
Ketukan pintu terdengar dari ruangan tuan Caesaar.
"Masuk."
Thomas masuk, seperti biasa dia menghadap untuk memberikan laporan kepada tuan Caesaar. "Ada apa thom?" Tanya tuan Caesaar.
"Saya ingin melaporkan kepada anda, tuan dazon sekarang ini bersama dengan Nona Hanna, begitu tiba di Georgia, dia langsung menuju ke apartemen Nona Hanna." Lapor thomas.
Tuan Caesar menghembuskan napas, lalu melepaskan kacamatanya. "Biarkan saja, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan, tetapi jangan beritahu kalau hanna adalah calon istrinya, nanti saya yang akan memberitahu dazon kalau wanita yang akan dia nikahi bernama Ana Reaver atau Hanna Tan." Ucap tuan Caesaar.
"Tetapi kenapa tuan tidak memberitahu lebih awal kepada tuan dazon, tuan?"
"Hem, aku hanya ingin melihat bagaimana dia memperjuangkan Hanna untuk menjadi miliknya, tetapi sampai waktunya tiba, jangan beritahu dazon."
"Baik tuan."
~
Dazon sudah membawa hanna ke atas sofa, mereka saling merengkuh tubuh masing-masing, melepaskan rindu yang tertahan, dazon menguasai bibir hanna dan ingin sekali menenggelamkan dirinya dalam-dalam ke tubuh hanna, tetapi dia tidak melakukannya, dia masih bisa mengendalikan dirinya, dia menarik bibirnya dari hanna, mereka saling menatap, membutuhkan, tatapan panas dari hanna membuat dazon kembali hanyut, dia menguasai bibir hanna sampai hanna akhirnya mengeluarkan suara rengekan kesakitan di bibirnya, hingga dazon melepasnya.
Dia akhirnya membaringkan tubuhnya di samping hanna di sofa yang sempit itu, lalu menarik tubuh wanitanya berbaring di atasnya.
"Aku bisa gila hanna, apa yang harus kita lakukan? Aku tidak ingin melepasmu, dan aku tidak mau !" Ucap dazon. Hanna menetralkan napasnya, dia membenamkan wajahnya di leher dazon dan memeluknya erat.
"Akupun tidak ingin berpisah denganmu daz, aku..aku tidak ingin melepasmu." Bisik hanna, dia kemudian mengangkat wajahnya, mereka saling menatap.
"Bagaimana kalau kita lari saja?"
"Kita akan di tangkap oleh pengawal kakekmu." Ucap hanna.
"Ck, ya aku tahu, semua pengawal akan lebih setia kepada kakek, jika kakek yang memberikan perintah, dibandingkan aku." Ucap dazon.
"Dulu, aku punya seorang pengawal yang setia kepadaku, meskipun yang lain lebih menuruti keinginan kakek, tetapi pengawal yang satu ini tidak, dia lebih setia kepadaku, tetapi sayang, dia sudah tidak bisa bekerja lagi di mansion."
"Kenapa? Di mana dia?" Tanya Hanna.
"Dia memiliki penyakit, jadi dia mengundurkan diri." Ucap dazon.
"Bagaimana dengan Thomas? Atau Loue dan paulo?"
Dazon memicingkan matanya, dia menarik dagu hanna agar menatap kepada dirinya. "Kau sudah menghapal nama-nama mereka?" Tanyanya.
"Bagaimana bisa aku tidak menghapal nama mereka, jika hanya nama mereka saja yang sering kudengar dan disebut-sebut selama aku bersamamu." Ucap hanna.
Dazon memberikan serangan lain di bibir hanna, hingga hanna kembali mengeluh dengan ciuman kasar dazon.
"Jangan menyebut nama pria lain di hadapanku, hanna." Bisiknya.
Hanna meringis sambil menggigit bibirnya yang mulai membengkak, dia kemudian tertawa pelan.
"Kendalikan dirimu Dazon Caesaar, kau akan melukaiku jika kau menciumku dengan kasar, sakit tahu!" Ucap hanna, mengusap-usap bibirnya.
Dazon kembali memeluk Hanna mereka tidur di sofa yang sempit itu sambil menatap pemandangan malam dari jendela kaca yang luas dan terbentang.
"Pemandangan yang indah, kita bisa bercinta di sini sambil menunggu matahari terbit." Ucap dazon.
Hanna melebarkan matanya, dan memukul lengan dazon. "Tidak mau, kau akan menikah dengan wanita lain, dan kau akan bercinta denganku? Yang benar saja, Aku tidak mau." Ucap hanna merajuk.
Dazon menghembuskan napasnya. "Hanya ide saja hanna sayang, mungkin saja kau tertarik." Ucapnya sambil berkedip.
"Kalau begitu tidurlah ! Aku akan menemanimu sampai pagi." Bisik dazon.
~
Malam itu tuan Robert bertemu dengan Tuan Caesaar. Mereka bersama- sama mengunjungi sahabat lama mereka, dia adalah professor Rey Vandash, dia berasal dari India, tetapi sudah lama dia tinggal di Amerika.
Tempat itu berada di pusat universitas of C.G di Atlanta. Mereka mengunjungi sahabatnya yang tinggal di lingkungan kampus itu, mereka saling menyapa dan berbincang. Para pengawal mereka berdiri di depan gedung Laboratorium, menunggu tuannya hingga dia selesai.
"Apa kabar rey, aku senang melihatmu masih hidup, di tengah zat racunmu yang berbahaya selama bertahun-tahun, dan sampai sekarang kau lebih memilih mendekam di sini." Ucap tuan Robert.
"Inilah kehidupanku robert, aku mencintai semuanya, obatku, serumku bahkan racunku." Dia lalu tertawa terbahak-bahak.
"Oh ya, mengenai kasus Ben Riever, saya sudah menyelidiki hasil sampel darahnya dan sudah lama saya mempelajarinya, ini aneh Caesaar, serum yang di suntikkan di tubuhnya tidak akan pernah hilang meskipun dia meninggal, bisa saya katakan, racun itu akan terus beregenerasi ke tempat inang yang baru dan bisa saja racun itu mengenai keturunannya." Ucapnya.
"Apa maksudmu rey, keturunannya? Saya sudah memberitahu kalau dia memiliki seorang putra yang memiliki penyakit yang sama seperti ayahnya, haus akan membunuh, tidak mengenal belas kasihan maupun empati, dan tidak bisa menentukan benar dan salah, menurut dokter yang merawatnya, itu akibat trauma masa kecilnya, bukan karena zat racun yang juga mengalir ke tubuh putranya." Ucap Tuan Caesaar.
Prof Rey menggelengkan kepalanya, "Saya masih akan menelitinya lagi, tetapi satu hal yang bisa saya katakan, racun itu bisa di kendalikan tergantung orang yang mengenainya, kasus ben reaver, bisa saya katakan, dia di kendalikan oleh racun itu, keinginan membunuhnya sangat kuat, mengenai Ben Reaver junior, sang anak, meskipun dokter mengatakan dia melakukan pembunuhan itu karena trauma masa kecil, tetapi dia telah terkena imbas racun dari ayahnya dan mengalir ke tubuhnya, dan diapun tidak bisa memenangkan sisi pembunuh di dalam dirinya, artinya racun itu lebih mendominasi tubuhnya."
"Benarkah seperti itu? Jadi, apakah ada kemungkinan masih bisa tercipta Ben Reaver lainnya? Misalnya dia memiliki keturunan dan penyakit itu bisa mengalir kepada anak cucunya?" Tanya tuan Caesaar.
"Itu kemungkinan terburuknya, tetapi hal itu masih belum bisa saya pastikan, berdoalah, semoga saja hal itu tidak terjadi."
~
Pagi itu dazon masih tidur di sofa bersama Hanna, meskipun sinar mentari sudah menerangi seluruh ruangan apartemennya. Hanna mengerjap dan mengucek matanya, tubuhnya begitu kepanasan karena di peluk erat oleh dazon, dia kemudian tersenyum dan diam-diam memberikan kecupan selamat pagi untuk dazon di bibirnya.
"Pagi." Bisik hanna mencoba melepas tubuhnya dari pelukan erat dazon.
"Hmm, itu kurang hanna, ciuman itu tidak ada apa-apanya, kau ingin bangun? Kau harus lebih berusaha lagi." Ucap dazon masih dengan mata terpejam.
"Be..berusaha? Baiklah." Ucap hanna dia mengangkat kepalanya lalu membiarkan bibirnya menyentuh sekilas bibir dazon, ciuman singkat itu membuatnya tersenyum.
"Kau mau bermain denganku?" Ucap dazon tiba-tiba membuka matanya dan menarik hanna, tiba-tiba posisinya telah berubah, dazon telah menjulang di atasnya dan memenjara hanna hingga dia tidak bisa bergerak.
"Permainan di mulai." Ucap dazon.
Mereka kemudian membenamkan diri mereka, menunggu siapa yang menyerah untuk menghirup oksigen karena ciuman mereka yang dalam.
Bel berbunyi, hanna melepaskan ciuman dazon yang tidak di tahan-tahannya.
"Dazon, hentikan ! Ada seseorang di depan pintu." Ucap hanna mendorong tubuh dazon ke samping.
Dazon dengan cepat berdiri dan menarik hanna agar ikut berdiri bersamanya.
Hanna berlari-lari kecil lalu melihat video intercom di samping pintunya yang melengket erat di sana, ternyata Thomas dan Loue, mereka berdua berdiri di sana, menunggu pintunya membuka.
"Sial, mereka datang, hanna menarik tangan dazon, lalu membawanya ke kamarnya untuk di sembunyikan.
__ADS_1
"Tunggu di sini, jangan sampai mereka menemukanmu." Perintah Hanna.
Dazon ogah-ogahan, dia tidak mau bersembunyi, biarkan mereka tahu kalau dia berada di sini.
"Kumohon sembunyilah, bagaimana jika mereka memberitahu kakekmu tentang kau berada bersamaku dan dia memutuskan menikahkanmu lebih cepat dengan wanita itu?" Ucapnya
"Ck, oke baik, aku akan bersembunyi." Dazon menghempas dirinya di atas tempat tidur Hanna dan segera berbaring lalu mengambil ponselnya.
Hanna dengan cepat menutup pintu kamarnya dan segera membukakan pintu untuk thomas dan loue.
"Maaf, aku baru saja bangun, dan tidak mendengar kedatangan kalian." Ucap Hanna.
Thomas menaikkan satu alisnya, dia sudah tahu kalau tuannya ada di sini dan menginap di apartemen ini.
"Nona, saya ingin anda bersiap-siap besok, kami akan menjemput anda tepat jam 9 pagi." Ucap thomas menatap sepatu milik dazon yang masih belum di sembunyikan.
"Ke..kemana? Gugup Hanna.
"Nanti anda akan tahu, kalau begitu kami permisi, oh ya, katakan kepada tuan dazon agar segera pulang ke Mansion, Tuan Caesaar mencarinya." Ucap thomas sebelum keluar dari pintu.
Hanna mematung, "pria dingin itu mengetahuinya," ucap Hanna terpaku. Dazon membuka pintu kamar dan menatap hanna yang masih memandangi pintu.
"Ada apa? Apa yang dikatakan thomas kepadamu." Ucap dazon sambil mengenakan jaketnya yang terjatuh di lantai.
"Dia mengatakan agar kau segera pulang, kakekmu ingin bertemu denganmu." Ucap hanna.
"Ada lagi?" Tanyanya.
Hanna menggeleng, "tidak ada."
"Hanya itu saja?" Tanyanya.
"Em ya, sepertinya dari awal mereka sudah tahu kau ada di sini." Ucap hanna mengangkat bahunya.
"Kalau begitu aku pulang hanna, jangan kemana-mana, aku akan segera kembali, hem kau mendengarkan aku?" Ucap dazon.
Hanna mengangguk, dia menghampiri Hanna dan memberikan ciuman panjangnya.
"Aku akan segera kembali." Bisik dazon, sebelum dia keluar dari apartemen hanna, dia berbalik dan tersenyum kepadanya.
~
Hanna menghembuskan napasnya, lalu berpikir mengenai hubungannya dengan dazon, apakah nanti dia akan menjadi seorang wanita perebut suami orang? Atau simpanan dazon, atau seorang wanita j4lang milik dazon? Wanita yang akan menjadi istrinya pasti akan membencinya, ketika dia tahu suaminya memberikan hatinya pada wanita lain.
Tapi hanna tidak memperdulikan itu semua, dia lebih dulu bertemu dan memiliki dazon, jika suatu hari dazon ingin melepasnya, dia pun akan melepaskan dazon, tetapi saat ini dia terlalu bahagia untuk memikirkan mengenai perpisahan.
~
"Pernikahanmu akan dilangsungkan dua hari lagi daz." Ucap tuan Caesaar saat mereka semua sarapan pagi di meja makan, tiba-tiba suasana yang tadinya ceria berubah menjadi tegang, mereka semua yang duduk di sana terdiam lalu menatap tuan Caesaar.
"A..ayah, tidak bisakah ayah memikirkannya lagi? Biarkan mereka saling mengenal dulu, apalagi kami juga belum mengenal calon mempelai wanita." Ucap Xaphier.
"Saya sudah memutuskan dan tidak bisa di undur lagi, kakek dengar-dengar kau menghabiskan malammu bersama wanita itu lagi?" Ucap tuan Caesaar.
Mata dazon membelalak, Kakeknya sudah tahu? Mulut thomas sangat cepat, awas saja dia. Pikir dazon.
Wajah dazon memucat, sedangkan tuan Caesaar menikmati sandiwaranya, dan dia tidak menyangka, sandiwara yang dia mainkan, cukup menyenangkan untuknya, menatap wajah-wajah khawatir mereka.
"Kau mendengarkan kakek?" Ucap tuan Caesaar.
"Baik kek."
"Ehhem, aku sudah selesai sarapan, kalian lanjutkan saja." Ucapnya.
Tuan caesaar segera beranjak dari sana, dia melihat bibir lexia sudah komat kamit untuk berbicara, tetapi daren menutup bibir istrinya sekuat tenaga agar tidak memperkeruh suasana.
Ketika tuan Caesaar sudah menjauh, keheningan membentang di meja makan, lalu tiba-tiba Alexa adik Axton ikut nimbrung dan menatap kakak sepupunya yang terlihat galau.
"Kak dazon lari saja, larilah bersama wanita kakak sejauh-jauhnya, aku sih mendukung kak dazon." Ucap Alexa.
Mereka semua yang di meja makan menatap kepadanya.
"Kenapa? Menurutku itu ide yang sangat bagus, kalau ibu ingin menjodohkanku dengan pria pilihan ayah dan ibu, aku akan melarikan diri bersama pria yang kucintai." Ucapnya lagi.
Lexia berbalik ke putrinya. "Cobalah, kalau kau berani, Mommy akan mengejarmu sampai ke ujung dunia Alexa." Ucap lexia sambil menarik pipi chubby putrinya.
"Menurutku ide Alexa hebat, kami akan mendukungmu daz." Ucap Ax dan fairley yang mengangguk memberikan semangat kepadanya.
"Begitupun dengan kami, larilah kawan, jangan sampai kau akan menyesali keputusanmu menikahi wanita yang sama sekali tidak kau kenal, siapa namanya? Oh ya, Ana Reaver, kenapa aku takut hanya mendengar nama Reaver ya?" Ucap Daneil.
Dukungan dari mereka semua membuat dazon mengambil keputusan bulat untuk membawa kabur hanna dan melarikan diri dari Amerika, lari dari semua orang yang menentang hubungannya, orang tuanya pun sepertinya menulikan diri mereka, dia juga tidak berkata apa-apa.
Dazon segera berdiri dan saat itu juga dia meninggalkan mansion, lalu mengambil kunci mobilnya. Ax dan daneil mengejarnya lalu memberikan kartu mereka, "Gunakan ini Daz, hanya berjaga-jaga saja jika semua kartumu di blokir oleh kakek." Ucap Ax.
Daneil menepuk bahunya dan menyandarkan tangannya di sana, lalu membisikkan sesuatu di telinga dazon.
"Kau harus bekerja keras agar wanitamu hamil, kakek tidak akan berkutik jika kalian telah....
Tiba-tiba Ax memukul punggungnya, "Apa yang kau katakan Niel, itu keputusan dazon, jangan mencampurinya."
"Oke oke, hanya saran saja, siapa tahu akan berguna." Ucapnya sambil berkedip.
"Aku pergi." Ucap dazon, dia lalu masuk ke dalam mobilnya membelah jalanan kota Atlanta.
~
Thomas menelepon tuan Caesaar dan memberitahu rencana Tuan Dazon kepada tuan Caesaar. "Sepertinya tuan dazon akan membawa kabur Nona hanna, apa yang akan kami lakukan?"
Tuan Caesaar mendengus, "Biarkan saja dulu, nanti jika tiba saatnya pisahkan mereka, karena jadwal pernikahan tidak bisa di undur lagi, ikuti terus mereka, jangan biarkan mereka berdua keluar dari kota ini apalagi negara ini, bisa-bisa kita yang akan kerepotan mencari mereka."
"Baik tuan "
~
"Kemasi barang-barangmu Hanna, kita pergi sekarang !" Ucap dazon begitu pintu apartemen hanna di buka olehnya.
"Ap..apa? dazon tunggu, apa yang terjadi?" Tanya Hanna dengan wajah terkejut bukan main.
__ADS_1
"Tidak ada waktu lagi, ayo cepat ! Sebelum Thomas dan yang lainnya akan datang dan memisahkan kita." Ucap Dazon, dia menarik tangan Hanna dan segera menuju kamarnya, membantunya untuk mengemasi barang-barang pentingnya saja.
"Tidak usah bawa semua pakaianmu, kita akan membelinya di jalan, bawa saja barang yang menurutmu penting." Ucap dazon.
Hanna bergegas memasukkan ponsel, passport dan barang-barang penting lainnya, dan segera mengenakan jaketnya. "A..aku sudah selesai." Ucap hanna dengan jantung berdetak cepat.
Dazon menarik hanna dan memeluknya erat. "Kita akan melarikan diri, aku tidak akan menikah dengan wanita itu, kita akan pergi jauh ketempat tidak seorangpun dapat menjangkau kita." Ucapnya.
Hanna mengangguk senang, tidak terasa air matanya jatuh. Dazon menciumnya lalu menghapus air matanya. "Aku mencintaimu Hanna." Ucap dazon.
Hanna balas mencium dazon, lalu berbisik di bibirnya. "Aku mencintaimu." bisik Hanna.
Dazon tersenyum bahagia, dia kemudian menarik tangan Hanna dan segera keluar dari apartemen.
~
"Mereka keluar, sembunyi, ayo sembunyi."
Bisik salah seorang pengawal kepada rekannya, mereka harus sembunyi agar kepergian tuannya tidak ada seorangpun yang melihatnya.
"Kita beruntung dazon, para pengawal tidak ada yang berjaga, padahal jam makan siang sudah selesai." Bisik Hanna.
Meskipun hal itu mengherankan dazon, tetapi keberuntungan yang tidak di sengaja itu tentu saja harus di syukurinya.
"Sir, tuan Dazon menuju kemari, anda harus sembunyi." Ucap Loue.
Thomas yang selalu tenang , dengan ekspresi wajah datar patennya, dengan santai membelakangi mereka berpura-pura sedang menelepon.
"Ck sial, ada thomas !" Ucap dazon.
"Ki..kita berjalan perlahan, dia membelakangi kita, dia tidak akan tahu." Ucap Hanna.
Mereka berdua berjalan sepelan mungkin, tetapi hanna yang ceroboh menabrakkan ranselnya pada bunga hias di sampingnya, sehingga terdengar bunyi yang cukup besar.
Tetapi anehnya, Thomas tetap tidak berbalik dan tetap membelakangi mereka.
"Ma..maafkan aku." Bisik Hanna.
"Ck, ceroboh." Ucap dazon.
Akhirnya mereka tiba di pelataran parkir, dengan cepat mereka berdua masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area apartemen Sky Green.
Langkah kaki para pengawal terdengar, mereka semua keluar dari persembunyiannya.
"Dengarkan ! Sampai waktunya tiba, kita akan kejar mereka seperti yang di perintahkan oleh tuan Caesaar, dan memisahkan mereka berdua, kemudian membawa mereka langsung ke gedung, ke tempat mereka akan di nikahkan."
"Baik tuan."
~
Dazon dan Hanna tertawa senang, mereka betul-betul bebas, dan melarikan diri dari sana dengan penjagaaan super ketat.
"Kita akan kemana daz?" Tanya Hanna.
"Hem, kita akan pergi ke villaku, tempatnya di dekat pantai yang cukup jauh dari perkotaan, desa itu di sebut Emerald." Ucap dazon.
"Kenapa di sebut Emerald?" Tanyanya.
"Karena lautnya berwarna Emerald, tempat itu sangat indah, sangat sedikit orang yang tahu tempat itu, aku membangun villa di sana, tempat terpencil di dekat hutan, tidak ada seorangpun pengawal yang mengetahui tempatku." Ucap Dazon.
"Benarkah?"
Dazon mengangguk, kemudian mengernyitkan alisnya. "Ah, aku ingat, hanya satu orang saja yang tahu tempat itu, tetapi dia tidak bekerja lagi sebagai pengawalku." Ucap dazon.
"Oh ya, siapa namanya daz?"
"Namanya Riel."
~
"Menurutmu kemana tuan dazon membawa Nona Hanna?" tanya Loue ketika mereka berjalan dia area parkiran.
"Sebentar lagi kita akan melacak keberadaan mereka, kita harus terus memantaunya, jangan biarkan tuan dazon keluar kota apalagi keluar dari negara ini, kita harus menghentikannya, karena pernikahan mereka berdua akan di gelar dua hari lagi." ucap Thomas.
Seseorang bersembunyi di balik satu mobil yang terparkir di sana, mendengarkan dengan cermat, setiap perkataan Thomas.
"Ana melarikan diri dengan Tuan dazon? tetapi kenapa, bukankah mereka akan menikah sebentar lagi? setidaknya sebelum aku masuk ke penjara, aku harus melihat pernikahan adikku." Ucap Riel.
"Kemana mereka?" bisiknya, sambil memiringkan kepalanya, dan duduk di aspal, dia berpikir tempat-tempat pribadi milik tuan Dazon yang terpencil. Dia kemudian tersenyum. Dia segera berdiri mencari cara ke tempat persembunyian tuan Dazon dan memastikan mereka akan baik-baik saja di sana, karena tanpa tuan dazon ketahui, di tempat itu ada pembunuh yang hidup di tengah hutan akibat suntikan serum dari kelompok Crounus dan pria itu sangat berbahaya. Dan dia harus segera ke sana dan melindungi adiknya.
~
"Sir, saya sudah dapatkan titik lokasi tuan dazon." Ucap Loue.
"Bagus, kemana mereka pergi?" tanyanya.
"Titik lokasi yang di pilih oleh tuan dazon yaitu di desa Emerald, Villa khusus milik tuan Dazon." Ucapnya.
"Bukankah tempat itu berbahaya? apakah tidak ada yang mengabarkan kepada tuan dazon kalau desa emerald sudah di tandai sebagai lokasi berbahaya, kita harus segera ke sana, hubungi semua pengawal, kita akan jemput tuan Dazon dan Nona Hanna, sebelum pembunuh gila lainnya menyerang mereka.
~
Pukul 4 sore, Desa Emerald.
Dazon dan Hanna telah tiba di desa itu, serbuan ombak terdengar sampai ke villa, angin segar terasa berhembus. "Ugh aku lelah sekali daz, kita terlalu lama duduk di mobil." Ucap Hanna, ketika sudah keluar dari mobil dan langsung menuju ke teras bagian atas melihat pemandangan indah laut dari atas.
Dazon memeluk Hanna dari belakang, dia mengecup kepalanya dan memberikan kecupan kecil di sudut bibirnya. "Aku juga lelah, kita masuk dulu, untung saja kau mengingatkanku membeli bahan-bahan makanan sebelum kita tiba di desa ini, aku belum memberitahu siapapun mengenai villaku, jadi tempat ini selalu kosong dan sepertinya makanan pun tidak ada, tetapi biasanya akan datang seseorang yang membersihkannya dua kali seminggu kok, jadi tempat ini selalu bersih." Ucap dazon.
Villa itu di dominasi dengan kayu, bangunannya berbentuk unik dengan membiarkan warna asli villa itu, tanpa perubahan sedikitpun.
Hanna masuk dan memperhatikan di sekelilingnya, tempat yang minimalis, tidak begitu luas, sangat asri dan indah, layaknya bangunan yang dikhususkan untuk berlibur dan melepas lelah ketika sibuk bekerja di perkotaan.
"Bagaimana, apa kau suka?" bisik Dazon di telinga Hanna, dia kembali merengkuh tubuhnya dan mengangkatnya lalu mendudukkannya di atas meja dapur.
"Tentu daz aku suka, ngomong-ngomong apakah ada desa di dekat sini?" tanya Hanna.
Dazon menggeleng, "Setahuku desa terdekat dari sini ketika kita naik perahu ke pulau sebelah, tempat kita masih terhubung dengan perkotaan." Dazon menutup pertanyaan Hanna dengan menyerang bibirnya, ciuman intens yang membuat tubuh mereka hanyut, dazon masih mencium hanna, membuatnya terdorong dan berbaring di meja dapur itu, tiba-tiba hanna merasakan sesuatu yang bergerak di sekitar villa mereka.
__ADS_1
Hanna memegang wajah dazon, sehingga bibir mereka terpisah. "Daz? sepertinya kita tidak sendiri di tempat ini, aku merasakan ada seseorang menatap kita sejak tadi?" bisik Hanna.