
Terletak di bagian barat long island, Queen's merupakan tempat terpadat kedua setelah manhattan. Kota ini adalah tempat yang akan lexia tuju tepatnya di pinggiran Queen's kota itu bernama Beverly street, Edo akan membawa lexia ke sana dan untuk sementara ini tinggal bersama nenek edo yang berkewarganegaraan Meksiko.
Perjalanan mereka sudah begitu lama, beberapa kali Edo harus singgah di pom bensin, rupanya tempat tinggal nenek Edo berada di pinggiran kota Queen's yang cukup jauh dari keramaian meskipun jumlah penduduk di kota ini padat.
Lexia menyandarkan tubuhnya di mobil sambil melipat kedua tangannya.
Dia mengenakan topi hitam dari Edo agar lexia tidak nampak mencolok.
Lexia menatap jam di pergelangan tangannya, sekarang tepat pukul 2 siang, perjalanan mereka masih cukup jauh untuk mereka tempuh.
Lexia mengunyah permen karet dan mengedarkan pandangannya di sekitar jalanan itu, angin panas di siang itu menerpa wajahnya, dia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil sambil menunggu Edo yang membayar di kasir dan membeli beberapa bekal untuk di perjalanan mereka.
Mobil force berwarna hitam yang terparkir di sisi jalan sedikit mencurigakan lexia, dia menundukkan kepalanya lalu mengintip dari balik jendela mobil.
Dua pria berjas sedang masuk ke dalam toko dan berdiri di samping Edo.
"Apa yang dilakukan Edo, kenapa dia lama sekali?" Lexia terus menatap mereka. Edo pun selesai membayar dan berjalan menuju mobil kusamnya.
"Kau lama sekali Edo, kau lihat kedua pria berjas itu? Kelihatannya mereka mencurigakan." Ujarnya.
"Benarkah? Aku tidak terlalu memperhatikan." Ucap Edo yang mulai melajukan mobilnya dan sedikit mengerling kedua pria berjas itu.
"Apa yang mereka beli?" Tanya lexia.
"Entahlah, mungkin minuman."
"Sebaiknya kita menjauh dari mereka." Ucap lexia sambil membuka minuman kaleng yang telah di beli oleh edo lalu menyesap nya.
~
Puluhan orang-orang dari keluarga Burchard sudah tersebar di setiap sudut kota Manhattan, bukan hanya itu kota-kota yang cukup jauh pun sudah mereka kirim orang-orang Burchard kesana agar mencari keberadaan lexia.
Minuman itu tumpah begitu saja di jas berwarna silver saat mendengar berita itu, dia begitu terkejut dan dengan cepat mengambil saputangannya untuk mengelap minuman itu.
"Kau yakin?" Tanya William.
"Ya sir, aku mendengar sendiri dari salah satu penjaga di kediaman Burchard."
William tertawa keras, lalu bertepuk tangan.
"Akhirnya gadis itu mengambil langkah tepat, jadi aku tidak perlu bekerja keras membujuknya meninggalkan keluarga Burchard." Ucap William di tengah tawanya.
__ADS_1
'Apa yang membuat lexia pergi?' Gumam William.
Dia segera bergegas kembali ke kediaman Burchard, dia ingin melihat kegusaran di wajah keluarga itu, apalagi daren dia pasti sedang frustasi mencari gadis itu.
Mobil itu melaju kencang, sebentuk senyum masih melekat di bibirnya, dia mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.
"Sebarkan orang-orang kita di segala tempat Ruff, aku ingin kau mencari seorang gadis bernama Lexia Kenzo, aku akan mengirimkan fotonya kepadamu." Ucap William.
Dia lalu menutup ponselnya.
"Kita akan lihat siapa yang akan pertama kali menemukan gadis itu, kau atau aku yang menemukannya."
Seringai terbentuk di wajahnya, mata birunya menyala dengan harapan bahwa dia yang akan menemukan lexia terlebih dahulu dan ketika dia menemukan gadis itu, dia tidak akan melepaskannya.
~
Hari sudah menjelang sore, lexia dan Edo masih berada di perjalanan menuju Queen's, mungkin mereka akan tiba esok hari Karena kediaman nenek Edo letaknya cukup jauh.
Lexia yang lelah sedang tertidur di dalam mobil, musik yang mengalun dari mobil itu membuat lexia larut dalam buaian mimpi.
Setelah perjalanan mereka yang melelahkan Edo memutuskan untuk singgah di sebuah kedai makanan dengan tulisan besar pada tokonya 'Ratavia Queen's'.
"Aku lapar sekali." Ucap lexia dengan wajah mengantuk sambil menguap.
"Kau lelah lexia?sedangkan kerjamu tidur saja selama di mobil." Ujar Edo menggelengkan kepalanya sambil menatap menu.
"Kau pikir duduk berjam-jam pekerjaan yang mudah? Bokongku Sebentar lagi tidak akan terlihat karena terlalu lama duduk."
Edo tersenyum mendengar segala ocehan lexia yang terus terang, lexia begitu berarti bagi Edo dia adalah teman semasa kecilnya yang paling dekat diantara teman-teman lainnya, mereka sama-sama tidak mengetahui orang tua mereka dan hanya di rawat oleh nenek mereka.
Edo memiliki perasaan yang lebih dari hanya sekedar teman kepada lexia, meskipun hanya dia sendiri yang merasakan perasaan seperti itu sementara lexia tidak.
Setelah selesai makan, mereka kembali ke dalam mobil dan sesuatu mencurigakan mendekati mobil mereka.
Tiga orang pria sedang mengamati lexia dan Edo dari kejauhan.
"Kau melihat mereka Edo?" Tanya lexia mengerling mobil force hitam mengkilap yang menepikan mobilnya tidak begitu jauh dari mobil mereka.
"Ya, aku melihatnya, kita harus bergegas lexia, dan jangan menimbulkan kecurigaan Ok, berjalanlah dengan santai dan jangan terlihat terburu-buru." Ucap Edo.
"Harusnya kata-kata itu untukmu Edo, lihat saja caramu berjalan." Ucap lexia mendengus melihat Edo yang ingin segera tiba di mobilnya.
__ADS_1
Untung saja lexia mengenakan topi pemberian Edo dan mengikat rambutnya yang panjang.
"Mobil itu turut menyalakan mesin mobilnya ketika melihat Edo melajukan mobilnya di jalanan yang lengang.
"Kupikir mereka mengikuti kita sejak tadi." Ucap Edo.
"Sial !" Umpat lexia merasakan debaran jantungnya berdetak cepat. Jika dia tertangkap, tidak akan ada kesempatan lain untuk melarikan diri, karena daren akan meningkatkan keamanannya dan mungkin saja akan ada bodyguard yang akan mengikutinya kemanapun dia pergi tetapi yang lebih parahnya jika daren akan melakukan sesuatu kepada tubuh lexia, hal itu membuat lexia merinding dan merasakan punggungnya bergetar.
Edo yang cukup jago menyetir melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi sehingga mobil hitam yang mengikutinya kesulitan menjangkau mobil mereka.
Edo berbelok di salah satu jalanan yang begitu gelap hanya pohon-pohon yang berderet di sana menutupi keberadaan mobil mereka, dia segera mematikan lampu mobilnya dan menunggu mobil force itu melewati mereka.
Edo berbalik dan menatap lexia.
"Ceritakan padaku lexia kepada siapa sebenarnya kau bekerja, Sepertinya mereka bukan orang sembarangan, kau bekerja sebagai apa sampai-sampai mereka begitu gencar mencarimu." Ucap Edo dengan tatapan marah.
Lexia menggaruk-garuk kepalanya.
"Keluarga itu bernama Burchard, em...mereka memintaku untuk menyamar sebagai putrinya." Ucap lexia.
"Menyamar? Untuk apa dia menyuruhmu menyamar?"
"Putrinya sakit dan tidak bisa menemui orang-orang sedangkan kakeknya bernama Juan Robert ingin segera bertemu cucunya, kata mereka kakek itu terkenal mengerikan dan Sepertinya keluarga itu takut dengannya jadi aku di suruh menyamar oleh pria bernama daren, dia adalah adik dari ibu lovelia."
Lexia menatap Edo yang terlihat membeku di kursinya.
"Hei, kau tidak apa-apa? Ada apa denganmu Edo?"
"Kau...kau bilang Juan Robert?" Tanyanya.
"Kau mengenal mereka?" Tanya lexia.
"Bahkan gabungan dari tuan William Luther dan keluarga Burchard tidak akan bisa mengalahkan keluarga Robert, kau Tidak tahu siapa tuan robert itu lexia?"
Lexia menggelengkan kepalanya.
Edo memijit-mijit keningnya mencoba menenangkan dirinya. "Kau sungguh dalam masalah besar lexia." Ucap Edo.
π
Jangan lupa comentnya yaaaa tmn2 readers ππcoment like and vote menjadi penyemangat penulis supaya lebih giat lagi dlm nulisnya...Happy reading tmn2 readersππππ
__ADS_1