
Mansion Caesaar
"Apa kau sudah menemukannya?"
"Ya sir, kami sudah menemukan nomor plat mobil yang terparkir tidak jauh dari tembok mansion kemarin."
"Oh ya? Jadi siapa pemilik mobil itu?" Tanya Thomas.
"Kami sudah memeriksanya sir, tetapi mobil itu milik seorang wanita bernama Janer Rosh, dia berusia 65 tahun sir."
"Benarkah? Apa ada yang mencurigakan dari wanita itu?"
"Tidak sir, wanita itu telah wafat dan mobil itu telah menjadi milik orang lain, sepertinya wanita itu menjual mobilnya dengan harga murah di tempat penjualan mobil bekas."
"Kau sudah memeriksa siapa yang membeli mobil itu?"
"Kami tidak menemukan orang yang membelinya, tidak ada identitas sama sekali."
Thomas berdiri dari tempat duduknya, "Mencurigakan, kenapa tidak ada identitas orang yang membeli mobil itu?" Tanyanya kepada pengawal yang memberikan laporan kepadanya.
"Jika tidak ada identitas yang di berikan, biasanya mereka akan membayar mahal mobil bekas itu."
"Kalau begitu kalian lacak mobil itu."
"Baik tuan."
Thomas berjalan menuju mansion, setiap kali ada laporan yang masuk, dia harus segera memberikan informasi kepada tuannya.
~
"Dia pergi? Hanna membawa pergi Darko dengannya?" Ucap Daneil terkejut. Dia memijat kepalanya. "Waktu itu aku terlalu emosi di ruangan Dazon, mungkin saja Hanna mendengarkan pembicaraan kami, aku tidak menyangka Hanna dan putranya meninggalkan mansion."
"Aku sudah tanya kepada junior, dia bilang, mereka hanya main pedang-pedangan, saat itu Darko yang menjadi bajak lautnya dan junior sebagai pemilik kapal, aku sudah bertanya kepada junior, tentang Darko yang membuatnya jatuh dan mendorongnya dengan sengaja." Wajah jennifer terlihat gelisah, dia meremas-remas kedua tangannya.
"Apa yang dikatakan junior?" Tanya daneil yang masih duduk di ruangannya sambil menatap jennifer dan memijat keningnya.
"Junior yang menyuruh Darko untuk mendorongnya, agar akting mereka terlihat keren." Begitu kata junior.
"Ck sial, lain kali larang anak-anak itu main bajak laut lagi, semua menjadi salah paham gara-gara permainan mereka berdua." Ucap Daneil.
"Jadi, kita harus bagaimana Niel, apa kita harus menjelaskan kepada Dazon yang sebenarnya? Mereka hanya bermain-main bajak laut konyol itu sampai-sampai kita serius menanggapinya dan menyalahkan Darko."
"Jangan memberitahu Dazon, nanti dia lebih merasa bersalah lagi kalau mendengar penjelasan kita, aku mendengar dari Ax kalau saat ini Dazon sangat frustasi, dia seperti orang gila mencari Hanna dan Darko tanpa tahu arah dan tujuannya, dia mengelilingi kota setiap hari sampai tengah malam."
"Apa sebaiknya kita ke mansion? Aku juga sangat mengkhawatirkan Hanna." Ucap jennifer.
"Sebaiknya jangan sayang, lebih baik kita memerintahkan pengawal-pengawal kita untuk mencari keberadaan Hanna dan Darko, di mansion sudah cukup memusingkan, aku tidak ingin menambah beban Dazon dengan kedatangan kita."
~
Udara di pagi hari sangat segar terasa, kabut menyertai pagi itu di hutan, langit kelabu tertutupi awan yang mendung, sejak musim dingin tiba, udara lebih sangat dingin meskipun salju belum turun sama sekali.
Hanna melihat jam di atas meja, sudah pukul 7 pagi, dia segera bangun dan berbalik mencari putranya, dia masih tertidur lelap, Hanna menarik selimut dari kaki darko yang sedikit lagi terjatuh di lantai, Hanna menarik lalu menyelimutinya, meskipun mereka menggunakan penghangat ruangan, tetapi kamar itu masih terasa dingin. Hanna mengenakan kimono tidurnya dan segera turun ke lantai bawah.
Matanya tiba-tiba terbelalak, di atas meja makanan terlihat tersaji sandwich dan dua gelas susu, dia kemudian menatap secarik kertas yang sengaja di tinggalkan di sana, Hanna kemudian membacanya.
"Makanlah selagi masih hangat, semalam aku datang, aku sudah membuat sarapan untuk kalian berdua," riel.
__ADS_1
"Riel? Dia ada disini? Kenapa dia bisa tahu aku ada tempat ini?" Ucap Hanna, matanya beralih kepada makanan dan susu yang terlihat masih panas.
"Kenapa dia pergi, seharusnya kita bisa sarapan bersama." Ucap Hanna. Karena Darko masih belum bangun, Hanna sarapan seorang diri di meja makan dekat dapur, hari ini dia berencana untuk bersih-bersih, semua ruangan harus di bersihkan, setelah itu taman di depan yang di tumbuhi rumput-rumput liar dan sulur-sulur yang hampir menutupi dinding rumah, harus juga segera di singkirkan, agar tempat tinggal mereka terlihat nyaman dan orang-orang desa dapat mengetahui keberadaan mereka yang sudah menempati villa itu.
Suara tapak kaki terdengar dari arah tangga kayu, "Mommy dimana?" Ucap darko mencari ibunya sambil mengucek kedua matanya.
"Di sini sayang, kemarilah kita sarapan bersama." Darko berjalan lambat masih sambil menguap, dia duduk di kursi tinggi di depan ibunya. "Mommy aku bermimpi buruk, karena ketakutan, Darko bangun dari tempat tidur dan keluar dari kamar." Ucapnya sambil meniup-niup susu yang mengepul di hadapannya.
"Mimpi apa sayang? Kenapa kau berlari."
Hanna memperhatikan wajah putranya dengan seksama, sambil mendengarkan ceritanya.
"Seorang paman jelek berjenggot berdiri di sampingku, dia seperti memelototiku mommy, untung saja aku bangun dan berlari dari kamar."
Hanna terkejut, dengan cepat dia menuju ke kamarnya dan mencari keberadaan pria yang dimaksudkan oleh Darko, apakah dia Riel? Tetapi dia sudah pergi setelah selesai membuat sarapan. Hanna menelan ludahnya, Hanna tahu, kadang riel sangat sadar dan mengetahui siapa dirinya, dia juga kadang bisa menjadi seorang pembunuh yang menyeramkan, apa paman yang dimaksudkan Darko itu, Riel? Atau Darko hanya bermimpi saja?
Hanna segera turun dari tangga lalu segera menuju ke dapur, tampak Darko makan dengan perlahan seorang diri, Hanna menatap ruangan di sekelilingnya, tidak ada yang aneh dan tidak ada jejak orang lain di dalam villanya.
"Sayang, tadi kau bermimpi bukan?" Tanya Hanna.
"Ya mommy, Darko hanya bermimpi koq." Ucap Darko sambil tersenyum, Hanna mengambil napas lega, dia tahu di sekitar rumahnya tampak di penuhi pepohonan, villanya itu berada di dekat pohon-pohon yang lebat, meskipun begitu jalan menuju desa tidak begitu jauh dari villanya, dan jalan raya juga sangat mudah di akses, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pikir Hanna.
Saat itu terdengar angin berdesir sejuk dan dingin, hingga menggoyangkan pepohonan lebat di dalam hutan, kabut tipis yang memenuhi hutan itu, tidak menghalangi langkah kaki yang sedang berjalan, dia telah meninggalkan tubuh seorang pria berjanggut dan berperawakan mengerikan, dia meninggalkan tubuh itu di sana, sebelum dia pergi, Riel kemudian berbalik menatap pria yang terbaring di tanah dingin itu.
"Jangan pernah mengganggu mereka, sekarang kau bernasib sial karena bertemu denganku, pria gila ini mencoba menyelinap dan masuk ke villa Hanna, dia bahkan menunjukkan wajahnya kepada Darko, jika kau beruntung mungkin akan ada serigala yang membawa tubuhmu." Gumam Riel.
Riel kembali melangkah, dia menatap dari jarak cukup dekat Villa kecil bercat putih yang atapnya di tumbuhi sulur-sulur panjang, Riel kemudian duduk dan menyandarkan dirinya di pohon kokoh, sambil menjaga dan menatap dari kejauhan Hanna dan Darko yang sedang membersihkan halaman Villanya sambil mendengarkan percakapan mereka berdua.
~
Setelah mendengarkan penjelasan Thomas mengenai mobil aneh dan sudah mengetahui nomor plat mobil SUV itu, dia merasa yakin, bahwa Hannalah pemilik mobil hitam itu.
"Sudah sir, tetapi ada yang aneh, mobil itu masih berada di dalam kota Atlanta, seharusnya mobil itu sudah berada di luar kota Atlanta." Ucapnya.
"Bisa saja Hanna masih berada di dalam kota ini, dia mungkin bersembunyi di salah satu hotel." Ucap Ax.
"Itu tidak mungkin tuan, kami sudah memegang semua informasi di dalam kota ini, dan semua jaringan sudah kami sebar untuk mencari Nyonya Hanna, bahkan semua cctv di kota ini jaringannya sudah kami hubungkan di sistem mansion, jika Nyonya bergerak sedikit saja, dia pasti akan terlacak dengan cepat." Ucap Thomas.
"Jadi bagaimana Thomas, apa kau sudah mendapatkan informasi lain dari pengawal-pengawal yang kau sudah sebar di kota ini." Tanya Ax.
"Menurut saya, Nyonya Hanna mengganti mobilnya ketika masih berada di dalam kota, Nyonya Hanna sengaja mengganti mobilnya, karena mobil itu sudah terlalu lama terparkir di dekat mansion, dia khawatir jika pengawal atau siapa saja bisa menandai mobil yang akan di gunakannya, Nyonya Hanna sudah memperhitungkan segalanya." Ucap Thomas.
Dazon sama sekali tidak menanggapi laporan Thomas, setelah mendengar laporan dari Thomas, dia segera berdiri dan mengambil jaketnya. "Aku pergi, hubungi aku jika kau mendapatkan tanda-tanda keberadaan Hanna." Ucap Dazon, hanya dalam sehari di sekitar wajahnya sudah di tumbuhi janggut, lingkaran di bawah matanya pun terlihat jelas.
"Kau akan kemana Daz." Ucap Ax berdiri.
"Aku akan mencari di semua tempat, di mana saja, aku tidak bisa diam seperti ini dan hanya menunggu informasi." Ucap Dazon.
"Kita akan mencarinya bersama Daz, aku yang akan menyetir, jadi kau bisa beristirahat selama di perjalanan, aku tahu semalam kau tidak pernah tidur." Ucap Ax. Dazon mengangguk menyetujui permintaan Ax.
"Jangan lupa Thom, segera hubungi kami jika kau mendapatkan kabar." Ucap Ax.
"Baik tuan."
~
Hanna menarik sekuat tenaga rumput liar di luar pekarangan villanya, sudah sebahagian tanaman liar yang tumbuh subur itu telah di cabut oleh Hanna, Darko pun ikut membantu ibunya mencabuti rumput-rumput liar, dia bersenandung di dekat ibunya, membuat Hanna tersenyum melihat putranya bersenandung sambil membelakanginya. Dia begitu penasaran, apa yang di senandungkan putra kesayangannya.
__ADS_1
Hanna mendekat pelan dan perlahan, dia ingin mendengar sengan jelas senandung Darko yang sering di ulang-ulangnya.
Dia tergeletak di tanah, dia terlihat menyedihkan, paman berwajah mengerikan itu tergeletak di tanah, paman bermantel berjanji, serigala akan membawa tubuhnya.
Hanna mendekatkan kembali dirinya tepat di belakang Darko, senandung itu tiba-tiba berhenti, Darko perlahan berbalik, dia menatap ibunya yang sedang berjongkok di belakangnya.
"Mommy? Kenapa mommy ada di belakang Darko?" Tanyanya.
Hanna menguraikan wajah cemasnya, dia lalu tersenyum kepada Darko seakan tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
"Darko sayang, apa yang dinyanyikan Darko tadi? Di mana kau mendengar senandung itu sayang?" Ucap Hanna.
Darko mengangkat bahunya, "Begitu saja keluar dari mulut Darko mommy, Darko suka bersenandung." Ucapnya sambi tersenyum.
"Siapa paman yang Darko maksudkan di dalam senandung Darko tadi?"
"Ooh, paman yang membuatku mimpi buruk telah di singkirkan oleh paman bermantel, jadi mommy tidak perlu khawatir." Ucap Darko sambil tertawa.
"Paman bermantel?"
"Apa mommy lupa? Dia paman yang kita temui di hutan, dia selalu berada di sekitar kita mommy, apa mommy tidak merasakan keberadaan paman bermantel itu?"
Hanna menggelengkan kepalanya. "Tidak sayang, dia adalah paman Riel kita."
"Paman Riel? Yaaaa paman itu, mommy. Matanya membulat dengan senang mendengar nama Riel di sebut oleh ibunya.
"Darko bisa merasakan kehadiran paman bermantel itu di sekitar kita, jangan takut mommy, dia sudah melenyapkan orang-orang yang berbuat jahat kepada kita, Darko pun akan melakukan hal yang sama seperti paman, jika orang jahat itu mengganggu mommy." Ucap Darko sambil mengambil rumput itu dengan ceria.
"O..oh ya, Darko akan melindungi mommy?" Ucap Hanna, dia kembali mencabut rumput-rumput itu sambil menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh, dia tidak ingin keluar dari mulut putranya kata-kata mengerikan tanpa belas kasihan seperti itu, terdengar tidak normal dan sangat menakutkan, dia mengucapkan tanpa merasa takut sedikitpun.
"Tentu mommy, Darko akan selalu melindungi mommy." Ucap Darko, dia lalu kembali bersenandung sambil mencabuti rumput-rumput kecil yang bisa di raihnya.
~
Riel mendengarkan percakapan mereka berdua, dia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi prof Vandash. Wajah Hanna terlihat sangat khawatir, tentu saja dia tahu apa yang dikhawatirkan oleh adiknya.
Professor, ini aku Riel, aku punya pertanyaan untukmu."
"Kau dimana Riel?" Suara prof Vandash terdengar khawatir.
"Aku baik-baik saja prof, aku saat ini sadar sepenuhnya."
"Baguslah jika saat ini kondisimu sadar sepenuhnya, kau punya pertanyaan apa Riel."
"Menurut penelitianmu, aku berubah menjadi seorang monster pembunuh saat racun itu memicu emosiku sehingga aku menjadi tidak terkendali."
"Ya, kau benar riel, racun itu akan menguasai darahmu dan dirimu, saat emosimu tidak bisa kau kendalikan, jadi kau harus berusaha tidak terpancing, dan menjaga agar dirimu tetap stabil, bisa dibilang kau masih bisa mengendalikan dirimu dengan menjaga emosimu." Ucap professor Vandash.
"Prof, bagaimana jika seseorang berubah menjadi monster pembunuh tanpa terpancing oleh emosinya, racun itu seperti sudah menyatu dalam dirinya dan menjadi bagian dari dirinya."
Suara prof Vandash tidak terdengar sama sekali, dia terdiam di telepon.
"Prof, kau masih di sana?"
"Jika seseorang seperti itu eksis, sangat berbahaya Riel, bukan lagi racun di tubuh orang itu yang menjadikannya seorang monster pembunuh, tetapi dialah sang monster, dan jika ada orang seperti itu, dia harus segera dilenyapkan secepatnya, jika tidak, secara sadar, dia akan melakukan hal yang mengerikan yang tidak bisa kau bayangkan, kau mengetahui seseorang seperti itu Riel?" Tanyanya.
"Tidak ada prof, aku hanya ingin bertanya saja." Riel langsung menutup teleponnya, matanya kini beralih kepada sosok itu yang sedang mencabut rumput sambil bersenandung, Riel lalu berdiri sambil menatapnya dari kejauhan, tanpa di sangka Darko pun ikut berdiri dan melambai kepadanya. Dia menggoyangkan mulutnya mengucapkan sesuatu, Riel berjalan sedikit mendekat kepadanya.
__ADS_1
"Mau bermain denganku paman Riel? Kali ini Darko yang akan menjadi pemburu paman Riel."
Tangannya terkepal kuat, dia menatap keponakannya dengan sedih, apa yang harus di lakukannya?