The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Asal usul 3


__ADS_3

~Milan, Kediaman Rodrigo Caesar


Foto itu terpajang di dinding dengan ukuran yang besar, wajah cantik wanita kelahiran Amerika itu tersenyum dengan gaun indah berwarna violet nampak menghiasi kecantikannya.


Pria tua itu menatapnya lalu berbalik dan kembali duduk di sana melanjutkan pekerjaannya. Sebuah foto yang di ambilnya dari laci mejanya memperlihatkan wajah bayi mungil yang cantik tetapi bayi itu telah tiada ketika dia masih balita. "Celia." Ucapnya menggenggam foto bayi perempuan dan wanita yang dicintainya tetapi dia telah pergi meninggalkannya ketika peristiwa itu terjadi.


~


Butuh waktu yang cukup lama untuk membujuk pria yang sedang cemberut ini. Lexia berusaha membujuknya agar Daren tidak marah lagi karena peristiwa pagi ini.


Seperti biasa Daren sedang berada di ruang kerjanya bersama Evan. Siang itu dia kedatangan tamu penting seorang pengusaha ternama seperti Daren yang merupakan partner bisnisnya namanya louis, wajah tentu saja tampan, usianya tidak jauh berbeda dengan daren.


Daren yang tidak ingin meninggalkan lexia di villa, kini menerima tamu pentingnya di villa itu, lexia sedang membuat sarapan di dapur dan seperti biasa dia membuatkan untuk suaminya. Lexia melangkah ke ruangan Daren dan mengintip dari balik pintu lalu masuk ke dalam karena Daren tidak ada di sana.


"Di mana dia?" Ucapnya, mengamati ruangannya yang kosong.


Seorang pria memperhatikan lexia yang sejak tadi kebingungan mencari keberadaan Daren. "Anda mencari siapa nona?" Tanya pria tampan berambut pirang itu, dia menyilangkan kedua tangannya lalu menatap wajah cantik lexia.


"Aku mencari daren di mana dia? aku sedang mencarinya karena sarapan sudah siap."


"Kau siapa?" Tanyanya.


"Aku..aku adiknya." Ucap lexia berbohong kepada pria di hadapannya ini.


"Aku tidak pernah mendengar bahwa daren memiliki seorang adik perempuan yang cantik." Ucapnya. Lexia tersenyum, lalu mengedarkan pandangannya masih mencari sosok Daren.


"Hai namaku Louis." Ucapnya. Dia mengulurkan tangannya kepada lexia dan di balas singkat oleh lexia. Matanya berwarna coklat dengan senyum yang tampan. Entah mengapa Lexia mengatakan bahwa dia adik Daren, mulutnya otomatis mengucapkan seperti itu karena belum terbiasa memperkenalkan dirinya sebagai istri Daren Burchard.


"Kau tahu wajah cantikmu itu pernah aku lihat di suatu tempat, tapi aku lupa di mana ya." Pria itu berdiri di depan lexia sambil mengingat-ingat tentang wajah lexia yang pernah dilihatnya di suatu tempat.


"Ah ya, aku mengingatnya, dia Xaphier Caesar, entah mengapa ketika melihat wajahmu aku pun mengingat wajah Xaphier?" Ucapnya.


Lexia mengernyitkan alisnya. "Xaphier? Siapa dia?" Tanyanya.


"Kau tidak mengenal Xaphier Caesar? Dia pemilik perusahaan terbesar di Milan, dia memiliki perusahaan-perusahaan terbesar di 4 kota di borough."


Lexia mengangkat bahunya tidak perduli dengan pria bernama Xaphier itu. "Kau tidak percaya? Aku akan memperlihatkan wajahnya kepadamu." Dia membuka ponselnya dan memberikannya kepada lexia. Seorang pria yang pernah di temui lexia di satu restaurant ternama di Oklahoma city.


"Apanya yang mirip, aku sama sekali tidak memiliki kemiripan dengannya, wajahnya sangar seperti itu kau bilang mirip denganku?" Ucap lexia namun di balas dengan tawa Louis.


"Apa yang lucu?" Suara dingin terdengar dari belakang mereka berdua, Daren baru saja masuk bersama evan. Dia menyilangkan kedua tangannya lalu memandang lexia.


"Daren? Kau dari mana saja? Aku mencarimu." Ucap lexia melangkahkan kakinya mendekat ke tempat Daren.


Louis melambaikan tangannya kepada daren, dia salah satu partner bisnis yang cukup dekat dengan daren. "Hai Daren, aku tidak tahu kau memiliki adik perempuan yang cantik. " Ucapnya.


"Adik perempuan?" Matanya menyipit menatap lexia. "Ah ya, kau tidak tahu? Apa kau melihat kemiripan kami?" Tanyanya. Louis berpikir sebentar lalu dia menggeleng.


"Tidak, kau sama sekali tidak mirip dengan adikmu, tetapi anehnya dia begitu mirip dengan Xaphier Caesar, kami baru saja membahasnya."


Bibir Daren menjadi tipis, lexia menatapnya lalu mengangkat bahunya, tanda tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Aku..aku harus pergi." Ucap lexia. Louis melambaikan tangannya kepada lexia dan menatap kepergiannya. Mata Daren menyipit menatap mata Louis yang tidak berhenti memandangi lexia.


"Ehem, Kita mulai rapatnya?" Ucap Daren tiba-tiba suasana hatinya menjadi buruk. Setelah pertemuan dengan Louis dan membahas masalah pekerjaan, Daren kembali ke kamar dan mendapati lexia sedang membaca buku sambil ngemil di tempat tidur.


Lexia berbalik dan mendapati Daren duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Lexia segera menghampirinya dan memeluknya dari belakang. "Sedang apa?" Tanyanya.


Daren tidak menjawabnya, dia terus memainkan ponselnya. "Kau marah ya?" Ucap lexia mengeratkan pelukannya.


"Tidak." Ucapnya singkat.


'Wah, dia marah.' gumam lexia.


"Kau marah karena aku mengatakan bahwa aku adikmu?" Ucap lexia.


"Kenapa aku harus marah? Terserah kau mau bilang apa kepada orang-orang." Ucap Daren lalu melepas pelukan lexia dan berbaring telentang dan menutup wajahnya dengan lengannya. Lexia yang duduk di sampingnya menatapnya lalu menggoyangkan tangannya.


"Jangan marah daren Hem, aku tidak bermaksud untuk bohong, aku ingin mengatakan aku istrimu tetapi....


"Tetapi apa? Aku melihatnya tertawa bersamamu, kau bisa tertawa juga dengan pria lain? Jadi begitu caramu menggoda pria lain lexia?" Ucapnya.


Lexia mengambil bantal dan memukul tubuh Daren dengan bantal itu dan pergi meninggalkannya dan duduk di kursi yang ada di tepi kolam renang.


"Kenapa dia cemburu? Aku kan tidak sengaja mengatakan kalau aku adiknya." Ucap lexia membuka-buka bukunya dan mulai membacanya. Daren menatap lexia dari balik kaca dan meninggalkannya sendiri di kamar.


Suara mobil yang dikendarai membuat lexia membalikkan tubuhnya dan menatap dari kejauhan mobil Daren yang melaju kencang. "Ugh, dia pergi? kenapa dia pemarah sekali sih, aku kan tidak bermaksud berkata seperti itu." Ucapnya.


Malam itu lexia belum tidur dia begitu lama menunggu kedatangan Daren tetapi sudah jam 10 malam dia belum juga pulang, lexia duduk di depan tv sambil memencet tombol Chanel tanpa fokus menonton. Sesekali dia melirik kearah jarum jam yang menunjukkan angka sebelas.


Lexia memegang ponselnya ingin menghubungi daren tetapi perasaan ragu menyergapnya, dia kembali mengalihkan perhatiannya ke tv di hadapannya. Sudah cukup lama lexia menunggunya, akhirnya karena sangat kantuk dia meninggalkan ruang santai di lantai satu dan beranjak menuju kamarnya di lantai dua. Lexia menguap karena tidak tahan dengan kantuknya, tanpa menunggu daren, lexia akhirnya memutuskan untuk tidur.


~


"Evan atur pertemuanku kali ini, katakan kepada mereka jangan menemuiku di villa, kau saja yang atur di mana aku menemui mereka." Ucap Daren. Dia kemudian menelepon lexia ketika berangkat, tetapi sialnya ponselnya tiba-tiba saja mati, Daren lupa mengisi baterai ponselnya ketika dia hendak bepergian.


Evan mengatur pertemuan daren dengan rekan bisnisnya di salah satu hotel mewah di Oklahoma, para pebisnis itu datang dengan pasangan mereka masing-masing.


"Hai Daren." Sapa Carol, dia datang bersama seorang pria. Daren menatapnya tetapi hanya menganggukkan kepalanya lalu bergabung bersama rekan bisnis lainnya.


Meeting itu berlangsung cukup lama, setelah meeting Mereka di undang di salah satu Club ternama di Oklahoma. Daren bersama Evan menuju ke club itu tetapi masih menatap jam di pergelangan tangannya. Dia ingin segera pulang dan menemui lexia.


Lengan Daren di pegang erat oleh seseorang membuat Daren terlonjak. Matanya mengerjap mendapati nency ada di sana beserta Carol yang berada di samping kanan dan kirinya memegang lengan Daren.


"Kau datang Daren, bagaimana jika kau minum dengan kami?" Ucap carol. Nency menganggukkan kepalanya menyetujui usul carol. Entah mengapa kedua gadis itu kini terlihat akrab.


"Ayolah Daren, kita berpesta oh ya, kata nency kau sudah menikah? Dimana istrimu?" Tanyanya. Daren melepaskan pegangan kedua wanita yang menarik-narik lengannya.


"Daren ayolah, anggap saja ini ucapan selamat kami karena kau sudah menikah." Ucap Carol lalu menyenggol nency agar menarik lengan Daren.


"Dia tidak akan marah hanya karena kita minum sedikit, bagaimana?" Ucapnya.


Daren, memberi isyarat kepada satu pelayan yang membawa nampan berisi minuman, kemudian Daren meneguknya dihadapan mereka berdua. "Aku harus pergi." Ucap Daren meninggalkan mereka berdua yang memandang Daren sebagai sasaran empuk, apalagi nency, dia masih tidak menerima pernikahan daren dengan lexia.

__ADS_1


"Ikuti dia nency, kau tidak boleh kalah dengan gadis kecil itu." Ucap Carol menyemangatinya. Nency membuntuti Daren dari belakang dan menatap ku ke arah punggungnya.


Ketika dia sedang bercakap dengan teman-teman bisnisnya, nency tiba-tiba menggenggam tangan Daren dan memeluk lengannya. "Hai sayang, boleh aku bergabung, aku tidak segampang itu menyerah Daren." Bisiknya dengan nada sensual di telinga Daren.


Beberapa temannya tersenyum mengerti dan meninggalkan mereka berdua di sudut. "Kau tidak mengerti apa yang sudah kuucapkan nency, aku sudah menikah." Ucap Daren mencoba melepaskan tangan nency yang memeluk erat lengannya.


"Tidak, aku tidak akan menyerah karena gadis kecil itu, aku mencintaimu Daren, kau sama sekali tidak mengerti perasaanku." Dia mulai mendekati tubuh Daren dan saat itu juga dia terisak di lengan Daren.


"Ck, sial ! Kau mabuk." Ucap Daren memegang nency yang hampir terjatuh karena tidak seimbang.


'Sedikit lagi.' pikir nency mencoba berakting mabuk dan tetap bersandar kepada Daren. "Evan ! Urus dia, aku harus pergi." Evan menarik lengan nency dari tangan Daren.


"Dia tidak mau lepas sir. " Ucapnya.


"Sial !" Dengan kasar Daren membuka genggaman tangan nency hingga ia berjengit karena sakit yang dia rasakan di jari-jarinya.


"Kau tega Daren, kau sungguh tega, mengapa kau mengabaikan perasaanku." Bentaknya, suara yang keras dari mulutnya membuat orang-orang berbalik menatap mereka, Daren dengan spontan meninggalkannya begitu saja tanpa mau mendengarkan ocehan nency, tetapi nency tidak menyerah begitu saja, dia malah memeluk punggung Daren dan menangis terisak-isak.


"Tarik wanita gila ini Evan, cepat !" Ucap Daren.


Setelah Evan menariknya, Daren menatap nency dengan jijik, wajahnya yang di penuhi air mata berwarna kehitaman karena make-upnya yang luntur berkat tangisnya yang histeris.


"Urus wanita gila ini." Bentak daren membuat nency heran dengan ucapan Daren yang kasar kepadanya. "Apa dia bilang? Wanita gila? Dia menyebutku wanita gila!" Teriaknya tidak percaya.


Daren segera meninggalkan nency bersama Evan dan akhirnya daren sampai di parkiran, dia melihat goresan di pergelangan tangannya.


"Sialan, wanita itu benar-benar gila." Ucap Daren memperhatikan lengannya yang sedikit tergores karena cakaran nency di lengannya.


Dia menatap jam di pergelangan tangannya, sudah pukul 12 malam, apakah lexia menunggunya atau dia sudah tidur? Pikir daren, tadi siang dia marah kepada lexia Karena menyebut dirinya sebagai adik bukan istrinya, apakah dia begitu malu mengakui jika dia istri Daren Burchard? ataukah dia sengaja karena dia berada di dihadapan Louis? Mengingat hal itu membuat Daren kembali marah.


~


Foto itu begitu jelas terkirim di ponsel lexia, sebelum dia tidur seseorang mengirimkan foto Daren dan nency yang terlihat sedang berpelukan. Wajah lexia seketika menjadi merah, apakah dia marah padaku lalu pergi mencari wanita lain? Pikirnya.


Lexia yang tadinya ngantuk menjadi terjaga, matanya tidak berat lagi dan dia menjadi marah, lexia membuang ponselnya di lantai dan langsung pergi ke lantai satu membuka salah satu kamar pelayan paling belakang yang kosong dan berbaring di sana.


Entah bagaimana lexia ingin mengungkapkan perasaan marahnya, apakah perasaan seperti ini di sebut cemburu? "Apakah sekarang ini aku sedang cemburu?" Ucap lexia. "Ck, Dia sama saja dengan pria dimanapun, semuanya hidung belang." Ucap lexia membaringkan tubuhnya di kamar pelayan itu.


~


Daren tiba di villa, pukul 1.20 dia baru sampai karena perjalanan yang cukup jauh, dia segera naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya, tetapi yang dia dapatkan ruangan itu kosong. "Lexia?" Panggilnya, lalu menengok ke kamar mandi dan membukanya.


Daren melihat ponsel lexia yang berada di lantai, dia kemudian mengambilnya lalu matanya menatap gambar yang ada di ponsel lexia. Terlihat sosok daren sedang di peluk oleh Nency.


"Siapa yang mengirimkan gambar ini ke lexia?" Ucap Daren begitu marah. Dia kemudian mulai memeriksa satu persatu ruangan yang ada di villa itu tetapi dia tidak menemukannya.


"LEXIA ! LEXIA !"


Daren memanggil salah satu penjaga dan menanyakan jika lexia keluar dari villa ini, tetapi pengawal itu mengatakan tidak ada seorangpun yang keluar dari villa.


Daren memeriksa semua tempat, dia terlihat sangat khawatir, tiba-tiba tubuhnya gemetar, bagaimana jika lexia lari darinya lagi? Pergi mencari temannya dan meninggalkan dirinya? Pemikiran itu membuat tubuh Daren panas dingin dan menjadi pucat.

__ADS_1


Dia membuka semua kamar sampai paling belakang, lalu akhirnya dia berhenti ketika melihat seseorang tidur di sana dengan selimut menutupi tubuhnya. Seketika wajah Daren berubah menjadi lega, dia berjalan perlahan dan melihat lexia sedang tidur sambil memeluk bantal yang ada di sana.


Daren duduk di tepi tempat tidur dan membelai rambut lexia. "Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia jika kau meninggalkanku lexia, kau tidak bisa lari dariku, semarah apapun kau kepadaku." Bisiknya.


__ADS_2