
Penthouse Hanna, Atlanta
Apartemen itu memiliki 57 lantai, bangunan itu tidak terlalu tinggi di bandingkan bangunan menjulang di sekitarnya yang berada lumayan jauh dari pusat kota, apartemen itu di desain seperti layaknya bangunan hijau yang di penuhi pohon-pohon dan taman, di beri nama Apartement Sky Green, letaknya sangat strategis meskipun cukup jauh dari pusat kota, tetapi hanya menempuh jarak 20 menit perjalanan saja hingga sampai di pusat kota.
Dilengkapi dengan fasilitas yang tidak di ragukan lagi, elegan dan mewah serta di lengkapi sarana dan fasilitas bagi penghuni apartemen di tempat itu, meskipun harganya selangit, tetapi banyak dari pengusaha luar kota membeli apartement di sky Green.
Apartemennya berada di lantai 27, itu merupakan pilihan dazon sendiri, Hanna membuka pintu yang sekarang menjadi apartemennya, dia membukanya dan masuk dengan mata terbelalak, pemandangan yang di lihatnya seakan tidak nyata.
Apakah dia akan seterusnya tinggal di tempat mewah ini, ruangan itu sungguh luas, dilengkapi dengan segala perabotan yang lengkap, sehingga hanna tinggal menggunakannya saja.
"Aku merasa seperti j4langnya saja, setelah melepaskanku pergi dan menghadiahkanku apartemen ini, apalagi 3 kartu ini, apa yang harus aku lakukan dengan Black card ini?"
Hanna menghembuskan napasnya dan segera duduk di salah satu kursi di ruang tamu yang menghadap ke jendela, pemandangan luar biasa bisa Hanna lihat dari jarak jauh sekalipun, hanna merogoh tasnya dan mengambil ponselnya, dia kemudian mengetik sesuatu seperti permintaan Dazon.
"Aku telah tiba di apartemen mewahmu, kau yakin akan memberikanku apartemen ini? Karena jika aku sudah menempatinya kau tidak akan memperolehnya kembali, karena sudah menjadi milikku, dan mengenai kartu-kartumu, jangan khawatir aku akan shopping semauku, sampai kau bangkrut. Erm, Oke daz, aku mau tidur, selamat tinggal."
Hanna mengirimkan pesannya ke ponsel dazon. Dia lalu menyandarkan kepalanya di kursi dan menghela napas.
"Apakah ini betul-betul telah berakhir?" Ucapnya
~
~
Dia duduk di atas salah satu tong sampah yang berada di gank-gank sempit yang tidak akan di datangi oleh orang-orang, napasnya masih sesak karena berlari, tangannya masih di balut perban tetapi kini terlihat kotor, dia mencoba beristirahat agar dia bisa melanjutkan perjalanannya. Tujuannya sekarang adalah truck kopi yang sering di lewatinya, tempat Hanna berjualan di sana.
Dia menatap cincin yang ada di tangannya, cincin itu berinisial R, dia membuat satu lagi untuk adiknya, tetapi dia melupakannya di atas meja di penthouse itu.
Dia menatap ke kanan dan kiri, memindai jalanan yang cukup lengang itu, jika saja masih ada polisi yang berpatroli di sekitar situ.
Jam 2 tepat, Riel kembali berjalan dengan terseok-seok sambil memegang dinding di gank sempit itu, dia menahan kesakitan yang di rasakannya. Kesadarannya kini telah di kuasainya, pembunuh buas yang ada di dalam dirinya untuk sementara ini tidak akan muncul, ketika mendengar nama adiknya, kesadaran dengan cepat menghantamnya, kini dia mengetahui siapa dirinya, meskipun sakit selalu dia rasakan ketika keinginan untuk membunuh menguasai dirinya.
Matanya memicing ketika melihat dari kejauhan, seorang pria duduk di sana sambil membuang cerutunya, salah seorang dari mereka bertiga, memeriksa Truck itu mencari-cari sesuatu.
"Siapa mereka? Mereka bukan pengawal tuan Caesaar, siapa mereka, mengapa mereka memeriksa Truck Hanna?" Riel lebih mendekatkan dirinya. Matanya tiba-tiba membelalak, "Kelompok Crounus, mengapa mereka ada di sini? Apakah mereka telah mengetahui hubungan Hanna dengan tuan dazon?" Ucapnya.
Tanpa ragu, Riel keluar dari gank sempit itu, menunjukkan dirinya pada 3 orang lelaki dengan mengenakan jas hitam, mereka menyadari kehadiran seseorang, pandangannya tidak beralih dari mereka bertiga.
"Hei, siapa pria sinting itu? mengapa dia terus menatap ke tempat kita?" Ucap salah satu dari mereka.
"Coba kau periksa dia, mungkin dia orangnya Caesaar."
Salah seorang pria mendekat ke tempat Riel berdiri, dia berada di bawah lampu jalan yang temaram, siluetnya terlihat mengerikan, dua pria itu mendekati Riel.
"Apa yang kau lihat, kau siapa?" Tanyanya.
Riel tersenyum miring, dia tertunduk lalu tertawa lepas, membuat mereka berdua terheran.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka menyadari siapa pria yang sedang tertawa seperti orang gila di depannya.
"Dia pria itu, kau tidak tahu? Pembunuh berantai yang melarikan diri dari kejaran polisi." Ucapnya.
Pria di sampingnya tersenyum miring, "Apakah mereka akan memberikan kita hadiah jika kita menangkapnya? Tanyanya.
"Lakukan !" Tantang Riel.
"Mendekatlah kemari, jika kau ingin menangkapku." Bisiknya.
Kedua pria itu terlihat ragu, tetapi salah seorang dari mereka mencoba mendekat ke tempat Riel, tanpa dia sadari, pria itu terjatuh di jalan, dengan kepala bengkok ke kiri, mereka yang melihatnya mundur ke belakang.
"Dia gila ! Aku..aku pernah melihat wajahnya, dia dulu pernah bekerja di mansion Caesaar." Ucap pria itu. Mereka mengeluarkan senjata dari balik jasnya dan mengarahkan kepada Riel. Tetapi anehnya dia hanya terkekeh.
"Mendekatlah !"
Kedua pria itu tentu saja tidak mengindahkan kata-kata Riel, malahan mereka semakin mundur ke belakang, mereka berdua sadar, pria yang dihadapi adalah psikopat gila, sangat sulit menghadapinya.
Akhirnya keduanya berlari terbirit-birit, dan segera naik ke dalam mobilnya. Riel menatap kepergian mereka, kemudian menatap mayat pria yang telah terbujur di jalanan itu, dia kemudian menyeretnya masuk ke dalam gank, dia hendak mengambil pakaiannya, karena pakaian yang dia gunakan sekarang ini memudahkan orang-orang mengenalinya.
Riel keluar dari gank sempit, dia telah mengenakan jas berwarna hitam lengkap dengan senjata yang dia sembunyikan di balik jasnya, dia kemudian menghampiri truck kopi milik Hanna.
"Dimana dia? Di mana dia sekarang?' ucapnya. Tiba-tiba satu nama terbersit di ingatan Riel.
"Dazon Caesaar." Bisiknya.
~
Milan, Mansion tuan Caesaar 18.35
Pesta perusahaan besar Caesaar corporation berlangsung hari ini di salah satu hotel berbintang di Milan. Seluruh pengusaha terkenal dunia turut hadir memeriahkan pesta mewah itu.
Seluruh orang-orang penting sedang berkumpul di ball Room tempat di adakannya ulang tahun perusahaan besar Caesaar Corporation, sementara itu dazon masih duduk di dekat balkon, memegang gelas berisi minuman berwarna merah pekat di tangannya, sambil menatap pesan yang dikirimkan hanna kemarin malam.
__ADS_1
Dazon nampak sangat tampan, malam ini dia mengenakan tuxedo, dia terlihat tidak begitu memperdulikan tamu-tamu yang datang, suara ketukan sepatu mendekat ke arahnya. Wanita itu dengan berani menempelkan gelas minumannya kepada gelas Dazon, sehingga dentingan gelas berbunyi dan membuyarkan lamunan dazon dan perhatiannya dari ponsel yang dia pegang.
"Kita bertemu lagi tuan Dazon, kau pasti mengenaliku bukan? sudah tiga kali kita bertemu." Ucapnya bangga. Wanita itu mengenakan gaun berwarna pastel yang sesuai dengan warna kulitnya.
Dazon mengalihkan perhatiannya dan menatap wanita yang berdiri begitu dekat dengannya.
"Siapa?" Tanya dazon dengan menampilkan wajah dingin, seakan kehadiran wanita ini sudah mengganggunya. Tidak bisakah mereka menjauhinya sebentar saja, pikir dazon jengkel.
"Owh, erm kita pernah bertemu di hotel Atlanta, apakah anda tidak ingat? Aku manager di hotel itu, namaku Audy Ricardo." Ucapnya tersenyum.
Dazon tersemyum miring. "Apa yang dilakukan seorang manager hotel di pesta pengusaha terkenal seperti ini? apakah itu sepadan denganmu?" Dazon kemudian berbalik mengalihkan pandangannya dari wanita ini, wajah wanita itu seketika berubah, dia terlihat tersinggung dengan kata-kata dazon.
"Tega sekali anda tuan Dazon, aku sengaja datang ke pesta ini untuk anda, aku sangat mengagumi anda dan....
Dazon mengangkat tangannya menyuruhnya berhenti bicara.
"Kau yang pergi atau aku yang pergi, atau aku akan memanggil pengawalku." Gertak Dazon. Wanita bernama Audy terlihat mundur beberapa langkah, dia tidak tahu pria yang selama ini di kaguminya memperlakukannya seperti sampah.
Tetapi, wanita itu tidak mudah mundur begitu saja, dia selalu meyakinkan dirinya bahwa tidak ada sesuatu yang tidak bisa dia raih jika dia melakukannya dengan sunggu-sungguh, jadi dia lebih memilih menentang pria arogan di depannya itu. Dia adalah wanita yang keras kepala, memiliki pemikiran terbuka, pintar dan cantik, meskipun dia hanya seorang manager di hotel, tetapi pengusaha-pengusaha yang datang ke hotel itu, selalu ingin menemui Audy Ricardo. Dia tidak terima di perlakukan tidak adil seperti ini.
"Sebelum saya pergi, saya ingin mengatakan kepada anda bahwa Nona yang datang bersama dengan anda pada waktu itu, tidak lebih baik dariku, saya sudah memeriksa hubungan anda dengan wanita itu, dan yang membuat saya kecewa adalah bahwa anda memiliki hubungan dengan seorang gadis penjual kopi di pinggir jalan, itu melukai perasaan saya jika ingin di bandingkan dengan wanita seperti dia." Ucapnya dengan mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
Dazon memalingkan wajahnya, menatap tajam wanita yang sekarang ini dipenuhi senyum kemenangan di wajahnya.
Dia merasa menang telah mengalihkan pikiran pria arogan itu. Tanpa wanita itu sangka Dazon berdiri dan tangannya yang besar mencengkram rahang wanita itu dengan hanya satu tangan sehingga wajahnya terlihat kesakitan.
"Kau tidak bisa di bandingkan dengan Hanna, wanita j4lang, berani sekali bicara kasar di depanku? Kau tidak tahu siapa aku?! Apa kau belum pernah merasakan hidup di jalanan, jika kau mau, aku akan mengabulkannya, dan menghancurkan semua milikmu dan hidupmu."
Wanita itu kini ketakutan, tidak ada wajah penentangan lagi di wajahnya untuk menarik perhatian pria ini.
Kakinya sedikit berjinjit karena pegangan keras dazon di rahangnya, kini wanita itu menangis.
"Tuan Dazon, Tuan Caesaar memanggil anda, pesta akan segera dimulai." Ucap Paulo, matanya beralih kepada wanita yang terjepit di antara tangan tuannya.
Dazon menghempaskan wanita itu hingga dia terjatuh dilantai. Matanya menatap rendah kepadanya. "Lain kali, jangan biarkan satu tikuspun masuk ke pesta seperti ini, urus dia." Perintah dazon kepada paulo.
"Baik tuan."
Dazon melangkah dan masuk ke ruangan pesta, sedangkan paulo berdiri di sana menunggu sampai tuannya masuk ke dalam. Paulo kini menghampiri wanita yang tengah menangis dan memegang kedua pipinya yang kesakitan.
Paulo menatapnya tajam. "Apa kau bodoh ! Lain kali, perhatikan dengan siapa kau bicara sebelum kau mendekati tuan kami."
Wanita itu mengangguk cepat, dia segera berdiri dan seperti berlari, ia meninggalkan tempat itu, detik itu juga.
~
~
Pesta itu berlangsung meriah, beberapa patah kata dari Tuan Caesar sebagai pimpinan besar pemilik Cesaar corporation, serta pidato dari Xaphier dan daren, setelah itu pesta di lanjutkan dengan acara dansa.
Banyak yang berusaha mendekati Dazon, dan juga rekan-rekan bisnis ayahnya yang meminta waktu agar Putranya di perbolehkan berdansa sekali saja dengan putri mereka.
Dazon duduk sambil menopang dagu, memperhatikan ayah dan ibunya yang berdansa, serta sanak keluarganya semua berdansa dengan pasangan mereka masing-masing di lantai dansa. Dazon menyesap minumannya, tidak memperhatikan di sekelilingnya, wanita-wanita yang sedang berdiri di ujung sudut, berkumpul di sana dan mencoba memberanikan diri mereka untuk mengajak salah satu cucu yang masih single itu di antara cucu-cucu tuan Caesaar untuk mengajaknya berdansa.
Seorang pria mencoba mendekati Dazon dengan membawa putrinya yang ada di belakangnya, wanita itu mengintip malu-malu ke arah dazon.
Dazon yang akhir-akhir ini Bad Mood, hanya mengangkat tangannya, tiba-tiba sekitar 6 pengawal telah mengelilinginya dan menghalangi siapa saja yang mengganggunya.
Pria itu mengurungkan niatnya, dia juga tidak berani mencela sikap dazon yang arogan dan kurang ajar itu, karena dia tahu apa pekerjaan yang dilakukan cucu tuan Caesaar yang satu itu di bandingkan cucu-cucunya yang lain.
~
Thomas berangkat ke Atlanta malam itu juga, sesuai dengan perintah tuan Caesaar, dia harus segera kembali ke Atlanta untuk menyelidiki putri Ben Caesaar, Dan tempat pertama yang akan dia datangi dan curigai sejak awal adalah seorang Detektif bernama Nick Harvey, dia detektif yang sangat ingin menangkap Riel saat itu, dan tentu saja dia juga pasti sudah memeriksa masa lalu dan latar belakang keluarga Ben Reaver, jika pemikiran thomas benar, detektif itu tahu siapa Ana Reaver dan di mana dia sekarang." Saat itu pesawat dari milan telah tiba di Atlanta.
~
"Mengapa dia melarikan diri, setelah keinginannya bunuh diri, aku tidak mengerti, apakah ini semacam trik Riel agar setidaknya dia keluar dari penjara, meskipun bisa saya katakan keamanan di rumah sakit lebih memungkinkan dia meloloskan diri dengan banyak cara dibandingkan di dalam penjara Atlanta." Ucap Detektif Rainey.
Nick mengetuk-ngetukkan tangannya di strir mobilnya, menatap bangunan tua kusam yang tidak berpenghuni itu.
"Dia ingin menemui adiknya, itu yang memotivasinya ingin keluar dari penjara, keluarga satu-satunya yang dia miliki." Ucap detektif Nick.
"Mana foto yang kau temukan di truck kopi itu, aku ingin melihat kembali wajah adiknya, siapa tahu kita berpapasan dengannya di jalan." Detektif rainey mengambil satu foto kecil, foto Hanna dan yessy di depan trucknya ketika pertama kali mereka berjualan kopi di pinggir jalan.
"Jadi dia Hanna Tan atau nona Ana Reaver, tentu saja bukan wanita di sebelahnya karena dia berambut pirang." Ucap Detektif Rainey.
"Aku yakin Riel kembali ke Flat ini, dia tidak memiliki tempat bersembunyi di tempat yang lain, apalagi letak posisinya tidak begitu jauh dari flat ini." ucapnya.
"Entahlah jack, sejak malam tadi kita sudah menunggu di sini, bokongku terasa mati rasa, aku ngantuk." Dia menguap lebar-lebar sambil menyandarkan kepalanya di kursi.
"Bangunkan aku jika ada tanda-tanda keberadaannya." ucapnya.
__ADS_1
Matanya memindai mobil silver yang sejak tadi ada di sana, dia tersenyum, bodoh jika dia masuk lewat pintu depan, flat itu memiliki banyak akses yang bisa mengantarnya ke kamarnya di lantai 7, tetapi Riel tidak akan sebodoh itu, tentu saja mereka telah memasang cctv untuk memantaunya. "Kalian tidak akan bisa menangkapku sebelum aku bertemu dengan Ana ku." Bisik Riel.
~
Milan, mansion tuan Caesar
Mereka semua sarapan pagi di meja makan tidak terkecuali, suasana cukup kikuk dan tegang, untung saja Alexa dan Alice memeriahkan suasana itu dengan bergosip mengenai aktor film yang mereka sukai, sesekali lexia menggelengkan kepalanya ketika melihat putrinya seperti di mabuk cinta jika berbicara tentang idolanya.
"Mommy, aku ingin ke korea, boleh yaaaa?" Ucap Alexa merengek. "Sebentar lagi idolaku itu akan konser Mom, please ya." Ucap Alexa menautkan jari-jari kecilnya sambil menatap ibunya.
"No, kau akan ikut ibu ke Manhattan, tidak ada nonton-nonton konser dan mengajak para pengawal untuk menjagamu, kau itu masih kecil alexa, bukan tempatmu untuk nonton konser seperti itu, ibu akan menyekolahkanmu dimanhattan, kau akan sekolah di sana, tidak ada pembicaraan lagi Alexa, kau dengar ibu?" Tegas Lexia.
"Dengarkan Mom Alexa." Ucap Ax kepada adiknya.
"Baik mommy, aku juga bisa menontonnya dan Online seharian, jadi Mom tidak boleh mengganggu aku." Ucap alexa, Alexa yang ceplas ceplos tiba-tiba menatap kakeknya.
"Oh ya kek, yang mana tunangan Kak Dazon? aku tidak melihatnya semalam, pesta itu kan sangat pas untuk memperkenalkannya kepada kita semua." Ucap alexa dengan mulut kecilnya tanpa rasa bersalah, menatap mata-mata tajam yang mengarah kepadanya.
Lexia mencubit pinggang putrinya. "Ouch Mommy, sakit !"
"Siapa yang dia tiru." Gumam lexia menatap anaknya yang makan seperti tidak terjadi apa-apa.
Tuan Caesaar berdehem, lalu menatap semua orang yang tengah duduk di sana, mereka semua sebenarnya sangat penasaran, gadis mana yang akan di tunangkan untuk dazon oleh kakeknya. "Mengenai itu, akan tiba waktunya kakek akan memperkenalkannya kepada kalian semua, ketika pesta pernikahan dazon akan di laksanakan." Ucapnya sambil memperbaiki gagang kacamatanya.
Tuan Caesaar tahu, suatu hari mereka akan bertanya-tanya mengenai calon pengantin Dazon, tetapi sampai saat ini, tuan Caesaar juga belum bertemu dengan gadis itu.
Dia akan menikahkan Dazon cucunya dengan Putri pengawal setianya yaitu Ben Reaver, dia juga masih mencari-cari keberadaan gadis itu, sayang sekali sampai sekarang dia masih menunggu kabar dari Thomas, dan belum sedikitpun ada pencerahan mengenai keberadaannya.
"Ayah serius?" Ucap Lexia. "Ayah akan menikahkan dazon tanpa melihat calon pengantinnya lebih dahulu? tapi bagaimana bisa ayah?" Ucap Lexia.
"Duduklah lexia, kenapa kau yang bersuara sekeras itu?" Ucap tuan Caesaar.
"Erm ya, kakek akan membawanya ketika pernikahannya akan berlangsung." Titah tuan Caesaar.
"Astaga, bagaimana nasib dazon kelak, dia akan melihat pengantinnya pertama kali di hari pernikahannya?" bisik Daneil.
"Kakek sudah selesai sarapan, kalian lanjutkan saja." Ucap tuan Caesaar, dia kembali ke ruangannya, dia tidak mau lagi mendengar pertanyaan yang membuat tuan Caesaar sama bingungnya dengan mereka, karena diapun belum mengetahui keberadaan putri Ben Reaver.
~
Sekarang ini Thomas berada di belakang mobil silver yang sejak tadi parkir di dekat bangunan tua flat kusam itu. Thomas berasumsi bahwa selain detektif yang mengetahui latar belakang Ana reaver, dia juga percaya bahwa Riel juga sedang mencari tahu mengenai keberadaan adiknya, itulah mengapa dia melarikan diri.
Thomas sejak tadi memata-matai sekitar bangunan, dengan menyebar separuh anak buahnya, dia tahu bahwa bukan hanya pintu depan saja akses masuk ke gedung itu, dengan gesit dia segera mengendap-endap ke belakang bangunan lalu mengikuti satu sosok yang begitu di kenalnya.
"Lama tidak berjumpa Riel, bagaimana kabarmu?"
Riel berbalik tanpa terkejut sedikitpun, matanya mengarah kepada Thomas yang berdiri di hadapannya. Senyum mengembang di wajahnya.
"Halo Sir, lama tidak bertemu." Ucap Riel.
Thomas melengkungkan bibirnya "Aku yakin pelarianmu ini bukan karena kau ingin bebas saja, apa tujuanmu Riel? kenapa kau melarikan diri dari penjara?"
Riel menatapnya dengan pandangan tajam, dia kemudian melirik ke samping kiri dan kanannya, para pengawal lainnya tidak ikut bersama Thomas, apa dia seorang diri datang ke sini? "Di mana tuan Dazon?" tanyanya.
"Kenapa kau mencarinya?" Tanya Thomas.
Riel seperti berpikir keras, layakkah dia tahu apa yang dia cari? mungkin saja Thomas mengetahui keberadaan adiknya. "Tuan Dazon tidak berada di Atlanta, dia berada di Milan, kenapa?" pancing Thomas.
Riel kembali terdiam, dia menimbang-nimbang untuk menanyakan sesuatu, tetapi bagaimana jika thomas mencurigainya? tapi kali ini dia sama sekali tidak memiliki waktu, cepat atau lambat polisi akan meringkusnya, dan sebelum itu terjadi dia sudah harus bertemu dengan Ana adiknya.
"Dimana tuan Dazon menyembunyikan Hanna Tan." Tanyanya.
Thomas mengernyitkan alisnya, "Mengapa kau mencari Nona Hanna Tan? wanita itu sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Tuan Dazon." Ucap Thomas.
Mata Riel membelalak, tangannya terkepal kuat. "Apa maksudmu tidak memiliki hubungan lagi? apa dia dicampakkan oleh Tuan Dazon?" ucapnya dengan mata berapi-api, napasnya memburu, seringai di wajahnya membuatnya nampak lebih menakutkan.
"Kenapa kau perduli Riel, dan kenapa kau mencari Nona Hanna? Apa tujuanmu." Tanya Thomas.
Matanya kembali melirik kepada Thomas. "Jika kau ingin mengetahuinya, kau bisa bertanya kepada detektif yang ada di mobil itu." Ucapnya.
Thomas melipat kedua tangannya, berjalan mendekati Riel tanpa takut sedikitpun. "Kenapa aku harus berurusan dengan detektif itu, Jika kau tahu jawabannya, Katakan ! Kenapa kau mencari-cari nona Hanna?"
Riel tertunduk, tangannya terkepal kuat, kesempatannya hanya satu, waktu seakan mengejarnya, jika dia tidak bertemu dengan Tuan Dazon, setidaknya Thomas tahu keberadaan adiknya.
"Karena Hanna Tan adalah....
Terdengar suara langkah kaki yang berlari mendekat ke tempat mereka sedang berbincang, tanpa menyelesaikan ucapannya, Riel berlari dan bersembunyi, tetapi tidak dengan Thomas, dia hanya berdiri di sana memperhatikan Riel dari kejauhan. Langkah itu semakin mendekat, dan akhirnya mereka bertemu, detektif Nick dan Thomas.
Keingintahuannya sangat besar ketika melihat Thomas ada di sana, "Kau ! pengawal tuan Caesaar, apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya.
Thomas tersenyum tenang, "Sama seperti anda detektif, aku juga mencari keberadaan Ben Riever." Ucap Thomas.
__ADS_1