
Jangan Lupa klik Vote, like and comentnya yaaaa tmn2 readers 😆 Selalu ku tunggu
🌺HAPPY READING🌺
☕
☕
☕
Mobil sport itu melaju dengan kecepatan tinggi, setelah kepulangannya dari mansion Burchard, Alvin langsung mengambil penerbangan hari itu juga menuju Mansion ayahnya di Oklahoma, dia akan menjelaskan semuanya kepada ayahnya, dia ingin agar lovelia segera bersamanya dan segera memutuskan pertunangannya dengan wanita itu, kali ini mudah saja bagi Alvin untuk berbicara kepada wanita yang dijodohkan untuknya karena dari awal wanita itu tidak menginginkan pertunangannya karena dia juga memiliki kekasih, hanya karena permintaan orang tuanya yang meminta, sehingga dia sering bertemu dengan Alvin.
Setelah beberapa jam di pesawat akhirnya Alvin tiba di Oklahoma city, dan segera mengemudikan mobilnya menuju ke Mansionnya. Alvin segera menghubungi wanita yang menjadi tunangannya dan segera memberitahukan keinginannya, wanita itu langsung menyetujuinya, karena selama ini dia memang menunggu keputusan Alvin, meskipun mereka juga cukup dekat tetapi kedekatan mereka layaknya seperti seorang teman.
Mobil sportnya telah di parkiran di pelataran mansion, Alvin segera membuka pintu mobilnya dan segera masuk ke dalam mansion, dia langsung menuju ke ruangan ayahnya. Dia memberikan ketukan beberapa kali di pintu ruangan ayahnya.
"Masuk" ucap tuan Robert.
Alvin masuk ke dalam ruangan ayahnya lalu duduk di hadapannya. Kepala tuan Robert terangkat menatap Alvin dari balik kacamatanya yang berbingkai warna emas.
"Kau dari mana saja Alvin? Dua hari ini ayah tidak melihatmu." Ucapnya.
"Ibu lovelia masuk rumah sakit, jadi aku mengunjungi lovelia dan menemaninya." Jawab Alvin dengan jujur.
Wajah tuan Robert tampak terlihat marah. "Kenapa kau tidak memberitahu ayah? Kenapa kau sendirian ke sana, kau tahu dengan jelas perasaan kalian tidak bisa di satukan, apa kau mengerti Alvin." Ucap tuan Robert.
Alvin terdiam, tetapi dengan tekadnya yang kuat dia kemudian mengutarakan keinginannya kepada Ayahnya. "Aku sudah memutuskan pertunangan itu ayah, dan Lisa pun setuju karena dia memiliki kekasih yang dicintainya, dan begitupun denganku." Ucap Alvin.
Suara gebrakan meja terdengar keras, tuan Robert terlihat marah dengan ucapan Alvin. "Siapa kekasih yang kau maksudkan Alvin? Apakah lovelia yang kau maksud? Aku tidak akan membiarkan kalian bersama, mengapa kau tidak mengerti juga Alvin, dia itu Putri dari kakak kandungmu, apa kau ingin merusak Nama baik keluarga kita!?" Bentak tuan Robert.
"Ayah...., lovelia bukanlah putri kandung dari kakak dan Barbara, mereka ... mereka sama sekali tidak pernah memiliki keturunan, lovelia di ambil dari panti asuhan oleh Barbara dan dia membohongi kita semua bahwa lovelia putri kandungnya dan Jack agar ikatan keluarga kita tetap terhubung."
Tuan Robert terdiam dan terhenyak di kursinya, wajahnya menjadi pucat. "Apa yang kau bicarakan Alvin, omong kosong apa yang kau katakan itu?" Tanyanya. Alvin memberikan riwayat kesehatan mereka bertiga jack, Barbara dan lovelia. Tuan Juan Robert membacanya dan tiba-tiba kertas-kertas itu terlepas dari tangannya.
__ADS_1
Kemarahanya tampak mengerikan. "Kali ini dia membohongiku lagi? Setelah adiknya, Daren yang membohongiku dengan membawa lexia kepadaku tetapi aku tidak mempermasalahkannya tetapi kali ini aku tidak bisa, dia harus membayar segala kebohongannya kepadaku." Teriak tuan Robert.
Matanya beralih kepada Alvin. "Meskipun dia tidak ada hubungan darah dengan keluarga kita tetap saja aku tidak akan menyetujui lovelia bersamamu Alvin, kebersamaan kalian tidak masuk akal bagiku, jangan pernah bertemu dengannya." Ucap tuan robert sambil menunjuk ke Alvin.
Alvin berdiri dan menatap ayahnya dengan penentangan di wajahnya.
"Aku mencintainya ayah, sekali saja terimalah pilihanku ayah, apa ayah akan menentangku lagi sama dengan waktu dulu sampai orang yang kucintai tidak bernyawa lagi??! Aku akan mempertahankan lovelia, meskipun ayah tidak menyukainya." Ucap Alvin dengan marah, dia segera keluar dari ruangan ayahnya.
Tuan Robert memijat-mijat pelipisnya, kali ini apa yang akan dilakukannya? Apa dia akan menyetujui begitu saja perasaan keduanya? Meskipun berpikir beberapa kali, perasaan Alvin dan lovelia masih belum bisa di terima oleh tuan Robert.
"Sebastian, bawa lovelia kehadapanku." Ucap tuan Robert.
"Baik tuan."
Aku akan mengatakannya terus terang mengenai diri lovelia, dia harus tahu jika aku tidak menyetujui keinginan Alvin untuk bersama dengannya.
~
Nara kembali ke kamar setelah sarapan pagi, dia ingin berbincang-bincang dengan lexia tetapi mereka sedang berjalan-jalan di taman, Nara tersenyum melihat kebahagiaan di wajah Lexia bersama suami dan putranya. Nara duduk di tepi tempat tidur seorang diri. Pintu kamar terbuka nampak Xaphier masuk ke kamar sambil menelepon dengan seseorang.
Dia menyimpan ponselnya dan segera mengganti bajunya dengan kemeja kantor dan segera mengambil salah satu dasi di lemarinya, dia melihat dasi itu dan segera menghampiri Nara. Dia mengulurkan dasinya kepada Nara.
"Pasangkan untukku." Perintahnya.
Nara menatap dasi berwarna silver di genggaman Xaphier, dia masih belum bergerak dari tempatnya duduk. "Kau tidak mau memasangnya? Bukankah ini tugasmu Nara." Ucapnya.
"Aku ... aku tidak bisa banyak bergerak." Ucap Nara menatap jengkel kepada Xaphier. Tubuhnya masih nyeri karena perbuatannya semalam, dan kali ini dia tidak mau menuruti perintahnya.
"Kau bisa berdiri di atas tempat tidur dan memasang dasiku, aku tidak akan mengangkatmu." Bujuk Xaphier, suaranya pelan dan lembut kepada Nara.
Dia mengambil dasi dari genggaman Xaphier kemudian naik ke atas tempat tidur, karena tubuh Xaphier begitu tinggi, dia mulai melingkarkan tangannya disepanjang leher Xaphier, mereka saling menatap, tangan Xaphier tidak tahan untuk tidak memeluk pinggang mungil di depannya, dia menarik tubuh Nara mendekat ke tubuhnya, membiarkan Nara bekerja memasang dasinya.
"Erm, Aku harus berangkat kerja hari ini, sepertinya Aku akan pulang terlambat, jadi buat dirimu nyaman di mansion ini dan aku akan menyuruh lexia untuk menemanimu." Ucap Xaphier masih menatap wajah cantik dihadapannya, bibir mungilnya sedikit terbuka ketika memasangkan dasi untuknya. Mata Xaphier tidak pernah beralih dari bibir Nara.
__ADS_1
"S-selesai." ucapnya.
"Aku ingin menciummu." Ucap Xaphier terus terang kepada Nara.
Nara terkejut mendengar ungkapan Xaphier, dia mundur sedikit tetapi Xaphier sudah menangkupnya di tubuhnya, dengan gerakan cepat dia menarik Nara agar lebih dekat kepadanya dan memberikan ciuman mesra dan menggoda. Tubuh Nara seketika meresponnya dan membalas ciuman Xaphier.
Dering ponsel di atas meja membuat kedua pasangan yang saling memagut terkejut, entah berapa lama Xaphier berlama-lama di bibir Nara hingga telepon ke 10 kalinya dari Paulo berdering kembali.
"Ck, dia betul-betul pengganggu." Ucap Xaphier melepaskan ciumannya dari Nara.
"Aku harus pergi Nara." Ucap Xaphier dia kemudian meninggalkan Nara yang masih berdiri di atas tempat tidur mendamba sentuhan berikutnya, wajah Nara terlihat kecewa, meskipun ucapannya selalu berkata sebaliknya. Xaphier kembali Sebelum dia membuka pintu kamarnya dan memberikan kecupan kilat. Lalu tersenyum miring menatap wajah merona Nara.
~
Mobil Van hitam telah terparkir di belakang halaman mansion tuan Caesar, bahan-bahan makanan biasanya di bawa langsung ke belakang pintu dapur dan menurunkan semua pasokan makanan untuk mansion itu. Seorang wanita baru saja keluar dari mobil dengan mengenakan t-shirt hitam dan topi putih dia juga mengenakan kacamata, dengan menunduk dia mengambil kerdos ringan dan mulai mengangkatnya.
Setelah berhasil masuk ke dalam dapur, tanpa seorangpun melihatnya dia segera masuk ke kamar pelayan yang terhubung dengan ruangan utama mansion, dia begitu senang karena koridor itu kosong tidak ada seorangpun ada di sana, dia betul-betul merasa beruntung. Akhirnya dia tiba di kamar yang di tunggu-tunggunya. Dia membuka pintu kamar itu tetapi terkunci, beberapa kali dia mencoba membukanya tetapi tidak terbuka. Suara-suara dari dalam dapat terdengar meskipun samar-samar.
Desahan dan erangan terdengar dari luar kamar, Melda menempelkan telinganya di pintu kamar itu dan mendengar dengan jelas jeritan Lexia memanggil nama Daren.
"Sial !" Umpat Melda. Sebelum ketahuan dia mencoba sembunyi di kamarnya sendiri lalu segera menutupnya. Dia menarik napas lega. "Apa yang mereka lakukan sepagi ini??! Gadis kasar itu tidak tahu diri." Ucap Melda sambil mengedarkan pandangannya di kamarnya yang dulu dia tinggalkan.
"Rencanaku kali ini gagal, ugh semua karena gadis itu." Melda membuka-buka laci di mejanya. Pintu kamar tiba-tiba menjeblak terbuka, Thomas dan para pengawal lainnya segera menghampiri Melda dan menyeretnya keluar dari mansion.
Dua pengawal memegang kedua tangannya lalu membawanya keluar dari mansion, Melda teriak-teriak ketika ia di bawa oleh para pengawal.
"Apa yang kalian lakukan ! lepaskan aku! Aku perintahkan kau Thomas untuk menyuruh pengawal kasar-kasar ini melepaskan aku, kalian tidak tahu siapa aku??! Awas saja kalian....
"Tutup gerbangnya, dan periksa dengan benar orang-orang yang masuk ke dalam mansion, jika tidak kalian akan di buang seperti wanita itu!" Ucap Thomas di hadapan Melda.
"Beraninya kau ... Thomas ! Kau hanyalah pengawal rendahan milik Xaphier, kau pikir aku tidak tahu apa pekerjaanmu selain menjadi kepala pengawal di mansion ini, kau hanyalah pembunuh berdarah dingin, kau hanyalah mafia rendahan yang di perintahkan oleh Xaphier kesana kemari seperti hewan peliharaannya." Teriak Melda, dia bernapas keras, rambutnya sudah berantakan begitupun make-upnya. Dia memegang gerbang mansion itu sambil teriak-teriak.
Thomas melangkah perlahan tepat di hadapan wajah Melda hanya pagar besi panjang yang menjadi pemisah. Thomas memukul keras gerbang besi itu dan tersenyum miring menakutkan. Matanya yang coklat dalam membelalak menatap melda.
__ADS_1
Dia menundukkan kepalanya dan berbisik. "Jika kau tahu apa pekerjaanku, seharusnya kau harus menjauh dariku dan berhenti memprovokasiku jika tidak, aku tidak bisa menjamin lehermu masih bisa berada di tempatnya." Ucap Thomas dengan wajah mengerikan menatap Melda, baru kali ini Melda mengatupkan rapat-rapat bibirnya, dia berhenti berteriak-teriak, ucapan Thomas cukup membuat Melda ketakutan dan mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri.