
Mobil jeep hitam terparkir di pelataran pom bensin menuju ke villa Daren, tiga orang pria masih duduk di sana memperhatikan villa mewah itu dan menunggu kesempatan untuk menangkap wanita yang sudah beberapa Minggu di intainya.
Mereka bertiga menatap seorang wanita dari kejauhan keluar dari villa itu. "Hei ada yang keluar dari villa, apakah wanita itu?" Tanyanya.
"Mana fotonya?" Tanya pria berkepala botak itu. Pria disebelahnya menggaruk kepalanya. "Aku lupa, aku menyimpannya di atas meja." Ucapnya. Pria di sampingnya menggeram marah lalu memukul kepala pria itu dengan majalah yang ada di tangannya.
"Bodoh ! Kalian semua bodoh ! Jika tuan pearl mengetahui ini, kita semua akan Habis. Ikuti wanita tadi." Perintahnya. Nency mengendarai mobilnya dengan melaju kencang, sesekali dia menghapus air matanya yang jatuh di pipinya, perih di pipinya masih dia rasakan setelah tamparan dari xaphier, rencananya nency ingin memperingati jika lexia dalam bahaya dan mengambil hati daren. Tetapi sepertinya pekerjaannya kembali sia-sia karena ucapan kasarnya kepada lexia kembali membuat dirinya ditampar.
"Mereka menamparku hanya karena gadis kecil itu, mengapa mereka semua mendukungnya? Mengapa tidak ada seorangpun yang mendukungku dan mencintaiku?" Ucap nency kembali menghapus air matanya.
Di tengah perjalanan itu, ada sebuah mobil jeep hitam menyalip kendaraan nency, mobil itu lalu menabrak sisi dari mobil yang dikendarai nency, dia terguncang. "A..apa mau mereka mengapa mereka menyerangku? Nency terus menginjak pedal gas agar mobil itu tidak mengikutinya.
Jantung nency berdetak keras, "apakah karena aku baru saja keluar dari villa itu dan mereka mengira diriku adalah lexia?" Ucap nency marah dia benci harus berkorban untuknya apalagi lexia. Dia dengan berani menepikan mobilnya, setelah menepikan mobilnya, mobil hitam itu juga turut berhenti. Nency keluar dengan menyilangkan kedua tangannya di tubuhnya.
Dia berjalan dengan angkuh sambil mengetuk-ngetuk jendela mobil itu. "Halo? Kalian mendengarku? Segera keluar dan bicara padaku, aku ini bukan gadis yang kalian cari, aku hanya mampir ke sana dan ingin......
Pemilik mobil itu keluar, sayangnya penjahat seperti mereka bukan penjahat yang akan mengerti dengan penjelasan nency, mereka hanyalah seorang penjahat yang melakukan hal mengerikan ketika ada perintah dari bos-nya.
"Ka... kalian salah orang ! Aku bukan celia, aku hanya pergi ke rumahnya dan berbicara kepada...." Glup, nency tersudut mereka sama sekali tidak memperdulikan ucapan nency dengan satu kali pukulan nency pingsan dan di bawa oleh mereka.
"Ck, mengapa kita harus membawanya?" Ucap pria botak yang membawa tubuh nency yang pingsan dan meletakkan di dalam mobil kemudian mengikatnya. "Bodoh ! Wanita ini sudah Melihat wajah kita, jadi tidak ada alasan untuk membiarkannya kabur." Mobil itu kembali melanjutkan perjalanan mereka dan kembali ke villa untuk memantau wanita bernama Celia.
~
Napas mereka beradu di kegelapan malam, Lexia bergerak kasar di tubuh Daren tetapi Daren memegang lexia dan menjaga agar tubuhnya bergerak pelan karena mengingat lexia sedang berbadan dua.
Lexia tidak bisa mengontrol emosi yang dirasakannya, seakan dirinya begitu sensitif manakala sentuhan daren kepada tubuhnya begitu dekat, keinginan untuk memadu cinta bersama Daren tumbuh dengan kuat, wangi tubuh daren membuat lexia begitu bergairah, dia merasa denyutan itu seperti alur listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Mereka akhirnya kelelahan, wajah merona lexia dan rambutnya bertebaran di bantal menutupi separuh wajahnya. Daren menyapu wajah lexia dengan tangannya lalu membelai wajah lexia. "Kau sangat sensitif sayang." Bisik daren. lexia mulai memejamkan matanya dan hanya menjawab Daren dengan suara kecil karena dia begitu kelelahan.
"Tidurlah sayang, kau pasti lelah." Bisik daren menarik tubuh telanjang lexia dan memeluknya.
~
Malam itu Daren tidak tidur nyenyak, sesekali dia terbangun dan duduk lalu menyandarkan kepalanya, dia menatap lexia dan mengingat pembicaraannya dengan Xaphier siang itu.
"Beberapa hari ini mereka kembali mengintai villamu, sepertinya dia menunggu seseorang keluar dari villa ini." Ucap Xaphier.
Daren mengatur napasnya, sepertinya villa ini sudah tidak aman lagi, sekali dia lengah sedikit saja nyawa lexia dalam bahaya, Daren masih menyelidiki siapa dalang yang selalu mengintainya dengan lexia apa yang diinginkannya. Daren menghembuskan napasnya kemudian dia memeluk tubuh lexia dan mencoba menutup matanya.
~
Hari itu tuan caesaar tengah sarapan pagi bersama Xaphier dan pamannya Thomas, suasananya seperti biasanya mereka sedikit berbincang dan kali ini Xaphier memberitahukan kepada ayahnya mengenai Celia yang sudah berbadan dua. Hal itu tentu saja kabar yang menggembirakan bagi tuan caesaar, dia lalu tertawa senang.
__ADS_1
"Di usiaku yang sudah tua seperti ini, aku masih dapat melihat wajah cucuku nanti, aku sangat bahagia, sudah lama aku tidak melihat Celia, hubungi daren, dan atur jadwal makan siangku bersama lexia dan Daren." Ucapan tuan caesaar membuat salah seorang yang duduk di sana tidak tenang, dan merasa waktunya semakin sempit.
"Paman kenapa?" Tanya Xaphier ketika melihat pamannya Thomas terlihat gelisah dan kakinya bergoyang di bawah sana.
"Apa persendianmu sakit lagi?" Tanya tuan caesaar.
Dia tersenyum meyakinkan dan kembali kepada dirinya yang tenang. "Aku baik-baik saja." Ucapnya.
Setelah sarapan pagi pamannya segera pergi dan menelepon seseorang, dia terlihat mendesis ketika sesuatu di dengarnya dari balik telepon. "Kalian betul-betul bodoh, mengapa dia yang kau bawa? Hari ini aku ingin anak itu sudah ada di tangan kita, kau mengerti !" Ucap Thomas gelisah tatkala sedang menelepon. Tanpa pamannya ketahui seseorang berdiri dari atas jendela menatapnya dengan mata safirnya.
~
Lexia sedang berdiri di depan cermin dan menatap dirinya sendiri memperhatikan setiap detail tubuhnya. "Kenapa tubuhku belum gendut?" Ucap lexia sambil memegang perutnya yang terlihat masih rata. Pintu kamar terbuka dan Daren masuk dan melihat lexia sedang memegang perutnya kemudian mengelusnya.
Lexia berbalik dan baru saja sadar kalau Daren sudah berdiri di belakangnya sambil bersandar pada dinding kamar. "Ugh kau mengagetkanku Daren, aku tidak memperhatikanmu datang." Ucap lexia masih berdiri di depan cermin dan menatap dirinya.
"Emm..jadi kau baru saja mengabaikan kedatanganku? Apa yang kau lakukan sayang?" Tanyanya. Daren berjalan dan memeluk lexia dari belakang dan masih menatap ke dalam cermin. "Apa yang kau lihat?"
"Erm...mengapa perutku belum terlihat membesar Daren?" Tanyanya sambil memiringkan tubuhnya untuk mendapatkan sedikit tanda bahwa dia sedang hamil. Daren kemudian tersenyum.
"Belum saatnya sayang, nanti kau akan lihat sendiri bagaimana perutmu membesar dengan sendirinya." Ucap Daren memberikan kecupan ringan di lehernya.
"Sepertinya tuan caesaar mengundang kita untuk makan siang sebentar, dia ingin bertemu denganmu, dia sudah tahu dengan kehamilanmu, sepertinya Xaphier sudah memberitahu kehamilanmu kepada tuan caesaar."
"Siang ini, bersiap-siaplah sebentar lagi kita akan berangkat." Ucap Daren membenamkan wajahnya di ceruk leher lexia dan memeluknya erat dan mulai memainkan jarinya lalu menyusup di balik baju lexia membuat lexia mengeluh.
"Kau ingin aku bersiap? Jadi lepaskan dulu pelukanmu Daren." Lexia mengerang nikmat manakala Daren sudah berada di sana membelai di kelembutan lexia hingga tubuhnya yang sensitif meresponnya begitu cepat. "Daren? Aku menginginkanmu sekarang !" Titah lexia dengan napas memburu seakan dia tidak bisa menunggu walau sedetik saja. Senyuman puas terpampang di wajah Daren, dia mengangkat tubuh lexia dan membawanya ke tempat tidur, Daren merasakan perbedaan lexia semenjak kehamilannya, gairah lexia yang meletup-letup semenjak dia berbadan dua, tubuh sensitifnya dengan cepat merespon keinginan Daren dan dia menyukainya. Mereka melepaskan hasrat masing-masing sebelum bertemu dengan tuan caesaar.
~
Perjalanan ke Oklahoma city 11.15
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil, kali ini mereka di temani salah satu mobil bodyguard melaju di belakang mobil daren, memperhatikan setiap mobil yang mencurigakan, lexia begitu senang karena sepanjang minggu ini dia hanya berada di sekitar villa, Daren sama sekali tidak membiarkan lexia untuk keluar dari villa apalagi membiarkannya berbelanja tanpa pengamanan yang ketat.
Lexia memandang pemandangan sepanjang jalan dan menyandarkan kepalanya di kursi lalu bersenandung kecil. Daren mengacak rambut lexia kemudian tersenyum mendengarkan irama yang di senandungkan lexia, lalu mengelus perutnya. "Dengarkan senandung mommy." Bisik lexia. Senandung itu menentramkan hati Daren, suara lembut lexia mengalun seakan menenangkannya.
Mobil Jeep berwarna hitam tiba-tiba muncul dari sebelah kanan mobil Daren, mobil itu melaju begitu kencang dan menabrak sisi kanan mobil Daren hingga mobil daren terhempas ke kiri dan keluar dari jalurnya, Daren mencoba mengendalikan mobilnya tetapi mobil Jeep hitam berbelok arah dan mulai melaju kencang kemudian menabrak kembali mobil Daren hingga mobilnya kembali berputar, sementara mobil Jeep lain menghalangi mobil bodyguard mereka dan menghantamkan mobil itu hingga menabrak tiang jalanan dan mengeluarkan asap.
Lexia dan daren terbanting keras ketika mobil itu kembali menabrakkannya, seakan seseorang memukul kepala lexia karena tabrakan keras yang di rasakan lexia hingga ia jatuh pingsan dengan darah keluar dari pelipisnya, begitupun Daren, tubuhnya sakit dan mengeluarkan darah dari kepalanya, dia mengerjap lalu menggelengkan kepalanya agar dia tetap sadar, matanya beralih ke lexia yang sudah tidak sadarkan diri di sampingnya apalagi darah segar memenuhi keningnya hingga menetes-netes di pakaian lexia.
Daren menggoyangkan tubuh lexia. "Lexia, bangun sayang ! Lexia !" Mata Daren beralih kepada mobil Jeep yang sudah berhenti tepat di depan mobilnya. Mobil itu membuka nampak tiga orang pria keluar dari mobil Jeep hitam itu dengan memakai topeng dan memegang senjata api, Daren dengan cepat mengambil ponselnya dan menghubungi Xaphier.
Xaphier mengangkatnya pada saat deringan kedua. "Xaphier mereka menabrak kami, mereka membawa senjata, kami berada di 3 km sebelum masuk ke Oklahoma city." Daren menjatuhkan ponselnya tetapi tidak mematikannya. Seorang pria dengan tubuh besarnya memukul keras kaca jendela milik daren, saat pintu membuka dia memukulkan gagang senjata tepat di pelipisnya hingga Daren jatuh pingsan.
__ADS_1
"Beres ! Bawa wanita itu." Ucap pria dengan tubuh gempal.
Dua orang pria membuka pintu mobil lexia dan membawanya ke salah satu mobil Jeep, seseorang yang masih terikat di dalam mobil menatap langsung ketika mereka menabrakkan mobil Daren dan lexia.
Nency masih terikat di sana ketika mereka memasukkan lexia ke dalam mobil, salah satu pria itu memukul kepala nency dengan gagang senjata hingga ia jatuh pingsan dan membawanya ke dalam mobil milik daren.
"Biarkan mobil itu membawanya ke kehidupan selanjutnya." Dia terkekeh, mobil itu berjalan miring dan begitu kencang hingga menabrak tiang pembatas jalanan dan masuk ke dalam jurang yang dalam. Seketika ledakan keras terdengar dari bawah jurang dan nasib nency berakhir begitu saja tanpa ada yang tahu kematian telah menjemputnya.
~
Xaphier mendengar suara Daren kesakitan, dengan cepat ia berangkat ke lokasi bersama puluhan orang-orangnya. Mobil mereka melaju kencang hingga menatap dari kejauhan asap tebal dari bawah jurang.
"Sial! Kita terlambat !" Mobil Xaphier melaju begitu kencang hingga tidak lama kemudian dia menemukan Daren terbaring di aspal dengan darah merembes di sekitarnya.
"Hubungi ambulans, cepat !" Teriak Xaphier. Setelah tiba di lokasi, dia segera menghampiri Daren dan membawanya ke dalam mobil, dia masih tidak sadarkan diri, mereka segera menyisir daerah itu, Xaphier dan orang-orangnya melihat batas jalan yang hancur dan menatap mobil Daren yang sudah hangus dan tinggal bangkai mobil berwarna hitam saja yang ada di sana dengan asap mengepul ke atas.
"Segera periksa mobil yang jatuh ke jurang itu, dan sisir semua daerah di sekitarnya, pastikan periksa semuanya." Perintahnya. Xaphier menatap mobil yang hangus terbakar. Dia mengelilingi tempat itu dan mencari keberadaan lexia, tetapi mereka tidak menemukannya.
Daren membuka matanya yang berat, kepalanya terasa nyeri dan sakit akibat benturan dari senjata yang di pukulkan di kepalanya. Dia mengerang, kepalanya sudah di balut perban, dia menatap sekitarnya banyak mobil-mobil yang terparkir di sana, tubuhnya masih terbaring kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Kemudian matanya mengerjap kilasan kejadian tadi teringat begitu jelas, mobilnya yang di tabrak keras dan berputar, seseorang memukul kepalanya dan lexia yang mengeluarkan banyak Darah.
Daren lalu terduduk begitu cepatnya. "Lexia ! Dimana lexia." Kesadarannya kembali pulih dia berdiri kemudian menatap banyak orang-orang di tempat kejadian, lalu melihat Xaphier sudah ada di sana sambil melihat ke pembatas jalan yang hancur karena di tabrak benda keras, orang-orang menatap ke bawah jurang.
Daren segera berlari menghampiri Xaphier yang masih berdiri di tepi pembatas. "Xaphier ! Dimana lexia, di mana dia !" Xaphier terdiam.
"Kami masih mencari-cari keberadaan lexia, kau harus menunggu, setelah kami tiba di sini, hanya kau saja yang kutemukan terbaring di jalan, sedangkan lexia tidak kutemukan." Ucap Xaphier dengan wajah datar tetapi kecemasan dapat terlihat dari wajahnya.
"Apa yang kau lihat di bawah sana Xaphier?" Tanya daren. Matanya tertuju ke mobil yang mengeluarkan asap hitam di bawah sana.
"Mobilmu jatuh ke jurang Daren, aku sudah menyuruh orang-orangku menyisir tempat itu, sebentar lagi mereka akan akan naik dan memberitahukan situasinya." Ucap Xaphier menghindari tatapan Daren, karena dia tahu seseorang telah jatuh ke bawah jurang dan hangus bersama mobil milik daren.
~
Lexia membuka kedua matanya, dia berada di sebuah ruangan yang sempit dengan penerangan yang minim, lexia mengerjapkan matanya lalu menatap sekitarnya, dia kini sudah sadar sepenuhnya, tetapi sesuatu membuatnya tersadar kedua tangannya telah terikat sempurna, lexia mencoba berdiri tetapi kepalanya sangat sakit.
"Ukglh sakit ! apa yang terjadi? dimana ini?" ucap lexia, dia mencoba berdiri dan berjalan dan melihat kamar sempit dengan satu tempat tidur dan jendela yang tertutup rapat. Suara-suara membuat lexia segera bangkit dari tempat tidur dan mencari asal suara, dia memasang telinganya di balik pintu dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Bagaimana dengan gadis itu? kalian bodoh sekali ! seharusnya kalian memasukan saja gadis itu ke dalam mobil yang jatuh ke jurang, bukannya membawanya kembali kemari."
"Besok dia sudah harus dihabisi, jika tidak kita yang akan dalam masalah." ucapnya.
Suara langkah kaki mendekat ke arah kamar tempat lexia di sekap, cepat-cepat dia kembali ke pembaringannya dan berpura-pura pingsan. Pintu setengah terbuka.
"ck, dia masih pingsan." ucap pria itu.
__ADS_1
"Kau saja yang menghabisi wanita itu, ini salahmu siapa suruh membawanya kemari seharusnya kau membiarkan tubuhnya jatuh ke dalam jurang bersama wanita itu." ucap pria botak dengan mata melotot.