
Hanna tidak mengerti dengan situasi yang terjadi, dia duduk di sana dengan mengenakan Wedding dress dan sebentar lagi dia akan menikah.
Kata-kata tuan Caesaar yang duduk di hadapannya ini membuat kernyitan di kening hanna semakin dalam, apa maksudnya pada akhirnya semua akan bahagia?
"Sebelum saya menceritakan ini semua, saya terlebih dahulu ingin mengatakan kepadamu, bahwa ayahmu adalah orang yang sangat setia kepadaku, dia juga adalah seorang kawan yang selalu berada di sisiku." Ucap tuan Caesaar.
"Ayah? Tapi bagaimana bisa tuan? Ayahku sudah lama wafat bersama ibuku." Ucap hanna tidak mengerti.
"Maksud saya adalah ayah kandungmu, Ben Reaver."
"A..ayah kandungku? Hanna semakin tidak mengerti dengan ucapannya.
"Dengarkan dulu semua yang saya ceritakan Hanna, dengarkan baik-baik, Saat itu usiamu 2 tahun, saat kau di adopsi oleh keluarga Tan yang berasal dari Vancouver, mereka saat itu, kehilangan putrinya yang berusia sama denganmu. kau dilahirkan di Philladelphia, ayahmu bernama Ben Reaver dan ibumu bernama Amelia Reaver, kau memiliki dua orang kakak, yang bernama Jon Reaver dan Ben Reaver Junior atau di panggil Riel.
Hanna terguncang dengan semua ucapannya dia seakan tidak percaya ketika mendengarkan ini semua. "Riel? apakah maksud anda Riel seorang pengawal yang pernah bekerja pada Dazon tetapi dia mengundurkan diri karena sakit." Ucap hanna.
Setelah itu mulailah tuan Caesaar menceritakan dengan perlahan kisah hidup seluruh keluarganya, hingga tiba saatnya ketika dia menceritakan Riel yang berubah menjadi seperti ayahnya, seorang pembunuh mengerikan, yang membunuh wanita-wanita berambut pirang. Hanna menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa semua ini terjadi? Sikap keluarga ayah dan ibunya akhirnya menjelaskan semuanya, mereka tahu bahwa Hanna bukanlah anak kandungnya itulah mengapa mereka memperlakukannya seperti itu seperti orang lain yang tidak dibutuhkan.
"Di..di mana Riel sekarang?" Tanyanya.
"Kami juga tidak tahu di mana keberadaan Riel, dia adalah buronan nomor 1 yang di cari di Atlanta." Ucap tuan Caesaar.
Setelah mendengarkan semua penjelasan tuan caesaar, Hanna tidak menyangka dia memiliki saudara kandung, yang memiliki darah yang sama dengannya, memorinya kembali mengingat semua tingkah aneh seorang pria yang pernah muncul ketika menolongnya, dia menggaruk-garuk aspal hingga tangannya memerah, sewaktu kecil seseorang menghiburnya dengan membunyikan pintu dengan menggunakan garukan dan itu menghiburnya.
Tanpa sadar air mata hanna berjatuhan, dia memiliki seorang kakak yang sakit, dia sakit karena trauma masa kecil, ketika kakaknya menyaksikan kejadian mengerikan itu.
"Sayang sekali hanna, Riel melarikan diri dari rumah sakit, kepolisian juga sedang mencari-carinya, tetapi yakinlah dia selalu berusaha dekat denganmu agar selalu menolongmu." Ucap tuan Caesaar.
Hanna mengangguk sedih, dia tidak menyangka keluarganya memiliki kisah mengerikan dan menyedihkan, selama ini dia menyangka dia seorang diri ketika orang tuanya telah wafat yang berasal dari keluarga Tan. Ternyata selama ini dia memiliki seorang kakak.
~
Dazon telah rapi dan tampak sangat tampan, dia mengenakan Tuxedo berwarna hitam panjang, layaknya seperti seorang pangeran, dia berdiri sambil menatap jendela kaca yang terbentang luas sambil membelakangi pintu.
"Tuan, sudah saatnya anda menuju ke tempat pernikahan." Ucap Loue.
Dazon melangkah pasti dengan tangan mengepal, dia melirik kepada loue, tiba-tiba Dazon menyerang Loue dan memukulnya hingga dia terjatuh, Dia berlari dengan kencang melawan seluruh pengawal yang menghalanginya untuk pergi dari sana.
Dazon keluar dari gedung, dia segera meninggalkan gedung itu dan mencari Hanna, dia sekarang ini menuju mansion tempat terakhir dia melihat hanna.
~
Pintu membuka, loue datang dengan hidung berdarah, dia kemudian berbisik kepada Thomas. Kemudian thomas menyampaikan kepada tuan Caesaar sambil berbisik.
"Sir, tuan Dazon kabur, sepertinya dia mencari nona Hanna." Ucap thomas.
"Ck, kenapa dia tidak bisa bersabar sebentar saja? Jemput dia bagaimanapun caranya."
"Baik tuan."
~
Dazon membuka pintu kamarnya, lalu berteriak kencang. "HANNA, HANNA DI MANA KAU, HANNA."
__ADS_1
"sial ! Di mana kau hanna." Dazon mengacak rambutnya yang rapi, terdengar decitan mobil, dia tahu pengawal-pengawal kakeknya telah datang menjemputnya.
"Tuan dazon, tuan Caesaar menunggu anda sekarang." Ucap Paulo.
Dazon menatapnya tajam, dia kemudian berjalan dan keluar dari mansion, dia bingung hendak kemana, karena selama ini hanna bersamanya, dia tidak memiliki tujuan lain selain apartemennya.
Dazon kini kembali dengan rambut yang menjuntai di keningnya, dia terlihat lebih tampan dengan rambut berantakan, dia masuk ke ruangan, di mana pesta pernikahan akan di adakan. Suasananya terlihat mewah, dengan bunga-bunga berhiaskan di karpet berwarna merah itu, dekorasinya sangat indah, di dominasi warna putih. Sangat berbanding terbalik dengan penampilan dazon yang terlihat acak-acakan, jasnya telah terbuka lebar dan dia tidak perduli dengan semua itu.
Ibunya menghampiri dazon dan memeluknya, dia memperbaiki rambut putranya yang berantakan. Wajahnya memerah, begitupun pandangan matanya yang tajam karena amarah yang di tahannya. Dia tidak akan membuat hal ini mudah, lihat saja, wanita itu akan menyesali pilihannya menikah dengannya.
Dazon berdiri di sana, pintu dengan ukiran indah terbuka lebar, sosok tuan Caesaar tengah mengantar mempelai wanita kepada dazon yang masih membelakanginya, hanna berjalan beriringan bersama tuan Caesaar, dia mengantar hanna sampai tepat di samping dazon.
Dazon masih belum berbalik, sedangkan hanna tersenyum di sampingnya, tiba-tiba tangan hanna menggenggam tangan dazon, membuat dazon sangat terkejut, dia melepaskan pengangan hanna dan akhirnya dia menatapnya dengan mata tajam yang siapapun lihat, akan tahu jika sekarang dia sedang sangat marah.
Mereka saling menatap, senyuman terpancar dari bibir hanna, tetapi tidak dengan dazon, wajahnya seketika beku, dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia menunjuk hanna dan pandangannya kembali kepada mereka semua yang hadir, lalu kembali menatap hanna.
"Hanna?" Ucap dazon terkejut bukan main, dia menatap di sekelilingnya. Kemudian dia kembali menatap hanna. "Kau di sini?" Ucap dazon seperti orang kebingungan.
Hanna meraih pipi dazon dan menariknya, dia kemudian mengecup bibirnya, membuat para tamu undangan bersorak dan tertawa melihatnya.
Dazon masih diliputi kebingungan, sebenarnya apa yang telah terjadi, dia tidak mengerti dengan situasinya, tetapi melihat hanna berdiri di sampingnya membuat dazon berubah menjadi tenang, tangannya menggenggam erat tangan Hanna.
"Kau berutang penjelasan padaku hanna." bisik Dazon.
Akhirnya mereka melaksanakan ritual pernikahan tanpa hambatan, tetapi dazon menatap kepada hanna, manakala dia menyebut namanya Ana Reaver kemudian menggantinya dengan nama Hanna Tan. kini mereka telah sah menjadi sepasang suami istri, dazon menyipitkan matanya dengan pandangan menuduh menatap Hanna.
"Kau bekerja sama dengan kakek? Melakukan ini semua dan membuatku bingung hanna sayang??" Bisik dazon, bibirnya begitu tipis saking kesalnya. Hanna menggelengkan kepalanya.
"Aku juga baru mengetahui semua rencana kakekmu daz, jadi jangan salahkan aku." Ucap hanna dengan senyum tertahan. Dazon menarik pinggang hanna mendekat kepadanya dan menghadiahi ciuman panjang, hingga tubuh hanna melengkung tidak bisa menahan berat badan dazon yang menciumnya dengan intens.
Pria itu berdiri di sana, mengenakan mantel panjang, dia duduk paling belakang, matanya memancarkan kebahagiaan ketika melihat mempelai wanita sedang tersenyum bahagia, adiknya kini memiliki seseorang yang akan melindunginya dan memiliki keluarga yang selalu bersamanya, kini dia tidak sendiri lagi, dan mencari nafkah dengan susah payah, sekarang dia bersama dengan orang yang dicintainya.
Entah kapan kita akan bertemu lagi hanna, entah kapan kau akan memanggilku dengan sebutan 'kakak', tapi sekarang kita tidak bisa bersama dan berkumpul menjadi satu keluarga yang bahagia, karena ada iblis dalam jiwaku, dan tanganku sudah kotor dipenuhi darah orang-orang yang tidak bersalah. bisik Riel, dia kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan pesta pernikahan, dia berbalik sebentar, kemudian menatap adiknya.
"Aku berdoa semoga kau bahagia Ana."
~
Dazon memijit keningnya saat tuan Caesaar sekali lagi menceritakan semuanya kepada dazon.
"Jadi hanna adalah Ana reaver, dia adik kandung dari Riel?" Ucap Dazon dengan tidak percaya. Penjelasan panjang dari kakeknya membuat dazon sekarang memahami mengapa riel ada di villanya, dia sudah tahu bahwa hanna adalah adik kandungnya, itulah mengapa dia melindunginya beberapa kali.
Dazon meneguk beberapa gelas untuk menenangkan jantungnya, kini dia berada di ruangan bersantai seorang diri, ingin mencerna semuanya. Pintu tiba-tiba membuka, Axton dan Daneil menghampirinya, mereka tertawa tertahan, mereka pasti mendengar semuanya, dazon merasa konyol, dia dikhianati dan seperti orang bodoh saja.
"Aku tidak tahu kakek ternyata mempersiapkan semua ini untukmu daz, bergembiralah karena kau akhirnya menikah dengan wanitamu sendiri." Ucap Ax menepuk punggung dazon.
"Tadi kakek menceritakan semuanya kepada kami, jadi dari awal kau bersama wanita yang akan dijodohkan untukmu dan kau membawanya kabur, menentang kakek mati-matian, aku tidak menyangka kakek lucu juga, dan anehnya dia tampak menikmati semua ini, aku tidak tahu, kakek juga punya selera humor." Ucap daniel.
"Kalian berisik, minggir ! Aku mau ke kamarku sekarang." Ucap dazon menyenggol bahu mereka berdua.
"Jangan terlalu kasar kepadanya daz, bukankah istrimu itu juga seperti dirimu, dia juga sangat terkejut, apalagi dia baru saja mendengar cerita mengenai keluarganya." Ucap Ax menepuk punggung dazon.
"Ck, aku tahu." Ucap dazon, dia kini melangkah dan membuka pintu dan pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
~
Hanna telah membuka wedding dressnya, di bantu oleh beberapa pelayan, kini dia mengenakan kimono tidur berwarna putih, lalu duduk di depan jendela kaca, kemudian mengingat semua yang terjadi ketika bertemu beberapa kali dengan Riel kakaknya. Akankah dia mengingatnya, atau suatu hari hanna bertemu lagi dengannya?
Pintu membuka, dazon menatap hanna yang melamun di depan jendela, sampai tidak menyadari kedatangan suaminya sendiri. Dazon melangkah lalu memeluk hanna dari belakang, membuat dirinya terkejut.
"Dazon?" Kaget hanna, dazon mengecup puncak kepalanya.
"Apa yang kau lamunkan?" Tanyanya.
Dazon menarik hanna berdiri dari kursinya dan mengubah posisinya menjadi memangku tubuh hanna di kursi itu.
"Aku hanya memikirkan semua cerita dari Tuan Caesaar, aku hanya berpikir di mana riel sekarang?" Bisik hanna.
"Jangan khawatir, dia bisa menjaga dirinya, apalagi sekarang dia menjadi buronan polisi, setidaknya dia pasti sembunyi di suatu tempat." Ucapnya.
Dazon menyembunyikan wajahnya dileher hanna, memberikan ciuman-ciuman kecil yang menggodanya, napas hanna menjadi tertahan, dazon mengambil remote di atas meja membuat lampu di kamar itu menjadi temaram dan redup, jantung hanna berdegup kencang ketika tatapan dazon tidak beralih darinya, tubuhnya menjadi aneh dan terasa sangat panas di tatap intens oleh dazon. Dia tersenyum menenangkan, kemudian dengan perlahan dia mengangkat Hanna di dalam rengkuhan kedua tangannya.
Membawanya ke tempat tidur dan membaringkannya.
Ciuman panjang menjadi hadiah pertama yang diberikan dazon kepada hanna, membuat tubuhnya panas dingin, dazon kini mengangkat kepalanya, dia tersenyum kepada hanna.
"Kali ini aku tidak akan berhenti hanna, jangan memberikan wajah cemberut kepadaku, meskipun sedikit sakit, kau harus menahannya, aku akan berusaha lembut kepadamu." Bisik dazon. Hanna mengangguk perlahan dengan mata sayu menerima apa yang diinginkan dazon, selang beberapa waktu yang membuat hanna mendesah dan gelenyar aneh yang di rasakannya, tiba-tiba mata hanna membulat ketika sesuatu yang aneh di rasakannya di bawah sana, dia menggenggam seprai tempat tidur erat-erat dan menggigit bibirnya untuk menahannya agar tidak teriak.
Malam itu merupakan malam pertama yang panas bagi keduanya, malam pertama mereka yang panjang dan keduanya hanyut dalam gairah. Tubuh hanna menerima Dazon sepenuhnya, meskipun beberapa kali dia mengeluh ketika dazon tidak berhenti-berhenti melakukannya.
~
Sosok bermantel itu berjalan di lorong sempit, dia ingin kembali menyerahkan dirinya kepada pihak yang berwajib, kondisinya masih sepenuhnya sadar, jadi sebisa mungkin dia harus menyerahkan diri malam itu juga. Sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya, Riel berbalik. Lalu menatap pria tua dengan senyum ramah di wajahnya.
"Halo Riel, senang bertemu denganmu." Ucapnya.
"Kau, siapa !"
"Perkenalkan namaku Rey Vandash, aku teman dari tuan Caesaar, sebaiknya kau ikut denganku sebelum kau menyerahkan dirimu ke kantor polisi." Ucapnya.
"Kenapa aku harus menurutimu, aku sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan keluarga Caesaar." Jawabnya.
Dia tersenyum tenang, lalu melangkah perlahan tanpa takut sedikitpun. "Jika kau ikut denganku, mungkin kita bisa mengetahui dan menyembuhkan racun yang mendekam di dalam tubuh ayahmu maupun tubuhmu, semua yang kau alami bukan hanya sekedar trauma masa kecil Riel, tetapi ada racun jahat yang beregenerasi di tubuh ayahmu dan masuk ke dalam darahmu, tubuhmu tidak mampu mengendalikan keinginan jiwamu bukan? Iblis yang bersemayam di dalam dirimu tidak akan menghilang hingga kau mati nanti." Ucapnya.
"Racun? Apa maksudmu beregenerasi? Apakah racun itu juga mengalir di dalam darah adikku?" Ucap riel ketakutan, matanya membulat.
"Itu mungkin saja, tetapi melihat kondisinya, dia terlihat sangat normal, tidak ada hal aneh yang sejauh ini terjadi padanya, tetapi kita harus berjaga-jaga, dengan membuat serum anti racun yang menggerogoti tubuhmu.
"Mungkin, kau tidak berpikir untuk memulai hidup baru dan hanya menunggu kematian menjemputmu saja, jadi kita tidak perlu cemas jika racun dalam tubuhmu tidak akan tersalurkan ke keturunanmu nantinya, tetapi lain halnya dengan adikmu hanna."
"Apa maksudmu?" Tanyanya.
"Meskipun dia tidak memiliki keinginan membunuh di dalam dirinya dan dia tampak normal sama seperti gadis lainnya, tetapi ingat ! Darah ayahmu mengalir di tubuh hanna dan racun itu akan terus mencari inang yang baru."
"Jadi maksudmu bisa saja keturunan hanna nantinya.....
"Itu mungkin saja, tapi saya berharap hal mengerikan itu tidak akan terjadi, untuk itu, ikutlah denganku, kita akan mencari obat penawar itu, hingga kita tidak perlu khawatir jika sesuatu menimpa adikmu kelak, karena kita sudah bersiap-siap."
__ADS_1
Riel segera menganggukkan kepalanya, keinginannya untuk menyerahkan diri ke kantor polisi telah hilang, dia harus bekerja sama dengan pria tua ini untuk mencari obat penawarnya, ini demi hidup adiknya, dia akan melakukan apapun, bahkan dia ingin menjadi kelinci percobaan sekalipun untuk obat-obat yang dibuat oleh pria ini, asalkan adiknya tidak mengalami hal buruk nantinya.