The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Rencana Melda 3


__ADS_3

Oklahoma city, 07.55


Nara mengambil napas panjang, "tinggal 5 menit lagi dan aku harus masuk ke kamar pria itu." Ucap Nara tak henti-hentinya menatap jam yang menempel di dinding, tepat jam 8 Nara masuk ke kamar Xaphier sebelum itu dia mengetuk beberapa kali, tetapi karena tidak ada jawaban Nara membuka pintu kamar dan segera masuk ke dalam, ruangan besar dengan hitam dan putih mendominasi tempat itu, kaca jendela besar menutupi seluruh permukaan dinding hingga Nara bisa menyaksikan pemandangan kota yang tinggi dari tempatnya berdiri.


Suara air dari kamar mandi membuat Nara Berbalik dan mengetahui jika Xaphier masih mandi, kakinya terasa kesemutan hanya berdiri di sana tanpa berbuat apa-apa.


Pintu kamar mandi terbuka dan xaphier keluar dari sana dengan hanya handuk yang menggantung di pinggulnya. Nara memutar kepalanya tidak mau menatap tubuh Xaphier. Dia tersenyum, tanpa mengucapkan apapun Xaphier melewati Nara yang berdiri di tengah-tengah ruangannya. Setelah memakai kemejanya dia berjalan di depan Nara dan memberikan dasinya kepadanya.


"Ini, Pasangkan !" Perintahnya.


Nara mengambil dasi berwarna grey dari tangan Xaphier, matanya tertuju kepada pria tinggi yang menatapnya dengan mata tajam safirnya. Dia ingin memasangkan dasinya tetapi Xaphier terlalu tinggi untuknya, tinggi Nara saja hanya sampai di dada bidang Xaphier. Nara mendongakkan kepalanya langsung menatap Xaphier yang bersedekap di depannya menunggu dasi itu di pasangkan.


"Ka...kau terlalu tinggi, aku tidak bisa menjangkau lehermu." Ucap Nara dengan pipi merona mencoba melingkarkan dasi di leher Xaphier.


"Jadi, aku harus bagaimana?" Tanyanya


"Bi..bisakah kau menunduk sedikit." Ucap Nara dengan ragu-ragu. Xaphier berdecak. "Aku tidak pernah menunduk pada siapapun Nara, bahkan kepada ayahku saja aku tidak pernah tunduk, jadi bagaimana kau bisa mengharapkan aku tunduk di depanmu?" Xaphier tersenyum miring menyaksikan kegalauan gadis dengan pipi merona di hadapannya.


Nara tiba-tiba terlonjak ketika Xaphier mengangkatnya begitu saja di tubuhnya lalu merentangkan kedua kakinya melingkar di tubuh Xaphier.


"Turunkan aku, apa yang kau lakukan !" Teriak Nara merasakan hal yang aneh ketika kedua kakinya bergantung di tubuh Xaphier yang berdiri santai dengan senyum smirk di depan wajah Nara.


"Hanya mencoba membantumu Nara, kau tidak memiliki alternatif lain selain posisi seperti ini Hem." Ucap Xaphier, Nara mencoba turun dari tubuhnya tetapi kedua tangan Xaphier menahan kedua kakinya dan menjepitnya hingga Nara harus memegang tengkuk Xaphier karena kedekatan tubuh mereka yang begitu intens.


"Pasangkan cepat, semakin lama kau tidak memasang semakin lama kau akan berada di tubuhku." Wajah Xaphier dan Nara hanya terpisah setengah jengkal sehingga napas Xaphier yang keras terasa berhembus di depan wajah Nara. Xaphier menelan ludahnya ketika merasakan panas dan wangi harum dari napas Nara yang dia hembuskan.


Dengan cepat Nara memasangkan dasi Xaphier, Tubuhnya menggeliat karena rasa yang tidak nyaman menyentuh daerah sensitifnya, Xaphier menyadari tubuh Nara bergerak, tiba-tiba dia mendesis. "Berhenti bergerak Nara jika tidak, kau akan kulempar ke tempat tidurku sekarang juga." Ucap Xaphier menahan dengan sangat godaan Nara yang bergantung di tubuhnya.


Setelah selesai memasang dasi, Nara hendak turun dari rengkuhan Xaphier di kedua kakinya. "Aku..aku sudah selesai." Ucap Nara masih dengan wajah merah menahan malu. "Turunkan aku." Ucapnya. Xaphier tersenyum miring dengan perlahan dia menurunkan Nara, dia merasakan dirinya berdenyut keras dan menegang ketika gadis itu menggeliat di tubuh Xaphier tetapi dia mencoba menahannya sekuat tenaga.


"Hem lumayan." Sambil menatap dirinya di cermin dan dasi yang dipasangkan Nara untuknya.


"Hari ini aku tidak pulang, mungkin besok atau lusa, aku akan ke Oklahoma dan menginap di sana."


"Ba..baik," ucap Nara kemudian bergegas keluar dari kamar Xaphier dengan jantung yang berdetak cepat. Nara masuk ke dalam kamarnya, dia memegang jantungnya yang tidak mau berhenti berdetak kencang. "Ugh, apa aku harus melakukan hal seperti itu setiap hari? Bagaimana bisa aku melakukannya dengan posisi seperti itu?" Ucap Nara menutup kedua matanya mencoba menetralkan jantungnya agar kembali normal.


~


Lovelia sedang berada di perpustakaan seperti hari-hari biasanya ketika ia menunggu pamannya. Dia menatap jam yang ada di pergelangan tangannya sudah pukul 10 tetapi Alvin belum juga datang, lovelia sesekali mengintip dari jendela perpustakaan, jika saja dia melihat Alvin tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya.


"Kenapa hari ini dia tidak datang? Apa sesuatu telah terjadi?" Ucap lovelia. Karena begitu gelisah lovelia akhirnya memutuskan keluar dari perpustakaan untuk mencari Alvin, dia melangkah di koridor dekat ruangan kakeknya, suara-suara dari dalam ruangan dapat terdengar, pembicaraan antara kakeknya dan ajudan pribadinya.

__ADS_1


"Apakah Alvin sudah berangkat?" Tanyanya.


"Ya, tuan."


"Bagus, kali ini dia harus menemukan wanita yang cocok untuknya, dia salah satu putri dari perusahaan berkelas di Portland, semoga saja mereka berdua cocok.


Lovelia yang ada di luar pintu ruangan kakeknya terlihat gemetar, tangan dan kakinya terasa lemas, 'jadi paman Alvin pergi menemui seorang wanita?' ucapnya, tanpa di minta air mata menetes di pipi lovelia, dia mundur beberapa langkah kemudian dia berlari menuju taman dan menangis di sana.


"Apa aku tidak akan bisa bersama paman Alvin?" Tangisnya. Lovelia tahu hal seperti ini suatu saat akan terjadi tetapi kebersamaan mereka berdua selama ini membuat dia melupakan hal itu, lovelia sangat menikmati berada dekat dengan Alvin yang dicintainya.


~


Kepergian Melda hari itu membuat lega tuan Caesaar pasalnya perangai lexia yang kasar dan keras akan lebih memperumit suasana, apalagi sikap Melda yang pantang menyerah dan selalu merasa tersaingi dengan keberadaan lexia membuat tuan Caesaar akhirnya menyuruh Melda segera pergi dari mansion.


Melda masuk ke dalam mobilnya namun tatapan bencinya terus menatap ke arah mansion di hadapannya.


"Berhentilah menengok dari jendela lexia, kau akan menambah kebencian Melda kepadamu." Ucap tuan Caesaar selagi mereka berempat berada di ruang tamu. Lexia melambaikan tangannya ke arah mobil melda. Daren yang melihatnya menggelengkan kepalanya dan menarik pinggang lexia agar berhenti memprovokasi Melda yang masih menatapnya geram.


Xaphier hanya tertawa melihat sikap lexia. "Kenapa sih ayah membiarkan dia tetap tinggal di sini, dia mengerikan ayah, siapa yang tahu jika dia mencari mangsa karena melihat banyaknya pria-pria yang ada di mansion." Ucap lexia sambil bersedekap.


"Itu tidak mungkin, dia tidak akan serendah itu melakukan hal memalukan seperti itu di mansionku." Ucap tuan Caesaar menggeleng.


"Ya, dia melakukannya ayah." Ucap Xaphier, dia terkekeh. "Tanya saja Thomas kepala pengawal, sudah berapa banyak pengawal yang dipecatnya akibat ulah Melda yang menggoda mereka dan mengimingi dengan harta kekayaannya, karena ketahuan oleh Thomas, beberapa pengawal itu di pecat begitu saja setelah itu melda lepas tangan.


"Wanita itu memang mengerikan." Ucap lexia sedangkan Daren memeluk lexia dan Ax erat yang sekarang berada di pangkuannya. Kali ini dia harus mewaspadai setiap gerak gerik melda, meskipun dia sudah keluar dari mansion ini orang-orangnya bisa saja ada di mana-mana dan memata-matai lexia.


~


Napasnya tersengal-sengal, dia sedang berada di apartemennya di New York bersama seorang pria yang sekarang menjadi orang kepercayaannya.


Setelah menghabiskan waktu beberapa jam bercinta dengan salah satu pengawalnya, dia duduk di tepi tempat tidur lalu menyalakan cerutunya.


"Kau harus memata-matai mereka yang ada di mansion, ketika dia lengah kau bisa memberikan ini ke minumannya, bukankah kau berjaga di pintu belakang di bagian dapur?"


"Ya, aku bekerja di sana." Ucap pria itu yang masih berbaring dan terlihat letih, dia mengambil rokok yang ada di sebelah Melda dan menyalakannya.


"Obat apa ini?" Tanyanya, dia memegang botol kecil tanpa warna lalu menggoyangkan di depan wajahnya.


Melda tersenyum miring, seringainya tampak di wajahnya yang keriput. "Itu obat perangsang, aku ingin kau menuangkannya di minuman Daren Burchard, pastikan dia meminumnya, setelah itu kau bisa membawanya kepadaku." Ucap Melda sambil bersandar di punggung pria itu lalu membayangkan Daren berada di sisinya membuat aliran darahnya berdesir dan adrenalinnya terpacu.


"Kita akan lihatkan bagaimana wajah lexia ketika itu semua terjadi." Dia tertawa, sesekali asap rokok menghembus dari mulut dan hidungnya.

__ADS_1


~


Suasana makan malam di kediaman keluarga Caesaar nampak bahagia, mereka semua berbincang dan saling bersenda gurau, lexia sedang menggendong Ax yang tiba-tiba menangis dan rewel, dia tidak mau tidur dan minum susu, Ax seketika tenang ketika Daren mengambilnya dari gendongan lexia dan menggendongnya.


"Biarkan aku menggendongnya sampai Ax tertidur, kau makan saja duluan lexia. Daren berada di kamarnya selagi lexia berada di meja makan bersama ayah dan kakaknya.


Pria berwajah latin sedang mengintip dari balik pintu dapur, ketika tidak ada seorangpun yang berjaga di sana diapun masuk dan melihat segala makanan penutup yang akan dihidangkan sudah tersedia di sana tinggal di bawa keluar setelah mereka selesai makan malam.


Pria itu menuangkan sesuatu di salah satu cangkir mereka berempat, kemudian dengan tergesa-gesa di keluar dari dapur. Mereka semua sudah selesai makan malam, makanan penutup Sebentar lagi dihidangkan dan empat cangkir sudah siap di bawa keluar oleh pelayan.


"Kemana Daren?" tanya Xaphier mengambil secangkir kopi dan menyesapnya.


"Dia masih di kamar, Ax lagi rewel jadi Daren yang menidurkannya." ucap lexia, dia mengambil salah satu cangkir kopi dan juga meneguknya sedikit, tahu rasanya pahit dia mengurungkan untuk meminumnya kembali.


"Sebaiknya aku ke kamar ayah, Xaphier selamat tidur." ucap lexia lalu kemudian beranjak dari sana dan naik ke lantai dua di kamarnya bersama Daren. Tubuhnya sedikit terasa aneh, gelenyar panas dan darahnya seakan terpacu, jantungnya berdetak kencang, dan napasnya tersengal-sengal seakan membutuhkan pelepasan.


Lexia bersandar pada dinding karena tiba-tiba saja dia pusing, Daren baru saja membuka pintu kamar dan melihat lexia sedang bersandar di dinding terlihat tidak fokus dan wajahnya memerah. "Lexia ! Kau kenapa?!" ucap Daren dengan khawatir.


"Daren?! Aku...." Napasnya pendek-pendek kemudian Lexia menatap bibir Daren yang membuka, dia melemparkan dirinya ke tubuh Daren dan menyerang bibirnya di koridor gelap itu.


Mereka saling memagut dan bercumbu, lexia menciumnya seakan tidak ada hari esok, kakinya melingkar di sepanjang pinggul Daren, lexia merekatkan dan menggesekkan tubuhnya, memeluk erat tubuh suaminya.


"Lexia ! kita ke kamar dulu dan...." Daren tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena lexia sudah menyerang kembali bibir Daren hingga tubuh keduanya membentur dinding yang dingin. Dengan sekuat tenaga Daren membawa lexia masuk ke dalam kamarnya lalu dengan cepat menguncinya. Lexia tidak bisa dikendalikan malam itu dia menyerang tubuh Daren dengan liar hingga Daren kewalahan menerima serangan lexia. Hentakan tubuh lexia kepada daren seakan tidak bisa dihentikan, setelah mendapatkan pelepasannya dia tidak membiarkan Daren beristirahat, tubuhnya kembali menggeliat dan bergerak liar, hingga hampir menjelang fajar Tubuh lexia ambruk tidak bertenaga lagi, dia jatuh tertidur dalam pelukan Daren yang bibirnya sudah membengkak akibat serangan lexia malam ini.


~


Daren mengerjap dan tiba-tiba saja terbangun, lexia berada di sampingnya memeluknya erat tanpa mengenakan apapun, mereka berdua tertidur di lantai kamar begitu saja karena Ax berada di atas tempat tidur. Daren menggeliat, mereka masih menyatu, dengan perlahan Daren melepaskan tubuh lexia dan mengangkatnya ke atas tempat tidur. lalu membaringkannya di samping Ax.


Daren kembali berdiri dan masuk ke kamar mandi, dia melihat sekitar leher sampai di perutnya penuh tanda kiss Mark hasil karya lexia malam ini. Daren menyalakan shower dan menikmati mandi air hangat, kemudian memikirkan kembali serangan lexia malam ini yang tidak biasa, seakan lexia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.


"Bukan salahku lexia jika tidak lama lagi Ax memiliki seorang adik, kau membuatku tidak hati-hati malam ini." ucap daren. Setelah mandi dan mengenakan handuk, Daren keluar dari kamar mandi dan matanya tertuju kepada lexia yang tertidur pulas tanpa mengenakan apapun, dia menendang selimut yang menutupi tubuhnya hingga teronggok di lantai.


Daren mengambil kembali selimut itu dan menutup tubuh istrinya yang tidak mengenakan apapun. Daren duduk di tepi tempat tidur di samping lexia. Menatap wajah lexia yang sedang tertidur dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya.


"Kau kenapa malam ini sayang?" ucap Daren memberikan kecupan singkat di bibirnya, kemudian dia mengenakan boxernya lalu kembali tidur di samping putranya Ax. "Bersiaplah besok dengan interogasiku lexia, kau seperti sedang meminum obat perangsang." ucap Daren masih memikirkan lexia yang bergerak kasar di tubuhnya semalam hingga dia kembali menegang.


"Obat?!" Daren memikirkan kemungkinan itu bisa terjadi seseorang menaruh obat itu di gelas dan kebetulan lexia yang mendapatkan gelas berisi obat itu. "Tapi siapa?" ucapnya. Tiba-tiba ingatannya jatuh kepada wanita tua itu. Daren menelan ludahnya.


"Mungkinkah?? Besok aku akan membicarakannya dengan Xaphier." ucap daren mencoba melupakan tubuh seksi lexia yang bergerak liar tadi malam. "Ck, lexia betul-betul berbeda, aku ingin.....Ah sudahlah, aku harus tidur."


~

__ADS_1


"Bodoh ! kau tidak berhasil?? kau memang tidak bisa diharapkan, jadi siapa yang telah minum obat itu?" ucapnya.


"Sepertinya yang mendapatkan obat itu istrinya sendiri." ucap pria latin itu, sebuah tamparan keras mendarat di pipi pria itu. Melda mengepalkan tangannya, tidak kuasa memikirkan lexia malam ini menghabiskan malamnya yang panas bersama Daren.


__ADS_2