
"Ax cepat bangun dan siap-siap, kita akan pergi bertemu dengan kakek dan nenekmu." Ucap lexia membangunkan putranya yang masih ngantuk.
"Mom, please 5 menit, Ok." Ucap Ax sambil menutup kepalanya dengan bantal.
"Bangun, atau hari ini juga ibu akan mengantarmu ke rumah paman Xaphier, sekarang !" Perintahnya.
"Ugh, ok ok mom." Ax kini duduk di atas tempat tidurnya, dia menggaruk-garuk kepalanya lalu segera turun dari tempat tidurnya berjalan dan masuk ke kamar mandi.
Lexia sudah siap-siap dan sekarang sudah duduk sarapan pagi.
"Kau akan pergi sayang?" Ucap Daren baru saja tiba dari joging paginya. Dia mengecup lexia dan duduk di sebelahnya.
"Aku akan ke pemakaman kakek dan Nenek Kenzo, aku akan membawa Axton bersamaku." Ucapnya.
Daren mengangkat alisnya. "Dia mau pergi?" Ucapnya ragu. "Bagaimana mungkin Ax yang cepat bosan itu menuruti keinginanmu?"
Lexia tersenyum miring. "Jika dia tidak ikut aku mengatakan kepadanya akan membawanya ke mansion Xaphier, dan dia langsung menyerah pada serangan pertamaku, nama Xaphier cukup manjur juga untuk ketiga anak-anak bandel itu."
Axton turun dari tangga, dia memberikan kecupan selamat pagi kepada ayah dan ibunya, setelah itu dia duduk sarapan bersama mereka.
"Mom, setelah aku ikut Mommy, aku ingin bertemu dengan Dazon dan Daneil di clu... maksudku di perpustakaan, kami ada rencana belajar bersama." Ucap Ax sambil melihat situasi dihadapannya.
"Benarkah? Kebetulan Ibu juga ingin ikut keperpustakaan bersama Nara dan Lovelia."
Seketika Ax melotot dan tidak percaya dengan ucapan ibunya.
"C'mon mom, ok aku tidak akan bohong, aku hanya ingin berkumpul bersama mereka, kami tidak melakukan hal-hal yang aneh mom." Ucap Ax bersungguh-sungguh.
~
Jalan Santiago 87 Street Arah selatan merupakan daerah yang cukup ramai dilintasi oleh para pejalan kaki, dimana deretan pedagang berada di sana mulai dari truck food, penjual buah sampai dengan penjual bunga-bunga. Hari ini Fairley menemani ibunya jualan karena di hari libur seperti ini pekerjaan Fairley juga tidak terlalu banyak, hanya restaurant saja pada saat itu yang buka tetapi Fairley akan bekerja setengah hari saja.
"Mom, istirahatlah biar aku yang melayani pembeli, katanya Nyonya Luci ingin berbicara dengan ibu." Ucap Fairley.
"Benarkah?" tanyanya.
"Ya mom, dia menunggu mom sejak tadi."
"Kalau begitu ibu pergi sebentar, jaga toko Fairley." Ucap sang ibu.
Pukul 09.00 Pagi hari, para pejalan kaki tidak begitu ramai, Fairley duduk di depan kedainya menjual berbagai macam jenis-jenis bunga yang telah di rangkai dengan indah, ibunya sangat menyukai bunga dan dia merangkainya sendiri, sehingga ketika pertama kalinya sampai di kota ini dia memutuskan untuk berjualan bunga.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti sebentar di sana. Mobil mereka begitu mencolok di tempat sederhana di jalan Santiago yang hanya di kunjungi para pejalan kaki saja.
"Turunlah belikan ibu bunga, mommy akan membawakan kakek dan nenekmu bunga." Ucap lexia kepada putranya.
"Suruh saja dia Mom." Ucap Ax menunjuk Supirnya. Lexia memandang putranya sedikit melotot dengan tangannya yang bersiap di dekat telinga Ax.
"Ok mom aku akan pergi." Ucap Ax lalu keluar dari mobil, setelah itu menengok kanan dan kiri mencari penjual bunga. Matanya langsung tertuju pada sebuah kedai kecil dengan bunga yang menumpuk dan bermacam-macam. Dia menyebrangi jalan dan langsung menghampiri tempat itu.
"Berikan aku bunga itu." Ucap Ax menunjuk bunga mawar merah dengan rangkaian bunga yang indah, tanpa menatap sang penjual, Ax melihat bermacam-macam bunga di sana.
"Ini cocok untuk pergi mengunjungi pemakaman?" Tanyanya.
Fairley mengambil dua rangkaian bunga mawar dan segera mengikatnya. "Apa saja boleh selama yang wafat ketika dulunya masih hidup suka dengan bunga ini, meskipun mawar merah belum tentu cocok untuk di bawa ke pemakaman.
__ADS_1
"Jadi, menurutmu bunga apa yang cocok." Tanyanya, dia melirik sebentar kepada para penjualnya.
"Lili putih ini juga cocok di bawa ke pemakaman sir di bandingkan mawar merah ini." Jawab Fairley.
"Sir?" Ucap Ax tidak percaya, dia melipat kedua tangannya menatap garang kepada gadis mungil berambut coklat yang berdiri di hadapannya.
"Apa aku bertampang seperti 'Sir', usiaku tidak jauh berbeda darimu." Ucap Ax kesal. Fairley tidak memperdulikannya dia hanya mengambil dua rangkaian lili putih dan mengikatnya tanpa menggubris ucapan Axton.
"Hei kau mendengarku?" tanyanya, sekali lagi menatap Fairley sambil berkacak pinggang. Fairley mengerutkan hidungnya, sekali lagi tidak memperdulikan kata-kata Ax yang terlihat jengkel.
"Semuanya 14 dollar." Ucap Fairley kepada Ax.
'Gadis ini tidak memperdulikan omonganku?' gumamnya pelan.
"14 dollar sir." Ucap Fairley lalu memandang wajah Ax yang sekarang sudah terlihat menakutkan karena matanya yang melotot.
"Hei kau buta ya, apa aku tampak kelihatan tua? kenapa kau selalu memanggilku dengan kata sir?" ucapnya.
"Berikan aku 14 dollar jika kau ingin bunga lili ini." Ucap Fairley lagi-lagi tidak memperdulikan protes Ax.
"Aku tidak jadi beli di tempat yang penjualnya kasar sepertimu." Ucap Ax jengkel. Fairley tidak mengambil pusing dengan kemarahan Ax dia kembali menaruh bunga lili itu di tempatnya dan kembali duduk sambil memainkan ponselnya.
"Ck, gadis ini, awas saja." ucap Ax sambil memperhatikan penjual yang berderet di sana, dia berjalan mencari penjual bunga yang lain tetapi sayangnya di sepanjang jalan itu yang tersedia cuma Truck makanan dan Truck kopi serta penjual surat kabar dan majalah serta beberapa aksesoris lainnya.
"Kenapa sih mom pergi ke tempat aneh seperti ini, kan banyak penjual bunga yang mewah di tempat lain." ucap Ax jengkel, akhirnya dia kembali ke tempat Fairley setelah berjalan beberapa menit dan ponselnya berdering, lexia mengomeli Ax yang pergi terlalu lama.
"Hei, berikan aku bunga lili itu." Dia kembali ke kedai Fairley dan menunjuk bunga lili tadi yang sudah tidak ada lagi, dia tidak nampak malu atau merasa bersalah setelah mengatakan Fairley dengan kata kasar.
"Sudah di beli." Ucap Fairley jengkel.
Ax menatap jengkel kepadanya, dia membalikkan badannya sambil menggerutu lalu menghampiri mobil ibunya. Ax membuka pintu mobil dan melihat heran dua bunga lili di atas pangkuan ibunya.
"Kau dari mana saja Ax, kau keluar sudah hampir 15 Menit hanya untuk membeli bunga?" ucap lexia.
"Salahkan penjualnya mom, dia kasar sekali, baru kali ini aku melihat gadis kasar seperti itu."
Lexia menatap putranya. "Bukan kau yang kasar kepadanya? lagi pula waktu ibu yang membeli di tempatnya, gadis itu sangat ramah kepada ibu." Ucap lexia sambil lalu.
"Hari sudah hampir siang Sebaiknya kita pergi sekarang." Mobil melaju dan melewati kedai Fairley yang berdiri di sana sambil tersenyum ramah kepada pembeli.
Ax menatapnya kemudian berdecak dan kembali menyingkirkan pandangannya ke tempat lain, dia tidak mau berurusan dengan gadis penjual bunga itu, pikirnya.
~
Mereka tiba di sudut kota Manhattan, di sana pemakaman Kakek dan Nenek Kenzo yang sangat di sayangi lexia di makamkan, dia menaruh kedua bunga di atas pusara mereka berdua lalu berjongkok di depannya, sementara Ax berdiri di belakang ibunya menatap pusara di hadapannya.
"Kakek, Nenek aku membawa Ax putraku kemari agar dia bertemu dengan kalian, dia anak yang tampan bukan?" senyum lexia, kemudian menghapus air mata yang jatuh dipipinya, Ax menatap ibunya.
'Kakek dan Nenek Kenzo? mengapa kakek Caesaar tidak menceritakan tentang mereka, lagi pula kakek dan nenek dari ayah sudah wafat, jadi siapa kakek dan Nenek Kenzo ini?' Gumam Ax. Dia menatap ibunya yang terlihat sedih.
Mereka berdua kini ada di dalam mobil, mereka akan mencari tempat untuk makan siang di restaurant. "Kita pergi ke Town city, ibu suka makanan di sana, murah dan rasanya sangat enak, kau pasti belum pernah mencobanya." Ucap lexia bersemangat.
"Murah?? Apa rasanya akan enak jika makanannya murah Mom? kita bisa pergi di hotel milik kita dan makan di sana saja, makanan di sana terjamin kelezatannya terus kualitas dan kebersihannya juga sudah pasti terjamin."
"Tutup Mulut Axton, atau ibu akan turun di sini dan kita akan makan di Truck food di pinggir jalan itu." Ancam Lexia kepada putranya.
Dengan wajah lesu dan menyerah akhirnya Ax mengikuti kemauan ibunya. Mereka berdua berhenti di salah satu pusat kota di Asia Town, di sana berjejer rapi segala jenis makanan dan minuman dari negara Asia, lexia pernah kemari sekali bersama dengan Edo sewaktu dulu, dia mentraktir lexia Sphagetti Seafood yang begitu lezat.
__ADS_1
"Sepertinya di tempat ini deh." Ucap lexia menatap gambar besar berbentuk mangkuk berisi Mie yang terlihat telah pudar.
"Ibu yakin mau makan di tempat ini, sepertinya 60 sampai 70 persen kita akan sakit perut setelah makan di tempat ini." Ucap Ax mengernyitkan dahinya. Lexia segera menarik putranya untuk masuk ke dalam.
~
Hari itu sudah hampir siang, Fairley segera memberitahukan kepada ibunya kalau dia akan segera bekerja di restaurant pamanJhon, dia mengayuh sepedanya dengan cepat. Sekitar 15 menit akhirnya dia tiba di restaurant itu dan segera bersiap-siap mengenakan celemeknya dan sarung tangannya untuk segera mencuci piring, pengunjung kali ini tidak begitu ramai, jadi lexia tidak terburu-buru untuk mencuci piringnya.
Setelah piring-piring beres, dia segera menumpuk sampah-sampah dan membuangnya di tempat penumpukan sampah. Lexia menghapus keringatnya, tiba-tiba matanya tertuju kepada sosok pria yang ada di ujung gang jalan, sepertinya dia sembunyi dari seseorang. Fairley tidak begitu memperdulikan pria itu, dia kemudian mengambil sepedanya dan segera melewati pria yang mengenakan jas hitam dengan rambutnya yang terlihat berantakan.
"Hei, hei kau !" Panggilnya.
Fairley berbalik dan ternyata Cowok tadi yang membeli bunga, sepertinya dia sembunyi dari seseorang.
"Kau..kau lagi !" Ucap Axton terkejut, dia menunjuk Fairley sambil mengintip dari ujung jalan. "Hei, jika kau melihat seorang wanita mencariku, katakan kepadanya kau tidak melihatku dan....
"Dia ada di sana Nyonya." Ucap Fairley melihat wanita cantik sedang mencari-cari seseorang. Dia begitu saja menunjuk Ax yang sedang bersembunyi di belakang tembok.
"Kau ingin main petak umpet bersama ibu Ax?? bagaimana kalau kita mainnya di rumah paman Xaphier saja??" Lexia menarik kuping Ax.
"Mom, mom Ouch, oke oke aku salah Mom." ucap Ax sambil menahan sakit, tubuhnya yang tinggi harus dia tundukkan sedikit untuk mengimbangi tinggi ibunya. Matanya kini beralih kepada Fairley.
"Kau ! Awas saja, aku akan balas dendam !" Ucapnya sambil masuk ke dalam mobil karena dorongan lexia kepada putranya. Lexia segera masuk ke dalam mobil, sedangkan Ax menatap dengan melotot melalui kaca jendela mobil kepada Fairley yang menarik satu matanya ke bawah dan menjulurkan lidahnya, dia kemudian mengayuh kencang sepedanya, tidak memperdulikan kekesalan Ax yang menatapnya dari kejauhan.
~
Tubuhnya terlentang di atas tempat tidur, sambil memukul kesal tempat tidurnya, Ax mengingat sekali lagi wajah gadis menyebalkan itu, gara-gara dia Mom tidak membiarkanku keluar ke club. "Ck sial, awas saja dia." Ucap Ax memainkan ponselnya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, dia kemudian mengangkatnya.
"Hemm, Dua bocah itu akhirnya meneleponku." Ucap Ax lalu menjawab telepon dari Dazon
"Kenapa kalian lama sekali, cepat kemari, jemput aku dan katakan kepada ibuku kita akan belajar kelompok bersama." Ucap Ax.
"Aku tidak bisa, ayahku ada di rumah bodoh, kau pikir aku bisa lolos dari rumah ini jika ayahku berada di rumah? kau yang datang kemari menjemputku."
"Selamat tinggal Dazon, aku menyerah jika harus bertemu dengan Ayahmu." Ucap Ax langsung mematikan ponselnya dan kembali menghubungi Daneil.
"Kau dimana Neil?" tanyanya.
"aku sedang belajar, sekarang." ucapnya kaku.
"Hentikan omong kosong tentang belajarmu sekarang dan jemput aku di mansion, aku bosan sekali."
"Aku tidak bisa, kakek sedang ada di belakangku bercakap-cakap bersama ayah, lagi pula ada pengawal di kiri dan kananku."
"Ok ok tutup ponselnya." Ucap Ax, dia kini mencoba menutup kedua matanya tetapi bayangan gadis menyebalkan itu kini terbayang di kepalanya.
"Dia bekerja di tempat itu? tadi dia juga bekerja di tempat penjual bunga." Ucap Ax sambil melipat kedua tangannya lalu mulai mencari-cari cara untuk membalas gadis kecil itu.
~
Fairley pulang kerja sore harinya setelah mengunjungi beberapa cafe untuk melamar pekerjaan, meskipun belum ada yang mau menerimanya karena usianya yang masih sekolah menengah ke atas belum bisa mereka terima jadi pekerjanya, berbeda jika dia sudah selesai sekolah atau dalam masa kuliah, mereka akan menerima pekerja di atas usia 18 tahun, sedangkan Fairley masih berusia 17 tahun.
Fairley menghembuskan napasnya, dia menatap kembali rumah krem rapuh itu dan mengingat jika sebentar lagi sewa rumahnya akan jatuh tempo sedangkan yang mereka kumpulkan belumlah cukup untuk membayar uang sewanya kali ini.
Fairley duduk seorang diri di depan halaman rumahnya, sambil memikirkan cara untuk melengkapi uangnya yang masih kurang beberapa dollar.
"Apa ibu sudah pulang?" ucapnya, dia berjalan pelan dan mengintip dari balik jendelanya. "Mom belum pulang, bagus, sebaiknya aku mencoba lagi mengunjungi beberapa cafe siapa tahu salah satu cafe itu menerimaku."
__ADS_1