The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Keputusan Lexia 2


__ADS_3

Hari itu tidak biasanya hujan turun terus menerus di kota yang katanya memiliki bahasa terbanyak, dengan jumlah 800 bahasa, Kota New York yang salah satu daerahnya bernama manhattan city.


Hujan yang deras membuat lexia menatap dari jendela kaca air yang mengalir yang jatuh menyiram pepohonan di taman. Lexia Baru saja selesai belajar, kali ini dia langsung ke kamarnya, dia begitu lelah setelah membaca beberapa lembar sejarah dari tugas Mr.jack Anville.


Hari itu lexia begitu bosan, dia menghempaskan tubuhnya di sofa empuknya sambil membayangkan berbagai cara untuk menghubungi Alvin.


Seseorang membuka pintu kamarnya dan segera saja lexia menutup matanya karena dia tahu Darenlah yang masuk ke kamarnya, wangi parfum milik daren menyeruak di dalam kamarnya.


"Kau tidur?" tanyanya, Daren menatap tubuh lexia yang berbaring di atas kursi dengan posisi menyamping dan kaki yang menekuk sambil bersandar pada sofa berwarna coklat.


"Tubuhmu akan sakit jika kau tidur di situ lexia, gadis keras kepala ini tidak akan mendengarkanku." bisik daren, dia kemudian mengangkat tubuh lexia dan membaringkannya di tempat tidur setelah membuka kamar lexia.


Daren mengambil selimut dan menutupi tubuh lexia hingga sampai ke leher lexia. Daren menatap seluruh ruangan lexia kemudian duduk di tepi tempat tidurnya, dia mengelus pipi lembut lexia dan menyapu bibirnya dengan jempol tangannya.


Daren menundukkan kepalanya lebih mendekat kepada wajah lexia hingga wangi napas daren dapat lexia rasakan, ingin sekali lexia mendorongnya tetapi jika dia membuka matanya pria ini akan semakin bermain-main dengan dirinya.


Kecupan ringan mendarat di bibir lexia, beberapa lama daren terus menatapnya kemudian dia berdiri dan beranjak dari kamar kexia dan menutup pintunya. Kedua mata lexia terbuka dia kemudian duduk lalu memegang bibirnya.


"Pria itu tidak pernah melewatkan kesempatan sedikitpun, entah berapa kali bibirku di cium olehnya." ucap lexia lalu menghapus ciuman daren dengan lengannya.


~


Lexia sedang berjalan-jalan di sekeliling meja makan, sebelum Daren datang, lexia menatap semua pelayan yang hilir mudik membawa sajian makanan. 'Lexia kau memang bodoh, seharusnya aku menanyakan nama pelayan itu, pelayan yang menjadi mata-mata Alvin, yang pernah memberikannya ponsel secara sembunyi-sembunyi.


Seketika lexia melihat wanita berpenampilan dingin itu, dia ingat dengan jelas wajahnya, tetapi sialnya Daren kemudian datang di waktu lexia ingin mengajak pelayan itu berbicara.


'Sial, kenapa dia datang!' gumamnya, dia memutuskan untuk duduk setelah Daren duduk di hadapannya, matanya masih menatap pelayan yang menuangkan air di gelas mereka.


"Kau kenapa?" tanya daren.


"Tidak apa-apa." ucap lexia yang mulai mengambil beberapa makanan dan meletakkan di piringnya. Makanan itu selezat seperti biasanya, lexia makan dengan lahap tanpa memperdulikan Daren yang berdecak melihat tingkah lexia yang makan, piringnya di penuhi makanan dengan porsi yang cukup besar.

__ADS_1


"Kau tidak takut gemuk?" tanyanya.


Lexia mengangkat bahunya lalu menggeleng, dia tidak bisa menjawabnya karena mulutnya sekarang di penuhi dengan makanan lezat itu.


Daren hanya menggeleng pasrah dengan tingkah lexia yang tidak berubah, meskipun sudah lama dia belajar dengan nona Lucie.


Setelah makan, mereka di suguhi dengan makanan penutup, Daren menyesap secangkir kopi sedangkan lexia hanya memakan puding coklat yang diberikan untuknya.


"Aku akan berbicara kepada kakakku mengenai keputusanku untuk menikahimu setelah lovelia kembali."


Lexia kemudian tersedak dengan puding yang di makannya, dia terbatuk lalu meminum segelas air putih yang ada di hadapannya.


"Kau gila ya ! aku sudah bilang aku akan pergi dan bersembunyi jika tuan Robert mencariku karena telah membohonginya, kau tidak perlu menyelamatkan aku dari tuan Robert, karena aku bisa melindungi diriku sendiri." ucap lexia dengan marah.


Daren tertawa, lalu menatap lexia dengan mengejek. "Kau belum merasakan bagaimana kemarahan tuan Robert, jika tidak ada penjelasan tentang kebohonganmu kepadanya, dia akan menculikmu atau bisa saja dia akan membuatmu menghilang seolah-oleh kau tidak pernah ada di muka bumi ini. Apakah kau siap dengan semua itu." ujar daren.


Lexia terdiam, dia sedikit merinding mendengarkan ucapan daren, dia juga pernah dengar ucapan Edo mengenai tuan Robert, dia begitu heran ketika lexia menyebut nama tuan Robert di depannya, wajahnya berubah menjadi pucat.


"Kau diam? aku akan menganggap kau tahu bagaimana mengerikannya tuan robert, jadi pikirkan baik-baik."


"mengapa harus menikah? tidak adakah pilihan lainnya? Aku bisa menjadi sepupumu, pelayan, tetangga atau....


"Tidak ada pilihan yang lainnya, aku tidak mau kalau bukan menikah denganku, itu saja pilihanmu lexia."


"Tapi kenapa kau ingin menikah denganku?"


Daren tersenyum tipis, tanpa Daren menjawabnya lexia mengetahui keinginan tersembunyi Daren kepadanya, dia puas dengan melihat ekspresi wajah lexia yang mengetahui apa keinginan Daren yang ingin menikahinya.


"Kau pria brengsek daren, mesum, apakah hanya itu yang ada di dalam pikiranmu?" ucap lexia dengan marah, dia tiba-tiba berdiri karena mengetahui motif Daren yang sebenarnya.


"Aku tidak akan memungkiri jika itu salah satu motif teratas diantara motifku untuk menikahimu lexia." Senyum Daren. Lexia mendorong meja makan ke arah daren dan segera berlari meninggalkan daren.

__ADS_1


"Ugh, pria mesum itu selalu membuatku naik darah, apa sih yang dipikirkan pria itu, mengapa pikirannya begitu mesum." ucap lexia keras sambil mengunci pintu kamarnya, hal ini juga yang menjadi alasan mengapa lexia ingin segera meninggalkan tempat ini. Tubuhnya yang selalu di sentuh seenaknya oleh Daren, dekapan hangatnya hingga lexia mengeluarkan suara aneh dan gelenyar yang aneh pula yang dirasakan olehnya.


Terdengar ketukan pintu dari kamarnya tetapi kali ini lebih pelan dan hanya beberapa kali ketukan.


"Apakah itu Daren lagi?" ucap lexia.


Dia membukanya dan wajah yang begitu ingin lexia temui telah hadir di hadapannya, sosok pelayan berwajah datar itu sekali lagi berdiri di depan hidung lexia, dia kembali menyodorkan ponsel mini kepadanya. Tanpa ragu lexia menarik tangannya dan mengunci pintu kamarnya.


Lexia mengambil ponsel itu lalu menempelkan ke telinganya. "Halo?" ucap lexia.


"Hai lexia, apa kabarmu?" ucap suara bersahabat itu, dia tidak lain adalah alvin. Dengan senyum senang lexia berjalan lalu mengutarakan maksudnya kepada Alvin.


"Aku..aku ingin meminta bantuanmu, maukah kau menolongku?" tanya lexia sambil menggenggam erat ponsel itu dan berdoa agar alvin mengabulkan permohonannya.


"Katakan lexia." ucap Alvin.


"Maukah...maukah kau membantuku pergi dari Daren, maksudku melarikan diri dari keluarga Burchard dan bersembunyi dari tuan Robert, karena pasti tidak lama lagi, ayahmu akan mengetahui kebohongan aku dan Daren.


Lexia berdoa dan mengepalkan tangannya agar Alvin mau membantunya.


"Kapan kau berencana ingin pergi dari rumah itu?" tanyanya.


"Se.. secepatnya, aku ingin pergi secepatnya, kau mau membantuku?" tanyanya.


"Baiklah, kau tinggal memberitahu Ov kapan kau ingin pergi dan aku akan segera membantumu lexia.


"Te...terima kasih Alvin, aku sungguh berterima kasih kepadamu." ucap lexia. suara tawa renyah terdengar dari seberang telepon, lexia heran sendiri mengapa Alvin tertawa?


"Oke lexia sampai jumpa lagi." ucapnya.


Lexia memberikan ponselnya kepada wanita yang Alvin sebut Ov itu, lalu tanpa mengucapkan apa-apa dia akhirnya keluar dari kamar lexia dengan sembunyi-sembunyi.

__ADS_1


__ADS_2