
Beberapa musim telah terlewati, sejak insiden penembakan waktu itu, kabar mengenai riel sama sekali tidak terdengar lagi, meskipun dazon dan hanna mencarinya secara sembunyi-sembunyi, jejaknya tidak di temukan sama sekali, hanya saja mereka pernah mendengar satu kabar mengerikan, bahwa seorang pria dengan identitas yang tidak jelas di temukan telah jatuh ke dalam jurang yang begitu dalam, sampai-sampai tidak ada lagi yang mengenali wajahnya, sudah begitu lama pria itu terjatuh di jurang yang dalam, dan sangat di sayangkan karena setelah lewat sebulan jenazahnya baru di temukan.
Ketika hanna mendengar kabar itu, tentu saja dia tidak mempercayainya, dia membantahnya, "Dia bukan riel, bukan !" Hanya itu ucapan yang membuatnya kuat dan yakin bahwa kakaknya masih hidup, dan berharap suatu hari nanti dia akan bertemu dengan riel.
Entah dimana dia sekarang, tidak ada yang tahu keberadaan riel, dia seakan di hembus angin hingga kabarnya sedikitpun tidak terdengar sama sekali.
~
~
4 tahun kemudian
Anak kecil itu berlarian di taman seorang diri, dia sembunyi di sana dan mengintip dari balik pepohonan sambil terkikik geli, dia memegang mulutnya agar suara kikikannya tidak terdengar. Dia bersandar di balik pepohonan agar ibunya tidak menemukannya.
"mommy, mommy temukan aku." Dia bersenandung sambil menunggu ibunya mencarinya
"Darko sayang? Kau dimana? Kalau kau sembunyi terus mommy akan pergi bersama daddy dan meninggalkan darko saja dimansion, kalau masih sembunyi tidak ada es krim setelah makan."
Suara kecil itu tertawa dari balik pepohonan, dia kemudian mengintip dan berjalan pelan, dia berjinjit ingin membuat terkejut ibunya dari arah bekakang.
"Mommy." Teriaknya.
Kedua tangan kecilnya memeluk lutut hanna, dia kemudian tertawa sambil memutari ibunya.
"Darko sayang, ayo makan, kita akan mengunjungi kakek buyut Caesaar setelah kau makan, ayahmu dari tadi menunggu kita lho." Bujuk hanna.
"Oky mommy," senyuman cerah ceria di wajah polosnya membuat siapa saja akan gemes dengan tingkah lucu pria kecil itu, sepupu-sepupunya kini lebih besar dari usianya, tetapi dia tidak mengalami kesulitan seperti yang dikhawatirkan oleh semua orang, dia adalah anak yang lincah, pandai, aktif dan suka ikut campur, dia seperti anak-anak pada umumnya, senang mengeksplor semua tempat, lincah dan rasa ingin tahu yang besar.
kini Darko berusia 5 tahun, dia sekarang lagi makan di taman dan sedang di suap oleh ibunya di taman.
"Mommy, kapan aku akan bertemu dengan prof Vandash?"
"Kenapa kau mencarinya sayang?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat janggut panjangnya yang berwarna putih." Ucap darko sambil tertawa.
"Setelah kita mengunjungi kakek buyutmu, kita akan mampir sebentar di lab."
"Okey mommy." Ucap darko ceria.
Dazon dan hanna seringkali mengunjungi professor itu, dan membawa darko ke sana untuk melakukan pemeriksaan, jika saja ada tanda-tanda yang tidak normal dari putranya, tetapi sejauh ini, semuanya tampak normal, darko seperti anak normal lainnya, bahkan dia lucu dan menggemaskan.
Dari jendela kaca yang menampakkan pemandangan taman, dazon menatap istri dan putranya sedang tertawa-tawa di taman. Dia bersedekap dan menatap mereka.
"Darko belum selesai makan juga? Kita sudah terlalu terlambat." Gumam dazon.
Pintu ruangannya terbuka, daneil masuk dan Axton. "Hey, kenapa kita belum berangkat? Aku menunggumu sejak tadi di luar." Ucap daneil.
"Tunggu darko selesai makan dulu, dia tidak akan makan kalau ibunya tidak memaksanya."
Daneil menghembuskan napas lalu berucap kepada Ax dan dazon.
"Beda sekali dengan putraku, kalian tahu?kerjanya hanya makan saja, membuatku ketakutan melihatnya, jennifer tidak pernah berhenti memasak semenjak dia ikut kursus memasak di perancis, dan lihat sekarang putraku, seperti aku melihat bola yang sewaktu-waktu akan menggelinding." Ucap daneil.
"Kenapa kau mempermasalahkan jika dia suka makan, bukankah itu bagus, jika nanti dia sudah besar, tubuhnya akan berubah dengan sendirinya, kau jangan khawatir." Ax menepuk bahu daneil lalu menatap dari kejauhan putra darko yang berlarian sambil tertawa.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang, sepertinya hanna telah selesai."
Mereka semua berkumpul di teras mansion, mobil telah siap, mereka semua masuk ke dalam mobil masing-masing, kali ini mereka semua akan mengunjungi tuan Caesar di mansionnya yang lain, di sana sudah ada Lexia dan daren serta Xaphier dan Nara.
Kondisi tubuh tuan Caesaar sudah tidak sekuat dulu lagi, dia sering keluar masuk rumah sakit, karena penyakit paru-parunya terkadang kambuh lagi, tetapi tuan caesaar sangat lelah hanya untuk keluar masuk rumah sakit, meskipun rumah sakit itu miliknya sendiri, akhirnya dia lebih memilih di rawat di mansion.
Dari hari ke hari kesehatannya semakin memburuk, lexia pun tidak pernah meninggalkan ayahnya, dia selalu berada di sisinya.
Mansion Tuan Caesaar.
Lexia sedang duduk di kursi sambil menemani tuan Caesaar yang sedang berbaring, di tubuhnya sudah di pasang peralatan medis, tubuh tuan Caesaar seringkali drop, sehingga sebentar saja dia mengalami sesak napas. Dia membuka kedua matanya. Tatapannya jatuh kepada lexia yang duduk di di hadapannya sambil bermain ponsel.
"Lexia?" Ucap tuan Caesaar dengan suara yang begitu lemah.
Lexia mengangkat kepalanya, dia segera mendekati ayahnya yang terbangun, lalu memeriksa alat medis yang berbunyi di samping tempat tidur ayahnya.
"Dad sudah bangun? Aku sangat khawatir dad." Ucap lexia sambil terduduk memegang tangan ayahnya.
Dia tersenyum kepada putrinya. "Jangan bersedih, memang sekarang sudah waktunya bagi ayah untuk pergi lexia, hidup ayah tidak akan lama lagi, bisa dibilang era ayah sudah berakhir sampai di sini." Ucapnya dengan napas sesak, meskipun dia terlihat kesakitan saat bernapas, tetapi dia masih bisa tersenyum.
"Ayah, kumohon jangan bicara seperti itu, ayah akan baik-baik saja, aku akan merawat ayah dengan baik sampai ayah sembuh."
Ucap lexia dengan mata memerah.
"Lexia, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, hanya kepadamu saja, ayah akan menyampaikan pesanku, tetapi berjanjilah satu hal padaku, jangan memberitahu orang-orang, siapapun itu." Ucap tuan Caesaar.
Lexia mengangguk dengan cepat, wajah penasarannya membuat tuan caesaar tersenyum, lexia seperti anak berusia 5 tahun yang akan diberikan permen, dia tahu putrinya ini sangat suka jika di beritahu rahasia dan hanya kepadanya saja rahasia itu di sampaikan.
__ADS_1
"Darko, putra dazon dan hanna, aku ingin kau mengawasi cicitku itu." Ucap tuan caesaar.
"Darko? Kenapa darko dad."
"Aku ingin kau mengawasinya, anak itu cerdik, pintar, lucu dan juga....." Tuan caesaar terbatuk sehingga dia mengatakannya dengan suara sangat pelan sehingga lexia tidak mendengar ucapan ayahnya selanjutnya.
"Pokoknya awasi saja, dan aku ingin kau tahu satu hal lexia, kau tidak keberatan kan jika kakakmu yang akan menggantikan posisiku, meskipun aku ingin kau yang menggantikanku sebagai pemegang nama Caesaar, tapi daren dan Ax menolaknya, dia tidak ingin ibunya menjadi mafia dan sibuk mengurusi hal-hal berbahaya." Ujar tuan Caesaar.
"Iya dad, tentu saja kakak yang paling sesuai menggantikan daddy, tapi aku akan selalu membantu kakak jika dia memerlukanku." Ucap lexia.
"Bagus lexia, kalian harus saling membantu, dan jangan pernah berselisih dengan kakakmu, kau harus membuat nama Caesaar tumbuh kuat dan berkembang hingga orang-orang akan mengenal nama besar Caesaar, untuk itulah aku ingin menyampaikan wasiat terakhirku kepadamu lexia."
Setelah kepergianku, aku ingin penerus yang menggantikanku kelak, ketika masa-masa siapapun nanti penggantiku telah berakhir, aku ingin darko kelak yang memegang nama besar Caesaar, jangan bertanya alasannya lexia, penuhi permintaan ayah, berjanjilah padaku."
Lexia memegang tangan ayahnya. Meskipun wajahnya diliputi tanda tanya besar, tetapi dia mengiyakan semua permintaan ayahnya, "Aku berjanji dad, aku akan memenuhi permintaan ayah, aku akan mengawasi darko dan memastikannya menjadi seorang pewaris untukmu kelak." Ucap lexia, dia menahan air matanya yang sebentar lagi keluar, ayahnya sangat kesusahan bernapas.
"Ayah harus beristirahat, aku akan menunggui dad di sini." Ucap lexia, tuan caesaar mengangguk dan tersenyum dan kembali tertidur.
~
Jam 13.00
Mereka menatap mansion itu dengan terlihat panik, setelah dua jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di mansion, tetapi sayangnya 1 jam sebelumnya telepon dari Xaphier membuat mereka semua sangat sedih, tuan Caesaar menghembuskan napasnya yang terakhir tepat jam 12 siang.
Mansion itu di liputi kedukaan yang mendalam, semua orang berduka cita atas kepergian tuan Caesaar untuk selamanya.
Semua orang telah berkumpul, seluruh kerabat caesaar dan seluruh rekan, keluarga, baik teman maupun musuh keluarga caesaar hadir di pemakaman sore itu. Tampak lautan jas dan gaun berwarna hitam mengitari pusara yang telah tertutup tanah.
Lexia terduduk di samping pusara tuan Caesaar, dia tidak berhenti menangis memanggil ayahnya. Baru beberapa jam yang lalu mereka berbincang, tetapi sore ini ayahnya sudah tiada, siang itu ketika lexia mengecek tubuh ayahnya, tuan caesaar sudah tidak bernapas lagi, jantungnya tidak berdenyut lagi, dan dokter beberapa kali memastikan kepada lexia bahwa tuan Caesaar betul-betul telah pergi.
Mereka semua menangisi kepergian Tuan Caesaar, tampak tuan robert berdiri sambil memegang cucunya yang bulat yang berusia 6 tahun, mereka semua hadir di pemakaman tanpa terkecuali.
~
Lexia masih betah berada di kamar ayahnya, dia mengunci pintu sambil menangis seorang diri di dalam. Daren beberapa kali mengetuk pintu kamarnya, tetapi xaphier menahan daren agar membiarkan lexia untuk sementara.
Setelah puas menangis, lexia keluar dari kamar ayahnya dan segera membersihkan dirinya, setelah itu mereka semua berkumpul di meja makan.
"Kau tidak apa-apa sayang?" Ucap daren menatap mata lexia yang masih bengkak.
"Aku sudah tidak apa-apa." Jawabnya. Lexia mencoba kuat dan menerima kepergian ayahnya.
Mereka semua makan malam tanpa percakapan yang berarti, tiba-tiba thomas datang, dia membungkuk sebentar dan menyampaikan informasi penting kepada mereka semua, saat mereka semua telah selesai makan.
"Ada apa thomas?" Ucap Xaphier.
Mereka semua saling memandang dan akhirnya mengikuti ucapan thomas dan berkumpul di ruang keluarga yang bersampingan dengan ruang makan.
Seorang pria tua sudah menunggu mereka semua, dia berdehem dan memperbaiki kacamatanya, dia terlihat sibuk mengambil kertas dari dalam tasnya, setelah semua keluarga tuan Caesaar hadir, pengacara itu mulai membacakan surat wasiat tuan Caesaar.
"Selamat malam tuan dan nyonya, aku di sini sebagai pengacara tuan Caesaar akan membacakan wasiat terakhirnya, saya yakin tuan Caesaar sudah membagikan keseluruhannya kepada putra dan putri sampai kepada cucu-cucunya."
"Ya Mr. gregory, ayah sudah melakukannya bahkan sebelum dia sakit." Ucap Xaphier.
"Iya, itu benar sekali tuan, tetapi akan ada tiga permintaan tuan caesaar kepada kalian semua untuk terakhir kalinya, dan hal itu harus saya bacakan kepada kalian."
"Yang pertama, tuan caesaar menginginkan agar tuan Xaphierlah yang akan menggantikan posisi tuan Caesaar." Semua orang menatap ke arah xaphier, tentu saja semuanya tidak akan heran, karena selama ini xaphierlah yang mengerjakan segala urusan ayahnya.
"Yang kedua, Nyonya lexia sewaktu-waktu bisa menggantikan tuan Xaphier, jika tuan xaphier tidak bisa mengerjakannya atau ada sesuatu hal yang menghalanginya mengerjakan tugas-tugasnya sebagai pemegang posisi tuan caesaar." Ucapnya lagi. Mereka semua mengangguk menyetujui.
"Dan yang ketiga, saya tidak bisa mengatakannya sekarang, akan tiba saatnya, saya akan membacakannya kepada anda semua."
Semuanya terlihat terkejut dan penasaran, mereka saling menatap, "Apa kira-kira wasiat yang ketiga dari kakek?" Tanya daneil.
Hanya lexia yang tampak tenang, lexia tahu apa isi wasiat ayahnya yang terakhir, hanya dia yang tahu, dan dia sudah berjanji kepada ayahnya agar merahasiakannya dan tentu saja akan melaksanakn wasiat terakhir ayahnya.
~
Hanna sedang mengusap kepala putranya, dia tadi bermimpi buruk dan menggumam-gumam dalam tidurnya, setelah darko tenang kembali, dia mengecupnya lalu keluar dari kamar darko.
Hanna kembali ke kamarnya dan melihat dazon duduk di sofa yang menghadap ke arah jendela dengan pemandangan malam yang gelap, sambil menyesap minuman di tangannya, dia terlihat khawatir, entah apa yang dipikurkan olehnya.
"Kau baik-baik saja sayang?" Tanya hanna, lalu duduk di sampingnya, dia mengambil botol wine dan menambah minuman dazon di dalam gelasnya.
Dazon tersenyum kepada hanna, "Aku baik-baik saja, aku hanya memikirkan putra kita, apa kau pernah menemukan tanda-tanda aneh dari darko?"
"Tanda apa? Maksudmu perubahan darko? Tidak ada, putra kita baik-baik saja sayang, memangnya kenapa?" Ucap hanna khawatir.
"Kau ingat apa yang diucapkan oleh prof Vandash? Selama tidak ada yang memicu mental darko, maka putra kita akan baik-baik saja, aku takut seiring darko tumbuh, dia harus menghadapi lingkungan sosial di sekitarnya, apakah dia akan sanggup menghadapinya? Apakah dia bisa menerima bahwa suatu hari nanti dia akan menghadapi sakit hati, pengkhianatan, dan tidak semua orang di dunia ini adalah orang baik seperti orang-orang yang berada di dalam mansion yang menyayanginya, karena di luar sana, tidak seperti apa yang terjadi di dalam mansion, kita pun terlalu protektif kepadanya." Ucap dazon.
"Sayang lihat aku, darko masih berusia 5 tahun, dia masih sangat kecil, dan aku tidak akan membiarkan putraku mengalami apa yang barusan kau katakan, dazon, aku akan melindunginya dari apapun itu."
Dazon menggeleng, "tidak sayang, mungkin sekarang kita tentu saja akan melindungi putra kita dari orang-orang jahat di luar sana, tetapi suatu hari nanti kita tidak akan mungkin melindungi dirinya untuk selamanya, dia harus menghadapi lingkungan sosial seorang diri, dan melindungi dirinya sendiri."
__ADS_1
"Sudahlah dazon, aku takut jika kau berbicara mengenai masa depan, aku takut jika hal buruk terjadi kepada darko, yang akan aku lakukan sekarang adalah selama aku masih hidup, tidak akan kubiarkan darko disakiti oleh siapapun juga." Ucap hanna tegas.
~
Mansion megah dan mewah yang berdiri cukup jauh dari lingkungan ramai masyarakat, menjadi pusat perhatian orang-orang, kadang kala ada yang berani untuk sekedar berfoto di depan mansion itu, dan pengawal akan mengusir mereka.
Salah satu truck mini berwarna biru yang membawa pasokan makanan, sedang menuju ke mansion. Truck biru itu terlihat sangat akrab dengan jalanan yang di laluinya.
"Apa kau sudah pernah masuk ke dalam istana itu?" Ucap salah seorang pria yang duduk di samping seorang pria paruh baya yang menyetir di sebelahnya.
"Ya, aku kadang masuk ke dalam dua minggu sekali untuk mengantar pasokan di mansion mewah itu, kenapa?" Tanya pria tua itu.
"Tidak, aku hanya membayangkan siapa pemilik mansion megah itu dan apakah akan ada putri cantik di dalamnya." Ucap pria itu sambil mendengus dan terkekeh. "Pasti ada kan, setidaknya pelayan-pelayan yang cantik dan seksi bekerja di sana." ucap pria itu dengan seringai menyebalkan.
"Ya, kau benar, ketika pertama kali aku masuk ke dalam mansion, aku juga sempat terheran-heran, bukan karena tempat itu yang besar dan megah, siapapun bisa melihat kemewahan di tempat itu, tetapi pelayan di sana juga sangat terawat dan cantik-cantik." Ucapnya.
"Benarkah?" Ucap pria itu sambil menyeringai, seperti dia akan mendapatkan hadiah besar dengan mendengar informasi ini.
"Jangan pernah mencoba apa yang sekarang kau pikirkan di kepala kotormu itu Rob, pengamanan di sana tidak main-main, sangat ketat, kau bahkan tidak bisa bergerak banyak, setelah mengantar kita langsung pergi, jangan berani berbuat macam-macam."
"Okey, okey, mana mungkin aku berani melakukannya, tenang saja, pekerjaan ini saja sungguh sulit kudapatkan." Ujar pria itu, wajahnya menyeringai senang tatkala mobil telah masuk ke dalam pintu gerbang.
Para pengawal memeriksa mereka sesuai dengan protokol standar keamanan yang sudah di tetapkan di mansion, pengawal mulai memeriksa dua pengemudi truck mini itu, begitupun apa yang mereka bawa dengan cermat, serta ID card mereka, ketika merasa mereka aman, pengawal lalu membuka gerbang dan membiarkan mobil pasokan makanan itu masuk.
Pria itu menatap kagum ketika mobil sudah masuk lalu menuju ke pelataran parkiran dan menatap bangunan megah dan mewah seakan dia merasa di negara lain, mobil mereka langsung saja melaju ke bagian belakang menuju dapur.
"Wah hebat." Gumam pria di sebelahnya.
"Sst, jangan berisik." Tegur pria tua itu.
Pria itu keluar dari mobil dan segera menurunkan barang-barang, tetapi tatapannya tidak pernah lepas dari sekelilingnya, seakan dia bisa melihat dollar di mana-mana.
Seorang pelayan keluar untuk memeriksa kebutuhan makanan yang telah datang. "Apakah ini sudah semuanya?" Tanya wanita itu sambil memegang kertas catatan dan memeriksa satu persatu.
"Iya nyonya, ini sudah semuanya."
Pria itu merasa beruntung karena di bagian belakang dapur tidak satupun penjaga ada di sana.
"Apanya yang ketat, di mana para pengawal itu atau ini hari keberuntunganku?" Pria itu terus menatap kurang ajar kepada pelayan yang mencatat, hingga membuat pelayan risih dan mundur beberapa langkah.
"Sudah selesai, ayo kita pergi." Ucap pria tua itu. Tetapi pria yang satunya tidak beranjak dari tempat berdirinya, seperti dia akan kehilangan kesempatan jika dia tidak sedikit saja mengganggu wanita itu, tiba-tiba saja dia memegang tangannya dan menggenggamnya erat.
"Apa yang kau lakukan lepaskan tanganku." Teriak wanita itu.
"Bagaimana kalau kita bermain setelah kau selesai bekerja?" ucapnya dengan pandangan penuh nafsu di wajahnya.
Pria tua itu menarik tangan pria itu. "Apa yang kau lakukan Rob, kenapa kau membuat masalah, lepaskan dia."
Pria tua itu berusaha melepaskan tangan pria bernama Rob, tetapi kekuatannya tidak sebanding, bahkan dia didorong hingga terjatuh, dia terus memegang tangan pelayan itu bahkan mengusapnya, pelayan itu terus berusaha melepaskan tangannya, tiba-tiba suara anak kecil tertawa di dekat kakinya, dia berlari melewati mereka, membuat pria itu mengalihkan perhatiannya, dia lalu tiba-tiba berteriak keras dan melepaskan tangannya kepada pelayan itu.
Tiba-tiba saja darah mengucur dari kedua kaki pria itu, dia lalu berlutut karena tidak sanggup menopang kakinya yang mengeluarkan banyak darah, matanya memindai tempat itu dan melihat seorang anak kecil sambil tertawa imut memegang pisau di tangannya dan tertawa kepadanya sambil melambai, dia lalu menjulurkan lidahnya dan kembali berlari dan bermain.
Para pengawal berdatangan, darah sudah merembes di lantai, pria itu mengerang kesakitan, mereka semua bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi pelayan itu mengaku dia tidak melakukan apapun, begitupun pria tua itu, dia hanya bercerita sesuai kejadian yang terjadi, dia begitu menyesal memperkerjakannya, baru kali ini dia mendapatkan masalah.
Loue datang bersama pengawal lainnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi." Tanyanya.
"Pria itu menggangguku dan dia mendorong pak net yang biasanya mengantarkan pasokan makanan, tetapi pria itu tiba-tiba berteriak keras dan terjadi begitu saja, darah keluar dari kaki pria mesum itu." Ucap sang pelayan tanpa memperlihatkan wajah kasihan sama sekali.
"Periksa cctv." Perintah loue.
"Baik tuan."
~
"Kubur, ayo kita kubur, jangan sampai terlihat."
Senandung itu terdengar dari balik pohon yang berada di tengah-tengah hutan, setelah mengubur pisau yang dikenakannya tadi, dia lalu berlari ketika mendengar ibunya memanggilnya.
"Darko, darko sayang, kau ada di mana." Teriak hanna, suara kekehan terdengar dari balik pohon.
"Mommy, aku ada di sini." Teriak darko, dia kembali memeluk putra kecilnya dan menggendongnya.
"Jangan pergi ke taman seorang diri darko, kau tahu bagaimana luasnya taman ini? Ibu saja bisa tersesat sayang." Ucap hanna.
"Darko hanya bermain-main dan mengubur barang bukti, mommy."
"Barang bukti apa?"
"Bukan sesuatu yang penting mommy,"
"Oh ya? Kalau begitu saatnya mandi sayang, lihat saja bajumu di penuhi tanah dari taman." Ucap hanna sambil mengecup pipi putranya. Suara kecilnya yang tertawa-tawa terdengar menggemaskan, matanya menatap ke arah taman yang rindang dan dia tersenyum manis.
__ADS_1
"Darko, putra dazon dan hanna, aku ingin kau mengawasi cicitku itu."
"Aku ingin kau mengawasinya, anak itu begitu pintar, lucu dan juga...cerdik, licik dan kejam, dan kau tidak akan menyangka apa yang bisa di perbuatnya."