The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Xaphier dan Nara


__ADS_3

Tubuh itu terkulai di atas meja bar, sesekali dia bangun dan meneguk kembali minumannya, dia mengetuk-ngetukkan gelasnya kepada bartender agar mengisi gelasnya yang kosong.


"Wanita sialan !" Ucap melda menggumamkan sumpah serapahnya pada lexia. Seorang pria mendekatkan dirinya dan duduk di sebelahnya. Dari tadi wanita paruh baya ini menguasai meja bar seorang diri, mengusir siapa saja yang duduk di sana apalagi seorang wanita, dia hanya meladeni pria-pria apalagi pria muda.


"Nyonya, sebaiknya anda pergi." Ucap pria itu sopan, Melda membalikkan badannya menatap pria tampan bermata biru terang sedang balas memandangnya. Dia menaikkan satu alisnya, merasa mendapat tangkapan baru, dia tersenyum miring dan membusungkan dadanya mendekati pria pemilik club terkenal itu.


"Aku akan pergi jika kau bisa membawaku keluar dari tempat ini tampan." Ucapnya genit. Dia berbicara dengan nada sensual sambil menjilati bibirnya menggoda William yang saling pandang dengan sang bartender, seakan mengatakan siapa wanita gila ini?


"Sebaiknya anda pergi, tamu-tamuku terganggu dengan kehadiran anda." Ucap william mencoba membujuknya masih dengan sapaan yang sopan.


"Siapa namamu tampan, kau tidak jauh berbeda dengan wajah tampannya Daren, kau bisa menemaniku malam ini?" Ucapnya terdengar putus asa. William mengangkat satu alisnya. 'Daren? Wanita ini mengenal Daren?'


"Nyonya sebaiknya anda pergi." Ucapnya mencoba bersikap sopan.


"Nyonya? Kau memanggilku Nyonya?!" Teriak Melda tiba-tiba melemparkan sisa dari minuman yang ada di tangannya ke wajah William. Beberapa pengawal menghampiri William, dia mengangkat satu tangannya agar mereka menjauh.


"Aku baik-baik saja, tapi urus wanita itu, segera bawa dia keluar dari clubku." Bentak William mencoba menahan kemarahannya.


"Baik sir."


Dua pengawal memegang lengan kiri dan kanan Melda yang sudah tidak sadar, tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka dan memapah Melda dan membawanya keluar dari club. Pria latin itu membawanya masuk ke dalam mobil. William melihatnya dari kejauhan, tawa terdengar dari bibirnya. "Bahkan wanita tua pun mengejarmu Daren, lucu sekali." Ucap william sambil membersihkan tubuhnya dengan tisuue.


~


Lexia membuka kedua matanya, dia memicingkan matanya menatap mentari pagi yang menyinari kamarnya, dia mencoba bangun dari tidurnya tetapi dia berjengit dan merasakan sakit di daerah sensitifnya.


"Aww."


Lexia menggerakkan kedua kakinya tetapi tetap saja terasa sakit. Dia menatap tubuhnya yang telanjang, dan menatap kamarnya yang kosong.


"Jam berapa ini?" Ucap lexia mencari-cari jam di atas meja dan di dinding kamar. "Ukh kenapa tubuhku sakit sekali?" Ucapnya, "apa yang terjadi semalam?" ucapnya lagi. Lexia melangkahkan kakinya mencoba berjalan, tiba-tiba dia jatuh terkulai di kaki tempat tidur lalu menatap ketelanjangannya.


"Ck, sial ! Apa yang terjadi padaku?" dengan menarik bad cover dan berpegangan pada sudut tempat tidur, lexia akhirnya bisa berdiri dan segera menuju ke kamar mandi.


Air hangat itu menenangkan tubuh lexia dengan menuangkan aroma terapi di bathub membuat lexia dapat merilekskan tubuh dan pikirannya. Tubuhnya juga tidak terasa sakit lagi dan sedikit demi sedikit sakitnya menghilang. "Apa yang terjadi semalam? Mengapa tubuhku sakit? Ukh aku tidak mengingat apapun tadi malam." Ucap lexia menutup kedua matanya mencoba menenangkan pikirannya.


~


"Benarkah itu? Kau berpikir ada yang menaruh obat perangsang di salah satu cangkir yang kami minum semalam?" Ucap Xaphier sambil menopang dagunya mencoba berpikir sebentar lalu tidak lama kemudian dia memanggil Thomas, kepala pengawalnya melalui ponselnya. Pria dengan rambut cepak bertubuh atletis dengan setelan jas berwarna hitam yang pas ditubuhnya membuka pintu di ruangan itu dan segera masuk, dia sedikit membungkuk ketika berdiri dihadapan Xaphier.


"Berapa pengawal yang kau pecat bulan ini thom?" Tanyanya.


"Saya memecat tujuh orang sir." Jawab Thomas dengan tegas.


"Apakah kau memecatnya semua karena perbuatan Nyonya Melda?" Ucap Xaphier.


"Ya sir, mereka tidak menjalankan tugas mereka dengan baik dan pergi diwaktu jam kerja." Ucapnya lagi.


"Benarkah? Hemm, kalau begitu aku ingin kau memeriksa semua cctv yang ada di mansion ini dan segera laporkan kepadaku jika kau menemukan sesuatu yang janggal." Ucap Xaphier.

__ADS_1


"Baik sir." Dia kemudian pergi dan keluar dari ruangan.


Daren memperhatikan pria bernama Thomas dan segera berbalik menatap Xaphier. "Mengapa Melda tidak menggoda Thomas? Ucap Daren ketika melihat perawakan Thomas meskipun kaku, dia terlihat tampan.


"Ya, dia mencobanya tetapi di tolak mentah-mentah oleh Thomas, dia sangat setia kepada ayah, dan melaporkan semuanya kepadaku ketika Melda mencoba menggodanya." Xaphier meneguk kopinya masih memikirkan laporan Thomas kepadanya.


Lexia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu, dia terlihat begitu cantik, dengan mengenakan jumper dress berwarna putih dan hitam dengan bunga-bunga kecil di bagian roknya yang longgar dan lebar di desain tanpa lengan dan kerah dia terlihat santai dan nyaman.


Lexia menghampiri mereka berdua dan memberikan kecupan selamat pagi kepada Daren dan putranya yang sedang tertidur di box bayi.


Senyuman merekah di wajah Xaphier karena Daren menceritakan bagaimana liarnya lexia semalam akibat obat perangsang itu. "Kau baik-baik saja sayang?" Tanya daren menggenggam tangan lexia yang duduk di sampingnya. Dengan wajah merona lexia mencubit Daren. "Mengapa kau tanyakan itu di depan Xaphier?" Ucap lexia heran.


"Tidak usah malu lexia, Daren sudah menceritakan semuanya tentang kejadian semalam." Ucap Xaphier menuangkan teh kedalam cangkir lexia.


Wajah lexia terlihat melongo dan heran, mengapa Daren menceritakan kegiatan panas mereka semalam kepada Xaphier? Apa dia sudah gila?! Lexia menatap Daren meminta penjelasan.


"Kau tidak ingat bukan apa yang kau lakukan pada Daren semalam?" Tanya Xaphier terkekeh. Lexia menggeleng heran.


"I..iya aku sama sekali tidak mengingatnya, kenapa aku tidak ingat?" Ucapnya.


"Kami juga masih menyelidikinya lexia." Ucap Xaphier. "Tapi aku merasa ini semua ada kaitannya dengan Melda, entahlah tapi ini pikiranku saja, siapa lagi di mansion ini yang memiliki dendam kusumat padamu lexia, mungkin saja minuman itu untuk Daren tetapi ternyata kau yang meminumnya".


Daren bergidik mendengar penjelasan Xaphier, Tiba-tiba dia mengangkat lexia ke pangkuannya dan memeluknya erat. "Tapi aku meminumnya hanya seteguk saja, aku sama sekali tidak menghabiskan minuman itu semalam karena terlalu pahit." Ucap lexia menatap suaminya yang tiba-tiba merengkuhnya dengan erat.


"Obat perangsang itu sangat kuat, meskipun seteguk yang kau minum efeknya sangat besar." Xaphier kemudian menatap jam di pergelangan tangannya.


"Aku memiliki meeting siang ini di Capetown tapi aku akan segera kembali, aku masih menginginkan informasi dari Thomas, sebaiknya kau berhati-hati lexia dan awasi Daren bisa saja wanita itu melakukan hal licik lainnya." Ucap Xaphier kini telah berdiri dan mengenakan jasnya berwarna silver.


Daren bergidik mendengar ucapan Xaphier. Sedangkan Xaphier terkekeh menatap pemandangan keduanya, Daren seakan bersembunyi di belakang lexia dan memeluknya erat.


~


Oklahoma city, Xaphier Penthouse


Nara sedang mandi, dia merasa sedikit aneh karena begitu heningnya tempat mewah ini tidak ada seorangpun yang ada di sini, setelah segar kembali dia mengenakan pakaian lengkap yang harus dia kenakan selama tinggal di penthouse ini, Nara mengenakan wrapp dress berwarna merah di atas lutut, dress klasik yang dilengkapi dengan tali pada bagian pinggang dan diikatkan ke arah belakang badan, dress ini sangat mirip dengan jubah mandi tetapi jenis kain yang digunakan lebih halus dan melekat pas di tubuh Nara. Meskipun Xaphier tidak ada di penthousenya Nara tetap mengenakan dress itu setiap hari kerja.


Setelah mengenakan dressnya, Nara mengikat rambutnya yang panjang sebahu dengan tatanan rambut ekor kuda, setelah merasa telah rapi Nara keluar dari kamar dan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, setelah sarapan dia mulai membaca kembali jadwal-jadwal yang harus di lakukannya setibanya Xaphier di penthousenya.


Pintu itu membuka, Nara bergerak cepat menuju pintu dan melihat kedatangan Xaphier yang telah kembali padahal baru kemarin dia berangkat. Matanya tertuju kepada Nara yang sudah berdiri menyambutnya di sana, kulit putih pucat dengan bibir merah merona, membuat Xaphier tak henti-hentinya menatapnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"A..anda sudah kembali?" Ucap Nara gugup.


Xaphier melepaskan jasnya dan melemparkan begitu saja di atas sofa. "Aku kembali hanya ingin berganti baju, setelah itu aku akan pergi lagi." Ucapnya sambil menuju ke pantry dan mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya. Tatapan matanya masih tertuju kepada Nara yang berdiri mematung tidak jauh darinya.


"Kau sudah membaca jadwalku hari ini?" Tanyanya.


"Erm iya, aku sudah membacanya."


"Dan apa itu?" Tanyanya.

__ADS_1


"Jam 11.00 tepat aku harus menyiapkan makan siang lalu makan bersamamu di meja makan." Jawab Nara.


"Terus..?"


"Aku harus duduk di sampingmu selama kau berada di ruangan kerjamu dan membantumu jika saja kau membutuhkan sesuatu." Ucap Nara berusaha keras mengingat schedule yang baru saja di bacanya.


"Bagus kau mengingatnya."


"Hari ini tidak perlu memasak untukku, aku hanya mandi dan mengganti bajuku setelah itu aku akan pergi lagi." Xaphier berjalan menuju kamarnya tetapi matanya tidak berhenti menatap bibir yang ranum itu, dia sebisa mungkin menahan gejolak yang terbakar di tubuhnya, dia tidak mau gadis itu lari darinya.


Setelah Xaphier masuk ke dalam kamarnya, Nara kembali mengambil napas panjang, dia begitu tegang, dia merasa seakan-akan Xaphier bisa saja menyerangnya kapan saja. "Apa aku harus memasangkan kembali dasinya?" Gumam Nara, wajahnya kembali pucat memikirkan pose yang dilakukannya kemarin ketika memasangkan dasi Xaphier.


Setelah 1 jam yang begitu menyiksa Nara karena menunggu kedatangan Xaphier, akhirnya dia keluar dari kamarnya, dia mengenakan kemejanya berwarna biru tetapi tangannya memegang dasi berwarna biru tua, Nara menelan ludahnya, pikiran itu kembali di benaknya, memasangkan dasi Xaphier dengan pose seperti itu membuat Nara seakan merasa menjadi wanita murahan yang melempar tubuhnya pada pria ini.


"Pasangkan !" perintahnya.


Dengan ragu Nara mengambil dasi biru yang ada di tangan Xaphier. Nara kemudian mengangkat kepalanya dan menatap mata safir tajam yang sedang memandangnya. "Apa kau perlu bantuanku lagi?" ucap Xaphier menaikkan alisnya memandang kembali kegalauan Nara.


"Aku..aku akan mengambil kursi." ucap Nara dia hendak pergi dari hadapan Xaphier tetapi tangannya di tarik oleh Xaphier dan tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan kembali melingkarkan kedua kaki Nara di pinggang Xaphier.


"Kau terlalu lama, aku harus pergi secepatnya Nara." ucap Xaphier, dia puas melihat kegelisahan di wajah pucat nan cantik di hadapannya, dengan bibirnya yang setengah terbuka Nara menggoyangkan pinggulnya menghentakkan ke tubuh Xaphier karena rasa tidak nyaman dengan posenya, gerakan Nara membuat Xaphier berdesis dan segera menjepit kedua kaki Nara agar berhenti bergerak.


"Cepat pasangkan Nara dan jangan bergerak." ucap Xaphier dengan nada memerintah. Nara menahan amarahnya dan rasa malunya, dia dengan cepat memasang dasi di leher Xaphier tetapi tangannya yang gemetar membuatnya tidak berkonsentrasi sehingga dasinya tidak terpasang dengan benar.


"Kau sengaja ya berlama-lama?" ucap Xaphier menarik kaki Nara hingga ia berjengit karena tubuhnya menempel sempurna di pinggang Xaphier.


"Aku..aku tidak..." Xaphier tidak bisa menahannya lagi, dia menurunkan sedikit tubuh Nara dan dengan cepat menciumnya dan memagut bibir ranum itu di bibir Xaphier. Serangan dari Xaphier membuat Nara terlonjak, ini adalah ciuman pertamanya dan xaphier menciumnya begitu intens tanpa memberikan Nara kesempatan untuk mengambil Oksigen.


"Sial !" umpat Xaphier. Bibir Nara menerima begitu saja pagutan Xaphier hingga tubuhnya terpojokkan di dinding, setelah beberapa lama yang membuat Nara panas dingin akhirnya Xaphier melepaskan ciumannya dan menatap wajah gadis yang berusaha mengambil napas dengan wajah merah merona begitupun bibirnya yang setengah terbuka.


"Jangan salahkan aku, kau yang bergerak-gerak di tubuhku Nara." Xaphier melepaskan tengkuk Nara yang di pegangnya, Nara merasa dirinya di rendahkan oleh Xaphier dengan menyalahkan dirinya karena ketidakmampuannya bekerja cepat, dia merasa terpojokkan, dengan menahan air mata yang sebentar lagi mengalir Nara berlari ke kamarnya lalu menutupnya dengan keras.


Nara ingin pergi dari tempat ini tetapi karena terikat kontrak dia tidak bisa pergi begitu saja, meskipun keinginan lari dari sini begitu kuat tetapi pria ini tahu di mana dia tinggal dan hal itu tentu saja menjadi pertimbangan bagi Nara yang tidak mau menyusahkan orang-orang di rumahnya.


Xaphier tersenyum miring, dia sengaja melakukannya, dia ingin gadis itu terbiasa dengan tubuhnya maupun kecupannya, entah sejak kapan dia menginginkan gadis pucat itu, melihat dan merasakan gerakannya saat menggeliat di tubuh Xaphier membuatnya yakin untuk memiliki gadis itu.


~


Wanita itu terbangun dengan pakaian yang sama yang dikenakannya sewaktu di club, tubuhnya berbau minuman keras, dia berusaha bangun dari sisa-sisa kesadarannya, lalu mulai merasakan ketidaknyamanan di tubuhnya. "ugh, sial ! minuman itu seakan menyiksaku, kepalaku sakit sekali." ucap Melda, dia merangkak di atas tempat tidur mencoba mencari bathrobe, dia ingin memakainya dan segera masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan kesadarannya kembali pulih, Melda menekan interkom. "Masuk, aku ingin menanyakan sesuatu." ucapnya. Tidak lama kemudian pria dengan setelan jas hitam masuk dengan wajah latinnya berdiri di depan Melda.


"Kau..kau mengingat kejadian semalam sewaktu di club?" tanyanya.


"Ya, aku mengingatnya anda mabuk dan pria itu menyuruh pengawalnya segera membawa anda keluar dari club tetapi saya datang tepat waktu untuk membawa anda pulang." ucapnya.


"Jadi, maksudmu pria bermata biru itu menolakku semalam?" ucap Melda tersenyum tidak percaya.


"Cari tahu tentang pria itu, tidak ada seorangpun pria yang bisa menolakku seperti Daren menolakku, Ah ya dan Thomas tentu saja, suatu saat mereka semua bertekuk lutut di kakiku dan memohon kepadaku." ucapnya dengan tawanya yang keras membuat pria di hadapannya segera keluar dari kamar dan memutar kedua bola matanya.

__ADS_1


__ADS_2