The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Penyusup 3


__ADS_3

Teriakan itu terus menggema di rumah sakit, siapa saja yang mendengarnya akan menatap iba kepadanya, tubuhnya penuh luka disertai goresan kaca dimana-mana, tubuhnya memang sakit tetapi hatinya jauh lebih sakit, terasa seperti dia kehilangan anggota tubuhnya, dia merasakan sakit yang amat sangat karena telah kehilangan wanita yang dicintainya, dia menangis tersedu-sedu, betapa hancur hatinya melihat dengan kepalanya sendiri istrinya jatuh dari jurang yang terjal dengan mobil yang dinaikinya, putranya berada di tempat yang aman ketika itu semua terjadi, tetapi tidak untuk istrinya, dia terlambat selangkah tanpa di duganya, hari itu wanita yang dicintainya pergi untuk selamanya.


"Lexia....Lexia..Lexia." Teriakan itu menggema hingga Xaphier dan Nara yang mencari keberadaan mereka dapat dengan mudah melihat Daren berteriak-teriak histeris tanpa bisa di kontrol, dia ingin pergi mencarinya sampai ke dasar jurang, tetapi siapapun tidak akan membiarkannya pergi dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.


Nara mencari-cari Ax dan melihatnya tertidur di salah satu tempat tidur yang tertutup tirai, meskipun dia baik-baik saja, ada goresan kecil di pelipisnya tetapi dia baik-baik saja. Hanya suara Daren yang menangis pilu tidak ada yang bisa menenangkannya, Xaphier memegang tubuh Daren yang berbalut perban dan memegangnya erat agar tidak meninggalkan rumah sakit karena luka-luka di tubuhnya sungguh mengkhawatirkan.


"Lexia, lexia dia sudah......, Xaphier?? Apa yang harus aku lakukan? Aku telah kehilangan lexiaku.....


~


Flashback


"Bukankah villa di Tulas lebih nyaman dibandingkan pantai yang ada di sini? Lihat, sepertinya pantai ini terlalu ramai." Ucap lexia sambil menatap dari kejauhan pantai yang indah tertutupi oleh banyaknya wisatawan lokal yang datang berkunjung ke pantai yang terkenal itu.


"Sebentar lagi menjelang musim panas tetapi airnya kan masih dingin, apa mereka semua berniat untuk mandi di tengah-tengah cuaca seperti ini?" Ucap lexia tidak percaya.


"Bukan masalah sayang, nanti kita ajak Ax bermain-main di pasir saja, setelah itu kita kembali di penginapan." Usul Daren.


"Mm..ok." Mobilnya kini melaju kian cepat untuk memasuki area wisata pantai yang lagi ramai-ramainya. Daren tentu saja mendapatkan tempat VVIP dengan cepat, dengan tergopoh-gopoh salah satu manager yang ada di hotel segera keluar dan menyambut kedatangan mereka, para pelayan membawakan tas mereka, meskipun tidak akan menginap, mereka memasuki salah satu penginapan mewah itu, kemudian melepaskan lelah Sebentar karena perjalanan mereka yang cukup jauh.


Lexia menyuapi makanan untuk Ax ketika Daren lagi berbaring sambil menutup kedua matanya untuk beristirahat sebentar.


"Pangeran kecilku tidak mengantuk?" Ucap lexia sambil menggoyangkan tubuh putranya yang menunjuk-nunjuk ke arah lautan yang terbentang dari balkon tempatnya berdiri.


~


Seorang pria berdiri di sana, menatapnya dari kejauhan dengan menggunakan teropong, entah apa tujuan pria berambut cepak ini mengikuti kemanapun lexia pergi. Telepon kini berdering.


"Kau ada di sana?" Tanya pria itu.


"Ya tuan." Ucapnya.


"Kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?" Tanyanya.


"Ya, saya tahu tuan."


"Hilangkan tanpa jejak, dan jangan sampai kau di curigai ketika mengikuti mereka di sana, kau mengerti !" Tanyanya.


"Baik tuan."


~


"Daren bangunlah, Ax sudah tidak sabar lagi pergi ke pantai." Ucap lexia menggoyangkan tubuh Daren agar segera bangun dan mereka dapat berjalan-jalan bersama.


"Hmm, ya sayang aku akan bangun, berikan aku 5 menit lagi ok." Ucap Daren masih menutup kedua matanya.


Lexia melepaskan Ax hingga dia merangkak di tubuh Daren dan duduk di atas dadanya, lalu menggumam-gumam lucu di atas dada ayahnya.


"Oke Axton, ayah akan bangun." Ucapnya sambil memeluk tubuh putranya yang berteriak-teriak memanggil ayahnya.


Mereka akhirnya berjalan-jalan di pinggir pantai saat orang-orang sudah sedikit berkurang.

__ADS_1


Hari itu lexia mengenakan pakaian off-shoulder top yang berwarna putih sangat fashionable yang memperlihatkan bahunya, sedangkan bawahannya yaitu jeans berwarna biru pendek, sehingga kaki jenjangnya dapat terlihat memikat, sedangkan Daren hanya mengenakan t-shirt putih dengan jeans biru senada dengan pakaian lexia hari ini begitupun putranya.


mereka memegang tangan Ax dan membiarkannya berjalan-jalan di pasir pantai yang begitu lembut, dia begitu gembira dan bersuara dengan teriakannya yang nyaring. Tidak lupa Daren mengambil moment-moment liburan mereka, mulai dari lexia yang berjalan seorang diri di pinggir pantai sambil tertawa lepas, dan beberapa foto lexia bersama dengan Axton sambil menggendongnya dan memeluknya, dan foto mereka bertiga memandangi lautan.


Setelah puas bermain-main di pantai, mereka kembali ke penginapan dan istirahat Sebentar.


Sebelum pulang mereka singgah di salah satu restaurant untuk makan siang bersama. Daren memperhatikan di sekitarnya dan menatap di sekelilingnya jika saja ada yang mencurigakan.


Sedangkan lexia sedang asyik memesan berbagai hidangan dan membiarkan Ax duduk di tempat duduk bayinya sambil menggigit-gigit buah yang diberikan lexia kepadanya.


Tanpa merasakan kecurigaan apapun, mereka akhirnya beranjak dari restaurant ketika semua hidangan telah selesai di santap, mereka naik mobil menuju perjalanan pulang.


Daren menatap kembali sesuatu yang aneh, Mobil SUV berwarna hitam muncul kembali, kali ini dia terang-terangan ingin memblokir mobil yang mereka kendarai.


"Sial!" Ucap Daren, hal itu membuat lexia segera memeluk putranya erat-erat.


"Ada apa daren?" Tanyanya cemas.


"Seseorang mengikuti kita, aku sudah curiga mobil itu selalu ada di belakang kita, Sebelum kita tiba di penginapan tadi." Ucap Daren menginjak pedal gas dan melaju kencang.


"Pegangan lexia." Perintahnya.


Mobil itu kini mengejarnya, bukan hanya satu saja tetapi dua mobil yang ingin menghimpit mobil Daren.


"Sial !" Umpat Daren. Dengan cepat lexia menekan nomor ponsel Xaphier agar segera mendatangkan beberapa pengawal untuk melindungi mereka.


"Lexia tekan angka 7 cepat hubungi Evan agar segera mengirimkan orang-orang Burchard kemari, letaknya tidak begitu jauh dari lokasi kita sekarang." Ucapnya.


"Ba..baik." Lexia segera menekan angka 7 dan pada deringan kedua telepon lexia di angkat oleh Evan.


"Ya Nyonya lexia."


"Segera kirimkan orang-orang Burchard ke..ke jalan 45 street Roland sebelah selatan, kami sedang dikejar-kejar oleh seseorang." Teriak lexia.


"Baik nyonya, saya akan mengirimkan mereka sekarang." Sambungan terputus, kemudian mobil itu terus menghimpit mobil Daren hingga membentur mobilnya dan menimbulkan suara keras yang membuat lexia memegang erat-erat putranya yang kini sudah menangis.


"Tenanglah sayang, tenang." Ucap lexia. Sayangnya mobil Daren akhirnya berhenti mengikuti mobil yang menghimpit mereka karena tidak mau jika Ax dan lexia terluka dan dalam bahaya karena kejar-kejaran dengan mobil hitam itu, apalagi jalur mereka merupakan jalur berbahaya dimana jurang ada dimana-mana.


"Da..Daren? Bagaimana ini?" Tanyanya.


Kedua mobil itu berhenti di sisi kanan kiri mereka. "Jangan keluar dari mobil lexia Sebelum bantuan datang, ingat apapun yang terjadi denganku, kau jangan sama sekali meninggalkan mobil ini, Evan Sebentar lagi akan datang, percayalah." Bisiknya cepat.


Empat pria sudah berdiri di depan mobil Daren dengan wajah sangar mengerikan dan bertubuh besar, satu dari mereka memiliki tato di kepalanya bergambar panah.


Daren keluar dari mobil dan mengangkat kedua tangannya, tetapi lexia tahu di balik bajunya ada pistol yang dia himpit di antara punggung dan celananya. Mereka kemudian menatap lexia, setelah itu tanpa lexia duga salah satu pria memukul Daren hingga dia berjalan mundur dan hampir saja terjatuh.


"Daren !" Teriak lexia sangat khawatir. Lexia menekan-nekan ponselnya, dan berusaha kembali menghubungi Xaphier dan Evan, tetapi tangan lexia terlalu gemetar hingga ponselnya jatuh ke bawah.


Suara Ax yang menangis membuat lexia tidak konsentrasi, matanya terus tertuju pada Daren sementara tubuhnya bergoyang berusaha menenangkan putranya.


Satu pukulan kembali melayang di wajah Daren hingga tubuhnya jatuh di aspal dan terseret, Daren menghapus darah yang keluar dari hidungnya. Daren mengambil pistol dari punggungnya dan memberikan tembakan kepada mereka tetapi Daren kalah cepat sehingga senjata itu mereka tendang menjauh.

__ADS_1


Lexia gemetar sambil terisak. "Mengapa mereka lama sekali?" Ucap lexia menatap sekelilingnya berharap siapapun bisa menolong Daren.


Dari kejauhan tampak lima mobil berwarna hitam sedang menuju ke arah mereka, lexia akhirnya merasa lega, tetapi salah satu pria berkepala plontos membuka pintu mobil lexia dan menariknya keluar.


Lexia yang mengetahui bahaya akan segera menghampirinya, dengan cepat mendudukkan Axton di kursi bayinya dan memasangkan seat belt untuknya meskipun dia menangis sambil mengulurkan tangannya kepada ibunya.


Pria itu kemudian menarik tangan lexia hingga dia bisa keluar dari dalam mobilnya, senjata sudah diarahkan pada kepala lexia, Daren kemudian mengangkat tangannya, mencoba membujuk pria berkepala botak itu agar tidak melukai lexia. Sementara temannya yang lain, langsung saja meninggalkan lokasi dan naik kembali ke mobilnya, mereka pergi dengan cepat meninggalkan kawannya sendirian.


Alarm bahaya menghampiri pria itu hingga dia berjalan mundur pada sisi jembatan yang di bawahnya terdapat jurang.


Mobil-mobil sudah berada di sana, Evan dan orang-orangnya melayangkan senjata ke arah pria yang menodongkan senjata kepada lexia.


"Jangan mendekat atau wanita ini akan mati." Ancamnya.


Daren yang sudah berdarah karena beberapa pukulan mengenai pelipisnya, dia maju selangkah mencoba mendekati pria yang menodongkan senjata kepada lexia.


Suara tangisan Ax membuat lexia mengalihkan perhatiannya. "E..Evan, bawa Axton pergi dari sini, bawa dia ketempat yang aman, Sekarang !" perintah lexia.


"Diam!" Ucap pria botak itu sambil menarik tangan lexia menghindari pengawal-pengawal yang mengarahkan senjata kepadanya.


"Kalau kau ingin wanita ini selamat jatuhkan senjata kalian, jika tidak, saya tidak bisa menjamin kepala wanita ini akan utuh, cepat !" Teriak pria itu. Daren menatap tajam kepada pria itu, lalu memberikan isyarat agar mereka menjatuhkan senjata, pengawal-pengawal segera meletakkan senjatanya di atas aspal dan mengangkat kedua tangannya ke atas.


Dia kemudian menarik lexia ke salah satu mobil, dan menyuruhnya masuk ke dalam. Pria itu mendorong lexia agar masuk ke dalam mobil, dengan masih mengarahkan senjata kepada mereka semua, dengan cepat pria itu membawa lexia dengan kecepatan tinggi.


Daren segera menyusul lexia dengan 5 mobil mengejar dari belakang, kecepatan mobilnya tidak main-main, belokan yang terjal dan arus mobil yang berlawanan arah membuat lexia dengan cepat mengenakan seat beltnya lalu memegang apa saja agar dirinya tidak membentur apapun.


"Sial!" Umpat pria itu, kini dia mengemudi dengan gila-gilaan tetapi dia kelihatan panik karena pengejaran Daren dan Pengawal-pengawalnya terus memburunya, laju mobilnya sama sekali tidak diturunkan, padahal ada peringatan di ujung jalan agar mengurangi kecepatan mobil, ketika pembelokan tajam, pria itu tetap mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sehingga dari arah berlawanan ada truk bermuatan berat, dia ingin menghindari truk itu membelok dengan tajam dan akhirnya menabrak pembatas jalanan sehingga mobil itu meluncur begitu saja di jurang yang dalam dan berguling-guling menimpa bebatuan yang curam dengan pohon-pohon yang lebat sehingga sulit untuk melihat sampai ke bawah dengan mata telanjang.


Beberapa menit yang mendebarkan ledakan itu begitu keras dan besar terdengar, asap mengepul dari bawah jurang terlihat jelas memenuhi tempat itu. Daren segera keluar dari mobil dan berlari ke tempat jatuhnya mobil yang dinaiki oleh lexia dan pria itu.


"TIDAAAAAK ! LEXIA, LEXIA...!" Teriakannya begitu keras, dia memegang pembatas jalan yang rusak seakan ingin melompat ke bawah dan ingin menolong lexia. Tetapi Evan dan Pengawal-pengawalnya menahan Daren untuk turun karena ledakannya dan asap yang mengepul masih susul menyusul.


"Lakukan sesuatu Evan, lakukan sesuatu ! lexia ada di sana, Cepat ! turun dan cari lexia." Daren mendorong tubuh Evan ke samping tanpa memperdulikan pecahan kaca yang mengenai tangannya karena kerasnya benturan dari mobil lexia ketika menabrak tiang pembatas yang terbuat dari besi itu.


"Tuan, kita harus ke rumah sakit, anda terluka." Ucap Evan sambil berjongkok memegang Daren yang masih menatap tajam jurang yang tidak bisa dilihat dengan jelas karena banyaknya pohon dan batu yang besar, membuat pandangan menjadi terbatas.


"Aku akan turun, aku akan pastikan lexia baik-baik saja, lexiaku masih hidup." Ucap Daren sambil menggertakan giginya, dia menarik jas Evan, lalu menatapnya tajam.


"Segera cari lokasi keberadaan lexia dan sisir di semua tempat sekarang juga evan !" Perintahnya.


"Baik tuan."


Evan segera melakukan penyisiran dan beberapa dari mereka turun langsung ke tempat yang terjal itu, sementara itu Evan sudah menghubungi helikopter yang akan memasangkan Aerial Crane yaitu alat bantu khusus yang di pasangkan pada helikopter untuk mengangkat beban yang sangat berat.


Beberapa jam yang membuat daren gelisah, karena helikopter yang berusaha mengangkut mobil yang di tumpangi lexia kesusahan untuk mencari mobil itu karena pohon-pohon yang lebat serta bebatuan yang besar membuat helikopter yang akan mengangkat mobil tidak bisa melanjutkannya. Evan baru saja datang ke tempat Daren yang diberikan pengobatan pertama dari ambulance yang datang ke tempat kejadian.


"Sir, beberapa dari mereka sudah kembali dari jurang, dan..." Evan menunduk Sebentar.


"Katakan !" Bentak daren.


"Mobilnya sudah hangus terbakar sir, hangus dan yang tersisa hanya bangkai mobil dan tidak ada sisa sama sekali, ledakan itu cukup kuat sehingga beberapa kali ledakan hingga yang tersisa hanya bangkai mobil saja yang bisa kami temukan." Ucapnya datar sambil menunduk.

__ADS_1


"Tidak, itu tidak mungkin lexia pasti ada di suatu tempat menyelamatkan dirinya sebelum mobil itu meledak, dia pasti keluar karena dia tahu mobil itu akan meledak." Ucap Daren membentak.


Evan hanya tertunduk mendengar kemarahan Daren, tidak berapa lama pengawal yang turun tadi ke jurang kini telah naik ke atas dan memberikan laporan kepada Daren. "Sir, tidak ada yang tersisa, kami hanya menemukan ini." Dia menunjukkan satu cincin yang menghitam karena terkena asap ledakan mobil, dengan huruf X pada ukirannya. "I..ini cincin kawin milik lexia." Gumam daren perlahan.


__ADS_2