengendalikan emosinya, tetapi dia tidak sanggup untuk berbicara.
Dengan tingkah arogannya Xaphier menyilangkan kedua tangannya di depan Nara lalu duduk di tepi meja kerjanya. Dia menatap intens wajah cantik yang nampak kebingungan itu.
Nara mencoba bertahan, dia harus bertahan karena dia sudah melepas kerjaannya sebagai kasir di mini market untuk mendapatkan pekerjaan ini, membayangkan wajah sedih bibi Elma dan wajah anak-anak yang kecewa ketika kehabisan uang saku membuat Nara harus bertahan bekerja kepada pria dihadapannya.
"Bagaimana? Kau bisa bekerja sama denganku? Kau akan menjadi sekretaris pribadiku." Ucapnya, dia menaikkan alisnya ingin Melihat wajah asli gadis di hadapannya ini.
Dengan mengigit pipi bagian dalamnya lalu mengambil napas panjang, Nara menjawab pertanyaan pria angkuh ini. "Baik tuan, aku akan bekerja denganmu sebagai sekretaris pribadimu." Ucap Nara.
Xaphier melangkah perlahan, dia memainkan bulpoin di tangannya, lalu menaikkan satu alisnya. "Dan kau mengerti apa artinya jika kau menjadi sekretaris pribadiku?"
Nara mencoba menjawabnya dengan napas teratur. "Ya, aku mengerti sir." Ucap Nara menatap mata safir yang tajam itu balas menatapnya dengan senyum arogannya. Ruangan indah yang di dominasi gold dan putih serta benda-benda yang terlihat mahal itu semakin membuat Nara lebih tertekan, tetapi dengan tekad yang kuat Nara akan bertahan bekerja dengannya.
"Dan kau tahu arti pribadi yang aku maksudkan?" Ucap daren.
__ADS_1
Mata Nara melirik lalu menatap wajah Xaphier yang sudah berdiri di hadapannya. "Bukankah pekerjaan seorang sekertaris itu mengatur jadwal pertemuan, menerima telepon serta menjadi penghubung dengan orang-orang yang ingin bertemu dengan anda?" Ucap Nara menghitung dengan jarinya lalu mengingat apa saja tugas seorang sekretaris, setidaknya dia membaca pekerjaan-pekerjaan dan tugas seorang karyawan di perusahaan besar meskipun dia tidak menyangka pekerjaannya adalah seorang sekretaris pribadi.
"Hem? Kau belum menambahkan mengenai 'pribadi' Narana, kau mengerti maksud dari seorang sekretaris pribadi?" Ucap Xaphier tersenyum miring sambil melangkahebih dekat dengan wajah Nara yang berdiri di hadapannya.
Xaphier bagaikan seekor macan yang sedang berburu rusa dan akan segera mendapatkan mangsanya.
"Kau harus betul-betul menjadi bagian dari diriku, mengetahui semua tentangku dan melakukan semua yang kuinginkan, semua kebiasaanku, aku akan memberikan apa-apa saja yang harus kau lakukan jika kau menjadi sekretarisku pribadiku." Ucap Xaphier.
"Duduklah, aku akan memberikan kontrak kerja yang akan kau tanda tangani, tetapi kau baca dulu tugas-tugas yang akan kau lakukan sebagai sekretarisku." Xaphier membawakan beberapa lembar kertas dan memberikannya langsung kepada Nara. Xaphier tidak berhenti menatap wajah cantik gadis yang duduk di hadapannya, Xaphier berharap gadis ini menyerah dan memperlihatkan kedok aslinya agar Xaphier tidak bersusah payah untuk melakukan apa yang diinginkannya.
~
Lexia menarik tangan Daren dari jemarinya yang menerobos masuk ke pakaian lexia. "Daren, aku mau makan masakan buatanmu, Hem, ayolah buatkan aku." bujuk lexia sambil menggendong Ax yang berada di pelukannya, mereka berdua sedang berada di ruang santai sambil menonton tv, sementara lexia masih menyusui bayinya.
"Kau ingin makan apa sayang?" ucap Daren mendaratkan bibirnya di ceruk leher lexia dan berlama-lama di sana.
"Daren ! hentikan, Ax sedang menatapmu Sekarang, dia akan berpikir Ayahnya sangat mesum." ucap lexia tersenyum sambil bermain-main dengan Ax yang melihat wajah ibunya.
"Axku akan mengerti kebutuhan ayahnya." bisik daren kemudian mendaratkan bibirnya ke rahang lexia hingga mencapai sudut bibirnya, lexia kembali menghindari serangan Daren.
"Ayolah Daren, buatkan aku sesuatu aku lapar." bujuknya lagi. Daren kini menyerah dengan permintaan istrinya yang bermanja-manja Dengannya. "Baiklah sayang, tunggulah sebentar makanannya sebentar lagi akan tersedia." ucapnya sambil memberikan kecupan singkat di kening lexia.
~
Wanita itu berjalan di koridor di mansion tuan Caesaar, tatapannya yang tajam dan lihai sedang menatap Xaphier dan ayahnya yang sedang berbincang, dia mendekati pintu besar di mana mereka sedang berbincang.
"Besok aku akan berangkat ke Tulas mengunjungi cucuku, aku akan berusaha membujuk Celia untuk tinggal bersama kita, aku ingin melihat cucuku tumbuh sedikit demi sedikit." ucap tuan Caesaar.
Xaphier menggelengkan kepalanya. "Sepertinya itu bukan ide yang baik ayah, mereka sudah memiliki keluarga sendiri Ndan mereka butuh privasi, kita tidak bisa memutuskan dimana Celia akan tinggal." ucap Xaphier sambil mengintip dari balik pintu bayangan seseorang berdiri di sana.
"Hem.. benarkah? yang kau katakan ada benarnya juga, itu hanya ideku saja, kalau Celia menolaknya aku tidak akan memaksakan keinginanku tentu saja." Tuan caesaar melihat bayangan di balik pintu dan memencet satu tombol merah di atas mejanya dan tiba-tiba pintu itu membuka dengan sendirinya.
"Apa yang kau lakukan di sana Melda, mendengarkan pembicaraan kami, dan berdiri mematung disana." ucapnya. Melda melangkahkan kakinya tanpa malu dia tersenyum lalu mengangguk sopan seakan yang dikerjakannya bukan masalah sama sekali.
"Aku minta maaf jika harus memotong pembicaraan kalian, tapi yang dikatakan paman sangat masuk akal dan aku mendukungnya, kalau paman mau aku bisa menemanimu berkunjung ke villa itu, lagi pula suasana pantai tidak cocok untuk membesarkan seorang anak." ucapnya. Xaphier melengkungkan Senyumnya, lalu menatap wajah Melda dengan pandangan tajam.
"Dari pada kau mengganggu kehidupan orang lain, sebaiknya kau mengurus perusahaanmu saja Melda, kau harusnya lihat bagaimana orang-orangmu Bekerja dibandingkan mengurusi kehidupan rumah tangga orang lain." ucap Xaphier.
Matanya yang tajam seakan ingin menelan Xaphier, dia melangkah dan mendaratkan tangannya di kursi yang di duduki oleh Xaphier.
"Dan bukan tempatmu berada di sini, apalagi menguping pembicaraan kami, dan memotong pembicaraanku dengan ayahku, itu tidak sopan Melda, sebaiknya kau pergi sekarang, jangan mengendap-endap mencuri dengar pembicaraan orang lain." Xaphier melirik wajah Melda yang sudah merah dan terlihat benar dia ingin membalas daren dengan bibirnya yang menipis.
"Dengarkan daren, sebaiknya kau segera pergi kami ingin berbincang-bincang." ucap tuan Caesaar menyuruhnya pergi seakan komentarnya tidak di butuhkan. Dengan menahan marah Melda bergerak dari tempatnya lalu meninggalkan mereka berdua, wajahnya masih memperlihatkan jika dia baik-baik saja, tetapi sudut matanya melirik kepada mereka berdua. 'Kalian akan menyesalinya, setiap perbuatan kasar kalian kepadaku, kalian akan menyesalinya.' gumamnya.
Wanita itu masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. "Siapkan mobil untuk berangkat ke Tulas besok siang." ucapnya. Dia ingin melanjutkan rencana yang baru saja di dengarnya dari balik pintu pamannya. "Besok akan menarik bukan?" senyumnya.
__ADS_1