
Lexia bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan mereka semua. Sedangkan si kecil pun juga turut bangun ketika merasakan ibunya bangun dari tidurnya, lexia mengambil handuk kecil dan segera mandi begitu dia terbangun setelah itu menggendong Ax dan turun ke bawah menyiapkan makanan untuknya serta sarapan untuk yang lainnya.
Tubuhnya terasa letih karena Daren, semalaman daren tidak memperdulikan protes lexia ketika dia sudah tidak bisa lagi menerima serangan daren yang menghentak dirinya dengan kasar.
Lexia mengajak Ax ke ruang tamu dan mendudukkannya di sana sambil menyiapkan makanannya.
"Ax, ayo buka mulutnya Aaa..." Ucapnya sambil memainkan sendoknya agar Ax tertarik membuka mulut kecilnya.
Lexia mengalihkan perhatiannya ketika menatap dari jendela besar kaca dari ruang tamu, suasana di luar masih sedikit gelap meskipun sebentar lagi mentari akan menerangi di setiap sisi ruangan yang sekarang dia tempati duduk. Lexia menatap dari kejauhan para pengawal yang berganti shift dengan pengawal lainnya.
Sekilas lexia menatap seseorang yang di kenalinya tetapi pandangannya cukup kabur karena pagi itu masih belum begitu terang.
"Apa aku salah lihat orang ya?" Ucap lexia.
Lexia kembali membujuk Putranya yang menggelengkan kepalanya sambil menutup rapat bibirnya. "Ayolah Ax, apa kau mau bilang masakan mom juga tidak enak?" Ucap lexia di hadapan putranya.
Ax yang sedang bermain tentu saja tidak akan memperdulikan ibunya yang meracau di hadapannya sambil menyuapkan makanan di hadapannya.
"Aaaa...ayo makan Ax, ayo cepat makan." Ucap lexia, akhirnya Ax membuka mulut kecilnya dan menerima suapan terakhir dari piring kecil di tangan ibunya.
Lexia menyeka mulut putranya yang penuh dengan makanan di antara bibirnya kemudian memberikannya minum.
"Apa sekarang kita jalan-jalan saja Axton sayang?" Ucap lexia sambil membawa Ax ke taman dan berjalan perlahan sambil bersenandung, meskipun para pengawal sudah ada di sana tetapi lexia tidak mau memperdulikan kehadiran mereka di sana.
Lexia berjalan cukup jauh dari mansion sampai tiba di dekat air pancuran tempat favorit Ax yang sangat menyukai melihat air yang mengalir dengan beningnya dan berbunyi dengan suara memercik di sekitarnya.
"Lexia?" Suara itu membuat lexia membalikkan tubuhnya kepada sumber suara, dia tidak menyangka pria itu ada di dalam mansionnya.
"Ka...kau, kenapa kau bisa ada di sini !" Teriak lexia menatap Adrick yang tengah berdiri dengan mata birunya yang dalam, lexia berjalan mundur menjauhinya. Dia memeluk Ax erat-erat sambil berlari-lari hingga menemukan Thomas yang sedang menghampiri lexia ketika melihatnya berlari.
"Ada apa Nyonya?" Tanyanya.
"Pria itu, pria itu ada di sana, Adrick Rudolf ada di dekat taman ini, kau harus mencarinya." ucap lexia kemudian segera masuk ke dalam mansion dan menutup pintu masuknya. Lexia mengambil Napas lega ketika dia melihat Daren sudah ada di sana menatap heran kepada lexia yang berlari masuk ke dalam mansion.
"Ada apa sayang, kenapa kau berlari seperti itu." Tanyanya.
"Pria itu ada di sini Daren, dia menghampiriku ketika aku dan Ax sedang berjalan-jalan di taman." Ucap lexia sambil menunjuk taman yang paling jauh.
Tanpa mengucapkan apapun Daren tiba-tiba berlari dan membuka pintu mansion dan segera mendapati Thomas sedang berjalan cepat menuju ke tempat Daren.
"Bagaimana? Apakah kau menemukannya?" Tanya daren dengan wajah waspada, dia menatap Thomas yang ingin memberikan laporannya.
"Kami tidak menemukannya tuan, tidak ada pria yang dimaksud oleh Nyonya lexia." Ucap Thomas setelah menelusuri semua tempat bersama pengawal lainnya.
"Apa kau tidak salah mengenali orang lexia?" Daren berbalik menatap lexia yang ada di belakangnya.
Lexia menggelengkan kepalanya
"Tentu saja tidak Daren, dia memanggil namaku sewaktu aku menggendong Axton. Setelah itu aku berlari begitu saja." Ucapnya.
"Apa ada penyusup lagi di mansion ini? Sebaiknya kau periksa kembali pengawalmu Thomas, sepertinya ada yang menyusup sebagai pengawal dan memberikan akses kepada Adrick untuk keluar masuk mansion dan itu sangat membahayakan keluarga Caesaar terutama Lexia." Ucap Daren.
"Baik tuan saya akan segera memeriksa kembali." Ucapnya, dia segera bergegas pergi dan mengumpulkan semua pengawal yang ada di mansion.
Pria itu berada di sana menatap malas kehebohan yang terjadi, sambil tersenyum Miring menatap kepanikan yang dibuat oleh lexia.
~
"Daren? Apa sebaiknya kita kembali ke Villa kita di Tulas? Di sini sudah tidak aman lagi." Ucap lexia menatap Ax dengan wajah murung dan hendak menangis karena kaget, ibunya tadi tiba-tiba berlari kencang sambil memeluknya erat.
__ADS_1
"Villa tidak lebih baik dari mansion di sini lexia, meskipun keamanan di sana di tingkatkan tetapi akses masuk lebih terbuka di bandingkan di mansion ini, kita akan memikirkannya bersama, masuklah sayang, pasti Ax terkejut." Ucap Daren sambil mengambil Ax dari gendongan lexia dan segera menuju meja makan lalu memberikannya minum.
"Ada apa ribut-ribut Daren?" Suara Xaphier terdengar dari atas ketika dia hendak turun tangga, dengan mengernyitkan alisnya melihat lexia duduk di meja makan sambil memperhatikan putranya sedang minum air putih.
"Adrick ada di sini dia menyamar sebagai seorang pengawal." Ucap Daren.
"Apa kau yakin dia Adrick?" Tanyanya sambil menatap tidak percaya kepada lexia.
"Tentu aku yakin Xaphier, aku melihat wajahnya dan dia memanggil namaku saat itu, dia pasti sudah gila berani masuk ke mansion dengan tingkatan keamanan seperti ini." Ucap lexia khawatir.
"Dimana Thomas? Apa ada penyusup lagi di antara para pengawal?" Ucap Xaphier jengkel. Dia menghembuskan napasnya. "Hari ini aku akan menemui tuan Rudolf Secara langsung, agar dia memperingati putra gilanya itu." Xaphier masih berdiri di antara anak tangga sambil menunggu Nara yang baru saja keluar dari kamar dan segera akan turun.
~
Langkah kaki itu menggema di setiap hentakan yang dipijaknya di mansion milik keluarga Rudolf, pria itu berjalan dan berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan Ruangan Tuan Rudolf, dia mengetuk beberapa kali dan baru akan masuk ketika mendengar suara dari dalam ruangan.
Pria berkacamata yang telah lama mengabdi kepada keluarga Rudolf juga selalu mengikuti kemana tuan mudanya pergi dan apa saja aktivitasnya, dan tentu saja semuanya di ketahui oleh ayahnya sendiri.
Dia sedikit membungkuk setelah itu menatap pria tua yang sedang duduk sambil membaca koran yang ada di tangannya.
"Ada berita apa carl." Tanyanya tanpa menatap wajah Carl yang sedang berdiri di hadapannya.
"Tuan, informasi ini mengenai tuan Adrick, dia...erm sekarang sedang menyamar di mansion tuan Caesaar, sepertinya tuan Adrick kali ini lebih memberikan perhatian kepada putri tuan Caesaar itu, dan satu hal lagi mengenai kecenderungan tuan Adrick sama seperti ketika dia masih berada di Eropa tuan, sama seperti ketika dia terlalu terobsesi dengan perusahaan besar yang ada di London, dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkannya."
"Dimana dia sekarang?" Tanyanya.
"Saya akan pastikan kalau tuan Adrick akan segera kembali ke mansion tuan." Jawabnya sambil menunduk setelah itu pria itu lalu pamit dan pergi.
"Adrick...berapa kali kau harus membuat ayahmu cemas seperti ini, terlalu obsesi pada sesuatu, sikapmu dari kecil hingga sekarang sama sekali tidak berubah Adrick, jika kau seperti ini terus kau akan menghancurkan dirimu sendiri.." Gumam sang ayah.
~
"Apa kau sudah memeriksa semua pengawal-pengawalmu?" tanyanya.
"ya sir, dan saya tidak menemukan pria itu dan orang yang memberikannya akses masuk ke dalam mansion."
"Temukan orang itu dan segera bereskan dia, aku tidak mau ada mata-mata di dalam mansionku, apalagi mata-mata itu berasal dari keluarga Rudolf." ucap Xaphier.
"Baik sir."
Xaphier mengambil napas panjang, dia kemudian mengambil ponselnya lalu berbicara langsung dengan ayah Adrick yaitu tuan Rudolf mengenai putranya yang menyusup ke mansion.
~
Hari itu mereka berdua makan pagi bersama di meja makan sedangkan Daren dan xaphier sudah berangkat ke kantor, rencana berlibur yang diusulkan oleh Xaphier di tangguhkan dahulu karena Nara rupanya tidak bisa bepergian karena sedang hamil. Tiba-tiba tangisan Ax menggema dari ruang bermainnya. Lexia bergegas ke tempat Ax dan melihat dua orang pelayan berusaha menenangkannya.
"Ada apa? mengapa Ax menangis?" tanyanya.
Lexia segera mengambil putranya dari gendongan pelayan. "Dia ingin memakan mainannya Nyonya, jadi kami mengambilnya dan dia menangis." ucap pelayan sambil tertunduk.
"Benarkah?" tanyanya.
Ax tidak berhenti menangis, lexia kemudian menggendongnya dan melirik kepada salah satu pelayan yang berdiri di dekat jendela, sedangkan pelayan yang satunya masih tertunduk aneh, tidak mau mengangkat wajahnya.
Lexia segera keluar dari ruangan, karena sedikit curiga kepada pelayan itu, dia kemudian memerintahkan Thomas untuk memperlihatkan cctv ketika putranya berada di ruang bermainnya.
Sesuatu membuatnya betul-betul marah, dari hasil tangkapan layar cctv, salah satu pelayan yang lebih tua menggendong Ax dan mempertahankannya, sedangkan pelayan yang satunya mencoba mengambilnya darinya, dia berusaha membawa Ax melalui jendela, kemudian pelayan yang muda itu mencoba menghalanginya.
Dengan murka lexia segera menemui pelayan yang menemani Ax bermain tadi, tapi sayangnya pelayan yang satunya sudah tidak muncul lagi. "Apa yang terjadi di ruang bermain Ax?" tanyanya.
__ADS_1
Salah satu pelayan tiba-tiba menangis karena menahan ketakutannya. "Wanita itu tiba-tiba muncul begitu saja Nyonya, dia kemudian ingin merebut tuan Axton dariku dan ingin membawanya pergi tetapi aku tidak membiarkannya, Sebelum anda datang dia mengeluarkan pistol dari dalam bajunya untuk menyuruhku diam, jadi..jadi aku tidak berani berbicara." isaknya.
Thomas yang ada di situ mendengarkan dengan cermat.
"Apa dia suruhan Adrick lagi? dia ingin menculik putraku?" ucap lexia betul-betul marah.
"Dimana wanita itu?" tanyanya
"Dia sudah melarikan diri Nyonya." Ucap Thomas, wajahnya betul-betul kaku, sudah berapa kali keamanannya di tembus oleh Adrick dengan mudahnya, hal itu membuat Thomas merasa bersalah.
"Periksa kembali seluruh pelayan yang ada di mansion ini Thomas dan sebelumnya periksa kembali identitas mereka semua." ucap lexia kemudian pergi dari sana.
~
Lexia tidak menelepon Daren mengenai kejadian tadi, dia tidak mau membuatnya khawatir, apalagi dia sedang meeting penting di kantornya. Sedangkan Nara menemani Lexia dan Ax di ruang bermain, dia ketakutan mendengar banyaknya penyusup di mansion ini dan begitu mudahnya mereka bisa mengakses masuk di mansion.
"Lexia kau melamun?" tanya Nara memperhatikan lexia tidak berbicara sedikitpun.
"Erm, aku hanya memikirkan sesuatu, dan mengenai pelayan yang berusaha membawa Ax, itu sangat membuatku ketakutan, mengapa sasarannya kali ini anakku?" Ucap lexia masih menatap Ax yang sedang menyusun-nyusun balok mainannya.
"Jangan khawatir yang penting Ax tidak apa-apa." Ucap Nara berusaha menenangkan.
Seorang pelayan tiba-tiba saja masuk dan mengatakan kepada lexia dan Nara bahwa sesuatu telah terjadi di ruang pelayan." Lexia dan Nara segera berdiri, lexia mengambil Ax dan menggendongnya.
"Nyonya, saya akan menjaga Tuan Axton di sini, sehingga anda bisa lebih leluasa pergi ke ruang pelayan." ucapnya sambil menunduk
"Benar juga yang kau bilang." senyum lexia. Dia kemudian memberikan Ax kepada Nara untuk di gendongnya, tiba-tiba lexia berdiri di depan pelayan itu.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanyanya.
"Apa maksud Nyonya? saya seorang pelayan di sini, saya hanya ingin mengurangi beban anda ketika anda ingin pergi ke ruang pelayan."
lexia mendorong tubuhnya, membuat Nara membelalakkan matanya. "Le..lexia." ucap Nara.
Tiba-tiba pelayan itu ingin menyerang lexia dan mendorongnya keras, lexia terjatuh dan tersungkur di karpet, kemudian pelayan itu menuju ke tempat Nara dan berusaha mengambil Ax dari tangannya.
Nara memeluk Axton Dengan erat, dia ingin memukul Nara tetapi sebelum tangannya mencapai wajah Nara, lexia sudah menggapai rambut pirangnya menariknya begitu keras hingga wanita itu berteriak-teriak dan terjatuh di lantai.
lexia segera menerjang wanita itu dan memukulnya tepat di hidungnya, wanita itu mengeluarkan erangan kesakitan, dia kemudian berusaha mendorong lexia tetapi lexia masih bertahan di atasnya, memukul bagian apa saja pada wanita itu, Nara membuka pintu bermain dan berteriak sekencang-kencangnya agar para pengawal datang ke tempatnya.
Wanita itu menarik rambut lexia hingga kepalanya terjatuh ke lantai, tangan lexia kemudian menggapai-gapai sesuatu di antara mainan Ax dan mendapatkan mobil-mobilan yang cukup berat, kemudian dia menghantamkan mobil-mobilan itu ke kepala wanita itu hingga pelipisnya berdarah.
Thomas dan orang-orangnya berdatangan dan segera menarik tubuh wanita itu yang setengah sadar karena pukulan lexia di kepalanya. Sedangkan lexia berdiri dengan rambut awut-awutan dan bibirnya sedikit berdarah karena pukulan wanita itu.
Wanita itu kini telah sadar dia memandang lexia dengan tatapan tajam dan tersenyum. Lexia berjalan perlahan dan satu tonjokan melayang ke wajah wanita itu hingga mengeluarkan darah dari hidungnya. Lexia memegang rahang wanita itu kemudian dia mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Siapa yang menyuruhmu." tanyanya. Wanita itu hanya menatap tajam kepada lexia.
"Bereskan dia jika dia tidak mau bicara." ucap lexia kepada Thomas.
"Baik Nyonya." Thomas segera memberikan isyarat kepada para pengawalnya dan mereka segera pergi dari tempat itu.
Nara bergetar hebat, dia menghampiri lexia. "Le..lexia kau tidak apa-apa?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja." Ucap lexia sambil memegang bibirnya yang berdarah. Dua pelayan masuk dan segera mengobati luka di wajah Lexia setelah itu mereka pergi.
"Mengapa hal mengerikan seperti ini terjadi? wanita itu, siapa sebenarnya yang memerintahkan wanita itu." ucap Nara masih menggendong Ax yang memperhatikan wajah ibunya kemudian mengulurkan kedua tangannya agar digendong oleh ibunya. Lexia menggendongnya dan mencium pipinya.
"Aku akan membuat wanita itu berbicara, berani sekali dia masuk kemari dan ingin mengambil putraku."
__ADS_1