The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part Dazon : 41


__ADS_3

Ruangan itu sungguh gelap, lampunya dibiarkan mati, meskipun ada kehidupan di dalam sana, entah mengapa dia lebih menyukai kegelapan yang pekat, hal itu membuatnya lebih tenang.


Dia berdiri di depan westafel dan menatap dirinya, di salah satu tangannya terdapat helaian rambut yang sempat di bawanya dari restaurant itu, matanya tiba-tiba menyipit ketika mengingat wanita itu, dia mengayunkan tempat sampah kepadanya tanpa sedikitpun rasa takut di matanya yang coklat.


Riel berjalan, lalu kembali ke tempat pembaringannya, dia menyilangkan kedua tangannya, berpikir dan mengingat wajahnya, memorinya kembali berputar mengingat masa kecilnya yang menyeramkan dan sekelebat bayangan itu mengingatkan kepada seseorang tetapi dia masih belum yakin, sangat kabur dan samar, dia tidak memaksakan otaknya untuk mengingat masa lalunya yang menyeramkan, dia menutup matanya, dan mulai tertidur pulas.


~


Hanna tertidur di pelukan dazon, tertidur pulas seakan dia berada di atas tempat tidurnya sendiri, salah seorang pengawal membukakan pintu mobil untuk dazon dan menganggukkan kepalanya agar mereka jangan berisik, agar wanita yang berada di gendongannya tidak terbangun.


Dazon menempatkan hanna di atas tempat tidur, dia melepaskan tas serta sepatunya, dazon kemudian menatap pakaian yang di kenakannya, dia pasti gerah tidur dengan dress seperti itu, apakah dia perlu mengganti pakaiannya seorang diri? Dia pasti akan mengamuk ketika dia terbangun. Dazon melepaskan jasnya dan melepaskan beberapa kancing kemejanya, lalu berjalan menuju pantry menuang minuman dingin di gelas. Dia kembali duduk di samping tempat tidur Hanna dan menatapnya sambil menyesap minumannya.


Pipinya memerah, bibirnya sedikit terbuka, napasnya naik turun dengan teratur, dazon masih belum mengalihkan matanya, dia terus memandanginya. Tangannya di kepalanya, matanya masih belum berpindah dari menatap Hanna secara konstan.


Dia duduk di sisi tempat tidur, menempatkan tangannya di samping bantal hanna, wajahnya kini begitu dekat dengan wajah Hanna, dia menutup kedua matanya dan...ponselnya berdering.


"Ck, menghubungiku di waktu yang tidak tepat, aku akan menghajar mereka kalau bukan hal yang penting."


"Ya, Loue."


"Thomas sudah terhubung tuan, di ruangan anda." Ucap Loue mengingatkan.


"Ok, aku akan segera pergi ke ruanganku." Ucap dazon mendesis.


Dia kemudian berdiri, melirik sebentar tubuh hanna dan segera menelepon pelayan wanita agar mengganti pakaian untuk hanna dengan pakaian yang lebih nyaman.


Dazon menuju ke ruangannya, lalu duduk di meja kerjanya, dia menekan satu tombol berwarna merah, dan kini dia sudah terhubung dengan thomas face to face.


"Halo Thom, bagaimana keadaanmu."


Thomas sedikit tersenyum. "Saya baik-baik saja tuan." Ucapnya.


"Hal penting apa yang ingin kau katakan sampai-sampai kau ingin bericara denganku selarut ini, apalagi kau membutuhkan istirahat yang banyak."


"Saya sudah mengetahui pelaku pembunuhan berantai yang terjadi di kota ini tuan, dan pelaku yang selama ini menyamar sebagai seorang pengawal di kediaman keluarga Caesaar selama 7 tahun lebih."


"Benarkah? Jadi siapa dia." Tanyanya.


Thomas mengambil napas, meskipun dadanya terasa sakit jika dia bernapas. "Riel, dialah pelaku pembunuhan selama ini tuan."


"Riel? apa kau yakin thomas?" Tanyanya dengan nada suara meragukan.


"Saya sangat yakin sir, awalnya saya ragu tetapi setelah menyelidiki dan menelusuri identitasnya, dan bertemu langsung dengannya, dan juga ketika saya di serang olehnya, saya yakin dialah pelaku pembunuhan yang selama ini di cari-cari oleh pihak kepolisian."


Dazon sedikit terkejut, pasalnya, ketika di Oklahoma, saat usianya masih 17 tahun, dialah yang menemukan Riel, sifatnya yang kaku dan selalu berwajah datar dan tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun ketika menjalankan tugasnya, membuat Dazon merekrutnya menjadi orang kepercayaannya.


"Mengenai kasus tuan Daneil, dia jugalah yang memfitnahnya agar tuan daneil terlibat dalam kasus pembunuhan itu, serta wanita bernama Yessy Rush yang menjadi korban pembunuhan olehnya, dengan sengaja merencanakan agar tuan Daneil menjadi tersangka kasus itu, untung saja tuan daneil menghubungi anda waktu itu dengan cepat, sehingga rencananya gagal."


Dazon mengetuk-ngetukka jarinya di atas meja, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Riel lah yang melakukan pembunuhan itu, meskipun dia lebih banyak diam tetapi sebagai pengawal, dia selalu melindunginya dengan sempurna, dan tidak sekalipun dazon menaruh kecurigaan kepadanya.


"Mengenai alasan tindakan Riel, saya masih menyelidikinya sir, mungkin sebentar lagi pihak kepolisian dan detektif akan meminta keterangan kepada saya, karena mereka tidak berhenti mengikuti saya tuan, apalagi sekarang saya berada di rumah sakit akibat luka tusukan."


"Berikan umpannya kepada detektif itu, tetapi jangan menceritakan detailnya, biar mereka sendiri yang menemukan pelakunya, meskipun suatu hari detektif itu akan datang lagi kepada kita, jika mereka mengetahui status Riel yang pernah bekerja di keluarga Caesaar."


"Baik tuan."


Dazon bersandar di kursinya menatap langsung pemandangan malam, hal apa yang membuat Riel melakukan pembunuhan kepada wanita-wanita itu? Dia kemudian berdiri dan melangkah keluar dari ruangannya dan langsung menuju kamar tidur.


Hanna telah tertidur lelap di atas tempat tidur, pakaiannya telah di ganti dengan...


Mata dazon membelalak menatapnya, pelayan-pelayan itu mengganti pakaian Hanna bukan dengan bathrobe atau pakaian tidur, tetapi dia memakaikannya dengan lingerie berwarna hitam yang hanya menutup sangat sedikit bagian privat hanna, dan selimut yang menutupi tubuhnya jatuh teronggok di lantai karena tendangannya.


Jadi mau tidak mau dazon melihat pemandangan hanna yang mengenakan lingerie. Dazon menelan ludahnya kasar. Dia mengambil selimut dan menyelimuti Hanna, wanita ini tidur terlentang dengan seenaknya, membuat dazon mendesis tertahan.


"Apa aku akan sanggup tidur dengannya malam ini, dengan lingerie yang dia kenakan?" Bisik Dazon. Meskipun beberapa menit, dazon berdiri mempertimbangkan, apakah dia sanggup menahan dirinya tidur disampingnya tanpa menyentuhnya, dan akhirnya keputusan dazon untuk tidur di samping wanita itu lebih kuat, dia tidak perduli lagi jika besok pagi wanita ini akan berteriak keras ketika melihat apa yang dia kenakannya.


Dazon menarik tangan hanna lalu memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya, hal ini sudah menjadi kebiasaan bagi dazon, dengan hanna berada di sisinya, dia merasa terlengkapi, meskipun begitu, dazon menahan gejolak yang terbangun di tubuhnya, dia tetap memeluk hanna meskipun dia merasakan denyut tidak terkendali yang mulai mengamuk di tubuhnya, dia menahannya dan memejamkan matanya, hingga akhirnya dia jatuh tertidur dengan lelap meskipun dengan susah payah.

__ADS_1


~


Suasana malam hari di tengah malam itu, di sekitar jalan Complex city, sudah tidak aman lagi bagi Riel, pasalnya dia mengetahui bahwa beberapa detektif selalu berkeliling di area tempat kejadian, dimana dia selalu mencari mangsa, Kali ini Riel berjalan di trotoar hendak pergi ke mini market yang masih terbuka, dia masuk ke dalam, matanya menelisik pada seseorang yang duduk di meja sambil menikmati segelas kopi yang di seduh dengan menggunakan paper cup. Riel berjalan mencari-cari yang dibutuhkannya, setelah mendapatkan, dia segera membawanya ke kasir dan akan membayarnya, matanya kembali melirik pria dengan mantel coklat itu.


Riel keluar dari mini market, tetapi dia tahu ada sosok yang mengikutinya, detektifkah, atau salah seorang pengawal dari keluarga Caesaar yang di perintahkan untuk membuntutinya.


Semakin cepat dia berjalan, maka semakin cepat pula orang itu mengikuti langkahnya, dia kemudian bersembunyi di salah satu gank, nampak pria itu menengok ke kanan dan kekiri mencari keberadaannya.


"Halo, sayang sekali dia menghilang, dari ciri-cirinya dan posturnya, dia sangat mirip dengan pelaku, aku akan mengubungimu lagi, di sini terlalu dingin." Pria bermantel itu menutup ponselnya. Dia kemudian menyeberangi trotoar dan masuk ke dalam salah satu mobil berwarna silver dan segera pergi dari tempat itu.


Riel keluar dari tempat persembunyiannya, "Seorang detektif? Siapa yang memberitahu ciri-ciri dan posturku?" Ucapnya.


~


~


Matahari sudah terbit, cahanyanya masuk ke jendela mereka, hanna mulai merasakan pipinya menghangat, dia mengerjap membuka kedua matanya secara perlahan. Dia tidak begitu heran melihat lelaki ini berada di sampingnya, dia tertidur nyenyak dengan punggung menghadap ke atas, hanna lalu duduk dan bangun dari pembaringannya. Dia berdiri dan seketika dia terkejut melihat pantulan dirinya di depan cermin, lingerie hitam pas melekat di tubuhnya, hanya menutupi sebagian kecil bagian privatnya.


"Mengapa aku mengenakan ini?" Ucapnya jijik, tiba-tiba dia menoleh dan menatap marah ke arah dazon, dia kemudian mengambil bantal dan melemparkannya di punggungnya.


Dazon berkedip beberapa kali, dia lalu melengkungkan bibirnya, puas dengan pemandangan yang disuguhkan di pagi yang cerah ini.


"Selamat pagi, kau sangat cantik dengan lingerie itu hanna."


"Kau ! Apa yang kau lakukan semalam?"


"Mengganti pakaianmu, apa kau mau tidur dengan pakaianmu yang kotor semalaman? tentu saja harus di ganti, jangan memandangku seperti itu, karena bukan aku yang mengganti pakaianmu meskipun aku memang menginginkannya." Ucap dazon, masih terpaku dengan hanna yang berdiri di hadapannya tanpa berkedip.


"Apa yang kau lihat !"


"Jika kau tidak segera menggantinya, jangan salahkan aku hanna, aku saat ini sudah di ambang batas, aku berupaya menahannya sekuat tenaga, jadi aku tidak akan tanggung jawab jika dia minta di bebaskan dan dipuaskan." Ucapnya sambil terkekeh. Mata hanna langsung tertuju pada bagian privat dazon yang menggelembung.


Dia kemudian berlari dan masuk ke dalam kamar mandi, hanna menutupnya cepat, napasnya naik turun, jantungnya berdetak cepat, anehnya dia tidak marah, pemandangan itu membuat pipinya merona, "Aku harus segera mandi." Bisiknya.


~


~


"Ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" Tanyanya.


"Apa? Tidak."


Dazon tersenyum, "jadi kenapa dari tadi kau menatapku?" Tanyanya lagi.


"Aku...aku ingin tahu, tempat apa di samping kamarmu itu?"


"Itu kamarmu." Jawab dazon singkat.


Mata hanna membelalak, "Apa kau bilang, kamarku? Tapi kenapa kau tidak mengatakannya padaku, dan aku harus tidur di tempat tidurmu." Ucap hanna jengkel.


"Bukan salahku hanna, sejak awal kau berlari dan bersembunyi di sana, kau lebih memilih kamarku di bandingkan kamarmu sendiri."


Hanna berdiri dari meja makan, dia segera membuka pintu kamar yang berada di sebelah kamar dazon. Ruangan itu cukup besar untuknya malah sangat besar di bandingkan flatnya, tempat yang nyaman, sama sekali jauh dari wangi dazon yang memenuhi kamarnya, sehingga kadang tubuh dan pakaian hanna beraroma sama dengan dazon.


"Bagaimana, kau suka?" Tanyanya.


Hanna mengangguk, dia mengelilingi kamar itu dan membuka-buka lemari pakaiannya yang juga sudah tertata rapi di dalam sana, lengkap dengan aksesoris serta tas dan sepatu bermerk.


"Semua ini kau sediakan tidak gratis dan secara cuma-cuma bukan?" Ucap Hanna balik memandang dazon.


Dia mengangkat bahunya, "sesuai perjanjian awal, kau akan menjadi wanitaku dan aku akan memberikan semuanya apapun itu yang kau inginkan."


Hanna terdiam, dia menggigit pipi bagian dalamnya, jika dia menyetujui kemauan pria ini, sebentar lagi dia akan berada di ranjang pria ini, dan memuaskannya.


"Se..selain jadi wanitamu, apakah tidak ada pekerjaan yang lainnya? misalnya, aku bisa beres-beres, memasak, dan mengerjakan berbagai hal, karena aku bukan orang yang tidak tahu tatakrama, jadi aku akan bekerja untuk membalasmu, tapi, tapi...ini sebenarnya bukan kesalahanku, kau yang membawaku ke sini, jadi aku tidak perlu merasa bersalah kepadamu karena menikmati fasilitas mewah ini." Ucap hanna terbata.


Dazon sudah berada di hadapan hanna, dia mengambil dagunya dan menatapnya. "Sst, berhenti bicara sekarang, dengan segala alasanmu, tidak ada pilihan lain hanna, selain menjadi wanitaku, itu saja, kau mengerti !"

__ADS_1


"Tapi, kenapa aku harus menjadi wanitamu? kau bisa saja menemukan wanita lain yang juga bisa menjadi pendampingmu atau Apakah sampai batas ketika kau sudah memiliki seorang pendamping yang tepat, dan kau akan melepaskanku?" Tanyanya.


Dazon tersenyum miring, "Mungkin, sampai aku menemukan wanita yang akan kunikahi dan membawanya ke keluargaku, saat itu mungkin aku akan membebaskanmu, tentu saja dengan segala fasilitas dan jaminan hidup yang akan aku berikan setelah kau menghabiskan waktu dan tenaga untukku selama ini, aku sangat tahu caranya berterima kasih hanna." Ucapnya.


Hanna menghentak tangan dazon, apa dia pikir dirinya adalah seorang j4lang yang di gunakan dan dilepaskan semaunya? Tidak, tentu saja tidak, pria ini tidak akan mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Bagaimana kalau kau cari saja j4lang lainnya, yang mampu memberimu kepuasan dan kau bisa menjadikannya wanitamu dan kau bisa melepasnya kalau kau sudah bosan dan.....


Ucapan hanna terhenti, dazon sudah menguasai bibirnya, menciumnya hingga nyaris gigi mereka saling beradu, menutupnya rapat dengan bibirnya dan menjelajahinya dan memaksanya membuka.


Tubuh hanna terdorong dan mundur ke belakang menabrak kaca jendela di belakangnya, dia menggapai-gapai apa saja untuk menahan tubuhnya dari jatuh yang memalukan, dia melekat sempurna di kaca jendela itu, dia kesulitan bernapas, dia memukul-mukul apa saja bagian tubuh dazon agar dia berhenti dan melepaskan bibirnya.


Deringan ponsel membuat dazon tersadar, dia melihat hanna sudah berantakan di hadapannya, dia hampir saja pingsan jika saja ponselnya tidak berdering.


"Ck, sial !" Dia melepaskan hanna dan pergi menjauhinya dan menerima panggilan teleponnya.


"Ada apa Loue?" Bentaknya.


"Sir, mobil anda sudah siap, sebentar lagi rapat akan segera di mulai." Ucapnya ragu, dia merasa sedang melakukan sebuah kesalahan kepada tuannya.


"Saya akan segera ke sana."


Dazon menutup ponselnya, dia lalu berbalik menatap hanna, yang masih terduduk di jendela kaca, masih menormalkan napasnya yang tidak beraturan, dia kemudian menghapus air yang mengalir di pipinya dan menatap tajam ke arah dazon, bibirnya membengkak dan terasa sakit karena ulahnya.


Dazon berjalan ke arahnya dan berdiri di hadapannya, hanna tidak mau menatapnya, tetapi dazon menarik dagunya agar dia kembali menatapnya.


"Jangan mencobanya lagi hanna, mencoba memperovokasiku, pilihanmu hanya satu, jadi wanitaku, tidak ada pilihan lain."


"Aku berangkat kerja, dan ketika aku kembali kau sudah siap untukku." Ucap dazon tajam. Dia segera berbalik lalu berjalan dan meninggalkan hanna sendiri di kamarnya.


"Aku akan melarikan diri, sejauh mungkin sebelum kau memilikiku." Ucap hanna, hatinya terasa sakit, padahal sedikit demi sedikit dia sudah mulai membuka hatinya untuk pria ini, tetapi kalau tujuannya hanya untuk menjadikan dirinya menjadi wanitanya dan setelah itu dia akan dibuang, tentu saja Hanna tidak akan menerimanya, dia akan pergi sebelum semua itu terjadi.


"Aku membencimu dazon." Ucap hanna sambil menghapus air matanya.


~


~


Dazon tiba-tiba mengacak rambutnya di dalam mobil, dia menyadari bahwa dia sudah menyakitinya, baru kali ini dia lepas kontrol seperti itu, penolakan hanna membuat dirinya frustasi, dia sangat ingin memilikinya, sangat, tetapi dazon ingin agar hanna melakukan untuknya dengan sukarela, menjadi wanitanya.


Tetapi gadis itu terus saja menolaknya, membuat dazon sangat ingin melemparnya waktu itu ke tempat tidur sekarang juga.


"Putar balik, undur rapatnya sampai beberapa jam ke depan, kembali ke penthouse." Perintahnya.


~


~


Hanna sudah merencanakan pelariannya kembali, dia akan berusaha melarikan diri lagi dari tempat ini, saat itu dilantai 3, tidak ada seorangpun yang berjaga, para pengawal sengaja pergi atas perintah dazon agar hanna memiliki waktunya sendiri.


Hanna seperti biasa mengelilingi tempat itu dan mencari celah apa saja untuk bisa meloloskan diri, hanna melihat sebuah pintu besar, tempat dazon menghabiskan waktu dalam menyelesaikan pekerjaannya, dia kemudian masuk ke dalam, tatapannya jatuh pada buku-buku yang tersusun rapi di rak dan menempel di dinding, beberapa lukisan pemandangan.


Hanna memegang meja kerjanya dan melihat sebuah foto-foto keluarga dazon tertata di atas meja, tangannya tiba-tiba tidak sengaja menekan tombol berwarna merah yang berada di dekat foto-foto itu.


Wajah besar Thomas tampil di layar besar dilatar belakangi oleh dinding, hanna cepat-cepat sembunyi dan menunduk.


"Tuan Dazon apakah anda ada di sana?" Ucap thomas.


"Tuan, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan dan saya harapkan jangan pernah memberitahu nona Hanna mengenai masalah ini."


Jantung hanna berdebar kencang mendengar namanya di sebut-sebut.


"Mayat wanita yang menjadi korban pembunuhan berantai yang di temukan bersama tuan Daneil malam itu, saya sudah memastikan identitasnya, dia adalah seorang bartender di salah satu night club, namanya adalah Yessy Rush, dia kebetulan sahabat dan teman sekamar nona hanna, saya sudah memastikan mayatnya tidak di temukan tuan, jadi anda tidak usah khawatir."


"Tuan Dazon, apakah anda ada di sana?" ucap Thomas.


Hanna berjongkok dan segera keluar dari ruangan itu, jantungnya berdetak kencang, tanpa memikirkan apapun lagi hanna keluar dari penthouse itu, dia masuk dan melewati tangga darurat, untungnya penjaga tidak ada di sana, dia kemudian berlari dengan air matanya mengalir terus menerus di pipinya.

__ADS_1


Dia bohong, ucapan pria itu bohong, tidak mungkin itu yessy, dia pastilah salah mengenali seseorang, pikir hanna, masih terus menuruni tangga, ketika dia melihat pintu menuju lantai bawah, dia segera keluar dari sana, tetapi dia kini berhenti ketika melihat mobil pria itu kembali lagi, dia kemudian keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa, hanna mundur beberapa langkah, dan mencari tempat persembunyian yang aman, dia melihat satu ruangan laundry, dia lalu masuk ke dalam ruangan itu, lalu mencari tempat sembunyi yang aman. Dia menutup mulutnya ketika mendengar langkah kaki di setiap tangga dan di sekitar dapur.


"CARI DIA SAMPAI KETEMU !" Teriak dazon kepada seluruh pengawal-pengawalnya, dia mengacak rambutnya, lalu menatap tampilan cctv ketika hanna mendengar semua ucapan Thomas di ruangannya.


__ADS_2