
Mobil biru berwarna kusam itu mengikuti gadis yang sedang mengayuh sepedanya dengan lincah, siang setelah sepulang sekolah Fairley menggenggam ponselnya dan menatap nomor yang tertera di sana, dia mengambil napas dan segera menekan nomor tersebut.
Fairley menggigit kuku jarinya menunggu Axton untuk menjawab ponselnya.
"Halo, kau dimana." Ucap Ax tanpa basa basi.
"Apa? Oh, aku ada di ujung jalan dekat dengan mansionmu." Ucapnya.
"Sebentar lagi aku sampai dan satu hal lagi, apa kau naik sepeda ke mansionku?" Tanyanya.
"Yup, kenapa? Aku kan butuh kendaraan untuk datang ke sini." Ucap Fairley mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Ok, aku sekarang berada di belakangmu." Ucapnya.
Fairley berbalik dan benar saja, Ax sudah ada di sana. "Kapan kau tiba?" Tanya Ax.
"Baru saja koq."
"Kalau begitu ikuti aku." Perintahnya. Fairley membenci mendengar nada bicaranya yang suka memerintah, dia mencibir tetapi tetap mengikuti mobil Ax dari belakang. Pintu gerbang besar itu terbuka memperlihatkan kemewahan yang ada di dalamnya, Fairley masuk mengikuti mobil Axton dan segera gerbang itu kembali menutup.
Seseorang memukul kemudi mobilnya dengan cukup keras sehingga tangannya memerah, "Mengapa, mengapa gadis kotor itu bisa mengenalnya? Mengapa dia bisa bergaul dengan pria tampan itu? Rasa cemburu dan iri yang teramat dalam membutakannya, dia nekat keluar dari mobil biru kusamnya dan melepaskan kacamata berwarna karamel yang bertengger di hidungnya lalu bersiul menatap kagum kemewahan yang terpampang di depan matanya.
"Apa yang diberikan gadis kotor itu sehingga dia bisa masuk ke tempat mewah ini, aku akan memberikan apa saja asalkan aku bisa berada di tempat mewah ini." Ucapnya dengan terkagum-kagum.
Dari cctv nampak gadis pirang itu terekam jelas, menengok kiri dan kanan sambil memegang gerbang berwarna coklat keemasan itu dengan menengok ke kiri dan kanan sambil mencari bel untuk di bunyikan.
"Siapa gadis itu?" Ucap salah seorang pengawal yang menatapnya melalui cctv. Thomas memandangnya sambil bersedekap.
"Bereskan, aku tidak ingin ada sampah di depan mansion tuan Burchard." Perintahnya.
"Baik sir."
Kembali dia mencari bel di gerbang itu, rasa penasarannya tidak tertahankan, dia ingin masuk ke dalam dan menjadikan Fairley sebagai alat dan mengatakan dia adalah teman Fairley dan dia sedang mencarinya.
Pintu gerbang terbuka, dua orang pengawal dengan wajah menyeramkan memandangnya.
"Pergi!" Ucapnya
"Erm, tunggu aku kemari sedang mencari temanku bernama Fairley, dia baru saja masuk ke dalam, bolehkan aku masuk dan menyusul sahabatku itu?" Ucapnya sambil mencoba masuk dan mendorong kedua pengawal, tanpa rasa takut sedikitpun.
Kedua pengawal itu memegang kedua lengannya dan mengangkatnya menjauhi gerbang mansion.
"Hei ! Apa yang kalian lakukan, aku bilang temanku ada di dalam, kalian tuli ya, hei lepaskan aku !" Teriaknya.
Kedua pengawal itu tidak bergeming dia tetap membawa gadis pirang itu dan membuangnya jauh-jauh seakan dia seonggok sampah.
"Sial ! Awas kalian, aku kenal tuan muda yang tinggal di dalam, lihat saja kalian akan di pecat." Teriaknya. Dia memperbaiki pakaiannya yang kusut dan rok mininya di turunkan serapih mungkin. Dia berjalan menjauh dan kembali masuk ke dalam mobil kusamnya.
~
"Setelah aku membaca, kau baru akan membersihkan, jadi kau punya waktu untuk membaca Fairley, atau kau bisa menyusun nama-nama buku di ujung sana sesuai dengan huruf-hurufnya."
Fairley menatap beberapa buku yang tidak tersusun rapi, dia lebih memilih bekerja dulu setelah itu jika dia memiliki waktu baru dia akan membaca.
Fairley membersihkan tiap-tiap rak yang tersusun rapi di sana dan menempatkan pada posisi mereka yang sesuai dengan huruf-hurufnya, Ax memperhatikan segala yang dikerjakannya, meskipun dia mengintip dengan sembunyi-sembunyi. Seakan gerakannya di perlambat, dia menatap Fairley yang di Sinari sinar matahari, sehingga pantulan kulitnya yang cantik terlihat merah merona. Rambutnya yang panjang di ikat tinggi sehingga bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya.
Ax tanpa sadar tersenyum melihatnya, dan hal itu tidak luput dari pantauan Thomas yang memperhatikan mereka berdua di dalam perpustakaan. Bibir Thomas sedikit tertarik, mengetahui bahwa tuan mudanya sepertinya memiliki ketertarikan kepada gadis mungil itu.
"Aku sudah menyusun buku-buku di sebelah sana sesuai Abjadnya dan merapikan tempat masing-masing buku sesuai dengan kategorinya."
"Kalau begitu kau bisa membaca denganku Sebentar." Ajak Ax melihatnya memegang alat pembersih debu di tangannya.
"Aku belum menyusun di tempat yang lainnya, aku tidak punya waktu untuk membaca sekarang." Ucapnya sambil kembali menatap buku-buku sesuai tempatnya yang tepat.
~
Bunyi klakson mobil membuat salah satu penjaga menatap mobil mewah yang berhenti tepat dia depan gerbang mansion.
"Siapa lagi gadis itu?" Ucap salah satu pengawal.
Dia berdiri di sana sambil melipat kedua tangannya di dadanya, menunggu membuatnya jengkel, apalagi di bawah sinar Matahari terik seperti ini.
Gerbang membuka dua pengawal menatap Rose yang sedang mengipasi dirinya sendiri. "Tuan kalian ada di rumah kan? Katakan kepadanya, aku ingin bertemu dengannya."
"Apakah anda sudah membuat janji dengan tuan kami?" Tanya salah satu pengawal.
__ADS_1
Rose tersenyum tidak percaya. "Kau cukup bilang kepadanya bahwa gadis bernama rose menunggunya, dan katakan jangan membuatnya lama menunggu." Ucapnya.
Salah satu pengawal menghubungi Thomas dan menanyakan seorang gadis bernama Rose ingin bertemu dengan tuan Axton.
Thomas menelepon ponsel Ax dan memberitahukan jika seorang gadis bernama Rose menunggunya di bawah. Ax mengernyitkan dahinya. "Siapa dia, aku tidak kenal." Ucapnya kepada Thomas.
Thomas menghubungi pengawal yang melapor tadi dan memberikan perintah kepada mereka, "Singkirkan gadis itu." Perintahnya.
"Baik sir."
Kedua pengawal menatap Rose dengan wajah datar, sama seperti gadis pirang yang mengintai di depan gerbang.
"Silahkan pergi dari sini," hanya ucapan itu yang keluar dari dua pengawal yang berdiri di depannya, rose begitu marah, meskipun dia tahu Ax selalu menolaknya tetapi pengusiran seperti ini tidak layak dia dapatkan.
Dia menelepon nomor ponsel Ax yang diberikan Jennifer kepadanya, tetapi ponsel itu tidak terhubung Sama sekali dengan Axton, "sial, apakah Jennifer membohongiku dengan memberikan nomor ponsel yang salah kepadaku?" Ucapnya marah. Kedua pengawal itu membawa Rose agar meninggalkan mansion Keluarga Burchard dan menyingkirkan mobilnya.
Tubuhnya yang berbalut dress mini berwarna coklat ketat serta rambutnya pirang yang disanggul kini berantakan karena seringnya dia menggeleng karena frustasi di tolak mentah-mentah oleh Ax bahkan dia sama sekali tidak mau menemuinya.
Mobil kusam berwarna biru itu masih terparkir di ujung jalan, dia menatap heran seorang wanita yang berbicara kepada dua penjaga, sepertinya dia bernasib sama dengannya, siapa gadis itu? pikirnya.
Gadis bernama Hena itu keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri seorang gadis yang menekan-nekan ponselnya sambil menelepon seseorang.
Dia kemudian berbalik ketika menyadari kedatangan seseorang, matanya menelisik gadis yang berjarak tidak begitu jauh darinya. Dia kemudian menutup ponselnya dan menatap dari bawah sampai tubuh bagian atas gadis yang juga sedang menatapnya.
"Siapa kau?" Tanya Rose memperhatikan gadis di hadapannya.
Gadis bernama Hena tersenyum miring, "kau yang siapa, apa yang kau lakukan di depan mansion ini?" Tanyanya.
Rose berpikir sebentar, apakah dia yang di sebut-sebut sebagai kekasih Ax, kenapa penampilan gadis ini terlihat tampak murahan? Di lihat dari pakaiannya saja sepertinya dia seorang gadis yang hidup di jalanan.
Rose menggeleng tidak percaya kepada dirinya sendiri, Axton tidak mungkin memiliki seorang kekasih gelandangan seperti gadis didepannya ini, mengajaknya bicara membuat diri Rose merasa terhina.
Sekali lagi Rose menekan ponsel Axton, tetapi tidak tersambung juga .
"Sial !" Umpatnya, Dia mengacuhkan gadis pirang kumal itu dan segera membuka pintu mobilnya. Tetapi tiba-tiba saja tangannya di pegang oleh Hena.
"Aku tanya siapa kau, kenapa kau tidak menjawab." Tanyanya.
Rose menyingkirkan tangan kotor yang memegang lengannya. "Lepaskan tangan kotormu dariku, harusnya aku yang bertanya kenapa gelandangan sepertimu berdiri di depan mansion orang? Pengawal di sini betul-betul tidak becus, harusnya dia menyingkirkan gelandangan seperti dirimu.
"Aku tidak perlu menjelaskan siapa aku kepada gelandangan sepertimu." Ucapnya, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu mobilnya dengan keras setelah itu dia meninggalkan mansion Ax, dia hendak menuju rumah Jennifer untuk memastikan kembali Nomor ponsel Axton.
"Berani sekali dia mengataiku gelandangan?" Hena masih berdiri di sana sambil menendang-nendang apa saja di depan mansion, dia ingin menunggu Fairley sampai urusannya di dalam tempat mewah ini selesai.
~
"Gadis itu lagi." Ucap salah satu pengawal. Pintu gerbang membuka nampak dua pengawal kembali menyeret Hena agar pergi dari depan mansion.
"Panggil Fairley keluar, dia itu kenalanku, kalian tidak percaya?" Dua pengawal itu segera memaksa Hena agar masuk ke dalam mobilnya, dan menyuruhnya pergi, jika dia masih keras kepala dua pengawal itu tidak segan-segan mengeluarkan pistolnya untuk menakut-nakuti gadis keras kepala itu. Dia tersenyum sambil mencemooh menatap pistol yang di tujukan kepadanya.
"Paman, kau pikir senjata itu membuatku takut? Kau mengancamku? senjata kalian sama sekali tidak berpengaruh untukku, jangan mencoba menakutiku dengan senjata murahan itu aku sama sekali tidak takut."
Senjata itu kini ada di pelipis Hena, di tekan dengan keras hingga kepalanya terdorong ke samping, "Sekali ada perintah untuk menghabisimu, nyawamu tidak akan selamat." Ucap salah satu pengawal itu.
"Ck, sial ! Baik, aku akan pergi." Sebelum dia pergi Fairley baru saja keluar dari mansion di temani oleh Ax yang berjalan di sampingnya, mereka terlihat bercakap-cakap dan kelihatan akrab.
"Kau tidak perlu mengantarku, aku bisa pergi sendiri." Ucap Fairley.
"Ini mansionku terserah aku jika ingin mengantarmu atau tidak." Ucap Ax.
Fairley mendengus mendengar ucapan Ax yang memaksa.
"Fairley, Fairley !"
Suara keras dari dalam mobil membuat keduanya berbalik dan menatap gadis pirang yang mendorong pengawal itu menyingkir darinya dan segera berlari menuju tempat mereka berdua.
"Aku dari tadi menungguimu di sini Fairley, harusnya kau bilang kepadaku jika kau punya tempat seperti ini untuk di datangi."
Fairley menatapnya dengan tatapan mata benci.
"Aku pergi." Ucap Fairley tanpa memperdulikan kata-kata Hena yang menatap menggoda ke arah Ax.
"Hei kau mau kemana, bagaimana jika kita bertiga bersenang-senang, boleh ya?" Ucapnya menggoda ke depan Ax.
Ax mengernyitkan dahinya, "Apa dia gila?" Ucap Ax, dia kemudian berbalik dan sama sekali tidak memperdulikan gadis itu, "singkirkan dia dari rumahku." Hanya itu ucapan yang di dengar dari Axton kepada para pengawalnya, segera saja Fairley pergi dari sana dan meninggalkan hena yang sekali lagi di usir oleh dua pengawal.
__ADS_1
~
Dazon dan Neil berada di ruang makan ketika Ax baru saja kembali dari mansionnya, "Kau terlambat Ax, sepertinya kau sibuk." Ucap Dazon menatapnya, Ax mengambil tempat duduk di sampingnya lalu segera menuangkan segelas air putih di gelasnya dan meneguknya.
"Berisik, kalian makan saja," Ucap Ax.
"Oh ya sebentar lagi Jennifer datang kemari, suaranya nampak khawatir dan terdengar sedih." ucapnya.
"Oh ya, kenapa?" tanya Ax.
"Kau tahu gadis yang berteman dengannya bernama Rose, dia sepertinya meneleponmu tetapi kau tidak mengangkatnya bukan?, nah gadis itu berpikir Jennifer memberikan nomor yang salah kepadanya dan menuduh Jenni membohonginya." Ucap Neil.
"Harusnya dia singkirkan model teman seperti dia, gadis itu hanya mencari keuntungan dengan berteman dengan Jenni hanya untuk mendekati Axton, lalu menyalahkan Jenni jika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya." Ucap Dazon.
Axton menggeleng, "Jenni, gadis bodoh itu harus di nasehati tentang memilih teman."
Seorang pelayan baru saja datang dan memberitahukan kedatangan Nona Jenni. "Biarkan dia masuk, kami akan segera keluar." ucap Dazon.
Setelah selesai, Dazon dan Neil keluar menuju ruang santai, di sana Jenni sudah duduk tetapi sayangnya dia tidak seorang diri di sana, nampak gadis bernama Rose sedang duduk di sampingnya, sedangkan Jenni dengan mata sembab duduk dengan mulut terkatup rapat.
"Hai Jenni, tumben kau berkunjung kemari." Ucap Dazon lalu melirik kepada gadis yang tersenyum ramah kearah Dazon.
"Hai Daz, ya aku datang, dimana Axton?" tanyanya.
"Dia ada di kamarnya, kenapa?" tanyanya.
"Erm, itu.....Rose ingin bertemu dengannya, panggil dia kemari." ucap Jennifer melirik kepada rose yang masih tersenyum kepada Dazon.
"Sayang sekali Jenni, aku tidak bisa memanggil Ax karena dia lelah dan sedang beristirahat, dia baru saja selesai kencan bersama kekasihnya, jadi dia tentu saja butuh istirahat." Ucap Dazon sambil melirik kepada rose yang terlihat tidak sabar.
"Kekasih? jadi betul dia memiliki kekasih? dimana kamar Axton, aku ingin berbicara dengannya." Ucap Rose tiba-tiba berdiri. Sedangkan Jenni membelalakkan matanya kearah Dazon dan menggeleng sembunyi-sembunyi.
"Kau siapa? maksudku, kenapa kau harus ikut campur urusan Kakak sepupuku? apakah kau teman dekatnya? tentu saja bukan." Ucap Dazon. "Apakah kau kenalannya? tetapi Ax sama sekali tidak mengenalmu." Ucap Dazon lagi. "Jadi, kau memiliki hak apa untuk bertemu dengan-nya." Dazon melipat tangannya menatap Rose yang melihat ke kiri dan kanan mencari dimana kamar Ax.
"Aku tidak perlu menjelaskan siapa aku dan apa hubunganku dengan Ax, hanya kami saja yang tahu, beritahukan saja dimana kamarnya, aku ingin berbicara kepadanya." Ucapnya.
Dazon terkekeh lalu menatap tajam kepadanya. "Rupanya kau tidak sadar bahwa aku tuan rumah di sini, gadis ambisius sepertimu sangat di benci oleh Ax, sebaiknya kau pergi selama aku masih berbicara dengan baik-baik." Ucap Dazon menatapnya tajam.
Rose memandang marah kepada Jenni. "Ucapkan sesuatu Jenni, jangan diam saja." bentaknya kepada Jenni.
"Dan satu hal lagi, mulai sekarang Jennifer tidak berteman lagi denganmu, jika aku masih melihat kau berkeliaran di rumah Jenni dan memaksanya melakukan keinginanmu, kau lihat saja bagaimana perusahaan ayahmu akan habis di tanganku." ucap Dazon.
"Kau mengancamku? kau pikir bisa melakukan hal seperti itu? kau saja masih bocah dan masih sekolah." Ucapnya menantang dan mengejek.
"Dimana kau menemukan wanita gila seperti dia Jenni?" ucap Neil yang bergabung bersama mereka dan duduk di samping Jennifer. Rose menatap Neil dengan pandangan marah.
"Kau lupa siapa aku?? Apa kau tidak sadar mengapa ayah Jenni mau bekerja sama denganmu? itu semua karena keputusan ayahku, separuh dari perusahaan ayahku juga sudah kupegang termasuk perusahaan milik ayahmu, apa kau tahu posisimu dimana? lancang sekali kau berbicara di depanku." ucap Dazon.
Rose menggigit bibirnya menahan kemarahannya, dia tidak tahu pengaruh nama Caesar sangat besar pengaruhnya bagi perusahaan ayahnya.
"jadi kau ingin aku membuktikannya? kita lihat saja apa yang akan terjadi dengan perusahaan ayahmu, cukup aku saja yang bergerak dan perusahaan ayahmu akan habis, segera pergi dari sini, aku akan hitung satu sampai tiga, jika aku masih melihatmu, jangan salahkan aku nantinya." ucap Dazon tidak main-main.
Rose menatap Jennifer dengan pandangan tajam seakan-akan menyuruhnya melakukan sesuatu kepada bocah dihadapannya. "Satu...." Ucap Dazon mulai menghitung.
Rose masih bergeming dia bertahan di tempatnya berdiri dengan gelisah, dia ingin mempertahankan harga dirinya di depan mereka semua. "Dua......., Rose menatap benci kepada Dazon, dia akhirnya menyerah dan pergi secepatnya Sebelum hitungan ketiga.
"Ck, dasar gadis bodoh." Ucap Dazon lalu duduk di samping Jennifer. "Dimana kau menemukan gadis mengerikan itu Jenni?" tanyanya.
"Erm, ayahnya datang bersama dengannya ke mansion kami, katanya dia tinggal tidak jauh dari kediaman kami, tanpa terasa mereka terus mendekati ayah dan ibu, Rose sering dibawanya ke mansionku dan tiba-tiba dia melihat Axton dalam suatu pesta, ketika dia mengetahui jika aku cukup kenal Ax, dia memaksaku meminta berbagai hal kepada Ax, sampai-sampai Ax jengkel kepadaku." Ucap Jennifer sambil menghembuskan napasnya.
"Kenapa kalian berisik sekali?" Ax baru saja turun dari tangga dan melihat mereka berbincang-bincang di sana.
"Si biang kerok datang."
"Biang kerok? siapa?" tanya Axton.
"Kau tahu kan Rose yang selalu mengganggumu di setiap pesta yang kau hadiri." ucap Dazon. Ax mengingatnya, karena baru tadi siang Thomas memberitahu kepadanya jika ada seorang gadis bernama rose ingin bertemu dengannya.
"Rose? oh gadis itu, kenapa dia?" tanyanya.
"Dia tadi datang kemari dan ingin menemuimu, dia bahkan memaksa untuk masuk ke kamarmu." ucap Neil.
"Gadis gila itu? Ekh dia mengerikan." Ax menampakan wajah ngeri dan jijik di wajahnya.
"Oh ya, dia datang hari ini ke mansionku tetapi Thomas mengusirnya, aku juga tidak mengenalnya, hanya Jenni saja yang selalu datang mengirimkan sesuatu darinya." ucap Ax ngeri. "Lain kali jangan melakukan hal mengerikan itu lagi Jenni." ucap Ax.
__ADS_1