
Situasi mereka terkepung, pengawal Daren tidaklah cukup untuk mengalahkan pengawal milik Xaphier, hanya Daren sebagai pelindung lexia yang berdiri kokoh di hadapan istrinya.
~
'Karena kemungkinan besar wanita yang kau nikahi itu adalah adik perempuanku yang telah lama menghilang'
Ucapan yang keluar dari mulut Xaphier membuat mereka berdua terkejut, Daren berbalik menatap lexia yang berada di belakangnya. Tubuhnya sedikit gemetar, Daren lalu menggenggam tangan lexia.
"Adik Perempuan? Lexia maksudmu?" Ucap Daren. Matanya memandang orang-orang Xaphier dengan waspada.
"Apa yang membuatmu berpikir bahwa lexia adalah adikmu?" Tanyanya.
"Aku akan menjelaskannya ketika kita berada di tempat yang lebih nyaman untuk berbicara." Ucap xaphier, dia kemudian berbalik dan berjalan dan kembali masuk di gedung itu, para pengawalnya telah kembali di posisi mereka, dan membiarkan Daren dan lexia untuk mengikuti Xaphier.
"Apakah kita akan mengikutinya Daren?" Ucap lexia sedikit khawatir.
"Tentu, aku sangat ingin tahu mengenai ucapannya, apakah yang dia ucapkan itu benar?" Daren menarik lexia dan menggenggamnya erat-erat, dia kembali memasuki hotel dan mengikuti Xaphier naik ke lantai atas hotel itu.
"Idenya benar-benar tidak masuk akal, adik? Dia pasti bercanda, iya kan Daren?" Ucap lexia ketika mereka di dalam lift.
"Kita akan mengetahuinya setelah mendengarkan penjelasannya sayang." Lexia memperhatikan Daren begitu gelisah, rahangnya mengeras namun genggaman di tangan lexia begitu erat.
Lexia tiba-tiba menarik kerah kemeja Daren hingga dia menunduk sejajar dengan lexia, dia menciumnya lembut dan perlahan membuka bibirnya kemudian dengan perlahan melepaskannya.
"Lexia?" Daren menaikkan alisnya tidak mengerti dengan tindakan lexia pada saat seperti ini.
"Erm, aku sering membaca novel roman, em..ketika pasangan yang berada di dalam lift saling berciuman, aku cuma ingin tahu bagaimana rasanya." Lexia terkikik menatap wajah Daren yang kini tersenyum.
"Benarkah? Ciuman tadi terlalu singkat." Ucap Daren menarik dagu lexia ke arahnya tetapi lift membuka dan kegiatan mereka terhenti. Mereka berdua keluar dari lift dan melihat Xaphier sudah menunggu mereka di sana.
Xaphier sudah duduk di salah satu kursi, Daren dan Lexia telah datang dan bergabung.
Xaphier tidak melepaskan pandangannya dari wajah lexia, dia lalu mengambil sebuah foto dari sakunya, Ia menunjukkan satu foto kepada mereka berdua, foto seorang wanita cantik yang begitu mirip dengan lexia, senyum wanita itu begitu persis dengan senyuman lexia.
Lexia mengambil foto itu, mulutnya sedikit terbuka karena heran, dia seakan melihat dirinya sendiri dalam versi wanita yang sudah dewasa.
"Wanita itu ibuku." Ucap Xaphier.
Lexia menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Kau mungkin masih belum percaya jika foto itu saja sebagai buktinya, masih tidak cukup untuk membuktikan lexia adalah keturunan keluarga Caesar.
Dia kemudian membuktikan dengan memberikan dokumen berwarna coklat lalu menaruhnya di depan mereka berdua, Daren mengambilnya dan membaca isi kertas itu.
"Saya berhasil mencocokkan hasil DNA antara kau dan ayahku, dan hasilnya tidak di ragukan lagi. hasilnya 99,8% kau memiliki darah keturunan keluarga Caesar."
"Mencocokkan? kapan kau mengambilnya." ucap lexia menatap dirinya. Xaphier tersenyum. "Itu rahasia lexia, kau tidak perlu tahu, kapan aku mengambilnya." kekehnya.
Daren mengambil hasil DNA itu dan membaca hasilnya. "Apakah ini benar?"
"Ya, lexia adalah adikku yang diculik 16 tahun yang lalu ketika usianya 2 tahun. Lalu dia di besarkan oleh salah satu penculik itu sampai usianya 4 tahun kemudian dia di bawa oleh keluarga Kenzo." Ucap Xaphier dengan tenang.
"Tapi...kau sama sekali tidak mirip denganku, mengapa mereka bilang mirip dengan wajahmu yang sangar? hanya warna di matamu saja, apakah wajahku sesangar itu daren?" ucap lexia spontan menghadap ke Daren.
Xaphier yang terkekeh terdiam, pancaran di wajahnya tiba-tiba dingin.
Lexia menatap wajah Xaphier, 'jika semua Perkataannya benar, jadi aku adalah adiknya? Lexia memalingkan wajahnya kepada Daren, dia terlihat shock.
"Ayahku ingin menemui lexia, hanya lexia." Ucap Xaphier, dia melirik kepada Daren, meskipun sebenarnya ayahnya meminta keduanya agar datang menemuinya.
Mereka saling menatap. "Tidak! aku ingin bersama Daren menemui ayahmu, aku tidak mau datang seorang diri." Ucap lexia.
"Yang akan kau temui itu ayahmu juga lexia." Ucap Xaphier. Lexia tersenyum miring, menatap Xaphier dengan tajam.
"Kalau Daren tidak pergi akupun tidak akan pergi." Ucapnya keras kepala.
"Aku akan ikut menemani lexia."
__ADS_1
Xaphier menggertakkan giginya, tanda tidak setuju tetapi dia tidak memiliki pilihan lain, Xaphier akhirnya menerima kehadiran daren bersama mereka.
Lexia menatap sosok yang duduk dihadapannya, wajahnya yang tampan dengan mata safirnya yang tajam balas menatap lexia, entah bagaimana mengungkapkan perasaan lexia, meskipun dia tahu pria ini kakaknya tetapi dia merasa asing dan canggung.
"Aku akan mengabari kalian jika ayahku sudah tiba di Oklahoma." Ucap Xaphier, dia kemudian berdiri dan sebentar menatap kembali lexia dan segera pergi.
"Kau baik-baik saja lexia?" Tanya daren.
"Aku baik-baik saja." Ucap lexia menatap punggung Xaphier yang menjauh.
~
Pria tua itu berjalan terburu-buru menuju ruangan tuan Caesar, dia mengetuk keras dan mengambil napas, setelah mendengar suara dari dalam barulah pria tua itu masuk.
Dia membuka pintu dan sedikit membungkuk lalu mengampaikan kabar dari xaphier kepadanya.
"Sir kabar dari Oklahoma telah tiba, tuan Xaphier sudah mengkonfirmasi bahwa gadis itu memang Celia tuan, ini salinan hasil pemeriksaan DNA yang diambil tuan Xaphier secara sembunyi-sembunyi ketika dia menemui nona lexia dan hasilnya sudah keluar, dia adalah nona Celia yang menghilang 16 tahun yang lalu tuan." Ucap pria tua itu berbicara dengan cepat.
Tuan Caesar membaca kertas yang ada di tangannya, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedih, akhirnya selama bertahun dia berhasil menemukan anak perempuannya yang pernah di culik.
Dia berdiri dengan kertas masih berada di genggamannya lalu menatap foto besar yang tertutup pintu dan tirai, dia membukanya lalu menatap wajah cantik wanita dalam lukisan.
"Veronica, akhirnya aku menemukan anak kita, putri satu-satunya milik kita, keturunan asli dari Caesar." Ucap tuan Caesar Rodrigo.
Wajah tua pelayan itu tersenyum senang, "Selamat tuan, anda berhasil menemukan nona Celia, aku ucapkan selamat." Ucapnya.
"Jangan sampai xaphier tahu hal ini, xaphier juga adalah putraku, dia sudah kuanggap putra kandungku sendiri, jangan membiarkan siapapun tahu hal ini, dia juga adalah keturunan Caesar tapi dari adikku yang telah wafat, tidak boleh ada seorangpun yang tahu hal ini." Ucap tuan Caesar memeluk erat foto kecil lexia dari dalam laci, foto mereka bertiga tanpa Xaphier ada di sana.
~
Kediaman Juan Robert begitu sibuk karena mereka akan makan malam bersama dengan lovelia dan Barbara, akhirnya dia berkumpul dengan cucu aslinya.
Malam itu balutan perban lovelia telah dibuka, meskipun masih ada bekas terkelupas dari ujung pipinya tetapi dia sudah bersyukur karena perban itu akhirnya di perbolehkan di lepas.
"Kau cantik lovelia." Ucap pamannya ketika mereka bertemu di ruang makan. Lovely tersenyum manis, ekspresi senang tuan Robert membuat lovelia begitu bersemangat untuk bertemu dengan mereka. Tetapi ketika melihat wajah Barbara wajahnya berubah dingin dan menakutkan.
"Iya kakek, aku mengenalnya, kami menjadi teman baik jika kami bertemu lagi, dan dia sekarang bibiku meskipun usia kami sama." Ucap lovelia ceria.
Tuan Robert mengangguk, tetapi Barbara mendengus mendengar ucapan anaknya. "Asal usulnya masih tidak jelas, aku masih belum menerima pernikahan mereka." Ucap Barbara sambil menyantap irisan daging ke dalam mulutnya.
"Ah ya, aku belum memberitahukan kepada kalian semua siapa lexia, baru-baru ini ayah dan kakaknya telah mencarinya, akupun sebenarnya mencari orang tua lexia tetapi syukurlah keluarganya akhirnya menemukan lexia "
Semua yang duduk di meja makan menghentikan aktivitas makannya dan berbalik menatap tuan Robert.
"Benarkah ayah? Orang tuanya telah menemukan lexia?" Tanya Alvin, lovelia pun sama terkejutnya. Sedangkan Barbara melirik tuan Robert seperti acuh tetapi dia ikut penasaran ingin tahu siapa keluarga gadis kecil itu.
"Itu kabar yang menggembirakan kakek." Ucapnya.
"Ya, orang tuanya juga teman lama kakek, sewaktu masih muda, dia memiliki Lexia dengan usia mereka yang sudah berumur, tetapi mereka menyambut dengan gembira kehadiran Celia."
"Celia?" Ucap lovelia.
"Ya, kakek ingat ibunya memberi nama Celia Rodrigo Caessar, dia adalah putri dari keluarga besar bangsawan Caessar di Italia tepatnya di Milan." Ucap tuan Robert sambil mengambil serbet dan mengusap di mulutnya.
Alvin dan Barbara terkejut mendengarnya, apalagi Barbara, dia menganga mendengarkannya.
"I..itu tidak mungkin tuan Robert bagaimana bisa ular kecil itu....
"Hati-hati menyebut namanya, kau tidak tahu siapa yang kau panggil ular, kau tahu Xaphier Caesar bukan? Dia memiliki perusahaan raksasa di beberapa kota besar yang ada di Amerika dan kau tahu apa yang di gelutinya bukan? Dia adalah kakak Lexia, jadi jaga ucapanmu."
Barbara mengangguk tertahan, dia begitu terhenyak, sendok dan garpu nya jatuh begitu saja di lantai.
~
Lexia sedang duduk di kursi santai di dekat tepi kolam renang, dia memikirkan semuanya, ingatannya kembali kepada kakek dan nenek Kenzo yang merawatnya dan menyayanginya seperti cucunya sendiri.
Dia merindukan mereka berdua. Pintu di belakangnya membuka, Daren menghampiri lexia dan bergabung dengannya di kursi itu lalu memeluk tubuh lexia.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan Mrs Daren?" Tanyanya.
"Kau." Ucap lexia.
"Bohong, kau memikirkan apa?" Tanyanya.
"Aku memikirkan kakek dan nenekku." Ucapnya. Lexia lalu berbalik dan menatap Daren. "Erm Daren? Aku ingin bertanya, jawab dengan jujur."
"Kau mencintaiku?" Ucap lexia.
Daren tersenyum miring. "Kenapa kau bertanya?"
"Tidak, aku hanya ingin tahu." Ucap lexia menatap tajam padanya. Daren terlihat berpikir sebentar.
"Jika aku tidak mau berpisah denganmu, tidak ingin jauh darimu, merindukanmu, hanya namamu yang berputar di kepalaku dan jantungku berdetak hanya untukmu, apa itu termasuk kalau aku mencintaimu?" Bisik daren, dia kemudian menyembunyikan wajahnya di ceruk leher lexia dan menghirupnya lalu menggigitnya.
"Emm, kupikir itu sudah termasuk." Ucap lexia tersenyum lalu mengaduh karena gigitan kasar daren.
"Daren? Kau...kau tidak akan berpisah dariku bukan?, Meskipun aku bertemu dengan keluarga Caesar nanti." Ucap lexia.
"Sekarang kau sudah menjadi nyonya Daren, Kau istriku jadi tidak ada yang bisa memisahkan kita berdua." Bisik daren cepat karena dia sekarang sedang sibuk dengan tubuh lexia.
~
Xaphier terkekeh, dia menyesap minumannya, lalu menatap wajah cantik di foto itu.
"Kalian sudah menganggapku sebagai anak kandung kalian, meskipun kalian adalah paman dan bibiku, aku sangat bersyukur ayah, tentu saja aku akan memperlakukannya sebagai adikku sendiri." Ucap Xaphier.
Suara langkah kaki itu mengalihkan pandangannya.
"Bagaimana perkembangannya? Mereka menyerah?" Tanyanya.
"Ya sir."
"Bagus, aku tidak ingin lagi bermain-main dengan mereka, segera bereskan karena sebentar lagi aku akan menyambut kehadiran adikku tersayang." Ucapnya.
"Maafkan aku ayah, karena sudah sejak lama aku tahu siapa diriku dan orang tuaku, tetapi..kalian membesarkan aku layaknya anak kandung kalian sendiri, tentu aku harus menganggap lexia adik kandungku."
~
Hari itu sangat di nantikan oleh tuan Caesar, dia telah bersiap untuk bertemu dengan putrinya yang telah lama hilang. perjalanan jauh yang di tempuhnya tidak sebanding dengan kerinduannya kepada Celia.
"Thomas, sampaikan kepada Xaphier, sebentar lagi kita akan tiba." ucap tuan Caessar.
"Baik." Dia menatapnya dengan ketidaksetujuannya dari pancaran matanya, tetapi dia harus menurutinya bukan? sudah lama dia mengikuti tuan caesaar, kesetiaannya selalu dia tunjukkan apapun itu, tetapi satu hal yang mencemaskan hatinya yaitu hadirnya gadis itu, putri dari tuan caesaar, karena dia begitu sayangnya kepada Xaphier keponakannya, dia tidak ingin kedudukannya di geser oleh seorang gadis kecil.
~
Seperti hari-hari biasanya lexia menyiapkan makan siang mereka, dia lebih suka menyiapkan sendiri makanannya dari pada menyuruh chef di villa itu untuk masak untuk mereka, meskipun beberapa percobaan masakannya gagal total.
Lexia mengintip dari balik pintu kerja Daren dan mendengar percakapan Daren di telepon."
"Baik kami akan hadir di tempat yang kau tunjukkan besok siang, tentu." Daren kemudian menutup teleponnya lalu menatap lexia yang sedang mengintip dari pintu ruangannya.
Dia tersenyum miring lalu memberikan isyarat dengan jarinya agar lexia masuk, lexia lalu menghampiri Daren.
"Aku benci jika kau bersikap arogan seperti itu Daren." ucap lexia lalu duduk di kursi tamu dan menatapnya yang tersenyum.
"Bersikap arogan?" Daren bangkit dari tempat duduknya dan memeluk lexia dengan erat.
"Itu hanya isyarat sayang." bisik daren merayu lexia.
Lexia mendengus, dia menarik leher Daren mendekat ke arahnya kemudian memeluknya erat. "Kau terlihat seperti pria arogan seperti pertama kali kita bertemu, kau mesum, mengerikan, membuatku benci padamu." ucap lexia.
"Jadi kau membenciku sekarang?" dia menaikkan satu alisnya, lalu merangkak di atas tubuh lexia.
"Apa yang kau lakukan Daren, nanti Evan masuk." ucap lexia dengan gugup melirik ke pintu.
__ADS_1
"Salahmu menggodaku lexia, kau yang menarikku, jadi jangan salahkan aku jika tubuhku bergerak dengan sendirinya." bisik daren mulai memanjakan tangannya. Pintu itu tiba-tiba membuka, nampak wajah melotot nency yang berdiri di ambang pintu, di sampingnya telah berdiri Evan yang terlihat jengkel karena wanita ini menerobos masuk begitu saja.