The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 21


__ADS_3

Malam itu Ax merawat Fairley dan mengompres keningnya, serta menungguinya semalaman agar panasnya tidak tinggi lagi, semua perhatian dicurahkan untuknya. Fairley merasakan tubuhnya begitu panas dan ada dentuman terasa di kepalanya. Dia membuka matanya dan melihat Ax sedang tidur disampingnya, dia duduk di sampingnya sambil membiarkan kepalanya bersandar di atas tempat tidur dan memegang tangan Fairley.


Ax terbangun, dia merasakan pergerakan di sampingnya, "kau sudah bangun Fairley?" Tanyanya, dia memegang kening Fairley.


"Sekarang tidak begitu panas," ucap Ax sambil mengusap kepala Fairley yang sedang menatapnya. Dia lalu menggeser tubuhnya ke samping, tempat tidur mereka begitu kecil, sehingga mereka tidur dengan jarak begitu dekat.


"Tidur di sampingku Ax, nanti kau sakit jika tidurmu di tempat duduk. Matanya menatap Ax yang terlihat begitu lelah, apalagi seharian ini dia berada di bawah terik matahari.


Ax mengambil tempat yang diberikan Fairley kepadanya, dia kemudian memeluk erat Fairley. "Tubuhmu masih hangat, tidurlah, besok aku akan buatkan bubur untukmu." Ucapnya.


Fairley mengangkat satu alisnya, terlihat keraguan di wajahnya.


"Kau meragukanku?" Ucap Ax. "Besok aku akan membuatkan bubur sehat untukmu, tunggu saja." Ucap Ax.


Mereka berdua akhirnya tertidur, mereka tidur begitu pulas, tanpa mereka sadari, puluhan pengawal dari tuan Caesaar telah tiba di halaman rumahnya, Thomas masuk ke dalam, dia kemudian memberikan isyarat kepada para pengawalnya untuk membawa mereka berdua malam itu juga kembali ke Oklahoma.


Tubuhnya seakan melayang, tidak terasa dia sudah berada di pesawat yang akan membawa Ax dan Fairley ke mansion.


Ax mengedipkan beberapa kali matanya, dia mengerjap dan menatap di sekitarnya. Dia kemudian terduduk dan menatap heran di sekelilingnya, Fairley masih tidur disampingnya, Ax kemudian memegang keningnya, dia lalu menghembuskan nafasnya tenang. "setidaknya panasnya telah turun." Ucap Ax. Dia kemudian menatap tempat itu.


"Apa ini ulah kakek lagi? Apa sih yang diinginkan kakek." Gumamnya.


Pintu kamar terbuka, Dazon muncul begitu saja dari kamar mereka, terlihat senyum tenang di wajah Dazon, dia bersedekap sambil bersandar di pintu kamar.


"Senang bertemu denganmu Ax." ucap Dazon, terlihat seringai di wajah tampannya.


"Dazon? Apa yang kau lakukan di sini." Tanya Ax.


"Tenanglah, aku yang menyelinap naik ke pesawat ini, Sepertinya kakek memerintahkan Thomas untuk membawa kalian ke mansion di Oklahoma." Ucapnya.


"Kenapa kau menyelinap Daz, apa kau segitu bosannya?"


"Haaa, kerja dan sekolah, berulang-ulang terus menerus, tentu aku sebagai manusia normal butuh perubahan suasana meskipun sedikit, kau tahu? Kakek semakin ketat kepadaku, dia bahkan memasang chip di pergelangan tanganku untuk mengetahui di mana lokasiku, ah bukan hanya aku saja sih, kau pun sama denganku." Ucap Dazon santai sambil duduk dan memanjangkan kakinya lalu bersandar di sofa empuk di dalam kamar.


"Ck, memangnya untuk apa kakek pasang alat itu di tubuhku, memangnya aku akan kemana? Aku akan terus berada di desa itu, jika saja malam ini thomas tidak melakukan hal gila seperti ini, sepertinya informasi Fairley sedang sakit sudah sampai ke telinga kakek." Ucap Ax berdiri, dia membuka kulkas mini di samping tempat tidurnya dan mengambil dua minuman dan memberikannya kepada Dazon.


"Kau harus sembunyi Sebelum Thomas melihatmu." Ucap Ax sambil meneguk minumannya.


"Haha, tidak usah khawatir, karena sekarang ini dia sudah tahu dimana aku sekarang, dia betul-betul bermuka dua, kadang dia mematuhi segala perintahku, kali ini dia mematuhi segala perintah kakek dan sama sekali tidak mendengarkan aku." Ucapnya menggeleng.


"Sebentar lagi kita akan tiba." Ucap Ax menatap jam di pergelangan tangannya. Matanya tertuju kepada Fairley yang masih tertidur dan belum menyadari dia berada dimana.


Ketukan pintu terdengar dari luar kamar, Thomas masuk dan memberi hormat kepada Axton, matanya lalu tertuju kepada Dazon yang menyapanya dengan santai sambil mengangkat tangannya.


"Hai tom, senang melihatmu di sini." Ucap Dazon terkekeh.


"Erm, tuan Ax, kita akan segera tiba." Matanya tertuju kepada Dazon yang masih duduk santai di sana sambil menyesap minumannya.


"Tuan dazon, anda harus menghadap tuan Caesaar setibanya di mansion, ini perintah langsung darinya." Ucapnya.


"Tch, Ok Tom aku mendengarmu."


Dia kemudian keluar dan menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


"Hati-hati Dazon, Sepertinya kakek akan melakukan apa yang dikatakannya." Ucap Ax memperingatinya.


"Jangan khawatir kepadaku, aku akan mengurus kakek, sepertinya dengan membawa kalian kembali ke mansion bukan berarti ini akhir dari segala rencana kakek kepada kalian berdua, aku yakin dia masih memiliki rencana lainnya." Ucap Dazon.


"Sebaiknya aku kembali ke kamarku, aku ingin tidur sebentar, sebelum bertemu dengan kakekku tersayang."


~


Gadis itu membuka-buka kulkas di malam yang larut, tubuhnya menuntunnya ke dapur, entah mengapa perutnya melilit dan berbunyi hingga membangunkan dirinya dari tidur nyenyaknya.


Gadis itu berusia 16 tahun bernama Hanna Tan, gadis itu memiliki wajah separuh Asia tetapi tidak begitu kental, wajahnya yang cantik yang selalu menunduk ketika pemilik mansion tiba, pelayan yang bekerja di sana tidak berani mengangkat kepala mereka tinggi-tinggi ketika berhadapan dengan sang pemilik rumah, mereka bekerja dengan kepala tertunduk, kadang-kadang pelayan yang lebih senior yang lebih memiliki keberanian, mengintip sembunyi-sembunyi ketiga tuan muda tampan itu, meskipun begitu, Hanna yang bekerja baru beberapa bulan di mansion, karena bantuan tetangganya harus menjaga sikapnya.


Tapi malam ini, keberaniannya cukup membuatnya terkejut, dia lapar, tubuhnya sampai protes dan berbunyi.


Dia membuka-buka kulkas dan melihat ada sepiring roti bollilo, serta buah-buahan yang bisa di lahapnya. Dengan menahan napas karena takut ketahuan, dia membawa makanannya ke balkon dan melahapnya di sana.


~


"Ax besok aku akan menemuimu dan Fairley, aku harus bergegas kembali ke mansion." Ucap Dazon setelah beberapa menit istirahat di pesawat, dia kemudian turun dari pesawat dan secepat kilat masuk ke dalam mobilnya dan segera menuju ke mansion.


Setelah tiba di mansion, Dazon menatap kiri dan kanannya, dan masuk melalui pintu belakang, biasanya jam seperti ini kakeknya masih bekerja di ruangannya. Apalagi ada cctv yang bisa memantau pergerakannya.


Dazon akhirnya masuk melalui pintu dapur, dengan cepat naik ke atas tangga dengan pelan. Suara-suara terdengar dari balkon di sebelah tangga, balkon itu terbuka setengah, sehingga tirai di sampingnya beterbangan tertiup angin malam.


Dazon melangkah perlahan dan mengintip dari balkon, dia melihat gadis itu sedang makan dengan lahap. Dia bersandar di dinding balkon dan melahap makanan di tangannya.


Suara langkah kaki, dan suara ayahnya Xaphier menggema di dekat tangga, Dazon dengan cepat bersembunyi di balkon dan menutup pintunya rapat-rapat agar mereka yang melewatinya tidak curiga.


"Tch, ayah baru saja pulang dari Milan, bagaimana dia mengurus beberapa anak buahnya yang berkhianat kepadanya." Gumam Dazon mengintip dari balik pintu.


Sementara itu, Hanna masih terus mengunyah disamping Dazon.


Gadis ini berisik sekali, apa dia tidak bisa diam Sebentar saja? Pikir Dazon.


"Hei, berisik, berhenti mengunyah, jika kita ketahuan, aku akan habis." Ucap Dazon sambil melotot kepada Hanna.


Hanna dengan polosnya hanya mengangguk mengiyakan, tetapi dia tidak berhenti mengunyah makanan di mulutnya, apalagi dia sedang makan buah apel, suara gigitannya terdengar jelas.


"Suara apa itu Ril?" Tanya Xaphier berhenti di depan pintu balkon.


"Ada apa tuan?"


"Aku mendengar suara-suara." Ucapnya sambil menatap di sekelilingnya.


"Sudahlah, sebaiknya kau jelaskan dulu beberapa transaksi ilegal yang di lakukan mereka para pengkhianat." Ucap Xaphier sambil berjalan menuju ke ruangannya yang letaknya cukup jauh dari tempat Dazon bersembunyi.


"Haaah, nyaris saja." Ucap Dazon, kini dia berbalik kepada gadis pengunyah itu, wajahnya sama sekali tidak menampakkan rasa bersalah dan terus mengunyah makanannya.


"Kau, kenapa kau bisa makan di tempat ini?" Tanya Dazon melipat kedua tangannya sambil menatapnya tajam.


"Sorry tuan, aku lapar jadi....aku bersembunyi di sini dan makan." Ucapnya.


"Sorry? Kau mengatakan sorry? Tch, sudah berapa lama kau bekerja di sini?" Tanyanya sambil memandang gadis di depannya yang menatapnya tanpa menunduk di depan Dazon.

__ADS_1


"Ke..Kenapa tuan, jangan memecat saya, saya baru saja mendapatkan pekerjaan di sini." Ucapnya sambil melotot, dia kemudian menarik jaket Dazon hingga mereka terlihat begitu dekat.


"Hei, hei tanganmu, lepaskan pakaianku." Ucap Dazon menarik jaketnya yang dipegang oleh Hanna.


"Jangan pecat saya, saya berjanji tidak akan menyelinap dan makan sembunyi-sembunyi seperti ini lagi." ucap Hanna memegang jaket Dazon dengan putus asa.


"Apa-apaan, hei, hei lepaskan pakaianku, atau kau akan betul-betul kupecat." ucap Dazon sambil berusaha menarik pakaiannya yang masih dipegang erat oleh Hanna.


Pintu tiba-tiba membuka. Dazon membeku di tempatnya ketika melihat ayahnya sedang menatapnya penuh curiga.


"Dazon, bisa kau jelaskan, situasi apa ini?" Ucap Xaphier sambil menaikkan satu alisnya. Dazon memegang keningnya, dia tidak menyangka ayahnya akan melihatnya bersama seorang pelayan yang masih memegang pakaiannya dengan wajah memelas.


~


"Mom, dad." Ucap Ax, dia berjalan senang ketika melihat orang tuanya ada di mansion menyambut kedatangan Axton di depan pintu mansion, mereka memeluk putranya dengan bahagia.


"Kau telihat tampan Ax, bagaimana bisa kulitmu sudah kecoklatan seperti itu padahal belum lama ini kau tinggal di desa itu?" ucap lexia memeluk putranya.


Daren memeluk putranya sambil menepuk punggungnya. "bagaimana keadaan Fairley? katanya dia sedang sakit."


"Fairley sedang demam dad, dia mungkin demam karena terlalu lelah, apalagi di hanya di rumah saja." ucap Ax.


"Semoga Fairley cepat sembuh, Sebentar lagi ibu akan ke atas menengoknya, kau makan malam saja bersama ayahmu." ucap lexia, sekali lagi mengecup pipi putranya.


Mereka duduk di meja makan, setelah mendengar Ax akan datang, Daren sengaja tidak makan malam, dia ingin makan bersama putranya, sudah lama dia tidak menghabiskan waktu bersama Axton.


"Kau sungguh baik-baik saja Ax?" tanya sang ayah.


"Tentu dad, meskipun pekerjaan di sana sulit di dapatkan dan tidak bisa dibayangkan, tetapi aku menikmatinya, seperti refreshing bersama Fairley ke sebuah desa terpencil." Ucap Ax makan dengan lahap. Daren menepuk punggung putranya dan tersenyum melihat cara Ax makan, dia terlihat berubah, sikap elegannya telah hilang, dia seakan melihat lexia ketika makan di usia belianya, tetapi Daren senang melihat putranya makan dengan lahap.


~


Fairley membuka kedua matanya, dia kini tersadar dari tidur nyenyaknya. Seseorang memeluknya erat hingga hidungnya menyentuh dada bidang di depannya. Fairley mendongakkan kepalanya, melihat Ax masih tertidur lelap, Fairley berusaha memutar tubuhnya, dan melihat di sekelilingnya.


"Di mansion? kenapa kita ada di sini?" ucapnya.


Fairley memegang pipinya, "Apakah karena aku sakit, kakek membawaku pulang ke mansion?" ucapnya sambil memegang keningnya. "Aku sudah tidak panas lagi, demamku sudah turun dan....


"Kau harus banyak istirahat." Ucap Ax, dia sudah membuka matanya, dia menarik Fairley dan memberikan kecupan selamat pagi kepadanya. Ax memegang kening Fairley yang berbaring di atasnya.


"Hm, bagus tidak panas lagi." Ax memeluk Fairley erat, "Jangan bergerak, tidurlah lagi, aku juga masih ngantuk." ucapnya. Fairley tersenyum dan membalas pelukan Ax. Bunyi ponsel di kamar itu membuat Fairley melepaskan pelukannya dari Ax, dia mengambil ponsel Ax dan memberikan kepadanya.


"Ax, kakek ingin bicara kepadamu." Ucap ayahnya.


"Oke Dad, Sebentar lagi aku akan ke ruangan kakek."


"Uhm, apalagi rencana kakek?" Ax turun dari tempat tidur, dia melepaskan satu persatu pakaiannya.


"Menurut Dazon, kakek tidak akan membiarkanku begitu saja, dia akan memiliki rencana lainnya, aku penasaran apa rencana kakek kali ini." ucap Ax, dia kemudian berbalik kepada Fairley yang sedang melepaskan pakaiannya dan ingin menggantinya dengan bathrobe.


"Fairley mau bergabung bersamaku?" tanyanya.


Fairley menggeleng dengan cepat. "Tidak kali ini Ax, kakek sedang menunggumu, kau pasti tidak akan mandi begitu saja jika aku ikut bergabung denganmu." Ucap Fairley menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat Ax berdecak mendengar penolakan Fairley.

__ADS_1


__ADS_2