The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Tekad Alvin 4


__ADS_3

Kota Wilton, kota kecil di sudut Manhattan


Setelah lelah berkendara, mereka berdua mencari penginapan untuk melepaskan lelah setelah seharian berkendara menjauhi Sebastian dan pengawal-pengawal suruhan ayahnya. Jam 9 malam akhirnya Alvin menemukan satu penginapan untuk mereka berdua, villa kecil disudut kota Wilton yang di sediakan bagi pengendara yang melintas dan mencari penginapan nyaman untuk melepaskan lelah, setelah mereka memesan villa khusus untuk mereka berdua, Alvin membawa lovelia ke penginapan itu.


Villa yang terlihat nyaman itu di dominasi dengan kayu berwarna coklat kehitaman dan memberikan wewangian yang sangat alami, baunya memiliki ciri khas tersendiri, bangunannya sangat unik, dan terlihat rapi berjejer dalam bentuk bangunan yang sama.


Mereka berdua masuk dan melihat di sekeliling isi penginapan, meskipun tidak besar tapi lovelia menyukainya, ruang tamu, satu kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Lovelia memeriksa semua tempat di dalam villa itu, untung saja mereka membeli makanan di jalan Sebelum memesan penginapan ini, jadi mereka berdua bisa makan malam bersama.


Lovelia memanaskan dua burritos di microwave lalu membuat dua cangkir teh untuknya dan Alvin. Alvin mengecek ponselnya dan melihat banyaknya panggilan telepon dari ayahnya, dia segera menonaktifkan ponselnya lalu menyimpannya di jaketnya.


Lovelia membawa makanan mereka berdua dan menaruhnya di atas meja.


"Alvin ayo kita makan." Ucap lovelia melihat Alvin masih berdiri di depan pintu, dia berbalik kemudian masuk ke dalam penginapan itu. Mereka berdua akhirnya menikmati makan malam sederhana. Lovelia mengintip kepada Alvin sembunyi-sembunyi hatinya terasa hangat, jantungnya berdetak karena semua yang di harapkannya terkabul, orang yang dicintainya Ada tepat di depan matanya.


Setelah mereka makan malam Alvin dan lovelia duduk di ruang tamu, Alvin berpikir sebentar terlihat seperti merenung. Apakah bijak membiarkan lovelia mengetahui latar belakang dirinya yang sebenarnya? Dia pasti akan sangat sedih menerima semua kebenaran itu, tetapi semakin cepat dia mengetahui mengenai dirinya maka semakin cepat mereka bisa bersama tanpa harus ditutupi lagi.


"Ada apa Alvin kau terlihat bingung?" Tanya lovelia melihat Alvin seperti sedang memikirkan sesuatu yang penting.


"Lovelia, kau percaya padaku bukan?" Tanyanya. Lovelia mengangguk pelan kepada Alvin yang duduk di sampingnya. Dia menegakkan punggungnya lalu duduk menghadap lovelia. "Apa yang kuucapkan ini mungkin akan sangat melukai hatimu lovelia, tetapi aku tidak mungkin menyembunyikan ini terus-menerus kepadamu." Ucap Alvin dengan sungguh-sungguh.


"Lovelia, aku..aku bukan pamanmu." Wajah lovelia terlihat mengernyit, dia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Alvin.


"Kau mengerti maksudku bukan? Aku bukan pamanmu yang artinya kau bukan putri dan kakakku jack Robert dan Barbara Burchard." Ucap Alvin dengan suara serak. Lovelia terkejut, kedua matanya bergoyang menatap wajah Alvin seakan kata-katanya hanya lelucon.


"Apa maksudmu Alvin, aku bukan putri dari ayahku dan ibuku? Aku tidak mengerti." Bisik lovelia pelan. Alvin menatapnya lalu mengambil kedua tangannya dan menggenggamnya erat. "Saat kau masih bayi Barbara mengambilmu dari panti asuhan saat itu usiamu baru 2 bulan, lalu mereka mengasuhmu." Ucap Alvin menatap Lovelia dengan wajah memerah, lovelia kemudian menggelengkan kepalanya.


"Alvin kau bohong bukan? Ibu sangat menyayangiku, dia merawatku dengan baik sewaktu aku masih sakit dahulu, mengapa dia mesti repot-repot memeliharaku yang sakit-sakitan jika aku bukan anak kandungnya." Ucap lovelia air matanya sudah mengalir di pipinya.


Alvin membawa lovelia ke dalam pelukannya, dia memeluk lovelia dan menepuk punggungnya. "Itulah mengapa kakek ingin bertemu denganku? Apa karena aku bukan cucunya." Lovelia begitu sedih air matanya terus mengalir, dia menggenggam baju Alvin erat dan menangis tersedu-sedu. Alvin mengangkat wajah lovelia menghadapnya lalu menghapus air matanya.


"Kau tidak sendirian, ada aku yang selalu bersamamu." Bisik Alvin, dia memberikan kecupan di dahi, hidung dan terakhir di bibir lovelia.


Lovelia terkejut, dia tidak menyangka Alvin menciumnya. Wajahnya memerah dan tertunduk, baru kali ini dia merasakan ciuman dari seorang pria. "Alvin? Aku...aku mencintaimu." Ucap lovelia terus terang.


"Aku tahu lovelia dan aku juga mencintaimu." Bisik Alvin, membuat lovelia membelalakkan matanya yang hijau dia tidak menyangka Alvin juga merasakan perasaan yang sama kepadanya.


"Be..benarkah? kupikir hanya aku saja yang merasakan perasaan seperti ini kepadamu Alvin." ucap lovelia. Alvin tersenyum dan mendekapnya erat. "Tanpa aku sadari Perasaanku tumbuh kepadamu begitu saja lovelia." ucapnya.


Alvin memberikan ciuman panjang kepada lovelia hingga mereka lupa waktu, tubuh lovelia menerima Alvin begitu saja, mereka saling memagut dan mencecap, larut dalam melepaskan emosi mereka masing-masing. Alvin mengangkat lovelia membawanya ke dalam satu kamar yang kosong tanpa melepaskan ciuman mereka. Malam itu juga Alvin mengklaim tubuh lovelia, mereka larut dalam percintaan mereka yang panas tanpa memikirkan masalah yang akan datang menerpa mereka berdua.

__ADS_1


~


Kediaman Caesaar, 01.15 Oklahoma city.


Nara sudah tidur terlelap, ruangan itu gelap hanya penerangan dari kaca jendela yang memberikan sedikit cahaya, Xaphier baru saja pulang dari kantor setelah menyelesaikan pekerjaannya juga bertemu dengan pengacara ayahnya, dia masuk ke dalam kamar dan segera melepaskan jas dan dasinya, dia membuka kemejanya dan segera mengambil air di dalam kulkas lalu meneguknya, Xaphier duduk di sofa dan menatap Nara dalam kegelapan, dia sudah terlelap sejak tadi.


Xaphier mengambil handuk dan membersihkan dirinya agar segar kembali, tubuhnya lengket seharian bekerja, setelah beberapa lama di kamar mandi akhirnya dia keluar dengan handuk kecil menggantung di pinggulnya. Tatapan matanya masih terpaku pada sosok wanita yang begitu dirindukannya. Entah sejak kapan Xaphier memikirkan Nara ketika dia sedang bekerja tiba-tiba saja wajah pucat dan bibir merekah Nara hadir di kepala Xaphier, hingga kadang dia menggelengkan kepalanya agar tidak langsung berpikir untuk pulang dan menyerang Nara hari itu juga.


Xaphier menghembuskan napasnya, dia mengenakan boxernya lalu naik ke atas tempat tidur lalu menarik tubuh Nara agar mendekat kepadanya, dia memeluknya erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nara dan merasakan hangat tubuhnya membungkus dirinya. Meskipun denyutan terasa di bawah sana tetapi Xaphier menahannya. Xaphier memberikan kecupannya dan segera menutup kedua matanya.


~


"Tuan, sepertinya lovelia di bawa oleh tuan Alvin ketika kami mau menjemputnya. Saat itu Nona Lovelia menyuruhku menunggu agar dia bisa bersiap-siap, tetapi setelah setengah jam kami menunggunya tetapi dia tidak muncul juga akhirnya kami memeriksa cctv melalui monitor mereka dan melihat Tuan Alvin membawa kabur Nona lovelia." Informasi Sebastian membuat Tuan Robert sangat geram, dia memukul meja dengan keras.


"Cari mereka, kalau perlu kerahkan semua orang-orang kita menyusuri kota Manhattan, aku tidak ingin Alvin berbuat bodoh." Ucap tuan Robert.


"Baik tuan."


~


Kediaman Caesaar 08.15 pagi hari


"Lovelia?" Ucap lexia. Tanpa ragu dia mengangkat panggilan teleponnya.


"Halo?"


"Lexia? Syukurlah kau mengangkatnya kupikir aku sudah mengganggu kalian sepagi ini." Ucap lovelia dengan suara ceria.


"Paman masih tidur?" Tanyanya.


"Iya, kau mau bicara? Aku akan membangunkannya." Ucap lexia menatap daren yang masih terlelap.


"Tidak usah, aku hanya ingin menyampaikan kepadanya, bahwa aku baik-baik saja dan katakan padanya ini pilihanku dan aku sangat bahagia."


Ucapan lovelia membuat lexia mengernyitkan dahinya.


"Kau baik-baik saja lovelia? Kau dimana?" Tanyanya.


"Aku baik-baik saja lexia, aku..aku sekarang bersama Alvin, jika saja tuan Robert mencariku katakan padanya kalian tidak tahu menahu tentangku dan Alvin, kumohon lexia katakan kepada paman jangan mencariku aku baik-baik saja bersama orang yang kucintai."

__ADS_1


Ucapnya, telepon dari lovelia seketika putus. Lexia membelalakkan matanya.


"Halo, lovelia?" Dia memandang ponsel Daren.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ucapan Lovelia Seakan-akan dia akan pergi jauh dan tidak akan kembali?" Bisik lexia, tanpa ragu lexia membangunkan suaminya yang masih tidur di samping putranya Ax dengan posisi tidur yang sama.


"Daren? Bangun." Ucap lexia menggoyangkan tubuh Daren.


"Hemm, Ada apa sayang, aku masih ngantuk."


"Bangun, ada yang ingin kuceritakan kepadamu." Bisik lexia, dia mengecilkan suaranya agar putranya tidak tergganggu tidurnya.


Daren akhirnya membuka kedua matanya, dia lalu tersenyum melihat lexia, Daren lalu menghirup wangi dari tubuhnya yang segar sehabis mandi. Daren menangkap tubuh lexia dan membawanya kepelukannya.


"Ini wangi favoritku, sekarang kau tidak bisa lepas, kau sudah membangunkanku sayang." Ucap Daren Sambil menggerakkan tubuhnya memeluk erat lexia.


"Ugh, Daren lepas, ada berita penting yang ingin kusampaikan." Ucap lexia lalu mencubit tangan Daren yang mulai menjelajahi tubuh lexia.


"Sebentar, aku ingin ketempat favoritku dulu, kau bisa memberitahuku ketika kita sudah selesai." Bisiknya. Lexia mengerang merasakan Daren menghentakkan pinggulnya dan dia mulai bergerak perlahan. Lexia mengerang. "Awas saja kalau ini selesai Daren." Gumam lexia sambil menahan desahannya.


~


"Apa kau bilang, Lovelia kabur bersama Alvin?" Ucap Daren sehabis mandi. Lexia melilitkan tubuhnya dengan handuk lalu duduk dengan menyipitkan matanya kepada Daren. "Kapan dia meneleponmu?" Tanyanya.


"Pagi ini." Ucap lexia lalu berdiri dari tempat tidur dan menyisir rambutnya yang kusut di depan cermin.


"Kenapa kau tidak membangunkanku lexia." Ucapnya. Lexia melemparkan handuknya kepada Daren.


"Aku ingin memberitahumu tetapi kau terlalu sibuk menggerakkan tubuhmu." Ucap lexia marah." Dia masih menyisir rambutnya yang awut-awutan sehabis bercinta bersama Daren.


Daren menghampirinya lalu memberikan kecupan di kepalanya. "Jangan salahkan aku sayang kau terlalu wangi untuk dibiarkan begitu saja." Bisiknya.


Daren lalu menghubungi ponsel lovelia tetapi tidak aktif begitupun dengan ponsel Alvin. "Apa yang dipikirkan Alvin mengapa dia membawa kabur lovelia? Aku akan menghubungi tuan Robert dan...


"Jangan daren, kau tahu apa yang diucapkan lovelia? Katanya dia sangat bahagia bersama Alvin, dan jangan mencarinya. Saya yakin tuan Robert akan segera menghubungimu Sebentar lagi." Ucap lexia yakin.


"Tapi...!" ucap daren, tatapan mata lexia membuat Daren menyimpan kembali ponselnya di atas meja.


Baiklah sayang, tetapi tetap saja mereka tidak bisa bersama, apa sebenarnya yang dipikirkan Alvin?" Ucap Daren.

__ADS_1


__ADS_2