
Siang hari, Mansion Caesaar 13.15
Siang itu lexia bermaksud untuk berjalan-jalan bersama Ax di halaman rumah sekedar untuk menikmati cuaca yang terlihat mendung Karena musim gugur telah tiba, kali ini juga udaranya tidak begitu dingin, pohon-pohon maple yang tinggi dari halaman mansion berwarna-warni mulai dari berwarna hijau kuning oranye sampai kecoklatan mulai jatuh berguguran dan terlihat sangat indah.
Lexia sedang mendorong kereta bayi milik Ax di taman, daun-daun yang berguguran membuat lexia mengingat bagaimana dinginnya udara ketika memasuki musim salju, dia teringat harus mengumpulkan kayu ataupun kertas koran-koran dari jalanan untuk membuat tubuhnya hangat sewaktu dia masih mengais sampah di kota besar itu, begitupun untuk kakek dan nenek Kenzo yang telah tiada, Lexia merindukan itu semua.
Lexia mengambil salah satu daun yang gugur dari pohon disampingnya berwarna kuning indah di pandang mata berbentuk tiga jari dan berwarna warni. Dia duduk di salah satu bangku taman, berbincang dengan Ax yang tertawa-tawa melihat ekspresi lexia.
Bunyi ponsel lexia berdering, dia mengambilnya dan satu pesan telah masuk di inboxnya, lexia tidak mengenal nomor ponsel yang mengirimkan pesan kepadanya, lexia mengklik satu pesan itu dan nampaklah satu gambar yang membuat lexia terkejut.
"Daren? Bukankah foto ini adalah Daren? Wanita ini siapa?".
Nomor ponselnya kembali berdering tetapi kali ini bukan pesan masuk melainkan panggilan telepon.
"Halo."
"Kau lihat? Bagaimana? Kau suka dengan gambar Daren bersama seorang wanita, lexia?"
"Kau, nenek tua." Ucap lexia geram, dia menggunakan nomor lain untuk menghubungi lexia.
"Hati-hati dengan ucapanmu darling, bagaimana? Bukankah cintamu yang kau andalkan kepada suamimu akan mulai terkikis juga dengan kehadiran wanita itu? Kau tahu siapa dia?" Tanyanya.
Lexia tidak bisa menjawabnya karena wajah wanita itu baru pertama kali ini lexia melihatnya.
"Ck ck wanita itu kekasih Daren sewaktu dia masih kuliah di Inggris Sebelum dia mengenal wanita penggoda itu si Carol." Ucapnya sambil terdengar dengusan darinya.
"Rupanya penyelidikanmu begitu sempurna Melda, kau sampai mengetahui segalanya, jangan meneleponku lagi nenek busuk." Ucap lexia keras lalu menutup ponselnya.
Lexia kembali menatap gambar Daren yang sedang duduk di meja bar bersama Seorang wanita berambut cokelat gelap, dia terlihat tertawa ketika berbicara Dengan wanita itu.
"Siapa dia? Aku tidak sempat bertanya siapa namanya. Ugh sial ! Tiba-tiba saja ponselnya kembali berdering tetapi kali ini hanya pesan masuk saja yang dikirim oleh melda.
"Jika kau begitu penasaran siapa wanita itu, namanya adalah Monica Collins."
"Monica Collins?" Ucap lexia. Saat itu lexia kembali mendorong kereta bayi milik Ax dan segera masuk ke dalam mansion karena udaranya mulai dingin.
Ketika Ax sudah tertidur lelap, lexia masuk ke kamar dan memeriksa beberapa pekerjaan kantor Daren yang dibawanya dari Oklahoma, dia duduk di meja kerjanya dan melihat-lihat apakah ada sesuatu yang ganjil yang bisa di temukannya.
Beberapa buku tebal berada di dalam laci milik daren dan lexia mengenal buku itu. "Bukankah buku ini milik teman Daren bernama Collins?" Tunggu sebentar dia bilang Collins itu adalah seorang pria, tetapi wanita itu bernama Monica Collins." Wajah lexia seketika berubah kecewa dan kemarahan menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Apa Daren membohongiku? Dia berbohong padaku kalau buku ini dari sahabatnya seorang pria bernama Collins."
~
Siang itu Daren bersama Evan akan segera bertemu dengan salah satu rekan bisnisnya dan akan mengadakan kerja sama di antara keduanya, mereka berdua memasuki ruangan dan siapa yang sangka Daren bertemu dengan wanita yang pernah menjadi kekasihnya sewaktu kuliah dahulu tetapi kejadian itu sudah begitu lama sampai-sampai Daren tidak mengingat wajahnya lagi.
Setelah meeting yang begitu lama, wanita itu menghampiri Daren yang sedang berbincang dengan Evan.
"Daren? Kaukah itu?" Seorang wanita cantik berambut cokelat yang gelap menghampiri Daren, wajahnya terlihat sumringah Ketika melihat Daren adalah salah satu rekan bisnis yang akan di ajaknya Bekerja sama.
Daren mengangkat kepalanya menatap senyum cantik Monica Collins. Daren mengingatnya dia lalu berdiri dan segera menyalaminya.
"Monica bukan? Aku minta maaf aku tadi tidak mengenalmu sama sekali." Ucap Daren tersenyum tipis.
"Tidak masalah, kau bisa meminta maaf dengan segelas Sherry siang ini, bagaimana? Aku akan berterima kasih untuk itu, selain itu kita merayakannya karena kerja sama menguntungkan perusahaan kita masing-masing bagaimana?"
Sedetik Daren terlihat ragu meskipun tadi pagi dia mengatakan kepada lexia akan pulang terlambat tetapi meetingnya berjalan cukup lancar dan selesai dengan cepat.
"Ayolah Daren, hanya segelas dan kau bisa pergi, ok!" Ucapnya. Evan mengerling Daren dan segera membungkuk dan akan segera pulang ke Oklahoma.
"Baiklah hanya segelas Monica." Ucap Daren.
Daren menganggukkan kepalanya. "Ya dan kami memiliki seorang putra yang tampan dan lucu."
"Ck, kakak pasti kecewa kau tidak mengundangnya Daren." Ucap wanita itu menyesap minumannya lalu mengerling Daren.
"Ya, pernikahan kami cukup sederhana, jadi kami tidak mengundang orang-orang." Jawabnya.
"Lain kali perkenalkan aku kepada istrimu aku ingin mengetahui bagaimana dia menundukkanmu dan menikah denganmu?"
Cahaya Blitz dari kejauhan membuat Daren dan wanita itu tidak menyadari dengan gambar yang di ambil dari kejauhan. Senyum merekah dari seorang wanita yang duduk di sudut, dia duduk begitu jauh tetapi dia mengamati Daren dan wanita itu, senyum simpulnya membuat dirinya terlihat menakutkan.
"Sebaiknya aku pergi Monica, aku harus pulang cepat." Ucap Daren, dia berdiri dan kembali berbalik kepada wanita itu. "Dan berikan salamku kepada kakakmu Collins." Ucapnya.
Wanita itu mengangguk dan tersenyum dan memberikannya lambaian santai seperti seorang sahabat kepada sahabatnya yang akan pergi. Setelah Daren menghilang dari pintu Club, wanita itu melempar gelasnya begitu saja di lantai, gelas itu berhamburan di lantai club, dia berteriak histeris sampai-sampai orang memperhatikannya dengan heran.
"Halo nona, sepertinya kau sedang mengalami hari yang buruk, bolehkah aku bergabung bersamamu?" Ucap Melda dengan seringai membingkai di wajahnya.
~
__ADS_1
Sore itu Daren sudah berada di mansion, dia baru saja memarkirkan mobilnya dan segera keluar dari mobilnya. Lexia menatapnya dari lantai atas sambil menggendong putranya.
"Ck, katanya dia akan pulang terlambat." Ucap lexia. "Apakah Melda mengada-ada hanya ingin membuatku jengkel saja dengan segala tipu muslihatnya? Erm aku tidak boleh gegabah jika tidak dia merasa akan senang dan akan tertawa jika aku dan Daren bertengkar." Ucap lexia.
Kamar mereka dibuka oleh Daren dia tersenyum miring dan segera menghampiri lexia dan putranya. Dia ingin memberikan kecupan di bibir lexia tetapi lexia menolak ciuman Daren.
"Kau berbau minuman daren, kau habis minum ya?" Tanyanya, sengaja memancing pembicaraan.
"Erm ya sedikit, aku bertemu teman lama, kebetulan saja perusahaanku dan dia bekerja sama jadi dia mengajakku minum hanya segelas saja lexia setelah itu aku langsung pergi." Ucap Daren sambil melepaskan jas dan dasinya kemudian membuka kancing kemejanya.
Daren menatap wajah lexia seperti dia memikirkan sesuatu yang membuatnya harus berpikir keras.
"Kau kenapa sayang?" Tanyanya.
"Apa?? Aku..aku tidak apa-apa." Jawab lexia, entah mengapa dia tidak mau berterus terang kepada Daren mengenai foto yang dikirimkan oleh Melda, dan juga mengenai kotak yang ditemukannya di bawah lemari. Dia tidak ingin membaginya bersama siapapun, lexia ingin mengetahui sejauh mana kedekatan Daren dan mantan pacarnya sewaktu kuliah dulu.
"Kau sungguh tidak apa-apa?" Tanyanya lagi. Lexia menatapnya kemudian memalingkan wajahnya menghadap putranya. "Erm ya aku tidak apa-apa, aku ingin tidur, hari ini aku dan Ax berjalan-jalan di taman jadi aku cukup lelah." Ucap lexia menghindari Daren.
~
Mereka berdua makan dalam diam, Nara tidak ingin makan bersama Xaphier malam itu tetapi Xaphier yang tidak suka di tolak menarik tangan Nara dan duduk di hadapannya, jika Nara menolak, Xaphier berjanji akan membopong Nara ke kamarnya dan menghabiskan malam dengannya.
Mau tidak mau ancaman Xaphier bekerja, Nara duduk di sana sambil menatap benci ke arah Xaphier yang makan dengan lahap. 'dia pencuri, sudah tiga kali dia menciumku dengan paksa.' pikir Nara.
"Berhenti menatapku seperti itu Nara, kau bisa melubangi meja ini dengan tatapanmu yang seperti itu." Ucap Xaphier tersenyum miring melihat wajah Nara yang bersemu merah karena menahan kemarahannya.
"Setelah ini kita akan ke ruang kerjaku, kau akan menemaniku bekerja malam ini." perintahnya. Nara tidak berkata-kata dia hanya berjalan di belakang Xaphier ketika mereka selesai makan.
Ruangan yang luas dengan kaca mendominasi di tiap dindingnya, ruangan itu memang sengaja di desain seperti ruang kerja dikantornya, meskipun dari luar hanya nampak seperti cermin biasa tetapi dari dalam kita bisa mengamati siapa saja yang ada di luar ruangan.
Xaphier berjalan dan duduk di depan meja kerjanya sementara Nara masih berdiri dengan kikuk di tengah-tengah ruangan yang besar itu.
"Kemarilah Nara, kau akan duduk di sampingku." Nara yang mendengarnya terlihat ragu melangkahkan kakinya menuju Xaphier. tetapi dia segera berjalan dan duduk tepat di samping Xaphier.
"Tugasmu cukup mudah, Pindahkan file berisi nama-nama karyawan ke SSD di sini dan setelah selesai berikan kepadaku." titahnya.
"Baik." Dengan cekatan Nara mengerjakan semuanya dengan cepat tanpa kesalahan sedikitpun, selama bekerja Xaphier tak hentinya melirik Nara yang sedang serius, wajahnya yang terlihat serius membuat Xaphier ingin mengecupnya dan membuatnya lunglai diatas tubuhnya, memikirkan itu semua membuat Xaphier tidak berkonsentrasi. "Sial, Damn!" Umpatan Xaphier membuat Nara terlonjak dan mengalihkan perhatiannya dari Laptop di depannya.
Xaphier tidak menahannya lagi dia menarik Nara dengan keras hingga ia duduk di pangkuannya lalu menyerang bibirnya yang ranum, mencecapnya, menciumnya dengan rakus dan mendambanya. Dia melepas bibir Nara manakala mendengar suara rintihannya. Xaphier tersenyum, mereka saling menatap Kilauan mata biru Nara seakan menginginkan lebih dari sekedar ciuman dan itu membuat Xaphier menggila.
__ADS_1