
Atlanta Georgia,
Pesawat raksasa dengan kecepatan tinggi DazonX727 telah melakukan pendaratan di Atlanta Georgia Amerika serikat, pria itu baru saja keluar dari pesawat dengan jaket panjang hitam menutupi tubuhnya, kaca mata hitam masih melekat di mata coklatnya, dia turun dari pesawat sambil di sambut puluhan pengawal berpakaian hitam rapi dan menunduk ketika dia melewati mereka semua.
Seorang pria berjalan di sebelahnya, dia berjalan secepat tuannya itu berjalan didepannya.
"Ada kabar apa Loue?" Tanyanya.
"Persenjataan kita masih belum tiba tuan, sepertinya ini ulah kelompok Cronus lagi tuan."
"Kau yakin ini ulah Cronus?" tanyanya.
"Kami yakin tuan."
Dia mengeluarkan cerutu dari sakunya lalu Tersenyum miring. "Habisi mereka." Ucapnya pelan sambil menghembuskan asap dari mulutnya.
Hanya satu kata itu yang dikatakan Dazon, dia segera pergi dan masuk ke dalam mobil yang telah disediakan untuknya.
Seperti sedang memutar memorinya kembali, ketika usianya 18 tahun, dia masih berkumpul bersama keluarga tersayangnya, dan ketika usia 18 tahun, tantangan itu datang kepadanya dari kakek dan ayahnya, tanpa ragu dia mengambil posisi penting di keluarga Caesaar, Dazon lebih memilih bekerja di dunia bawah yang penuh senjata dan bahaya dan segala sesuatunya yang mengerikan.
Dia memandang kota Atlanta dan terbersit di kepalanya untuk mengunjungi sepupu tersayangnya Axton, hidupnya penuh intrik cinta dan drama dengan istrinya, mereka sekarang ini berada di Manhattan bersama istri dan dua orang anaknya, tetapi waktunya yang sibuk membuatnya begitu jarang bertemu dengan anggota keluarganya, selain dia mengurus perusahaan kakeknya yang ada di Atlanta Georgia, dia juga bekerja di dunia mafia dan gangster, dia mengorganisir orang-orang yang setia kepada kelompok Caesaar dan membuang mereka para pengkhianat. Dazon meneruskan pekerjaan ayahnya, untuk memblokir semua musuh-musuh keluarga Caesaar yang sudah turun temurun.
Dia kemudian tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di kursi mobil dan memerintahkan supirnya untuk langsung ke kediamannya di salah satu penthouse mewahnya di kota itu.
Mobil melaju kencang membelah kota Atlanta, sebenarnya dia sangat ingin mengunjungi keluarganya yang ada di Manhattan, sudah begitu lama di tinggalkannya hampir 5 tahun lamanya, dia menghembuskan napasnya merasa sesak, lalu membebaskan dirinya dengan membuka dua kancing di kemejanya lalu kembali menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
Hari-harinya di sibukkan dengan menghadapi musuh-musuhnya, sampai-sampai dia tidak pernah menemukan seorang wanita yang mampu melepaskan dahaganya dan menjadi seperti sepupu lainnya yang memiliki istri serta anak-anak yang lucu, atau memiliki keluarga yang hangat yang normal.
Dazon belum siap untuk itu semua, musuhnya ada dimana-mana, dia tidak ingin seseorang terlibat dengan dirinya dan mendapatkan kesusahan semacamnya yang membuat segala pekerjaannya kacau, dia benci itu.
"Berhenti." Ucap Dazon tiba-tiba.
Matanya seketika tertarik dengan sebuah Truck Coffe yang berada di pinggir jalan, entah mengapa dia sering mencari sebuah Truck kopi yang berada di pinggir jalan. Biasanya orang yang kerja di pagi hari di perkantoran akan mampir untuk membeli kopi hangat yang menemani hari mereka.
"Kopi? Sore seperti ini, Sepertinya cocok untukku." Ucap Dazon.
Matanya tertuju pada seorang wanita yang memiliki wajah seperti perpaduan seorang wanita Asia dan amerika, meskipun wajah blasterannya masih kental terlihat di wajahnya. Dia terlihat menunggu para pembeli, padahal jam seperti ini, sulit untuk menemukan pelanggan yang ingin membeli kopi, ketika waktu makan malam sebentar lagi tiba.
Kemudian matanya tertuju pada celemek aneh yang di kenakannya, Dazon lalu membacanya. "You want drink this? Apakah itu lelucon?" Ucap Dazon, dia meminta supirnya berhenti di sisi jalan, dia penasaran dengan kalimat lelucon di celemek yang di kenakan oleh wanita itu.
~
Dazon Kemudian keluar dari mobilnya, berjalan dan menyeberangi trotoar kemudian menghampiri Truck Coffe itu. Matanya tertuju langsung pada celemek yang gadis itu kenakan. Rambut hitam kecoklatan menjuntai di bahunya, mata coklatnya berbinar dengan indah, dia terlihat manis dengan senyum tipis merekah di bibirnya dan kulitnya pun terlihat cantik.
"Espresso Miss." Ucap Dazon, matanya masih menatap intens tulisan di celemek itu dan tersenyum penuh arti.
"Kau yakin akan terus mengenakan itu?" Tanya Dazon, sambil menunjuk tulisan di celemek yang dikenakan tepat di dadanya. Gadis itu menatap celemeknya dengan sikap menantang tanpa kepura-puraan di wajahnya.
"Well, yeah kenapa?"
"Tidak apa-apa, jika itu untuk menarik perhatian pelanggan berarti kau telah berhasil, karena aku mampir karena membaca tulisan sweet di celemek milikmu." senyum Dazon.
__ADS_1
"Oh ya, terima kasih telah mampir." Gadis itu tersenyum seakan ingin mengusir cepat-cepat Dazon dari kedai Trucknya, dia memberikan segelas paper Cup kepada Dazon dan kembaliannya. Dazon mengambilnya, matanya sekali lagi tertuju pada wajahnya, dia terlihat sangat mirip dengan gadis yang pernah bekerja di Mansionnya, meskipun Dazon masih meragukan keberuntungannya.
Dazon berjalan kembali melintasi trotoar dan akhirnya sampai di mobilnya, sebelum mobilnya berangkat, dia menatap kembali wanita itu yang membungkukkan sedikit tubuhnya, bersandar pada meja pantry dan menunggu pelanggan datang.
Dazon mencicipi sedikit espresso yang di pegangnya. "Lumayan." Ucapnya. "Lanjutkan perjalanan." Perintahnya.
Dia masih menatap Truck Coffe itu, "Kau tahu yang harus kau lakukan, Loue? Cari tahu semua pemilik Truck Coffe di Atlanta, termasuk Truck yang baru saja kusinggahi."
"Baik tuan."
~
~
Malam itu jarum jam menunjukkan pukul 01.15 dini hari, sepatu Jenis brougue terdengar menghentak lembut di jalanan sepi tak berpenghuni itu, sesekali pria itu mengintip dari balik tembok gelap pada satu apartemen yang kusam sambil mengarahkan matanya ke bangunan di lantai 5 itu. Matanya kali ini teralihkan pada sosok perempuan mabuk yang baru saja keluar dari sebuah night Club, sambil menenteng tas kecilnya, wanita itu berjalan terseok-seok sambil memegang dinding di antara tembok-tembok, agar tubuhnya tidak terjatuh karena mabuk yang menyergapnya, wanita itu kini meracau dan bergumam-gumam, kadang dia teriak dan menyanyi semaunya.
"Sialan," Hueeek, huek. Wanita itu berhenti sejenak, karena tidak kuasa menahan perutnya yang bergejolak ingin memuntahkan segala cairan di dalam perutnya.
Angin dingin menerpa kulit wanita itu, sambil menghapus bekas muntahan di bibirnya, dia berbalik karena mendengar langkah seseorang dari belakangnya. Sunyi dan kosong, tidak ada seorangpun di jalanan itu.
Wanita itu kembali berjalan, semakin cepat dia melangkah, maka semakin cepat pula langkah seseorang yang mengikuti di belakangnya.
Dia mencoba berbalik dan melihat seorang pria mengenakan mantel panjang berwarna hitam, dia berdiri di bawah lampu jalan sehingga siluetnya tampak terlihat mengerikan.
"Apa yang kau lakukan berdiri di sana bodoh, bagaimana kalau kau temani aku malam ini? Aku pasti akan memuaskanmu, kau tahu? aku sangat ahli dalam urusan seperti itu, meskipun aku sedikit over ketika melakukannya." Wanita itu kemudian terkekeh-kekeh, geli dengan ucapannya sendiri.
Pria itu tidak bergeming, dia masih berdiri di sana, dia sama sekali tidak menanggapi ucapan wanita setengah mabuk itu.
wanita itu menampar-nampar pelan wajahnya agar dia sedikit sadar, dia menatap dengan jelas pria kokoh itu memiringkan kepalanya sedikit, seperti sedang memantau mangsanya dari kejauhan, dia terlihat seperti tidak memiliki wajah, karena separuh wajahnya tertutupi oleh tudungnya yang berwarna hitam.
Wanita itu membelalakkan matanya, wajahnya tiba-tiba di tutup kain dan tangannya di bekap, sehingga dia tidak bisa bergerak sama sekali. Pria itu mengendus aromanya dari ceruk lehernya hingga ke daun telinga, kemudian rambutnya, dia mengambil napas dalam-dalam dan menghirupnya.
"Wangi, tapi sayangnya tubuhmu berbau muntahan."
Kekehan itu terdengar jelas di telinga wanita itu, matanya melotot menatap pria mengerikan yang sedang membawanya, malam itu juga suara wanita itu tidak terdengar lagi, angin dingin begitu mengilukan tulang, apalagi angin yang berhembus saat itu merebak dengan bau anyir darah dari gang sempit, tubuhnya kini tidak bergerak lagi.
~
Senjata-senjata itu sudah di masukkan ke dalam mobil, puluhan kotak kayu di masukkan ke dalam mobil oleh setidaknya 20 orang pengawal berbaju hitam. Bunyi sirene dari jalanan kota Atlanta terdengar nyaring pada jam 4 pagi itu, mereka semua berhenti bergerak dan menatap dari arah gang sempit itu.
"Ada apa?" Tanya salah seorang pria yang sedang memantau dari jalanan sempit gang.
"Kenapa banyak sekali polisi pada jam seperti ini? sepertinya mereka menemukan sesuatu yang lebih menarik di bandingkan penyelundupan senjata kita kali ini." Ucap pengawal itu terkekeh, tiba-tiba dia terdiam karena mata tajam Thomas sedang memantau mereka dari arah balkon di lantai 2, sesuai dengan perintah tuan Dazon, senjata-senjata itu akan dikirim melalui kapal pribadi miliknya, tidak ada yang akan mencurigai kapal besar milik Dazon yang selalu berada di lautan Eropa, dia sering menikmati perjalanan liburan mewah. Kini kapal itu bersandar di pelabuhan Georgia
dan akan di bawa ke Italia di Milan.
Thomas menyipitkan matanya, merasa kejadian-kejadian aneh terus beruntun dan terjadi di kota ini, Thomas yakin pelakunya adalah orang yang sama, yang sangat mengenal daerah di kota ini, kejadian itu juga mempersulit ruang gerak mereka, karena dini hari seperti ini, polisi sering kali hilir mudik dan hal itu tidak menguntungkan untuk transaksi mereka. Telepon berdering Thomas kemudian mengangkatnya.
"Thomas bagaimana dengan senjata kita?"
"Senjata telah kami rebut kembali tuan, tinggal menunggu perintah anda." Ucap Thomas.
__ADS_1
"Jangan dulu bergerak, terlalu banyak polisi."
"Baik tuan,"
~
Di suatu gang sempit tepatnya di samping gedung-gedung apartemen yang kusam dan bangunan-bangunannya sudah terkelupas di temukan mayat seorang wanita dengan kepalanya yang tercabik-cabik hingga banyak mengeluarkan darah, rambut pirangnya habis di gunting acak-acakan, beberapa polisi memberikan police line agar orang-orang tidak mendekat karena matahari Sebentar lagi menerangi kota itu, dan orang-orang mulai berdatangan, sebagian orang yang melihatnya secara langsung menjerit ketakutan, darah bercecer di gang itu, tubuhnya bersandar di dinding dengan luka di beberapa tempat di tubuh wanita malang itu.
Thomas dan beberapa pengawal berjalan perlahan dan berkumpul di kerumunan, dia ingin menyaksikan apa yang telah terjadi, mereka begitu terkejut ketika terjadi pembunuhan mengerikan di tempat itu, padahal penyelundupan senjata mereka tidak begitu jauh dari lokasi kejadian.
"Sir, katanya ini sudah kasus ke 5 kalinya, wanita berambut pirang dan panjang di temukan tewas di kota ini, mati dengan cara yang mengerikan." Bisik salah satu Pengawalnya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, tempat ini mulai ramai, sebaiknya kita kembali, polisi dan detektif mulai berdatangan." Ucapnya pelan.
~
Pagi yang cerah, matahari langsung menembus jendela kaca di gedung berlantai 12 pada flat di nomor 705, Hanna baru saja keluar dari kamar mandi, dia memeluk dirinya sendiri, karena air hangat di showernya mampet lagi, maka dia tidak memiliki pilihan lain selain menerima air dingin yang langsung menyirami tubuh polosnya.
Dengan terburu-buru, Hanna segera menjambret apa saja t-shirt di dalam lemari pakaiannya dan mengenakannya, lalu mengambil jeans kusam pendeknya yang kini sudah berwarna abu-abu.
Hanna menuju dapur dan mengambil kettle lalu menuangkan air secukupnya dan menyalakan kompor gasnya, menunggu hingga mendidih, dia hendak membuat sarapan, bunyi ketukan nyaring terdengar dari pintu kamarnya. Hanna segera beralih dan mengintip dari lubang pintu, kemudian segera membuka pintunya dan menatap Yessy dengan wajah mengerikan, make-upnya telah luntur dengan maskara membekas di bawah matanya.
"Dia meninggalkanku begitu saja ketika aku terbangun pagi ini, Hanna."
Itu adalah ucapan pertama kali yang keluar dari mulutnya ketika dia menatap Hanna.
"Yessy, jangan bilang kau telah.....Oh tidak, lupakan, aku tidak mau memikirkannya yossy, apa kau telah bercinta dengan pria itu semalam?" tanya Hanna lugas dan segera menarik tangan sahabatnya ini, agar dia masuk ke dalam dan segera mendudukkannya di kursi, dia terlihat syok.
"Jangan katakan, kau telah menyerahkan dirimu seutuhnya kepada pria yang baru saja kau kenali dalam semalam." ucap Hanna menuduh.
Yessy mengangguk, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku sungguh bodoh Hanna, aku terbuai dengan kata-katanya, semalam aku ingin menikmati duniaku bersamanya, kau tahu kan, aku sedikit gila jika mabuk, maka Persetan dengan segala kehati-hatian, aku tidur dengannya tadi malam dan ketika aku membuka mataku, dia sudah tidak ada, dia juga tidak meninggalkan apapun, kartu nama atau setidaknya nomor telepon, aku begitu bodoh Hanna." ucapnya.
Hanna memeluknya lalu menepuk-nepuk punggungnya. "Kau akan segera baik-baik saja, lupakan dan segera memulai dari awal, ngomong-ngomong kau harus memulai dengan mandi dan membersihkan dirimu, karena baumu sungguh mengerikan yessy." ucap Hanna sambil tersenyum tertahan.
Yessy menganggukkan kepalanya, dia kemudian menghapus air mata di pipinya. "Bagaimana dengan Truck Kopi kita Hanna, semuanya baik-baik saja?" tanyanya.
"Seperti biasa, kau juga harus datang pagi ini, kita akan berjualan bersama."
Yessy kini telah mengenakan handuk. "Aku ada janji dengan pemilik club pagi ini Hanna, maafkan aku, tapi janji ini sungguh penting." ucapnya setengah berteriak ketika dia sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Oke, Its Oky." teriak Hanna dari dapur.
~
File itu diberikan kepada Dazon yang sedang duduk di kantornya, Loue membawakan file tentang pemilik Truck kopi kemarin yang di temuinya. Senyum terbersit di wajahnya.
"Jadi, dia bukan pemiliknya?" tanyanya.
"Ya sir, dia hanyalah teman pemilik kopi Truck itu, dia membantunya berjualan di Jalan Complex city."
"Kerja bagus, kau boleh keluar."
__ADS_1
"Baik tuan."
Senyum terlintas di wajahnya, dia menatap wajah cantik foto yang sedang di pegangnya. "Kita bertemu lagi Hanna Tan." ucap Dazon tersenyum.