
Jangan Lupa klik Vote, like and comentnya yaaaa tmn2 readers 😆 Selalu ku tunggu
🌺HAPPY READING🌺
☕
☕
Musik Waltz mengalun malam itu di ruang dansa di Mansion milik tuan Robert, malam itu dia mengadakan pesta dansa di kediamannya di Oklahoma city, Alvin baru saja menyelesaikan permainan pianonya, semua orang bertepuk tangan dengan permainan Alvin yang menghipnotis orang-orang yang hadir di sana, tatapan mereka jatuh kepada putra satu-satunya tuan Robert, kakaknya yang telah wafat menyisakan duka mendalam bagi tuan Robert tetapi luka itu menghilang sedikit demi sedikit, kehadiran Alvin yang selalu menuruti keinginan ayahnya tanpa memperdulikan keinginannya sendiri.
Malam ini Alvin berdansa dengan seorang wanita cantik yang dijodohkan ayahnya, sudah seminggu dia menemani wanita itu, karena perasaannya kepada keponakannya tidak akan pernah terwujudkan jadi dia memilih mendengar sekali lagi kata-kata ayahnya.
"Mereka sangat cocok bukan? Cantik dan tampan." Ucap salah satu tamu yang berbicara kepada tuan Robert yang menganggukkan kepalanya melihat kedekatan Alvin kepada wanita itu.
Tatapan semua orang jatuh kepada pasangan yang baru saja hadir di pesta itu, mereka menyambut kedatangan Tuan Caesaar beserta putri dan menantunya.
Tuan Robert menghampiri kedatangan mereka, karena Persoalan masa lalu telah terselesaikan, maka jalinan persahabatan diantara keduanya pun berlanjut, mereka kadang saling mengunjungi.
"Kau tampak cantik sayang." Bisik daren kepada lexia sambil mengecup pipinya.
Lexia tidak menanggapi ucapan Daren hanya senyum tipis merekah yang lexia perlihatkan di wajah cantiknya. Hari ini lexia mengenakan Cocktail dress selutut berwarna biru malam yang indah dengan rambut digelung cantik menambah keanggunan lexia malam itu. Mereka berdua berada di belakang tuan caesaar yang sedang berbincang bersama tuan Robert.
Sementara itu tuan Robert mengerling Lexia dan Daren, gadis yang pernah berpura-pura menjadi cucunya ternyata putri dari sahabatnya sendiri, meskipun begitu persoalan masa lalu sudah di lupakannya, dia pria tua yang bijak yang mengedepankan rasionalnya di bandingkan perasaan marah karena pernah di bohongi.
"Selamat datang di pestaku Celia." Ucap tuan Robert kepada lexia. Mereka berdua mengangguk dan menunduk sambil tersenyum, kedua tersangka yang pernah membohongi tuan Robert itu melenggang pergi setelah menyapa tuan Robert, lalu mereka menuju ke dance floor.
Mereka meninggalkan tuan caesaar agar dia dapat berbincang dengan nyaman bersama tuan Robert, sementara itu Daren mengajak lexia untuk berdansa, diiringi musik yang mengalun indah membuat mereka berdua terbawa dengan suasana romantis.
"Aku mengkhawatirkan Ax, apakah dia baik-baik saja bersama baby sitter saja?, aku khawatir harusnya aku bawa saja Ax bersamaku." Ucap lexia.
"Jangan khawatir sayang, aku sudah berpesan kepada Thomas untuk selalu berjaga di depan pintu kamar Ax, tidak ada seorangpun yang masuk selain pelayan yang biasa mengurusnya." Meskipun begitu lexia masih tetap khawatir, dia mengakhiri dansanya bersama Daren dengan tidak fokus, mereka berdua berjalan dan menghampiri ayahnya.
"Daren?"
Mereka berdua berbalik dan menatap wajah yang dikenal lexia melalui gambar yang dikirimkan oleh Melda. Wanita itu mantan kekasih Daren sewaktu kuliah di Inggris.
"Aku tidak tahu kau juga datang ke pesta tuan Robert?" Ucapnya senang menatap daren, tiba-tiba pandangannya jatuh kepada lexia yang berdiri di samping daren dan menatap tangan lexia yang bersandar pada lengan Daren dengan mesra.
"Aha..dia pasti istrimu yang terkenal itu." Ucapnya tersenyum simpul.
"Terkenal?" Ucap lexia mengernyitkan alisnya, 'Wanita ini terlalu berakting' gumam lexia.
"Perkenalkan aku Monica Collins, kami erm pernah berteman sewaktu kami masih kuliah di Inggris, terkadang Daren juga kerumahku karena dia sahabatan dengan kakakku Collins, benarkan Daren?" Meskipun begitu Daren terlihat tenang tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran Monica, dia hanya menganggukkan kepalanya lalu mengelus punggung lexia di saat seperti ini.
Lexia tersenyum tipis. "Aku lexia." Ucapnya singkat. Wanita itu menaikkan satu alisnya melihat ketidaksukaan di wajah lexia ketika melihat kepadanya.
"Bagaimana jika kita bertukar partner dansa? Kau bisa berdansa dengan temanku, namanya David dia temanku di salah satu Club berkuda dan dia pandai berdansa, kau bisa belajar darinya." Ucap wanita itu penuh semangat dan terlihat ceria.
"Tidak, aku tidak mau." Ucap lexia lugas.
"Tetapi jika Daren mau berdansa denganmu itu terserah dia." Ucapnya, lexia tidak suka berpura-pura. Sekali lihat saja lexia tahu wanita ini masih menyimpan perasaan kepada Daren ucapan dan mimik wajahnya yang dibuat-buat membuat lexia jengah dan bosan, tipe wanita seperti Monica tidak jauh berbeda dengan Nency, sangat posesif dan ambisius.
Daren menaikkan alisnya lalu menggenggam jemari lexia erat. "Sepertinya lain kali saja Monica, istriku kurang enak badan, kami permisi." Ucap Daren membawa lexia menjauhi kerumunan.
"Kau kenapa lexia?" Tanyanya.
"Aku kenapa? Aku baik-baik saja." Ucap lexia tanpa memandang wajah daren.
"Kau cemburu?" Tanyanya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak....
"Kebetulan yang menyenangkan bukan? Kalian berada di pesta yang sama denganku?" Suara itu tentu saja lexia mengenalnya, siapa lagi jika bukan Melda si Nenek tua.
Daren dan lexia berbalik menatap Melda dengan gaun yang serba merah tanpa lengan dan punggungnya terekspos bebas seakan ingin memberikan kesempatan kepada siapa saja yang tertarik dengannya.
"Aku tidak tahu kalau kalian juga hadir di pesta tuan Robert, bagaimana dengan hadiahku lexia kau menyukainya?" Ucapnya sambil tertawa dan menutup mulutnya seakan hal yang dikatakannya sangatlah lucu.
"Yah, lumayan." Jawab lexia asal.
Daren menarik tubuh lexia agar mereka menjauh dari nenek penyihir di depannya. Mata Melda beralih kepada Daren kali ini.
"Tuan Burchard? Maukah kau berdansa denganku?" Melda sengaja mengulurkan tangannya agar semua orang melihatnya, wanita paruh baya yang mengulurkan tangannya dan di tolak oleh seorang pria tampan seperti daren bukanlah sikap yang gentleman. Pikir Melda, dia yakin Daren tidak akan menolaknya karena orang-orang semua menyaksikan mereka berdua.
"Daren?? Maukah kau berdansa denganku?"
Ucap lexia kepada Daren di waktu yang bersamaan, lexia menangkap tangan Daren lalu menariknya ke tengah-tengah orang yang sedang berdansa, lexia tersenyum sinis melihat Melda yang tampak konyol di tengah-tengah ballroom sedang mengulurkan tangannya.
Orang-orang semua berbisik-bisik, dan lexia tidak perduli dengan bisik-bisik yang mengarah kepadanya.
"Kau lihat wajah konyolnya Daren, ck wanita itu sungguh mengerikan, dia pasti menahan malu karena di tolak berdansa denganmu." ucap lexia sambil menjulurkan kepalanya ingin menatap Melda yang tersenyum kecut kepada orang-orang yang ada di sana.
"Bukannya kau marah tapi sepertinya kau malah terhibur dengan pertunjukan seperti ini lexia sayang, kau lagi bosan ya?" ucap Daren lalu mengecup hidung lexia karena seringnya mengintip di balik bahu Daren."
"Yah, bisa kubilang sedikit menghibur." Lexia mengaitkan kedua tangannya di leher Daren kemudian berjinjit lalu memberikan ciuman menggoda di bibir Daren.
Daren tersenyum miring melihat tingkah lexia yang sengaja memperlihatkan kemesraannya di hadapan Melda dan Monica.
Musik pun berhenti mereka berdua berjalan untuk keluar dari tempat dansa, tiba-tiba Monica menghalangi langkah keduanya dan bertolak pinggang dihadapan mereka berdua.
"Istrimu keterlaluan Daren, apakah kau tidak kasihan melihat nyonya Melda tampak konyol setelah apa yang dilakukan istri pencemburumu ini, apa yang salah dengan satu dansa? Satu dansa saja tidak akan membuat suamimu menghilang." Ucap Monica dengan suara rendah tetapi tajam menghadang lexia. Tatapan lexia yang tajam menatap Monica dengan senyum miring nan angkuh tetap tegap tidak goyah dengan konfrontasi Monica kepada lexia.
"Aku heran, aku ini istrinya kenapa kalian yang pusing dan berebut untuk berdansa dengan suamiku, aku istrinya dan aku melarang siapapun berdansa dengan suamiku, bahkan kau ular derik, jangan mencoba berdansa dengan daren." Ucap lexia tajam, bibirnya setipis pisau yang sudah diasah, dia sudah menahan kemarahannya sejak foto yang dikirimkan Melda untuknya.
Daren ingin tertawa mendengar lexia memanggil Monica dengan sebutan ular Derik, tetapi dia menahan tawanya. "Sudahlah sayang kita pulang, Ax pasti sudah merindukan ibunya." Ucap daren masih menahan tawanya.
Napas Monica memburu hidungnya kembang kempis menahan amarahnya, dia tidak terbiasa di tolak, dengan menahan rasa malunya dia menarik tangan Daren.
"Jika kau pergi ! Kontrak kerja sama perusahaan akan batal, aku akan segera menelepon ayahku agar menolak kerja sama itu dan beralih kepada perusahaan yang lain." Ancamnya.
Daren tersenyum sinis. "Sifat egoismu tidak pernah berubah Monica, kalau begitu mulai hari ini kerja sama perubahan Holding Burchard company selesai dan tidak ada sangkut pautnya lagi dengan perusahaanmu." Ucap daren tajam. Lexia memukul jemari-jemari Monica yang menggenggam tangan Daren hingga terlepas.
"Lepaskan suamiku, mengapa kau begitu mirip dengan Melda? Dia wanita tua licik yang berambisi dengan Daren, carilah pria lain." Ucap lexia sambil menatap heran Monica yang mulai memainkan air yang menggenang di matanya.
"Kita pergi sayang." Ucap Daren. Bisik-bisik terdengar dari mereka yang hadir di pesta itu, mereka menatap Monica yang menghentakkan kakinya di lantai dan menyusul kepergian Daren dan lexia.
Mereka telah sampai ke pelataran parkiran, sebelum mereka membuka pintu mobil, Monica mengejar Daren.
"Da...daren ! Maafkan aku. Tadi aku terbawa emosi, aku tidak bermaksud mengatakan itu semuanya, kau tahu sifatku bukan? Aku selalu egois, jadi kumohon maafkan aku dan kita akan berbicara lagi mengenai kontrak kerja sama kita, kumohon Daren berpikirlah positif dan realistis." Ucapnya.
Lexia tertawa tetapi dengan cepat menutup mulutnya.
"Jadi menurutmu ini lucu?" Ucap Monica berubah seketika.
"Ya sangat lucu, kau bodoh ya ! Aku akan mengatakan Daren pasti gila jika dia masih mau bekerja sama dengan perempuan gila sepertimu, positif dan realistis? Kau pasti bercanda, seharusnya kata-kata itu ditujukan kepadamu yang egois."
Wanita itu menggeram mendengar cemoohan lexia kepadanya, baru kali ini dia diperlakukan rendah seperti ini.
"Pergilah Monica ! Aku sudah memutuskan, Ubahlah sifatmu itu, kau tidak akan berhasil jika kau tidak berubah sama sekali." Ucap Daren dingin.
__ADS_1
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya, lexia menatap wanita itu dari kaca spion mobil.
"Ck aku heran ! Mengapa kau dikelilingi oleh wanita-wanita seperti itu." Ucap lexia bersidekap. 'Padahal kakakku lebih tampan dari suamiku'. Gumam lexia.
Daren berbalik dan menepikan mobilnya di sisi jalan, dia tersenyum miring mendengar gumaman lexia.
"Apa? Xaphier lebih tampan dariku?" Ucap daren, dia menarik lexia hingga ia duduk di pangkuannya. "Jadi Xaphier lebih tampan dariku?" Tanyanya.
"Mungkin." Jawab lexia.
"Dan satu lagi, kau harus menjelaskan mengenai hadiah yang dimaksud oleh Melda, jangan menyembunyikan apapun dariku lexia." Ucap Daren tajam.
"Hadiah apa itu?" Tanyanya.
"Erm..foto, dia mengirim satu fotomu yang sedang minum di club bersama wanita bernama Monica tadi." Ucap lexia tidak mau menatap wajah daren.
Daren memberikan satu ciuman panjang hingga lexia menciut mendapatkan ciuman yang hampir membuatnya pingsan.
"Sudah kubilang jangan menyembunyikan apapun dariku, kau mengerti lexia, aku akan marah kepadamu jika kau menyembunyikannya, dan mengenai foto itu, aku memang minum segelas bersamanya di club karena dia adik sahabatku Collins tetapi setelah itu aku langsung pergi."
"Bukankah wanita itu pernah menjadi kekasihmu?" Tanya lexia menaikkan satu alisnya.
"Tidak lebih dari seminggu, setelah itu aku lari darinya, dia wanita agresif dan posesif, kebetulan saja aku bersahabat dengan kakaknya Collins dan aku bertemu dengan Monica."
"Bukankah aku juga agresif dan posesif padamu Daren?" Tanya lexia.
Daren lalu tertawa lalu memberikan kecupan singkat di bibirnya. "Agresif dan posesifnya sangat mengerikan lexia, dia seakan memperlakukan orang-orang seperti hewan tahanannya, kakaknya saja tidak tahan dengan sikap adiknya hingga dia memutuskan pindah rumah dan menjauh darinya.
"Mengerikan sekali." Ucap lexia.
"Dan kau Mrs daren... siap-siap saja menerima hukuman dariku sayang, tidak ada tidur untukmu malam ini." Ucap Daren melihat wajah lexia yang terpaku dan melotot.
~
Suara Nara yang terdengar tercekat membuat Xaphier menghentikan ciumannya. Nara tidak bisa merasakan kakinya yang seperti jelly karena ciuman intens Xaphier.
"Le..lepaskan aku, kau pencuri!" Ucap Nara terbata-bata karena napasnya masih belum normal, Nara masih berada dalam kungkungan Xaphier.
"Pencuri?" Ucap Xaphier tertawa mendengar ucapan Nara.
"Ya, kau pencuri, kau mencuri ciumanku dan ini ketiga kalinya." bentak Nara. Senyum Xaphier mengembang. Dia mengecup bibir Nara dengan cepat.
"Dan itu yang keempat." jawabnya.
"Kau !" Nara hendak melayangkan tangannya kepada Xaphier tetapi tangannya sudah kembali terpenjara di tangan Xaphier.
"lepaskan aku !"
"Bagaimana dengan tawaranku? kau sudah memikirkannya?" ucap Xaphier.
"Aku ? aku sudah bilang kepadamu , aku hanya ingin menjadi sekretaris pribadimu saja, dan jawabanku sudah final." Mereka saling menatap dengan jarak yang begitu dekat.
"jadi lepaskan aku, aku bukan wanitamu aku hanyalah sekretarismu saja." ucap Nara di depan wajah Xaphier. Nara akhirnya terbebas dari dekapan Xaphier, terdengar deringan ponsel dari saku Nara, dia segera mengambilnya dan menjauh dari pendengaran Xaphier. Alisnya berkerut mengapa bibi Elma meneleponnya di jam segini?
"Halo?
"Nara? Oh syukurlah kau mengangkat teleponmu." suara desah dan tangis terdengar dari seberang telepon.
"Ada apa bibi Elma?" tanyanya.
__ADS_1
"Apa kau memiliki uang 35.000 dollar? Hari ini stefanie memanjat pohon di sekolahnya lalu dia terjatuh langsung ke tanah, kakinya patah dan kakinya harus segera di operasi, bibi membutuhkan uang, aku tahu bibi mengganggumu tapi tidak ada tempat lain yang bisa ku hubungi selain kau Nara, maafkan bibi." Suara tangisnya terdengar dari seberang telepon.
"Aku...aku akan berusaha bibi untuk mencari uang itu." ucap Nara dengan bibir bergetar, kali ini dia tidak memiliki pilihan lain selain menerima permintaan Xaphier untuk menjadikannya wanitanya, dan setelah dia menjadi wanita milik Xaphier, dia akan mengabulkan semua permintaan Nara kepadanya.