
Terik matahari sudah berganti dengan cahaya sore yang lebih sejuk ketimbang siang tadi, kulit Ax sudah kemerahan bahkan menuju coklat, beberapa jam di bawah sinar matahari siang itu, membuatnya seakan telah tinggal di dekat pantai untuk beberapa hari.
"Hari ini kita sudahi dulu Ax, sekarang sudah jam 4 sore." Ucap Roy, menyeka keringat di keningnya lalu berdiri tegak dan memegang cangkulnya. Ax pun berhenti, suara napasnya nyaris terdengar, kelelahan sangat dirasakannya, tetapi dia menganggap semua itu adalah olah raga untuknya, karena setelah tinggal di desa ini, dia tidak pernah olahraga untuk menyehatkan tubuhnya, tentu saja tidak dihitung dengan olah raga malamnya.
"Oke sir," Ax melangkah menjauhi tanah yang dicangkulnya dan segera menuju pondok dan menyimpan cangkulnya di sana.
Roy mengambil botol mineral dan memberikannya kepada Ax, dia lalu menyiramkan air itu ke wajahnya kemudian dia meneguknya.
"Sebaiknya kau pulang, pasti istrimu mengkhawatirkanmu." Ucap Roy, "upahmu akan aku bayar setelah tanah ini selesai di gemburkan."
Ax mengangguk perlahan, dia mengambil kaosnya dan segera mengenakannya, setelah meminum air dari botol yang diberikan untuknya sampai tandas, Ax bersiap-siap untuk pulang.
"Oh ya Ax, akan ada pesta perayaan di sepanjang jalan nanti malam, tiga hari berturut-turut, di dekat lapangan luas di dekat perbatasan desa, kau bisa mengajak istrimu ke sana." Ucap Roy.
"Oky sir, aku pergi dulu."
Ax meninggalkan ladang dan berjalan, hari semakin sore tetapi dia terlihat tampak senang, hari ini dia begitu lelah, tetapi di satu sisi dia sangat puas, setidaknya dia sudah mendapatkan pekerjaan yang akan menghasilkan upah untuknya.
Dari kejauhan Ax dapat melihat wajah khawatir Fairley yang sedang berdiri di depan halaman rumahnya, dia berdiri dengan wajah cemas, ketika dia melihat Ax dari kejauhan, senyum merekah di wajahnya, dia menyambut Ax dan sedikit berlari menujunya.
Fairley memeluknya, tidak perduli dengan Ax yang berkeringat dan tubuhnya di penuhi tanah. Dia berjinjit dan menarik wajah Ax mendekat dan memberikan kecupan pelan membuat Ax membalas ciuman panjang Fairley. Dia menarik bibirnya dari bibir Ax.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.
Ax tersenyum dan mengangguk, dia memeluk pinggang Fairley dan menempelkan hidungnya ke hidung Fairley. "Kau mengkhawatirkanku? Maaf, tadi aku tidak sempat pulang untuk makan siang, ayah junior menyiapkan sandwich tuna kepada kami." Bisiknya, sambil memberikan kecupan-kecupan kecil di bibir Fairley.
"Bagaimana dengan Grilled chicken dan salad? Kau menyukainya? Tadi siang aku membuatnya untukmu, tinggal di panaskan kembali, Untungnya dazon juga memberikan microwave di dalam dus itu." Ucap Fairley senang.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah mungil mereka, tanpa mengetahui ada seorang pengawal yang selalu melihat keadaan mereka dan melaporkannya kepada tuan Caesaar.
~
Lexia memekik ketika melihat video yang diberikan ayahnya untuknya.
"Ini Ax?" Ucap lexia heran, dia melihat putranya sedang mencangkul di bawah terik matahari.
"Dia sedang bekerja menggarap ladang seseorang." Ucap tuan Caesaar. "Untunglah sekarang dia memiliki pekerjaan." Tambahnya.
Lexia tersenyum bangga melihat putranya, dia tidak tega melihat putranya kesusahan seperti ini, tetapi dia juga perlu belajar untuk menghargai kerja keras serta menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya.
"Bagaimana dengan Fairley? Apa ada tanda-tanda kehamilan darinya?" Tanya tuan Caesaar.
"Tidak ada tuan, belum ada tanda-tanda kehamilan dari nona Fairley. mereka tampak sama seperti sebelumnya."
"Benarkah? Apa Ax tidak bekerja keras?" Ucapnya, "Apa aku harus mengirimkan obat untuk Ax?"
"Ayah, sebaiknya biarkan mereka seperti itu dulu, jangan memaksakan kehendak ayah, nanti akan ada kabar baik terdengar juga dari mereka, jadi ayah tidak perlu memaksa mereka."
__ADS_1
~
Ax baru saja keluar dari kamar mandi, sekarang dia sudah segar kembali, handuk masih berada di lehernya, dia kemudian duduk di kursi meja makan dan menunggu Fairley memanaskan makanannya.
Ax menarik tangan Fairley dan duduk di pangkuan Ax. "Aku merindukanmu," ucap Ax, menyembunyikan wajahnya di dada Fairley dan menghirupnya. "Aku suka wangimu, membuatku tenang." Bisik Ax.
Pelukan erat Ax membuat Fairley merona, "Aku harus menyiapkan makanannya Ax, kau pasti lapar." Ucap Fairley melepaskan diri dari Ax dan segera mengambil makanan dari microwave dan menaruhnya di atas piring.
Dengan lahap Ax memakannya, Fairley sangat senang melihat suaminya memakan habis makanan yang dibuatnya, dia tidak pernah mengeluh dengan apa yang di siapkan Fairley di atas meja untuk makan mereka.
"Kau tidak makan?" Ucap Ax menatap Fairley yang masih memandang Ax dengan ekspresi senang di wajahnya. Fairley mulai menyuap makanannya, sesekali dia menatap Ax, yang telah sedikit berbeda hanya dalam waktu singkat, kulitnya sudah menjadi kecoklatan, begitupun ujung hidungnya, seakan dia habis berjemur di pantai dengan matahari yang menyengat kulitnya.
"Malam ini kita akan berjalan-jalan di perbatasan desa, akan ada festival di sana, kau pasti bosan di rumah seharian." Ucap Ax.
Fairley menganggukkan kepalanya bersemangat, mereka menghabiskan makanannya dan segera bersiap-siap menuju ke festival desa yang di selenggarakan selama 3 hari berturut-turut.
"Kau tidak lelah Ax? Bukankah kau mencangkul seharian di ladang?" Ucap Fairley khawatir.
Ax mengecup puncak kepala Fairley dan memegang tangannya. "Aku senang berjalan-jalan, jangan khawatir, lagi pula ini kencan pertama kita sejak tinggal di desa ini." Ucap Ax.
~
Dazon duduk di meja makan, sudah tiga hari ini dia tidak melihat gadis berambut cokelat itu, matanya masih menelusuri setiap pelayan yang lewat yang melayaninya, tetapi dia tidak ada di mana-mana.
Sebenarnya, Dazon sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai gadis itu, tetapi setiap melihat pelayan yang lewat di hadapannya, ingatannya pasti tertuju pada gadis itu.
Matanya tiba-tiba beralih kepada seseorang, dia menatap seorang gadis yang datang membawa nampan berisi makanan, tanpa memandang Dazon, dia menaruh makanan itu, dia sedikit menunduk dan segera pergi.
Rambut coklat dengan kulit putih, tubuhnya cukup mungil, dia menunduk, sehingga Dazon tidak melihat jelas wajahnya. Dazon hanya menatap kepergiannya setelah gadis itu menunduk sebentar.
~
Festival itu selalu di adakan sekali setahun, beruntungnya, karena mereka dapat melihat dan menikmati festival itu saat mereka tinggal di desa ini, meskipun sederhana, festival itu terlihat menarik bahkan memukau dengan lampu yang berkelap-kelip yang di pasang di langit-langit desa yang tertata rapi dan menarik.
Fairley sangat bahagia, dia menarik tangan Ax dan menyusuri setiap jajanan yang ada di sana, dari ujung desa, terlihat banyak yang menjual makanan dan perhiasan serta kebutuhan pokok rumah tangga, bahkan aksesoris pun di jual di sana.
Mereka singgah di salah satu penjual makanan, mereka menjual Burritos, Fairley memesan dua burritos dengan isian daging dan sayuran untuk mereka berdua. Burritos adalah makanan khas Meksiko tetapi makanan itu sudah mendunia, bahkan di tempat tinggal Fairley, tidak begitu jauh dari rumahnya, mereka menjual jajanan ini dengan harga terjangkau.
Makanan mereka sudah siap, Ax mencari tempat duduk untuk mereka berdua dan menikmati makanan lezat itu sambil memandang pemandangan festival.
"Hay kak Ax." Suara kecil itu membuat mereka berdua berbalik, Junior bersama keluarganya juga datang ke festival ini, bukan hanya dia saja, sepertinya ibu, ayah dan dua kakaknya juga turut datang.
Mereka mampir ke tempat Ax dan Fairley sedang duduk.
"Malam Ax, kau sudah di sini rupanya." Ucap Roy, matanya beralih kepada Fairley yang sedang mencoba menghabiskan makanan di mulutnya.
"Perkenalkan dia Fairley istriku, sir." Ucap Ax. Fairley tersenyum ramah kepada mereka semua.
__ADS_1
"Owh, kau sudah menikah? Junior selalu membicarakan kalian, dia berkata bertemu dengan pria tampan yang mirip dengannya." Ucap seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan Fairley, dia tampak memainkan rambutnya di sela-sela telinganya sambil memandang Ax.
"Berhenti membuat dirimu memalukan susy, Ax sudah menikah dan lagian kau tidak bisa dibandingkan dengan wajah cantik istrinya, hentikan sifat jelekmu itu." Ucap Junior menegur kakak perempuannya.
"Diam anak kecil, kau tahu apa?" Ucap gadis bernama Susy itu.
"Jaga sikapmu susy, jangan membuat kacau, Sebentar lagi kau juga akan menikah dengan Walt, jadi berhentilah membuat dirimu memalukan." Tegur sang ayah, dia begitu mengenal sifat putrinya yang tidak bisa melihat pria tampan.
"ugh dad, aku hanya bercanda koq." ucapnya.
Suara ingin muntah terdengar dari sebelah Ax, tiba-tiba Fairley menutup mulutnya dan menahan muntahnya.
"Fairley kau baik-baik saja?" Ucap Ax, dia terlihat khawatir dan memegang punggung istrinya. Fairley menggeleng, dia menyeka mulutnya dengan saputangan.
"Apa dia hamil?" Ucap Sussy, membuat semua Orang berbalik kepada Fairley.
"Sebaiknya istrimu di bawa ke klinik di dekat perbatasan desa, di sana ada dokter dan perawat, semoga saja dia belum pulang lebih cepat karena ada festival ini." Ucap istri Roy.
Ax segera membawa Fairley menuju klinik, sementara itu istri Roy bernama Lisa dan putranya junior menemani mereka ke klinik. Ax sangat khawatir kepada Fairley, tanpa berkata-kata dia lalu mengangkat tubuh Fairley dan segera berjalan menuju klinik.
"Haaa, andaikan saja Walt memiliki satu saja dari wajah pria tampan itu." gumam putri roy, kakaknya berjalan sambil mendengus mendengar keluhan adik perempuannya yang terlihat seperti melamun.
~
Klinik itu tidak begitu besar, bangunannya nampak bersih dan tertata rapi, meskipun tidak begitu luas, perlengkapan mereka juga cukup memadai untuk mengobati penduduk desa di sana, Ax segera membawa Fairley yang terlihat pusing dan mendudukkannya di salah satu tempat duduk di ruang tunggu, sementara itu istri Roy mencari dokter dan mengintip dari balik pintu.
"Syukurlah, dokter Chris belum pulang, juga di sana masih ada perawat, tunggu di sini aku akan bicara kepada Dokter Chris."
Ax menyandarkan kepala Fairley di pundaknya, lalu mengelus punggungnya agar dia tenang.
"Kau masih pusing?" tanyanya. Fairley menutup matanya dan mengangguk. Ax memegang kening Fairley dan merasakan panas di keningnya dan juga di tubuhnya. "Sepertinya kau demam, sayang." ucap Ax memijit tengkuk Fairley agar dia tidak mual lagi.
Akhirnya dokter Chris memeriksa keadaan Fairley, dia tidur di ruang klinik untuk pasien, setelah Fairley di periksa oleh dokter Chris, dia segera berbicara kepada Ax yang duduk di samping Fairley.
"Dia terkena demam, tubuhnya terlalu lelah sehingga dia terserang demam, untuk beberapa hari ini, biarkan dia istirahat full, jangan biarkan dia melakukan aktivitas berat, dan saya akan memberikan obat untuk mengurangi panas di tubuhnya." ucap sang dokter.
"Dokter Chris, apakah dia tidak apa-apa meminum obatnya, mungkin saja dia sedang hamil." Ucap istri Roy yang juga berada di sana.
"Saya akan memberikan resep obat yang sesuai dan tidak mempunyai efek untuk mengganggu kehamilan nyonya Fairley, jadi jangan khawatir." Ucapnya.
~
"Sepertinya Nona Fairley sakit, sir." Lapor pengawal itu kepada Thomas yang ada di Oklahoma.
"Terus pantau keadaannya, saya akan segera memberitahukan kepada tuan Caesaar."
Thomas segera berjalan menuju ruang tuan caesaar yang beberapa jam lalu tiba dari Manhattan, Thomas mengetuk pintu ruangan tuan Caesaar untuk memberitahukan Kondisi Fairley, sementara itu Dazon yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Thomas, detik itu juga dia berjalan mengendap-endap dan mendengarkan semua ucapan Thomas kepada kakeknya dari balik pintu.
__ADS_1
"Ck, kenapa suara thomas kecil sekali?" gumam Dazon, dia sangat penasaran, berita apa yang di bawa oleh Thomas hingga dia berjalan dengan terburu-buru? Beberapa menit dazon menguping di sana, tanpa menyadari gadis itu lewat di depan Dazon dan melihatnya sedang menguping, tatapan mereka saling bertemu. Dazon menaikkan jari telunjuknya ke bibirnya agar gadis itu tidak bersuara. Gadis itu menuruti Dazon tetapi masih berdiri di sana menemani Dazon menguping pembicaraan kakeknya dan Thomas.