
💕Coment like and votenya teman 2 readers😆 Jangan lupa yaaa💕
☕
☕
Setelah lexia memasak makanan yang menjadi racun bagi dua orang pengawal yang tidak beruntung di mansion, membuatnya cukup kapok, karena Xaphier tidak berhenti mengomeli lexia, pasalnya Pengawalnya sakit perut dan dibawa ke rumah sakit milik Caessar. Lexia tersenyum kecut merasa bersalah karena memaksakan para pengawal itu mencoba hasil eksperimennya bersama Nara, meskipun Nara sudah memperingatkan lexia bahwa itu ide yang buruk. Tetapi lexia dengan keras kepala mencari mangsa untuk menjadi kelinci percobaannya.
~
"Ugh sial, kenapa memasak masakan Perancis itu begitu sulit. Ugh, aku harus lebih berusaha lagi." Ucap lexia bersemangat sambil melirik Daren yang sedang memainkan laptopnya di atas tempat tidur.
"Menyerahlah sayang, kemampuan orang itu berbeda-beda, ada yang pandai di bidang tertentu dan tidak pandai di bidang yang lainnya. Kau tidak perlu bersusah payah memasak, koki yang terkenal akan aku pekerjakan di villa kita nantinya." Ucap Daren masih menatap layar digital di pangkuannya.
"Ck bukan itu intinya Daren, aku juga ingin pandai memasak, apalagi jika Ax sudah besar nanti dia pasti ingin minta masakan mommynya.
Lexia menatap daren dengan pandangan mendelik.
"jadi kau ingin bilang aku tidak memiliki kemampuan dalam memasak?"
"Bukan seperti itu maksudku sayang." Jawab Daren.
"Ck, aku memiliki kemampuan di berbagai bidang, kau saja yang tidak tahu." Ucap lexia mengangkat dagunya tinggi-tinggi lalu memandang Daren sambil melipat kedua tangannya.
Daren mengalihkan perhatiannya dari layar digital di hadapannya, dia kemudian tersenyum sensual kepada lexia. "Aku tahu satu hal kemampuanmu yang hebat dan akupun mengakuinya." Ucap Daren sambil tersenyum licik.
Lexia berbalik dan bingung dengan ucapan Daren. "Kemampuanku yang hebat? Apa itu?" tanyanya.
"Kau handal di sini bersamaku di atas tempat tidur." Ucap Daren tersenyum miring tanpa rasa bersalah.
Lexia mengambil bantal lalu memukul bahu Daren. "Kau pria tua Mesum, meskipun sebenarnya perkataanmu benar juga." Kikik lexia sambil mencoba merayu Daren, lexia tahu Daren sedang sibuk dan harus menyelesaikan pekerjaannya malam ini, tetapi lexia yang usil suka menggoda Daren diwaktu yang tidak tepat.
"Hem, jadi kau mencoba merayuku? baiklah jika itu yang kau inginkan, pekerjaan ini bisa diselesaikan oleh Evan Sekarang juga, aku tinggal mengirimkan saja kepada Evan dan aku bisa meladeni rayuan mautmu." Ucap Daren mulai menyingkirkan laptopnya dan menaruhnya di atas meja.
"A..aku cuma bercanda, sebaiknya kau selesaikan saja pekerjaanmu, aku mau tidur." Ucap lexia berbaring dan membelakangi Daren yang tersenyum melihat nyali lexia langsung menciut, jika Daren sudah merayunya, dia dipastikan tidak akan bisa tidur semalaman jika Daren memutuskan bercinta dengannya, tubuh lexia sangat letih karena memasak dengan Nara seharian, jadi dia tidak memiliki waktu untuk meladeni Daren.
~
"Bagaimana? Ada kabar terbaru dari mansion Caesar?" Tanyanya.
"Saat ini Nona lexia seperti biasa menjalankan aktivitasnya, tadi siang dia sedang membuat masakan bersama Nona Nara." Lapornya.
"Hem, benarkah? Jadi dia suka memasak?"
"Tetapi dua pengawal masuk rumah sakit karena sakit perut akibat masakannya." Lapornya lagi.
Adrick terkekeh.
"Benarkah? Aku ingin kau mengambil fotonya ketika dia sedang memasak." Ucap Adrick tersenyum.
"Baik tuan."
Beberapa rencanaku tidak berhasil dengan mudah, meskipun persiapan yang aku lakukan sangat hati-hati dan matang dan tentu saja aku memperhitungkan segalanya, bertemu dengannya saja begitu sulit. Adrick berdecak lalu menatap jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menelepon seseorang.
"Rencana selanjutnya akan aku pastikan berjalan dengan lancar, tetapi jika rencana bertemu dengan lexia tidak berhasil lagi, aku akan menyerang secara frontal, begitulah caraku bekerja." dia mengambil cerutu yang ada di sakunya dan menghisapnya perlahan.
"Kenapa begitu sulit hanya untuk bertemu denganmu." Gumam Adrick sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
~
D'star Store, pukul 11.00
Lexia terkesiap, dia menatap marah kepada pria yang berdiri di hadapannya dengan sikap angkuh tanpa merasa bersalah berdiri di hadapannya dengan pandangannya yang kurang ajar.
Hari ini Lexia dan Nara berbelanja dan di antar oleh beberapa pengawal, ketika memilih pakaian, tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya hingga dia berada di dalam ruangan pakaian ganti, matanya terbelalak melihat pria bermata biru yang dalam memandangnya dengan senyum kemenangan dan aura gelap di sekitarnya.
__ADS_1
"Lexia akhirnya kita bertemu, Sudah sekian lama aku menanti-nantikan pertemuan ini." Ucap Adrick.
Lexia menatapnya dengan pandangan marah, tajam dan jijik, tanpa Adrick duga lexia melemparkan pakaian yang ada di tangannya cukup keras hingga menutupi separuh wajahnya. Tetapi tidak semudah itu lexia bisa lepas dari jeratan Adrick, tangannya memegang lengan lexia kemudian menariknya, menyentuhnya kulit dengan kulit membuat perasaan Adrick terasa bergetar, tetapi lexia memberikan pukulan tepat di kaki bagian dalam Adrick lalu mendorongnya hingga tubuhnya menabrak cermin di tempat itu.
Lexia membuka ruangan kecil itu lalu berlari dan mencari Nara yang sibuk mencari dress untuk ibu hamil.
"Kenapa dengan napasmu lexia, kau seperti baru berlari kencang." Ucap Nara melongo keheranan.
"Kita pulang Nara, sekarang." Ucap lexia sambil menjulurkan kepalanya menatap pria itu berdiri dari jarak cukup jauh menatap langsung lexia dengan tatapan tajamnya.
"Ada apa?" Tanyanya lagi.
"Sebentar aku ceritakan, tetapi pokoknya kita keluar dulu dari sini." Ucap lexia menarik tangan Nara sambil keluar dari toko pakaian dan Sampai ketempat yang cukup ramai.
Lexia mengambil napas dan menghembuskan perlahan.
"Kau mau ceritakan sekarang?" Tanyanya.
"Erm, tapi kau harus berjanji dulu jangan beritahu daren, dia pasti akan melarangku keluar lagi, keluar untuk berbelanja saja sangat sulit mendapatkan izin darinya padahal sudah ada beberapa penjaga yang mengawal kita." Ucap lexia masih was-was dan masih menarik Nara agar menjauh dari tempat mereka pergi.
"Ok, tentu saja aku tidak akan memberitahukan kepada Daren, tetapi ada apa?" Ucapnya.
"Adrick Rudolf, dia ada di sini, kau pasti tidak percaya, pria penguntit itu menarikku di ruang ganti pakaian." Ucap lexia.
"Terus, apa yang terjadi." Ucap Nara melotot sambil memegang tangan lexia.
"Aku menendangnya terus Pakaian yang ada di genggamanku kuhempaskan di wajahnya." Ucap lexia sambil menghapus peluh di wajahnya.
"Ka..kalau begitu kita pulang, jangan sampai pria itu masih ada di sini bisa-bisa dia melakukan sesuatu lagi, aku takut lexia." Ucap Nara, kini tangannya yang menarik lexia menjauh dari tempat itu dan segera ke area parkiran mencari mobil mereka yang terparkir.
"Di..dia ada di sana lexia." Ucap Nara, mereka berdua berhenti sebentar, Sebelum sampai di mobil yang terparkir.
"Sial, apa sih yang diinginkan pria sinting itu!" Geram lexia.
Dia tersenyum miring, langkahnya begitu ringan mendekati mereka berdua. Sementara Nara memegang erat lexia dengan wajah ketakutan.
"Minggir, kenapa kau menghalangi jalan kami!" Ucap lexia berdiri di depan Nara, mencoba lebih berani.
Adrick terkekeh, dia menatap lexia dengan tenang. "Biarkan temanmu itu pulang, tetapi aku ingin berbicara denganmu lexia, sekarang." Ucapnya.
Mata lexia menerawang mencari para pengawal yang ditugaskan menjaga mereka.
"Kemana sih mereka semua." Gumam lexia.
Adrick mengikuti pandangan lexia, kemudian secercah senyum di wajahnya dapat menjelaskan segalanya mengenai menghilangnya pengawal-pengawal mereka.
"Aku hanya ingin berbicara lexia, bisakah kau meluangkan waktumu Sebentar?" Tanyanya.
Lexia mempertimbangkan tawarannya, sementara Nara bisa kembali ke mansion dengan selamat dan bisa memberitahu kepada Thomas mengenai kegilaan Adrick. Pikirnya.
"Bicaralah, aku mendengarmu." Ujarnya.
"Tidak di sini lexia, aku ingin privasi untuk kita berdua, aku ingin tempat yang aku tentukan, bagaimana?" Tanyanya.
"Tidak, katakan sekarang atau tidak sama sekali." Ucap lexia, masih menggenggam tangan Nara.
Kilat tidak sabar jelas terlihat di wajah Adrick, dia tidak suka di tentang, matanya menatap tajam lexia, dia berjalan ke tempat lexia dan menarik tangan lexia dengan tangan besarnya.
"Kita bicara di tempat yang aku inginkan atau kau tidak akan pulang sama sekali begitupun dengan temanmu."
Lexia dengan marah menghempaskan tangannya yang dipegang dia lalu menatap Nara yang sudah ketakutan. "Dasar pria tua pengancam." Gumam lexia.
"Erm..baiklah yang penting biarkan Nara pulang dulu, dan aku akan bicara denganmu di tempat yang kau maksudkan." ucapnya.
Senyum mengembang terpeta di wajahnya, senyum itu teror bagi lexia.
__ADS_1
"Pulanglah Nara." ucap lexia, Nara masih memegang tangan lexia dengan erat, lalu menggeleng takut.
"Pulanglah dan segera beritahu semua ini kepada Thomas dan segera jemput aku." gumam lexia menyakinkan Nara.
"Ba..baiklah lexia." ucapnya perlahan, kemudian Nara naik ke dalam mobil salah satu pengawalnya yang di jaga oleh pengawal milik Adrick.
"Nah, saatnya menuntaskan apa yang selama ini mengganggu dalam pikiranku, ikut denganku sebaiknya kita bisa mengobrol di Cafe di sebelah Mol itu." ucap Adrick, dia berjalan di depan lexia, sedangkan lexia mengikutinya dari belakang. Adrick melirik sekilas kepada lexia yang menggumamkan sesuatu seperti sumpah serapah dan segala perkataan kotor yang ingin dilontarkan lexia kepadanya.
Adrick sama sekali tidak tergganggu dengan sikap permusuhan kexia, sebaliknya dia merasa sikap perlawanan darinya merupakan tantangan tersendiri untuknya, karena selama ini dia biasa mendapatkan apa yang diinginkannya apalagi soal urusan perempuan, wanita-wanita itu rela melemparkan dirinya ke atas tempat tidur Adrick dengan suka rela.
Mereka tiba di salah satu Cafe, tempat itu cukup lengang sehingga Adrick merasa tempat itu cukup pas untuknya dan lexia berbincang.
"Duduklah lexia, aku akan memesan sesuatu untukmu." Ucap Adrick dengan sikapnya yang santai lalu menjentikkan jarinya kepada salah satu pelayan. Lexia menggeleng tidak percaya.
'Apa dia raja atau apa? angkuh sekali pria ini.' gumam lexia sambil mendengus dan mengerutkan hidungnya.
Beberapa menit yang membuat lexia ingin segera menonjok wajah pria di hadapannya, pria itu sama sekali tidak berbicara hanya menatap lexia dengan sorot mata mengerikan, entah khayalan apa yang ada di pikirannya. Adrick menopang dagu dan berlama-lama memandang lexia sambil tersenyum mengerikan.
"Jika kau tidak ingin bicara, sebaiknya aku pergi, Suami dan Anakku menungguku di rumah." ucap lexia, kalimat itu seakan menampar wajah Adrick ketika dia harus dibangunkan dari kenyataan bahwa lexia sudah memiliki Suami dan putra.
"Lexia, aku memiliki tawaran untukmu, bagaimana?" tanyanya.
"Apapun tawaranmu itu aku sama sekali tidak tertarik." jawab lexia.
Dia tersenyum sambil menyilangkan kedua kakinya. "Kau tahu, perusahaan suamimu itu sebentar lagi menjadi sasaran empuk perusahaanku dan aku akan melakukan segala cara untuk menghancurkan Holding Burchard kecil itu."
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya lexia.
"Burchard Holding yang begitu berharga milik Daren Burchard itu akan segera tamat, aku ingin menghancurkan sampai ke akar-akarnya, tetapi...semua itu tidak akan aku lakukan jika saja kau memenuhi tawaranku ini." Adrick merasa kemenangan sudah menghampirinya, lexia mungkin adalah tipe wanita yang akan berkorban untuk suaminya apapun itu, Ok kita akan lihat pengorbanan apa yang akan lexia berikan untuk suaminya dan sejauh mana dia berkorban.
"Tawaran?! Apa yang kau inginkan." ucap lexia.
"Memilikimu." Senyuman Adrick membuat lexia begitu geram.
"Semudah itu Lexia, jika kau menerima permintaanku, aku tidak akan menjadi penghancur perusahaan suamimu yang sudah lama di rintisnya, dan kau juga masih bisa bersama putramu, tetapi kau akan menjadi milikku di setiap kesempatan apapun." Senyum mengerikan terpancar dari wajahnya.
Lexia menghembuskan napasnya. Adrick sedang menunggu jawaban Lexia sekarang juga.
"Holding Burchard itu milik suamiku Daren, dan bukan milikku, jika kau ingin menyerang perusahaannya maka lakukanlah, aku percaya kepada daren, dia tidak akan mudah membiarkan orang sepertimu menghancurkan perusahaannya." jawab lexia.
"Jadi kau ingin melihat kehancuran suamimu di depan matamu dan membiarkannya begitu saja?" tanyanya heran dengan pemikiran lexia.
"Jangan menganggap enteng kemampuan Daren, tanpa bantuanku dia bisa mengatasi perusahaannya, kau terlalu menganggap tinggi dirimu, tanpa bantuanku Daren bisa mengatasi masalahnya sendiri."
Adrick tersenyum meremehkan, dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau sama sekali tidak mengenal dunia bisnis lexia, seorang Daren akan hancur manakala perusahaannya itu kuratakan dengan tanah, perusahaan keluarganya yang turun temurun akan hancur dalam sekejap mata." bisiknya.
Lexia terdiam. "Jika Perusahaannya hancur, maka hancurlah, tetapi dia akan lebih hancur ketika aku mengkhianatinya." Ucap lexia dengan penuh percaya diri dengan sikap angkuhnya di depan Adirck.
"Aku tidak akan berkorban menghancurkan keluargaku hanya untuk sebuah perusahaan, kau bisa menyebutku egois." Senyum lexia dengan licik.
"Jadi, bagaimanapun usahamu menghancurkan Daren, aku tidak akan berkorban dan membiarkanmu melakukan keinginan gilamu, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, jadi sebaiknya kau jangan pernah menghubungiku lagi." ucap lexia, dia kemudian berdiri lalu berpaling darinya. Lexia terkejut ketika Daren sudah berdiri di sana bersama Thomas dan Pengawal-pengawal lainnya.
Diwaktu yang bersamaan, pengawal-pengawal Adrick juga telah membentengi tuannya dan melindunginya.
"Daren !" ucap lexia.
Wajahnya seperti hendak menerkam Adrick Rudolf sekarang juga, dia hendak berjalan menghampirinya tetapi para pengawal milik Adrick mencoba menghalaunya.
Daren menarik tangan lexia dan menggenggamnya erat-erat.
"Thomas bawa Nyonya ke mobil." perintahnya.
"Baik tuan." Thomas segera membawa lexia ke mobil yang sudah menunggunya. Beberapa mobil hitam berderet di sepanjang pelataran parkir, pria-pria berjas dan berkacamata hitam sedang mengelilingi mobil yang di tumpangi lexia.
__ADS_1
Tanpa ragu Daren mengambil pistol dari jasnya dan menodongkan langsung senjatanya kepada Adrick, meskipun begitu para pengawalnya juga turut membidik Daren.
"Sekali lagi, jika kau berani mendekati istriku, pistol ini akan menembus langsung kepalamu." Ucap daren, mereka saling menatap tajam, Aura kebencian menguar dari masing-masing pria berwajah tampan itu saling menilai dan menatap musuh di hadapannya.