The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 5


__ADS_3

Thomas menatap dari gerbang mansion, tuan muda Axton baru saja tiba, dia kemudian memarkirkan mobilnya di dalam mansion, nampak tuan mudanya sedang bersama seseorang rupanya, dia membukakan pintu mobil untuknya.


Fairley menatap rumah mewah yang ada di depan matanya, dia sedikit ternganga melihat betapa besar dan megahnya bangunan kokoh yang berdiri di hadapannya, baru kali ini dia melihat langsung tempat seperti ini, dia kemudian menatap Ax dengan pandangan mencurigakan. Siapa sebenarnya pria ini? pikirnya.


"Ikut aku." Perintah Axton.


"Tunggu, kau tidak menjelaskan kita berada di mana? mana mungkin aku mengikutimu begitu saja tanpa mengetahui aku ada di mana." Ucap Fairley.


Ax kemudian menatap ke kiri dan kanan, dia kemudian melihat Thomas dan para pengawal lainnya sedang memperhatikannya dengan seksama.


Sial, tidak lama lagi pasti berita bahwa Ax membawa seorang gadis ke mansion akan sampai ke telinga ayah dan ibunya.


"Ini rumahku." Ucapnya.


"Ap...apa? Rumahmu?" Ucap Fairley tidak percaya, kau bercanda kan?"


Ax memutar matanya. "Kenapa aku harus bercanda, ini rumahku, sekarang kau sudah mendengarku, ikut aku, bukankah kau datang ke sini untuk mencari pekerjaan?" Ucapnya.


Fairley mengernyitkan alisnya menatap Axton dengan waspada tetapi akhirnya dia ikut juga kemana Ax membawanya.


Thomas dan beberapa pengawal menatap kedatangannya. mereka membungkuk dan menatap tamu yang di bawa tuan mudanya.


"Selamat datang tuan muda Axton, saya tidak tahu anda akan datang kemari." Ucap Thomas.


"Ya, aku ada keperluan jadi aku mampir sebentar, Oh ya aku ingin pergi ke perpustakaanku sekarang, dan dia...erm dia adalah tamuku." Axton menunjuk Fairley yang ada di sampingnya.


"Baik tuan."


Ax membawa Fairley menuju lantai 4 di mansionnya, kemudian langsung menuju ke perpustakaan. Fairley menatap seluruh bangunan dengan mulut terbuka. Dia mengikuti Ax yang berjalan di depannya.


"Kita akan kemana?" Tanyanya.


"Ikuti aku saja, kau cerewet sekali." Ucapnya, meskipun begitu senyum terlihat di wajah Ax.


Mereka tiba pada pintu kaca besar, Ax menekan beberapa kode masuk dan dengan bunyi Bip pintu itu terbuka dan Mereka berdua masuk, tempat itu di penuhi buku-buku yang lagi-lagi membuat Fairley menganga dan terheran-heran.


buku-buku terpajang di sana, ruangan itu sangat luas, bahkan bisa di katakan perpustakaan milik Ax lebih luas dan terlihat lengkap di bandingkan dengan perpustakaan di sekolahnya.


Ax melipat kedua tangannya menatap Fairley yang masih terpesona dengan tempatnya sekarang berpijak.


"Tempat ini adalah perpustakaan pribadiku." Ucapnya.


Mulai besok kau akan bekerja di sini, kau bisa membersihkan khusus tempat ini, karena pelayan jarang masuk kemari karena aku mengunci akses masuk ke ruangan pribadiku, jadi tugasmu adalah membersihkan dan membereskan buku-buku yang ada di sini setelah aku selesai membaca." Ucap Axton.


"Hanya membersihkan saja?" Tanyanya.


"Karena aku murah hati, kau bisa membaca buku-buku yang ada di sini."


"Be.. benarkah??" Ucap Fairley senang.


~


"Apa maksudmu Ax embawa seorang gadis?" Tanya lexia ketika mendengar laporan Thomas.


"Dia membawa gadis itu keperpustakaan milik tuan Axton, Nyonya, sepertinya mereka berbincang-bincang."


"Selidiki siapa gadis itu Thomas." Perintah lexia.


"Baik Nyonya."


~


Ax membawa Fairley mengelilingi ruangan itu, wajah tersenyumnya tercetak di wajah Fairley, dia bisa bekerja sambil membaca, pekerjaan yang sangat mudah, apalagi dia bisa membaca gratis selama jam kerjanya.


"Kau bisa datang erm...5 kali dalam seminggu tepat setelah pulang sekolah, kau erm.. membersihkan buku-buku yang berdebu dan menyusunnya kembali dengan rapi." perintahnya.


Fairley mengangguk, dia mendengarkan setiap ucapan Ax dengan serius. Axton terlihat berpikir keras, "Oh ya, setelah membersihkan tempat ini kau harus melapor kepadaku bahwa kau selesai bekerja."


"Oke." jawabnya.


"Erm mengenai upahmu, karena kau masih sekolah, aku akan memberikannya tiap Minggu saja." Ax tidak pernah menghadapi hal-hal yang seperti ini, dia tidak pernah berpikir mengajak gadis ini kerumahnya apalagi memperkerjakannya.

__ADS_1


"kapan aku memulai pekerjaanku?" tanyanya.


"Erm, besok kau bisa mulai bekerja, erm dan satu hal lagi, jika kau ingin ke sini kau harus menghubungiku dulu, karena sekarang aku tidak tinggal di sini, aku tinggal di rumah paman dan bibiku."


"Berikan ponselmu kepadaku." Ucap Ax kepada Fairley.


Fairley mengambil ponselnya dan memberikannya kepada Axton dengan ragu, dengan cepat Ax mengambilnya dan menekan dengan cepat nomor ponselnya, deringan terdengar dari saku Ax.


"Itu nomorku, kau bisa menghubungiku jika kau mulai bekerja besok." ucapnya.


"Erm Oke."


Ketukan terdengar dari pintu kaca, Ax berbalik dan segera keluar ketika melihat Thomas berdiri di sana.


"Ada apa Thomas?" tanyanya.


"ini telepon dari Nyonya, tuan." ucap Thomas menyerahkan ponselnya kepada Axton.


"Hai Mom, bagaimana kabar mommy?" tanyanya basa basi.


"Axton, bisa kau jelaskan mengapa ada seorang gadis di dalam perpustakaanmu?" tanyanya.


"Tenanglah mom, aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar atau Melakukan hal yang aneh-aneh koq, itu....erm gadis itu membutuhkan pekerjaan jadi aku menyuruhnya kerja membersihkan perpustakaanku, lagi pula pelayan tidak masuk ke dalam perpustakaanku untuk membersihkan." Ucap Ax panjang lebar.


"Mommy mempercayaiku kan?" tanyanya.


Terdengar suara hembusan napas lexia,


"Baiklah Ax, ibu mengizinkan, selama kau tidak Melakukan hal yang macam-macam, Thomas akan terus mengawasimu, ingat itu." Ucap lexia.


"Oke Mommy sayang, i love you bye." Axton menutup ponselnya dan memberikan ponselnya kepada Thomas. Dia segera masuk ke dalam perpustakaan kembali, dia mencari-cari Fairley dan menemukannya sedang berdiri sambil membaca buku hingga dia tidak menyadari kedatangan Ax yang berdiri di sampingnya.


"Serius sekali, memang kau suka membaca ya?" tanyanya.


Fairley tersenyum, dan itu membuat Axton berkedip beberapa kali melihat gadis ini tersenyum pertama kali kepadanya.


"Aku suka membaca buku, biasanya aku tidak punya waktu untuk membaca buku sebanyak ini karena aku bekerja." Ucapnya.


Fairley menggelengkan kepalanya. "kau salah, bukan tenggelam saja sekalian tetapi Sambil menyelam minum air, kau suka membaca tidak sih."


Fairley menatap jam di pergelangan tangannya."Owh tidak, aku harus berangkat kerja, be..besok aku akan menghubungimu jika aku sudah siap menuju ke tempat ini." Ucapnya.


"Oke." Mereka kemudian saling menatap canggung, "Kalau begitu aku pergi." Ucap Fairley bergegas keluar dari ruang perpustakaan itu.


"Aku akan mengantarmu." Ucap Ax.


"Tidak perlu, aku bisa koq keluar dari...


"Kau cerewet sekali, memangnya kau sudah menghapal tempat ini? lagi pula aku juga ingin kembali ke rumah pamanku, jadi sekalian saja aku mengantarmu." Ucap Axton berjalan di depan Fairley, senyum terlintas di wajahnya, sedangkan Fairley mengikuti Axton di belakangnya, tetapi dengan takut-takut menatap sosok Thomas yang berdiri di sudut memperhatikan mereka berdua.


'Ukh, paman itu mengerikan.' Gumam Fairley.


~


Suasana di tempat kerja Fairley cukup ramai, banyak para pekerja makan di restaurant tempat paman Jhon, Fairley segera mengerjakan tugasnya dan tidak beberapa lama pekerjaannya akhirnya selesai juga. Tubuhnya begitu letih, hampir 4 jam tangannya harus terendam di bak cucian piring. Dia mengeringkan tangannya dicelemeknya yang berwarna hitam, setelah itu Fairley bergegas mengambil sampah-sampah yang menumpuk itu kemudian membuangnya di pintu belakang. Dia menghapus butiran keringat yang mengalir di keningnya dan tersenyum senang karena dia mendapatkan pekerjaan tambahan untuknya.


Dari kejauhan seseorang memperhatikannya, dia menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, untuk meredakan sakit di punggungnya.


"Lihat saja gadis pencuci piring itu, dia nampak kotor bukan? bagaimana caranya dia mengenal pria tampan kemarin? apa yang dimiliki gadis sialan itu dibandingkan dengan diriku?" Gumam gadis itu di dalam mobil kusamnya, wajahnya masih membiru karena tamparan pengawal pria itu kepadanya.


"Sial, awas saja, tidak ada yang bisa menolakku, bahkan pria tampan itu." bisiknya.


Mobil hitam yang juga mengawasi Fairley sejak tadi berdiam di sana, matanya memerangkap mobil kusam yang sejak tadi memperhatikan gadis itu.


~


"Kau dari mana saja Ax? kenapa kau datang terlambat? sebentar lagi kita akan berangkat ke ulang tahun Jennifer." Dazon telah mengenakan setelan terbaiknya bersama Daneil, tinggal Ax yang belum bersiap-siap untuk berangkat ke pesta itu.


"Apakah hari ini?" tanyanya.


"Ya, hari ini, kau tidak ingat?" ucap Neil.

__ADS_1


"Tentu saja dia tidak ingat, dia kan sedang jatuh cinta, bagaimana dia memikirkan masalah ulang tahun sepele seperti ini."


"Tutup mulut Dazon, aku lelah, kalian duluan saja berangkat Sebentar lagi aku akan menyusul." Ucapnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kau bercanda bukan, kami dari tadi menungguimu di sini." ucapnya protes.


"Baiklah, sebentar lagi aku akan segera bersiap-siap, jadi tunggu aku di bawah." perintahnya.


Setelah menunggu beberapa lama, Mereka bertiga akhirnya berangkat, masing-masing membawa mobil mereka dan beberapa mobil bodyguard yang mengikuti kepergian mereka.


Ketiganya telah tiba di depan salah satu hotel terkenal di Manhattan, setelan jas melekat pas di tubuh tinggi mereka bertiga, Jennifer berlari dan menyambut kedatangan mereka, dia langsung menggandeng tangan Ax. "Kenapa kalian semua terlambat?" tanyanya.


"Tanyakan saja pada Axton, dia terlalu lama bertemu dengan kekasihnya." Ucap Dazon. Ax tidak memperdulikan kata-kata Dazon tetapi Jennifer membelalakkan matanya, "Ax Punya kekasih? benarkah? Malang sekali nasib rose, padahal selama ini dia mengincar kak Axton." Ucap Jennifer.


"Cepatlah masuk, bukankah ini pestamu, kau terlalu berlama-lama dengan kami." Usir Ax kepada Jennifer yang lalu cemberut.


Mereka semua berpesta, tetapi Ax sibuk menatap nomor ponsel yang ada di hadapannya, sesekali ada keraguan untuk menekan nomor telepon yang kini tersimpan di ponselnya.


Dia mengambil minuman dan menyesapnya tetapi dia menjauhi kerumuman, dia berdiri di sudut jendela dan lagi-lagi menatap ponselnya. "Apa aku menelepon dia saja ya." Gumamnya.


"Hai Axton." Terdengar suara seorang gadis yang menghampirinya.


"Mau minum bersama? kenapa kau sendirian di tempat seperti ini?" tanyanya, dia ikut bersandar di samping jendela bersama Ax.


Ax tidak memperdulikannya, dia masih lebih tertarik dengan ponselnya dibandingkan gadis pirang yang mencoba merayunya, Rose adalah teman Jenifer yang sudah lama mengincar Axton, tetapi dia tidak pernah berhasil menarik perhatian Ax.


"Ax bagaimana jika kita berdua berdansa? kau maukan, kumohon jangan menolakku lagi Ax, berapa lama lagi aku terus menunggumu agar kau dapat melihat kesungguhan hatiku dan...


"Kau cerewet sekali." Ucap Axton, tanpa melihat wajah Rose, dia beranjak dari sana dan bergabung bersama Dazon, dan yang lainnya.


"Apa yang kau lakukan kepada Rose? lihat wajahnya, seperti dia ingin mengutuk seseorang." Ucap Jennifer menyenggol Ax.


"Entah, dia mengucapkan sesuatu tapi aku tidak begitu mendengarkannya." ucapnya.


"Tentu saja kau tidak mendengarkan, dia sibuk dengan kekasihnya." Ucap Dazon tanpa berkedip dan mengalihkan matanya dari Ax yang menatapnya tajam.


Rose nama gadis itu, sudah lama dia mengincar Ax, entah sejak kapan dia begitu menginginkan Axton, wajahnya terlihat terluka menatap kegembiraan di wajah Jennifer yang duduk di sebelah Ax, kecemburuan membutakannya, dia berjalan menghampiri mereka berempat.


"Hai Jenn boleh aku bergabung?" tanyanya.


"Erm tentu." ucap Jennifer sambil memandang ketiga pria yang saling bercakap-cakap tidak memperdulikan kedatangan gadis bernama Rose itu.


"Sepertinya pestamu cukup meriah Jen, kenapa kau hanya bergabung di sini, mereka yang di sana ingin melihat tuan rumah pesta ini, pergilah ke sana biar aku yang menemani mereka bertiga." ucapnya.


Jeni mengangkat bahunya dan langsung pergi begitu saja, sementara itu hanya Daneil yang menyadari kehadiran Rose yang berdiri di sana tanpa malu berdiri diantara mereka bertiga, menikmati kecemburuan dari para gadis-gadis yang menatapnya.


"Bagaimana dengan kekasihmu? kapan kau bertemu dengannya lagi Ax?" tanya Dazon, Seketika kepala rose berputar cepat mendengarkan pembicaraan mereka.


"Tutup Mulut Dazon, kau berisik." Ucap Ax kembali menyesap minumannya.


"Axton? kau sudah memiliki seorang kekasih?" Ucapnya heran.


"Siapa kau, bukan urusanmu aku punya kekasih atau tidak." Ucap Ax menggeleng menatap heran gadis yang tiba-tiba mendekati mereka bertiga.


"Apakah Jennifer tidak memberitahukan kepadamu? Akulah yang selalu menyampaikan salamku kepadamu Ax, dan aku selalu mengirimkan hadiah-hadiah untukmu, kau tidak ingat?" ucapnya, wajahnya kini memerah mendengarkan Ax memiliki seorang kekasih, dia betul-betul tidak bisa menerimanya.


"Apa maksudmu? hadiah apa?" Tiba-tiba Ax mengingat Jennifer beberapa kali membujuk Ax menerima hadiah dan salam dari temannya bernama rose sampai-sampai Jennifer putus asa dan hampir menangis karena Ax tidak mau menerimanya.


"Oh, jadi kau gadis penguntit itu? kebetulan sekali aku ingin bicara denganmu." Ucap Ax menatapnya tajam.


"Jangan pernah mengirim barang-barang aneh dengan menyuruh Jennifer, lalu memaksa Jennifer agar aku membalas suratmu, kalau kau melakukannya lagi aku akan melaporkanmu ke polisi karena mengganggu ketenteramanku dan menjadi penguntit, kau mendengarnya?" Ucapan Ax membuat wajah Rose merah padam dia sangat malu, siapa saja dapat mendengar ucapan Ax yang cukup keras.


Ax meninggalkannya, begitupun Dazon dan Daneil, wajah rose merah padam karena menahan malu, Bisik-bisik kini terdengar dari gadis-gadis yang ada di pesta.


Rose dengan nekat menghampiri Ax yang berjalan keluar, dia ingin segera kembali ke mansion meskipun Dazon dan Daneil masih ingin berlama-lama di pesta ini.


"Axton, tunggu aku kumohon, Axton." teriak Rose, dia mengikuti Ax sampai ke pintu depan yang kini tidak ada seorangpun ada disana.


Dia menyambar tangan Ax dan memegangnya. Ax berbalik dan terkejut melihat wanita ini dengan berani memegang tangannya, Ax mendorongnya dengan pandangan merendahkan kemudian dia meninggalkanya.


"Aku tidak akan menyerah Axton, lihat saja kita akan bersama nantinya." ucapnya.

__ADS_1


"Mengerikan bertemu wanita gila seperti dia." Ucap salah seorang pria dan wanita yang baru saja melewatinya. Dia menahan cemoohan orang-orang karena dia percaya Ax akan bersama dengannya suatu hari nanti.


__ADS_2