
Pria itu bersandar di kursi singgasananya, sesuai perintahnya, malam ini dia akan bertemu dengan wanita itu, sudah cukup lama dia menunggu untuk bertemu dengannya, meskipun keinginan hatinya nyata dia ingin memilikinya tetapi keinginannya itu bukan didasari rasa cinta atau apapun hal remeh seperti itu, dia hanya menginginkan bertemu dan mengenal wanita yang membuatnya begitu tertarik akhir-akhir ini.
Seorang pria mengetuk pelan ruangannya, dia segera masuk dan memberikan informasi mengenai keberadaan lexia.
"Aku akan segera menemuinya, tentukan tempatnya." perintahnya.
"Baik tuan."
~
"Apa? Apa yang kau katakan Nara !?" Ucap Xaphier dengan begitu terkejut sampai-sampai suaranya terdengar di seluruh ruangan di dalam kantornya, Xaphier tiba-tiba berdiri dari tempatnya duduk mendengar telepon dari Nara.
"Bagaimana mungkin Nara? Ayah Sekarang ini berada di Perancis, mengapa lexia tidak meneleponku dulu sebelum dia pergi?" Ucap Xaphier terdengar marah.
"Apa kau mengingat wajah pengawal itu?" Tanyanya.
"Aku mengingatnya Xaphier, tetapi ada apa? Mengapa tiba-tiba ayah ada di Perancis kata Thomas dia sekarang berada di rumah sakit di Italia." Ucap Nara gugup.
"Bagaimana bisa itu perkataan Thomas? Sekarang ini Thomas sedang bersamaku sedangkan Paulo berada di Perancis bersama ayah dan Pengawal-pengawalnya yang lain."
"Ja..jadi bagaimana dengan lexia?" Tanyanya.
"Untuk sekarang kau tenang dulu, aku akan segera menghubungi orang-orangku." Ucapnya.
Nara bergetar hebat, siapa yang membawa lexia? Apa...yang mereka inginkan." Ucapnya.
"Tenanglah sayang aku akan segera kembali ke Oklahoma sekarang juga." Ucap Xaphier.
Xaphier hendak menghubungi seseorang, tetapi dia berhenti ketika melihat Daren berdiri di depan pintu kantornya dengan wajah murka.
"Ada apa dengan lexia, Xaphier?" Tanyanya.
Dengan tenang Xaphier menjelaskan semuanya kepada Daren. "Sepertinya ada yang bermain-main dengan kita, dan dengan berani masuk ke dalam mansion dan membawa lexia."
"Apa maksudmu? Jadi dimana lexia Sekarang?" Tanyanya.
"Kata Nara lexia sekarang menuju ke bandara menuju ke Milan."
Tanpa mendengarkan ucapan Xaphier lagi, Daren segera berlari diikuti oleh Xaphier yang ada di belakangnya, dia mengikuti Daren sambil memerintahkan semua orang-orangnya untuk menahan pesawat yang akan berangkat ke Milan Sampai dia tiba di bandara di Oklahoma.
~
__ADS_1
Lexia menatap mobil Limousine yang melaju kencang malam itu, Axton sudah tertidur lelap di pelukan ibunya.
"Apakah Thomas tidak mengatakan hal lainnya, selain mengambil inisiatif untuk memberitahu kondisi ayahku?" Tanyanya.
"Tidak nyonya, dia hanya menyuruh kami segera mengantar anda ke Milan malam ini juga." Ucapnya. Lexia menatap pengawal itu yang sebentar-sebentar melirik lexia dari kaca spionnya.
"Ya, aku tahu Thomas adalah pria yang kadang pelupa dan tidak tegas dalam mengerjakan tugas-tugasnya, dia cukup sembrono bukan, seharusnya dia menjaga rahasia yang diberikan ayah kepadanya dan Seharusnya dia sendiri yang berangkat kemari dan menjemputku." Ucap lexia dengan mata melirik kepada dua pengawal di depannya.
"Ya Nyonya, dia ingin menyembunyikannya tetapi dia tidak ingin anda terluka, jadi dia memutuskan untuk memberitahu kondisi tuan Caesaar." Ucapnya.
Lexia tersenyum miring. Dua pria dihadapannya ini sedang berbohong, thomas adalah pengawal paling perfect dalam menjalankan tugasnya, dia Tidak pernah lupa atau lalai sedikitpun mengenai pekerjaannya. Dia berpikir cepat bagaimana caranya dia keluar dari mobil ini tanpa diketahui dua pria ini? Sekarang ini lexia sedang menggendong Ax jadi dia sebisa mungkin tidak menimbulkan kecurigaan kepada mereka berdua, dia tidak ingin putranya terluka, dia bisa mati jika sesuatu terjadi kepada anaknya.
~
Dengan gelisah Daren segera naik ke pesawat milik Caesar x997, pesawat pribadi yang mengantar mereka kapanpun mereka akan berangkat.
"Tenanglah daren, lexia wanita yang pintar dia pasti sudah tahu jika Pengawal-pengawal itu membohonginya." Ucap Xaphier mencoba menenangkannya.
"Ba.. bagaimana jika sesuatu terjadi pada lexia dan putraku? aku akan membunuh mereka semua." Ucap Daren dengan murka. Dia kembali menelepon lexia tetapi lagi-lagi tidak tersambung, dia kemudian memegang erat ponselnya. Dengan tubuh bergetar kekhawatiran terlihat nyata di wajah Daren yang pucat seakan darah telah terkuras dari wajahnya, daren berdoa dengan sungguh-sungguh agar lexia dan putranya selamat, dia tidak akan bisa hidup tenang jika sesuatu menimpa mereka berdua.
~
Lexia menatap jalanan yang kosong, perjalanan mereka cukup jauh untuk sampai ke Bandara, lexia sedang berpikir keras bagaimana dia bisa meloloskan diri dari dua pengawal gadungan yang sedang membawanya ke Bandara, apa yang mereka inginkan hingga berani menyusup ke kediaman Caesaar dan membawanya entah kemana, siapa yang memerintah mereka.
"Baik, sudah di tangan kami, ya tuan, kami akan segera tiba." Ucapnya.
"Siapa? Apakah dia Thomas?". Tanyanya.
"Ya, Nyonya." Ucapnya.
Apakah mereka akan membawanya ke Bandara? Kemana? Dia harus menghentikan mobil ini sebelum tiba di bandara, tetapi apa yang harus lexia lakukan? Sementara itu Axton masih tertidur lelap di pelukan ibunya.
"Aku ingin ke minimarket di sebelah sana, dan aku ingin ke toilet." Ucap lexia menatap sebuah minimarket yang ada di ujung jalan, dia memerintah mereka dengan suara yang datar-datar saja sehingga tidak menimbulkan kecurigaan jika dia ingin melarikan diri.
"Baik Nyonya." Ucapnya, mereka berdua saling melirik dan saling mengangguk. Mereka akhirnya menghentikan mobilnya, lexia keluar dari Limousin hitam itu dan segera masuk ke dalam minimarket.
"Kalian tunggu di sini, aku ingin berbelanja untuk popok anakku, sepertinya aku lupa membawanya." Ucap lexia dengan tegas.
"Kami harus mengantar anda Nyonya, kami takut...
"Aku bilang tunggu di sini ! Kau tidak mendengarkan kata-kataku." Bentak lexia dengan suara keras kepada mereka berdua.
__ADS_1
"Ba..baik Nyonya."
Lexia segera berjalan dan memasuki minimarket, untung saja tas kecil berisi barang-barang penting di bawa oleh lexia, sedangkan tas berisi perlengkapan Ax masih berada di dalam mobil. Dia melirik sekali lagi dari pantulan kaca di minimarket dan mereka mengawasi segala gerak gerik lexia.
Lexia sengaja berlama-lama di tempat popok bayi dan mengambil satu yang cukup besar, kemudian membeli alat kejut listrik yang biasanya di bawa oleh seorang wanita untuk menjadi perlindungan diri mereka, setelah membayar di kasir, lexia masuk ke dalam toilet dan menuliskan sesuatu di memo dan memberikan kepada kasir yang sedang berjaga, seorang pria muda, dia heran dengan kertas yang diberikan lexia secara sembunyi-sembunyi, tetapi tatapan matanya tiba-tiba membelalak, untungnya pria itu pandai berakting, dia mengambil ponselnya dan berpura-pura menelepon, pemuda itu memberikan isyarat kepada lexia agar dia menuju pintu belakang Minimarket dan dia segera menelepon nomor yang di tuliskan lexia dengan terburu-buru.
~
Lexia berjalan terburu-buru sambil menggendong Ax, belanjaannya dia simpan saja di belakang Minimarket agar tidak mempersulit langkahnya, dia memeluk erat tubuh Ax sambil mencari-cari taxi ataupun bus yang berada di jalan raya.
Tetapi sialnya tidak ada satupun kendaraan yang lewat di tempat itu, lexia menengok ke kiri dan Kanan jalanan yang cukup lengang, Untungnya Ax anak yang pintar, dia tidak bangun dan menangis dalam kondisinya terjebak seperti ini.
"Sungguh begitu sulit hanya untuk bertemu denganmu."
Suara itu mengagetkan lexia, pria bermata biru yang dalam sedang berdiri di belakangnya sambil melipat kedua tangannya. Tatapan matanya tajam dan tidak ada senyum di wajahnya, matanya kemudian beralih kepada Ax yang berada di gendongan lexia.
"Masuklah ke dalam mobil anakmu bisa sakit jika terlalu lama di luar pada jam seperti ini." Ucapnya.
"Kau !" Lexia menunjuknya meskipun samar, dia masih mengenal pria yang pernah di temuinya di balkon sewaktu di pesta itu.
Adrick mengangkat alisnya. "Kau mengenali wajahku bukan?, suatu kehormatan akhirnya kau mengenalku." senyumnya. Dia melangkah perlahan mendekat ke tempat lexia, kemudian dia berhenti dan menatapnya lekat-lekat.
"Masuklah ke dalam mobil, aku hanya ingin berbicara denganmu." ucap Adrick menatap ekspresi lexia dengan menampilkan wajah permusuhan, lexia mundur beberapa langkah, dia berpikir keras bagaimana caranya melarikan diri darinya.
Adrick tiba-tiba tertawa lepas, suara tawanya membuat lexia semakin jengkel melihatnya.
"Berhenti berpikir yang tidak-tidak Nona lexia, aku tidak akan melakukan apapun kepadamu, aku hanya ingin mengobrol, aku bukanlah pria yang akan menyakiti wanita apalagi ada bayi dalam gendonganmu, Dia akan sakit jika putramu di biarkan berlama-lama di udara dingin seperti ini.
Lexia menatap putranya yang masih tidur, dia kemudian memeluknya erat.
"Bagaimana jika kita berbicara di restaurant di sebelah sana, setidaknya tempatnya cukup ramai dan kau bisa menghentikan pemikiran mengerikanmu tentangku." ucapnya membujuk.
Lexia tidak memiliki pilihan lain, dia tidak bisa terus-terusan berada di luar di tempat berangin seperti ini, lexia khawatir putranya nanti akan sakit. "Kau ! jalan lebih dulu." perintah lexia.
Adrick terkekeh, meskipun begitu dia menuruti keinginan lexia dan berjalan terlebih dahulu, tidak lama kemudian lexia masuk ke dalam restaurant itu tapi anehnya tidak ada satupun orang di dalamnya.
"Apa yang kau lakukan? mengapa tidak ada satupun orang di dalam sini." ucap lexia menatap kosong kursi-kursi yang masih rapi tanpa penghuninya. Lagi-lagi pria itu tersenyum miring.
"Aku mengosongkan tempat ini, aku tidak mau di ganggu selagi berbicara denganmu dengan segala keributan mereka semua."
Lexia menatap ngeri dan benci padanya, dia masih berdiri sementara Adrick menarik kursi untuknya. "Duduklah lexia, ini tidak akan lama, aku cuma ingin mengobrol sebentar denganmu." ucapnya.
__ADS_1
Lexia akhirnya memilih untuk duduk, dengan tersenyum, Adrick mengambil tempat duduknya sendiri di depan lexia sambil menyilangkan kedua kakinya, matanya tidak pernah lepas dari wajah was-was di hadapannya ini, seperti kelinci yang ketakutan dan hendak akan lari, lexia mencoba menguatkan dirinya dan bersikap tenang, dia percaya pemuda di minimarket tadi sudah menelepon nomor yang diberikannya.
"Kau ingin berbicara apa denganku." ucap lexia menatapnya tajam. Adrick tersenyum tipis, bola matanya menjelajahi wajah lexia, memperhatikannya Secara mendalam dan mengingatnya di memorinya, selama ini dia terpaku pada gambar-gambar yang diberikan oleh pengawalnya tetapi kini wanita itu ada di hadapannya.