
Matanya terbuka di kegelapan malam, cahaya lampu kamarnya dibuat redup agar tidak mengganggu penglihatannya. Dia kemudian teringat wajah wanita itu yang ternyata adik perempuannya, mata coklat, dengan rambut coklat kehitaman sama seperti miliknya.
Hanna Tan, setidaknya dia ingin bertemu dengannya sekali saja sebelum dia pergi dan menjauhkan dirinya yang sakit, agar suatu hari dia tidak menyakiti adiknya sendiri. Ingatannya kembali membawa Riel ke masa lalunya, ketika sedikit demi sedikit kenangan bersama keluarganya dapat dia ingat.
Waktu itu....
Musim gugur sebentar lagi tiba, angin dingin berhembus cukup kencang, saat itu waktu menunjukkan pukul 8 malam, mereka sekeluarga sedang makan malam bersama.
"Ben, jaga adikmu sebentar, ibu ingin menelepon ayahmu, kenapa dia belum pulang juga?" Ucap sang ibu.
Ben atau Riel, segera mengambil adiknya yang sejak tadi rewel dan menangis terus, entah mengapa dia tidak mau berhenti menangis sejak sore tadi, dia bahkan menangis ketika ayahnya menggendongnya pagi itu.
Dia menggendong adiknya dan berusaha menenangkannya, "Sst, jangan menangis lagi Ana, dengarkan ini." Ucap riel. Dia menggaruk-garuk lemari itu dengan tangannya, seketika adiknya terdiam dan memalingkan wajahnya kepada sang kakak.
"Kau menyukainya?" Ucap riel.
Ketika riel berhenti menggaruk-garukkan tangannya di lemari itu, Ana kembali menangis, maka dia terus mengulanginya sehingga adiknya merasa terhibur dan menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya.
"Ana, kau aneh, ya kan kak Ben, mengapa dia diam hanya karena garukan aneh dari kakak." Ucap jon ketika memperhatikan adiknya, dia tertawa-tawa dengan mulut penuh saus spaghetti buatan ibunya.
"Makanlah jon, setelah itu gosok gigimu dan pergilah ke kamar." Ucap sang kakak.
23.50 Malam hari
Bunyi aneh terdengar dari pintu rumah mereka. Terdengar suara pecahan kaca dari jendela rumah mereka, suara keras dari bawah rumahnya membuat Riel terbangun saat itu juga. Dia kemudian menatap di kegelapan di dalam kamarnya dan turun dari tempat tidurnya. Dia mengendap-endap berjalan dengan berjinjit di koridor gelap dan menuju ke kamar orang tuanya yang tidak begitu jauh dari kamarnya.
Dia terus berjalan di koridor yang gelap, sambil berjinjit mendengarkan suara aneh dari kamar ibunya, dia membuka kamar itu sedikit dan mengintip dari pintu kamar ayah dan ibunya. Matanya membelalak ketika menyaksikan semuanya, darah sudah memenuhi ruangan itu, nampak sang ibu terbujur kaku dengan sayatan menganga di lehernya, sementara terdengar geraman panjang di sebelahnya, mata yang melotot dan merah, rambut pirang ayahnya terlihat jelas, dia memiliki rambut yang sama dengan adiknya jon, sedangakan dia dan Ana memiliki rambut yang sama seperti ibunya.
"Ayah?"
Bisik Riel, tatapannya jatuh pada dua tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi, napasnya naik turun, tubuhnya gemetar ketakutan, ketika pria yang tidak lain ayahnya sendiri berbalik dan memukul-mukul kepalanya sendiri seperti orang yang telah kehilangan kesadaran, matanya tiba-tiba memicing ke arah pintu kamar. Riel begitu terkejut, dia segera berjinjit perlahan-lahan dan masuk ke kamar adiknya yang paling kecil yang sedang tertidur lelap, dengan cepat dia menggendong adiknya dan mencari-cari tempat yang aman, dia melihat lemari pakaian miliknya, lalu menyembunyikan adiknya di sana dan segera menutup lemari itu agar ayahnya tidak menemukan keberadaan Ana, sedangkan Ben sengaja mengalihkan perhatian ayahnya agar menjauhi tempat adiknya bersembunyi.
Kini, tubuhnya dipenuhi luka-luka, meskipun dia babak belur dan kakinya hampir saja patah karena pukulan keras ayahnya yang membabi buta, tetapi saat itu riel berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan dirinya, dia akhirnya tertolong, Riel berlari sekuat tenaga sampai ke jalan raya, ayahnya masih mengejarnya di belakang seperti orang kesetanan, riel sengaja pergi sejauh mungkin dari rumahnya, agar ayahnya menjauhi lemari tempat dimana adiknya bersembunyi.
Untung saja satu mobil polisi sedang berpatroli malam itu dan melihat seorang anak laki-laki, usianya sekitar 11 tahun sedang berlari dengan darah di sekujur tubuhnya, serta kakinya yang terlihat tidak bisa di gerakkan, tetapi dia berlari sekuat tenaga.
Kedua polisi itu menghampiri Riel dan segera memberikan tembakan peringatan dan menodongkan senjata kepada pria di belakang anak itu, ayahnya berlari dengan senjata tajam di tangannya. Saat itu Riel terselamatkan, begitupun adiknya, itulah terakhir kalinya riel melihat sang adik.
~
Pesawat raksasa dengan kecepatan tinggi DazonX727 sedang mengudara, siang itu Dazon dan Hanna berangkat ke Eropa tepatnya di milan kota utama di sebelah utara italia, dan terletak di hamparan Lombardia, wilayah paling maju di Italia dan mereka akan menuju ke mansion tuan Caesaar.
Hanna sedang duduk seorang diri di kursi, sambil membuka-buka majalah fashion terkini, hari ini dia terlihat begitu cantik dengan mengenakan dress off shoulder berwarna biru, yang memperlihatkan bahunya. Tiba-tiba kecupan mendarat di bibirnya oleh tarikan dazon yang tiba-tiba menarik dagu Hanna ke arahnya dan menghadiahi sebuah kecupan panas.
"Sepertinya kau sibuk." Ucap Dazon, tangannya tidak bisa diam ketika dia sudah duduk di samping hanna.
"Tidak juga, aku hanya melihat-lihat fashion terbaru di eropa." Ucap Hanna, dia berjengit dan menegakkan punggungnya ketika tangan dazon sudah menyusup di balik dressnya.
Dengan cepat hanna menarik tangan dazon yang terang-terangan menyusupkan tangannya kedalam dress hanna, padahal di sana ada Loue dan beberapa pramugari tidak jauh dari tempat duduk mereka.
"Kau mau koleksi baju-baju itu?" Tanyanya.
"Tidak, aku hanya menyukai gambarnya saja dan hentikan tanganmu dazon, mereka akan melihat kita." Ucapnya.
Dia terkekeh, dia sangat suka mengganggu hanna dan melihat kemarahannya. "Oke sayang, tapi bukan salahku aku melakukannya, siapa suruh kau tampil cantik dan seksi hari ini." Bisik dazon di telinga hanna, kedekatan mereka begitu intim membuat hanna menjadi salah tingkah ketika pengawal atau pramuragi melewati tempat duduk mereka atau sekedar membawakan mereka minuman.
Pengawal bernama Loue mendekat ke tempat dazon, dia kemudian melaporkan mengenai kelompok Crounus, yang belum melakukan pergerakan apapun.
"Sepertinya mereka akan menunggu ketika tuan akan kembali ke Atlanta, mereka tidak akan berani melakukan penyerangan ketika kita berada dekat dengan markas besar Caesaar." Ucapnya.
Dazon terekekeh, "Jika kau lihat sedikit saja tanda pergerakan crounus yang mencurigakan, lebih baik kau serang mereka lebih dahulu, aku tidak mau ada kekacauan di ulang tahun kakekku."
"Baik Tuan." Ucapnya.
Dazon kembali mengalihkan perhatiannya kepada Hanna. Membenamkan wajahnya di ceruk leher Hanna seakan itu adalah napas kehidupannya.
Hanna tidak lagi fokus pada majalah yang ada di pangkuannya, dia sedang memikirkan tentang kedatangannya nanti ke mansion kakek Dazon, jika mereka tiba di kediaman keluarga besar Caesar, apa yang akan dazon katakan kepada mereka semua, dia akan memperkenalkan Hanna sebagai apa? Sekretaris? Seorang pelayan atau seorang partner pestanya. Hanna menghembuskan napasnya, dia malas memikirkan dan menduga-duga sesuatu yang membahagiakan akan terjadi kepada dirinya, dia harus menjauhi pemikiran itu jika tidak, dia nanti akan terluka lagi.
~
~
__ADS_1
Hanna sangat lelah, perjalanannya seakan menguras tenaganya, mereka akhirnya tiba di Milan setelah melakukan perjalanan selama hampir 10 jam lebih. Pesawat itu kini telah mendarat di bandara internasional Milan. Pengawalan ketat sedang menunggu kedatangan mereka, pria-pria berpenampilan hitam dan terlihat sama sedang menunggu mereka keluar dari pesawat.
Dazon turun dari pesawat dengan puluhan pengawal sedang melakukan penjagaan di sekitarnya, Ketika dazon telah turun dari pesawat, pengawalan begitu ketat di sekitarnya, pengawal-pengawal itu merentangkan tangannya, seakan bahaya ada di sekitar mereka.
"Tidakkah pemandangan ini terlalu berlebihan?" Gumam Hanna, yang berjalan tepat di belakang dazon.
Mobil mewah berbaris rapi, salah seorang pengawal membukakan pintu mobil kepada dazon, hanna kemudian ingin mengikutinya, tiba-tiba seseorang menahannya, hanna berbalik dan menatap seorang pengawal bernama Loue.
"Anda ikut kami Nona, lewat sini." Ucapnya.
Hanna mau tidak mau pergi mengikutinya, tidak protes atau bertanya, dia mengikuti begitu saja Loue dan memasuki mobil lainnya, dengan dua mobil berada di samping kiri dan kanannya.
Dia akhirnya duduk di dalam mobil, dan pengawal bernama Loue itu yang akan mengantar ke tempat yang telah di sediakan oleh Dazon.
Matanya melirik kepada mobil yang baru saja pergi, membawa dazon ke kediaman kakeknya, sungguh hanna ingin menghilangkan rasa kecewa yang terasa di hatinya, ketika ternyata mobil mereka akan berpisah, dan akan membawa hanna ke tempat yang lain. Berharap menjadi wanita sesungguhnya dari Dazon Caesaar dan diperlakukan seperti wanita yang sangat dicintai, dan di butuhkan adalah hal yang tidak mungkin, hanna menepis rasa kecewanya dan kembali menerima situasinya yang sekarang.
"Anda akan menginap di penthouse tuan Dazon, tempatnya tidak jauh dari mansion tuan Caesaar, jadi anda jangan khawatir." Ucapnya.
Hanna tidak tahu mau berkata apa, apakah terima kasih kata yang tepat? tetapi hanna hanya diam, tidak berbicara atau sekedar menjawab pertanyaannya.
Pria itu tentu saja tidak akan membawa dirinya kesana, memperkenalkan dirinya kepada keluarga besarnya, dia pastilah malu memiliki seorang wanita penjual kopi truck di pinggir jalan, sungguh bodoh mengharapkan hal itu terjadi.
"Tuan dazon akan segera menyusul ketika dia sudah menyapa keluarganya, dia akan segera kembali kepada anda." Mata loue melirik lagi dari kaca spion ke arah hanna, karena lagi-lagi hanna tidak menggubrisnya. Dia hanya diam sepanjang perjalanan.
Pemandangan yang sangat indah, sepanjang jalan Hanna di suguhi dengan pemandangan kota mode dunia yang terkenal, selain itu kota ini di penuhi bangunan tua nan Artistik. Hal itu sedikit memberikan penghiburan untuk Hanna.
Mereka akhirnya tiba di tempat yang di tuju, Pelataran parkir itu cukup luas, penthouse itu begitu modern, sama sekali jauh dari model klasik. Hanna keluar dari mobil tanpa menunggu seseorang membukakan pintu mobil untuknya.
Dia menatap penthouse yang tidak begitu jauh berbeda dengan penthouse yang ada di Atlanta. Hanna berjalan mengikuti kemana pengawal Loue membawanya. Tempat itu begitu asri luas dan indah, beberapa pelayan keluar menyambut kedatangannya, seorang wanita tersenyum ramah dan mengantarkan Hanna ke kamar yang akan dia tempati.
"Lewat sini Nona." Ucapnya dengan bahasa inggris yang lancar tetapi dialek yang kental dengan logat kota ini.
Hanna mengikutinya, dia naik ke lantai dua dan membukakan pintu kamar untuknya. Sebuah ruangan luas dan indah, dengan tempat tidur ukuran king size dengan jumbai berwarna putih di atasnya dan seprai yang putih polos. Pelayan itu segera meninggalkan Hanna agar tamunya dapat beristirahat, pelayan itu lalu menutup pintu.
Hanna menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutup kedua matanya.
"Apa yang kulakukan di tempat ini? Harusnya sekarang aku sudah memiliki pekerjaan yang layak setelah wawancara, atau aku masih berjualan kopi di pinggir jalan ."
"Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana gambaran diriku di masa depan nanti, jika aku terus-terusan seperti ini menjadi wanita simpanannya tanpa tahu kapan dia akan melepaskanku."
~
~
Dazon menaiki undakan batu dan segera masuk ke ruang utama, semua sepupunya ada di sana. Daneil bersorak ketika melihat dazon muncul dari pintu depan.
"Lihat ! Siapa yang datang terlambat, pangeran mafia kita telah tiba, aku pikir pria ini tidak akan datang lagi." Ucap daneil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, jenni lalu menarik Neil agar duduk.
"Cih, kau mabuk daneil, harusnya kau belajar banyak bagaimana minuman pernah membawamu kepada malapetaka." Ucapnya sambil menaikkan alisnya.
"Iya, iya, cerewet."
"Hay kak Ax, senang melihatmu semakin menua, baru beberapa bulan lalu kita bertemu sewaktu makan malam, aku tidak tahu jika kau menua secepat itu ." Ejek dazon.
Ax tersenyum miring, dia kemudian memangku putrinya lalu menunjuk ke arah Dazon.
"Jangan pernah menemui pria seperti dia sayang, ayah pasti tidak akan meresetuimu, kau dengarkan ayah?"
"Yes Daddy." Ucap putri Ax yang usianya masih 6 tahun. Mereka semua tertawa mendengarkan celotehan putri Ax yang lagi lucu-lucunya.
"Hei, Dimana semua orang, mom dan dad,
mereka semua dimana?" tanya dazon ketika menyadari para orang tua tidak ada di sana.
Alice sang adik yang duduk di sana bersama alexa lalu menjawab pertanyaan kakaknya dengan singkat.
"Mereka sedang berdiskusi mengenai pilihan calon istrimu kakak, entahlah kak daz, sewaktu aku melewati ruangan kakek, mereka mendiskusikan mengenai pilihan ayah tentang calon kak daz, dan tentu saja semua mengarah kepada kakak, karena aku masih terlalu kecil untuk menikah." Ucap Alice.
"O,o apa yang akan kau lakukan daz? Kau tahu jika kakek sudah memutuskan, tidak ada yang bisa menentangnya, kau jelas sudah tahu itu." Ucap daneil.
"Tenanglah, mungkin Alice salah mendengar." Ucap Ax menenangkan dazon.
__ADS_1
Dazon memalingkan wajahnya, dia tahu dengan jelas bagaimana keras kepalanya kakek jika dia sudah memutuskan sesuatu.
~
~
Malam itu mereka semua berkumpul di meja makan dengan seluruh keluarga besar Caesaar, suasananya tampak menyenangkan dan bahagia, sesekali makan malam mereka di selingi canda tawa yang terasa ringan, apalagi kehadiran semua anak-anak mereka melengkapi kebahagiaan malam itu.
Ketika makan malam telah selesai, suasana menjadi menegangkan khususnya untuk dazon. Dia seperti menunggu vonisnya. Dia duduk dengan gelisah, sesekali melirik ke arah ayah dan ibunya yang seperti menyembunyikan sesuatu.
Suasana mendadak hening ketika Tuan Caesaar mulai berbicara. Mereka semua mendengarkan dengan seksama.
"Kakek sangat senang dengan kehadiran kalian semua di hari ulang tahunku ini, kalian menyempatkan waktu sibuk kalian untuk hadir di sini." Senyum tuan Caesaar.
"Kenapa ayah berkata seperti itu, kami pasti akan datang, ini adalah hari penting untuk kami semua." Ucap lexia menatap ayahnya seakan merasa bersalah, jika ayahnya berkata seperti itu.
"Ya, ayah tentu kami akan datang." Ucap Xaphier.
Tuan Caesaar tersenyum menatap mereka semua. Dia kemudian mengambil napas dan matanya terarah kepada Dazon.
"Kakek sudah melihat kebahagiaan cucu-cucu kakek, Ax dan fairley, daneil dan jennifer, mereka semua sudah memiliki keluarga yang mereka cintai dan hidup berbahagia."
Kini matanya tertuju pada Dazon. "Tetapi dazon, belum sekalipun kakek melihat kau membawa seorang wanita untuk di perkenalkan di keluarga kita, apakah kau belum menemukan wanita yang sesuai untukmu?" Tanyanya.
Daneil senyum tertahan, ingin sekali dia mengejek dazon tetapi jennifer mencubitnya agar dia menahan mulutnya di waktu penting seperti ini.
"Kakek erm, aku...belum memikirkannya, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap dazon mengelak, tatapannya tajam tertuju kepada Daneil yang memberikan tanda tidak sopan dengan menggunakan tangannya.
"Hentikan daneil, apa kau berumur 17 tahun? kau seperti remaja saja yang harus terus di tegur !" Bisik jennifer, menarik kuping daneil.
Tuan Caesaar menghembuskan napasnya, tangannya mengetuk-ngetuk meja makan di hadapannya.
"Meskipun kau membawanya, kakek tidak akan menyetujui dan merestui kalian." ucapnya.
Semua orang kini terkejut mendengar ucapan tuan Caesaar. "Apa maksud ayah?" Tanya Xaphier.
"Kakek tidak akan merestui wanita yang kau pilih sendiri dazon, bagaimanapun latar belakangnya." Semua memandang kepada tuan Caesaar, baru kali ini tuan Caesaar menentang keinginan cucunya, biasanya dia menerima siapa saja, asalkan mereka berdua saling mencintai tanpa memandang status sosial mereka.
Seperti Ax dan fairley, dia menerima siapapun pasangan yang akan dinikahi oleh cucu-cucunya, selama wanita itu dicintai oleh cucunya, tetapi kali ini keberuntungan tidak berpihak kepada dazon, karena kakeknya yang akan memutuskan siapa wanita yang akan dinikahi oleh dazon.
"Ayah ! Berikan dazon waktu untuk membawa wanita yang menjadi pilihannya, kenapa ayah tiba-tiba memutuskan seperti ini?" Tanya Lexia, dia khawatir melihat wajah ponakannya yang kini menggelap dan terdiam.
"Tidak, aku sudah memutuskannya, dazon akan menikah dengan wanita yang kakek sendiri pilihkan, sebelum kakek mati, kabulkanlah keinginan kakek tua ini, agar kakek tidak menyesal dan mati dengan tenang." Ucapnya.
Tuan caesaar segera berdiri dan beranjak dari meja makan, di bantu oleh pengawal-pengawalnya, dia segera menuju ke ruangannya. Setelah tuan Caeaar meninggalkan meja makan, nampak situasi menjadi tegang, tidak ada seorangpun yang berbicara.
"Tenanglah dazon, aku akan bicara kepada ayah, dia mungkin akan merubah pemikirannya jika kita menjelaskannya lagi, sifat ayah tidak menggambarkan dirinya yang seperti biasa, dia biasanya dengan tangan terbuka menerima siapa saja pilihan kita, asalkan kita saling mencintai." Ucap lexia,
"Tenanglah sayang, ibu akan membujuk kakekmu." Ucap Nara.
"Kau tidak beruntung kali ini kawan." Ucap daneil dengan senyum ironis.
~
Hanna terbangun dari tidurnya ketika jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dia mencari-cari ponselnya dan melihat jamnya. "Ugh, aku terlalu lelah sampai-sampai aku tidak menyadari hari sudah malam."
Hanna menatap di sekitar kamarnya yang temaram, rupanya Dazon belum pulang, mungkin dia masih bercengkrama bersama keluarga besarnya, dia sangat beruntung. Pikir Hanna.
Dia segera mengambil bathrobe di dekat lemari dan segera melepaskan pakaiannya dan mengenakan bathrobenya, hanna segera menuju ke kamar mandi. Bunyi pintu kamar membuat Hanna menghentikan kegiatannya, untung saja dia tidak berlama-lama di bawah shower dan segera mengenakan bathrobenya.
"Apakah itu Dazon?" ucap Hanna.
Hanna perlahan membuka pintu kamar mandi, dia terheran ketika dazon sudah berbaring di sana, terlihat lelah dan wajahnya terlihat cemas.
"Kau kembali?" tanya Hanna mencoba mendekati dazon.
Ada apa dengannya, apa dia sakit?
"Dazon? kau baik-baik saja?" bisik Hanna. Tiba-tiba saja Dazon menarik tangannya hingga tubuh Hanna jatuh terhempas di atas tempat tidur, dazon mengurungnya dengan kedua tangannya.
"A..apa yang kau lakukan? kau tidak boleh melakukannya, aku sudah bilang, aku tidak bisa, aku....
__ADS_1
Bibirnya sudah di tutup oleh bibir dazon, dia membenamkan ciumannya dalam-dalam, mencecapnya dan mencium hanna dengan kasar, hal itu membuat Hanna mengerang karena kesulitan bernapas.
"Dazon, lepas !" Bentak Hanna, ketika dazon menarik bathrobe milik hanna dengan paksa. Tiba-tiba dazon berhenti, dia kemudian menyembunyikan wajahnya di leher Hanna. "Biarkan aku seperti ini Hanna, aku merasa tenang dan nyaman memelukmu seperti ini, jangan menolakku, karena mungkin ini adalah kesempatan terakhir kita bisa bersama." bisiknya.