
Complex city, Atlanta
Ya, disinilah Hanna berdiri dan menatap Truck kopi di pinggir jalan dengan wajah terlihat jengkel dan putus asa, setelah mendengar kabar dari sahabatnya Yessy.
Gadis itu kembali mengambil ponselnya, dan menelepon si pemilik kedai kopi sialan ini, yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri yang konyol.
"Kau gila Yessy, beberapa hari yang lalu kau bilang, kau akan melupakan semua yang terjadi padamu dan memulai lagi dari awal, sekarang kau sedang kencan lagi dengan pria yang baru kau temui di cafe, dan minggu ini kau akan menikah dengannya?? apakah itu terdengar masuk akal? Apa kau sekarang bermain Rollercoaster? kau bahkan belum mengenal pria itu dengan baik yessy, bagaimana jika pria itu seperti pria-pria kemarin yang datang dan pergi dan membuatmu menangis seharian??" Teriak Hanna, mencoba mengembalikan kesadaran sahabatnya ini, dia begitu gila jika berkaitan dengan cinta dan pria.
Dia menghentakkan kakinya di depan Truck kopi milik Yessy yang berada di pinggir jalan kota Atlanta, di georgia.
"Apa yang akan aku lakukan padamu Yossy jika bertemu denganmu nanti?" Ucap Hanna jengkel, temannya itu sang petualang cinta, apalagi dengan pria-pria yang sesuai dengan tipe dan standarnya hot dan seksi, dia suka pria berkulit coklat dengan otot yang terbentuk di bisepnya dengan tipe pria bad boy.
"Oh God, kau betul-betul gila, kali ini sudah sangat keterlaluan, sial dia menutup ponselnya."
Sempat terdengar suara Yessy dengan suara mengantuk ingin membalas telepon Hanna tetapi terdengar suara seorang pria sedang memanggil-manggilnya dengan mesra.
"Apa mereka lagi di tempat tidur?" ucap Hanna.
Dia menutup ponselnya dengan keras dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan Yessy, dia gadis yang betul-betul nekat. Bunyi ponselnya kembali terdengar dan itu pesan darinya.
"Aku tau itu Hanna, aku memang gila, aku gila karena cinta."
Kata-katanya membuat gadis itu menggerutu, dia menghembuskan napas dan kembali menatap Truck Coffe itu, "Oky, no choice aku harus membukanya, sebentar lagi orang-orang akan berdatangan dan akan mulai ramai." gumam Hanna.
~
Hanna kini berdiri seorang diri, karena menggantikan temannya pemilik Truck kopi di pinggir jalan ini yang mungkin tidak akan datang, karena sekarang dia lagi sibuk dengan prianya yang baru beberapa hari di kenalnya, sangat konyol bukan?
Meskipun hanna No job, dia juga memiliki kesibukan tersendiri, dimana dia sedang mengirimkan beberapa lamaran kerjanya di beberapa perusahaan daerah Complex city di dekat Truck kopinya di pinggir jalan ini.
Hell yeah, untungnya temannya memiliki usaha berjualan Truck coffe di pinggir jalan di dekat seluruh bangunan tinggi menjulang di pusat kota Atlanta Georgia.
~
Celemek hitam melekat pas ditubuhnya dengan tulisan besar di tengah Dadanya bertuliskan, You want drink this? Lelucon konyol ini lama-lama menjadi sebuah nama yang tertulis pada celemek yang di buat oleh Yessy, padahal sewaktu dia meminta sarannya, hanna hanya asal menyebutkannya dan di tanggapinya dengan serius.
Hanna menghembuskan napasnya dan membungkukkan tubuhnya sedikit menunggu para pejalan kaki untuk mampir dan membeli kopi panas di sore yang cerah ini.
"Espresso Miss."
Seorang pria bermata coklat sedang bersandar di kedainya dan tersenyum hangat, sehangat mentari pagi, senyuman dia berikan sebagai tanda keramahtamahannya pada si pelanggan, agar dia mampir kembali ke Truck kopinya, tetapi sayangnya senyum Hanna sedikit dia paksaan, pria di depannya ini sudah dua kali mampir ke Truck kopinya dan mata kurang ajarnya belum berpindah dari dada Hanna.
Dia kemudian tersenyum penuh arti menatap tulisan di celemek yang Hanna gunakan.
"Kau suka mengenakan celemek itu?" tanyanya. Hanna menatap celemek yang dia pakai.
"Well yeah aku suka, kenapa?"
"Nothing, Hanya saja aku mampir karena teringat dengan celemekmu itu." senyumnya.
__ADS_1
"Oh ya, keberuntungan untukku, ini espresso milikmu dan kembaliannya." Senyum tipis terlihat di bibir hanna. Pria itu menyesap minumannya, kemudian matanya berpindah kepada Hanna, dia mengangkat paper cupnya, lalu tersenyum sebentar, kemudian dia beranjak dari tempat itu.
Hanna melirik, menatap bokongnya yang berjalan menjauh, "Hell, dia lumayan seksi, tapi dia bukan tipeku." Ucapnya sambil mengangkat bahunya dan kembali menunggu pelanggan yang datang.
~
09.15 Districk 77
Pria itu baru saja keluar dari bangunan tua bertingkat yang nampak seperti sebuah musium tua kuno, dia melangkah di depan pintu bangunan itu sambil mengeluarkan cerutunya dan menyalakan pemantiknya, asap rokok mengepul keluar dari mulutnya, dia menatap jam di pergelangan tangannya kemudian berjalan di jalanan padat kota Atlanta.
Matanya menatap tajam lalu lalang para pejalan kaki dengan sudut pandang tertentu, dia berhenti di bawah lampu jalan dan menjatuhkan cerutunya yang habis di hisapnya kemudian diinjaknya agar padam. Dia duduk di dekat taman kota sambil menatap mangsa-mangsanya, dia terus menerawang dan akhirnya dia tertuju pada satu tempat yang kelihatannya menarik. Dia tersenyum miring dan berjalan menuju tempat itu, pandangan lapar terlihat di wajahnya. Dia tersenyum dan menunggu waktu yang tepat.
~
"Ugh, apa aku harus mengganti tulisan celemek ini? mereka yang mampir selalu menatap kurang ajar di tempat tulisan itu berada, di sini tempatnya membeli kopi, bukan tempat untuk menanyakan hal mesum gara-gara celemek konyol ini." ucapnya
Hanna mencoba bertahan mengenakan celemek ini, lalu menunggu para pelanggan datang, ya seperti yang dia duga, beberapa lelaki asing mendatanginya lalu tersenyum melihat tulisan tepat di dadanya, dia kemudian memesan kopi sambil melirik kepadanya.
Hanna memberikan segelas kopi yang diinginkannya.
"Aku suka dengan tulisan di celemekmu." dia tersenyum, Hanna hanya mengangkat satu alisnya, dia terbiasa meladeni lelaki iseng yang hanya bermain-main, oke sekarang Hanna yakin untuk melepas celemek sialan ini, pikirnya dan membuangnya di tempat sampah.
Hari ini beberapa dollar sudah masuk ke kantongnya, dan langsung menyimpannya selagi menunggu kepulangan Yessy ke flat mereka, entah dia akan pulang malam ini atau tidak, dia akan kembali menjadi gadis liar dan menginap bersama prianya.
Pukul 8 malam, hanna segera menutup Truck kopi itu, karena tentu saja tidak ada lagi pelanggan yang akan mampir untuk membeli, dia telah mengenakan jumper berwarna greynya dan segera meninggalkan tempat itu.
Hanna memeluk dirinya di malam dingin berangin itu, sebentar lagi musim gugur dan udara sudah mulai dingin, hanna berjalan untuk sampai ke flatnya setelah turun dari bus, hanya beberapa orang saja yang berlalu lalang di sekitar jalanan China Town, uniknya toko-toko di sana semuanya tutup pada jam seperti ini hingga jalanan di sekitar China town gelap gulita.
Langkahnya semakin cepat, secepat jantungnya berdetak keras. Segala pikiran mengerikan terbersit di kepalanya, itulah mengapa Yessy selalu melarangnya menonton film berlatar crime atau Horor Karena dia mudah ketakutan.
Rambutnya yang hitam kecoklatan beterbangan di tiup angin malam itu, suasana aneh terkesan menyeramkan membuatnya terus menggigil.
Bau cerutu tiba-tiba menyengat indera penciumannya, Hanna menengok ke samping kiri dan kanan tetapi kosong, dia terus melangkah menuju flat kusamnya dan berharap segera tiba di sana.
"Oke Hanna, sebentar lagi kau akan tiba dan kau akan aman," ucapnya, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari arah belakangnya, bunyi ketukan sepatunya membuatnya ingin berbalik dan melihat siapa orang yang berjalan di belakangnya. Sialnya batinnya melarangnya untuk berbalik atau sesuatu yang buruk akan menimpanya.
Hanna terus berjalan cepat dan menyeberangi jalanan yang lengang, secepat kakinya melangkah, secepat itu pula suara langkah di belakangnya berjalan, Hanna tidak memperdulikan langkah seseorang di belakangnya, dia hanya berdoa semoga cepat sampai ke flatnya. Akhirnya gedung flat kosong terlihat, Hanna segera masuk ke dalam bangunan tua dan segera berbalik dan menatap dari balik pintu kaca bangunan tempat tinggalnya.
"Tidak ada orang." ucapnya menengok ke kiri dan kanan. Hanna benar-benar mendengar langkah kaki berat itu di belakangnya, tetapi kosong hanya kertas koran yang berterbangan di tiup angin dan suara kucing dari balik tempat sampah.
Dia bergidik, dan segera menekan tombol lift dan segera masuk ke dalam. Jantungnya berdetak kencang, setelah lift membuka di lantai 5 hanna segera berjalan dan membuka pintu flatnya dengan nomor 702 dan segera masuk ke dalam dan menguncinya.
Dia menarik napasnya dalam-dalam, agar ketenangan menyergapnya hingga jantungnya berdetak normal. Hanna meletakkan kunci di atas meja begitupun tasnya, mencoba mengintip dari balik jendela Kecilnya dan dia segera menutupnya cepat. Seseorang berdiri di sana, di bawah lampu jalanan di seberang trotoar, menatap langsung ke arah flatnya.
"Apakah mataku menipuku?" bisiknya, hanna melihat seseorang berdiri di seberang jalan langsung menatap bangunan tua tempatnya tinggal. Sekali lagi hanna mengintip dari balik jendela, tetapi sudah tidak ada orang di sana.
~
Malam itu begitu dingin, musim gugur baru saja tiba, Hanna mengeratkan selimut di tubuhnya, agar dia bisa merasakan hangatnya selimut di atas tempat tidur nyamannya.
__ADS_1
Suara aneh terdengar jelas malam itu. Garukan dari tembok terdengar jelas, hanna terbangun malam itu karena kerasnya garukan yang membuat Hanna tidak bisa memejamkan mata, dia bangun dan terduduk di sisi tempat tidurnya. Dalam gelap dia menghampiri suara dari sebelah kamarnya.
"Suara apa itu?" Tanyanya, Hanna menempelkan telinganya di dinding kamarnya. Terdengar erangan serta suara kekehan yang mengerikan. Otomatis tubuh Hanna menjauh, suara aneh itu membuatnya takut.
Dia mundur beberapa langkah, lalu berlari dan masuk ke dalam selimutnya. Dia berharap garukan di samping kamarnya dapat berhenti. Sepanjang malam bunyi aneh itu terdengar di sebelah kamarnya, ingin sekali dia menegur penghuni di sebelah kamarnya, tetapi dia lebih mengikuti kata hatinya untuk tidak membuat masalah dengan tetangganya.
~
Untuk ketiga kalinya, pria itu kembali datang ke Truck kopinya, dan seperti biasa dia memesan kembali kopi espresso, kali ini Hanna berhenti mengenakan celemeknya, tanpa memperdulikan pria itu, Hanna menyeduh kopi untuknya.
"Kau sudah lama berjualan di sini?" tanyanya.
Hanna meliriknya, tangannya masih sibuk menyeduh kopi untuknya. "Ya, cukup lama, hanya untuk mengisi waktu luang, sambil mencari pekerjaan yang lainnya." ucap Hanna.
"Oh ya, kau sedang mencari pekerjaan? kurasa ide yang bagus memberikanmu ini." Pria bermata coklat itu memberikan kartu nama kepada Hanna. "Kau cukup datang ke perusahaan ini, dan berikan langsung kepada staf di sana." Ucapnya.
"Owh, oke terima kasih." ucapnya. Pria itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi seseorang di belakangnya, membuat dirinya berbalik.
"Ada apa Riel?" ucapnya.
Hanna menatap pria yang dipanggil Riel itu, wajahnya pun nampak familiar, tapi entah mengapa dia tidak bisa mengingat sama sekali, dimana dia pernah menemuinya.
"Mereka telah tiba." Meskipun dia berbisik, Hanna bisa mendengarkan sedikit percakapan mereka. Apakah pria di depannya ini orang penting? pria yang berada di belakangnya itu, memanggilnya dengan sebutan tuan.
Pria itu kemudian berbalik dan langsung menatap Hanna. Dia setengah tersenyum. "Sampai jumpa nona Hanna." ucapnya pelan. Mereka berdua kini berbalik dan segera berjalan menjauh.
"Tunggu, kenapa dia tahu namaku?" gumam Hanna.
Waktu menunjukkan pukul 11.00, hari ini cukup sepi, hanya beberapa orang saja yang membeli di Truck kopinya, Hanna ingin segera menutupnya dan berbelanja ke supermarket yang tidak jauh dari flatnya dan membeli beberapa kebutuhannya. Seorang pria mengenakan pakaian hitam dengan pandangan lurus langsung menghampiri Truck kopi berwarna kuning dan coklat itu.
"Selamat siang, anda ingin pesan apa sir?" tanyanya.
Pria itu sedikit mendongakkan kepalanya, menatap langsung ke mata coklat milik Hanna. Dia sama sekali tidak bicara, dia berdiri tegak di sana dan tidak bergeming. "Anda baik-baik saja? apakah anda ingin memesan kopi?" tanya Hanna.
Pria itu masih tertunduk dengan tudung hitam menutupi kepalanya.
"Anda baik-baik saja?" tanya Hanna sedikit lebih memundurkan tubuhnya ke belakang, dia kemudian melirik ke samping kiri dan kanan dan bersyukur, di jalan itu masih cukup ramai, jika pria ini melakukan sesuatu, dia akan berteriak sekencang-kencangnya, lagi pula dia memiliki alat kejut listrik yang bisa dia gunakan sebagai senjata.
Tiba-tiba pria bertudung itu pergi dari truck kopi milik Hanna. "Ada apa dengan pria itu? apa dia lagi mabuk?" ucap Hanna menggeleng.
~
Dua orang pria sedang berada di lokasi kejadian yang baru-baru ini terjadi, kasus pembunuhan dengan cara kematian yang sama. "Bagaimana dengan cctv di sekitar gang ini, apakah sudah di periksa?" tanya seorang pria dengan rambut pirang sambil menerawangi tempat itu, menatap di setiap sisi bangunan belakang.
"Sepertinya tidak ada cctv di sekitar sini, kecuali kita bisa meminta rekaman black box pada dua mobil yang diparkirkan depan gedung ini, pasti ada petunjuk, kita sudah memeriksa black box di setiap mobil pada pembunuhan sebelumnya, tapi kita sama sekali tidak menemukan satu petunjuk pun." ucapnya.
"Tetap kita harus memintanya Nick, ada dua mobil yang terparkir di dekat lokasi kejadian, saya yakin kali ini, kita pasti menemukan sedikit petunjuk." ucap salah satu detektif itu.
Keduanya masih menginvestigasi lokasi kejadian, masih mencari-cari sedikit saja petunjuk mengenai kasus pembunuhan mengerikan yang targetnya adalah seorang wanita. "Apapun harus kita lakukan untuk mengungkap kasus ini, sudah 5 orang wanita yang menjadi korbannya, motif pelaku belum diketahui, tetapi satu hal yang pasti, dia menargetkan wanita yang memiliki rambut pirang mencolok ."
__ADS_1