The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 9


__ADS_3

Sesuatu terasa berbeda dari Fairley semenjak Ax menyatakan bahwa dia telah menjadi kekasihnya, fairley terduduk di tempat tidurnya, mengingat kejadian kemarin siang sampai Ax meninggalkan rumahnya siang itu, Fairley merasa ini semua tidak benar, dia tidak bisa menerima keputusan Ax yang sepihak.


Fairley memutuskan untuk berbicara kepada Ax siang ini, dia harus berbicara dengan tegas bahwa dia tidak mau menjadi kekasihnya, dan dia tidak berpikir untuk menjalin cinta kepada siapapun juga karena dia terlalu sibuk mencari dollar.


Dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan segera masuk ke kamar mandi, setelah beberapa menit, Fairley keluar dari kamar mandi dan segera bersiap-siap berangkat ke sekolah.


Ibunya telah menyiapkan sarapan diatas meja


dan menuliskan memo kepada Fairley seperti hari-hari biasanya. Setelah sarapan, Fairley mengambil sepeda merah tuanya dan berangkat ke sekolah.


Pria bernama Erick menatap kepergian Fairley dari balik jendela. Lalu melihat ponselnya berdering kemudian dia mengangkatnya.


"Dia berangkat ke sekolah." Ucapnya.


~


01.12 Mansion Burchard


Fairley menuju ke mansion Ax dan memantapkan dirinya untuk berbicara kepada Ax mengenai keputusan egois Ax yang menyatakan bahwa dia adalah kekasihnya.


Fairley mendorong sepedanya dan berpikir kata-kata apa yang pantas untuk memulai pembicaraan. "Sial ! Apa yang harus aku katakan terlebih dulu ya, aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya." Gumam Fairley.


Bunyi klakson mobil membuat Fairley sedikit merapat ke sudut jalan dan menatap mobil mewah berwarna hitam memblokir jalannya.


Fairley menatap mobil yang sedang berhenti dan seorang wanita berambut pirang baru saja keluar dari mobilnya. Dia berdiri di hadapan Fairley kemudian menatap mengejek kepada Fairley, senyum angkuh terbersit dari bibirnya.


"Namamu Fairley? Padang rumput eh? Lucu sekali." Ucapnya.


Wanita itu terus melangkah semakin dekat dengan Fairley. "Jadi, kau yang mencuri Ax dariku, wanita sepertimu? Bahkan diriku harus berbicara denganmu saja sudah tidak pantas, aku harus terpaksa berbicara seperti ini karena kau sudah melewati batas, kau tahu maksudku?" Ucapnya.


Fairley menggelengkan kepalanya dan tidak memperdulikan kata-katanya dia membelokkan sepedanya untuk terus berjalan sampai ke depan gerbang mansion.


Dengan sangat tiba-tiba, rose menarik rambut Fairley ke belakang hingga kepalanya turut mundur, Fairley teriak, dan berbalik dengan refleks, Fairley memegang kedua tangan rose yang mencengkram rambutnya dan satu tangannya ikut menarik rambut pirangnya hingga kepalanya turut miring karena tarikan keras Fairley.


"Jauhi Ax, dasar kau tidak tahu diri, kau sama sekali tidak pantas berada di samping Ax."


"Lepaskan tanganmu gadis jelek," teriak Fairley keras.


Rose melepaskan tangannya tetapi dia menampar pipi Fairley, tidak tinggal diam, Fairley membalas tamparan itu keras hingga pipi rose nampak memerah. Matanya melotot dia tidak menyangka gadis kampung itu balas menamparnya. Dia mencoba balik menyerang Fairley tetapi satu tangannya telah dipegang oleh seseorang.


Dia menatap pria yang memegang tangannya. Thomas melihat perkelahian dua gadis di depan gerbang, dengan cepat dia segera keluar.


Ax sudah ada di sana menarik tubuh Fairley dan menjauhkannya dari gadis pirang itu.


Fairley berbalik dan menatap wajah Ax dengan penuh luka di wajahnya.


"Gadis itu telah membohongimu Ax, dia itu wanita gelandangan, dia tidak pantas untukmu." Teriak rose, tangannya di pegang oleh Thomas karena dia berusaha mendekat ke Fairley.


Fairley begitu geram kepadanya, dia ingin setidaknya menampar sekali lagi mulut kurang ajarnya yang selalu mengatakan dirinya gelandangan.


"Kita masuk Fairley," ucap Ax.


"Kau sudah kuperingati, rupanya kau tidak mendengarkan ucapanku, kali ini kau jangan menyesalinya." Ucap Ax dengan nada sedatar mungkin.


Sebelum Rose kembali berbicara dengan mulut ternganga tidak percaya bahwa Ax masih juga membela gadis gelandangan itu, Fairley tiba-tiba saja menarik kerah baju milik Ax dan menciumnya, ciuman dari Fairley membuat Ax terkejut tetapi dia dengan cepat menyambut ciuman itu.


Ciuman intens itu membuat Rose ternganga, Fairley sangat marah sehingga tanpa pikir panjang dia mencium Ax mencoba memprovokasi Rose agar dia semakin marah.


Thomas masih memegang satu tangan Rose dan menunggu ciuman mereka berdua selesai. "Dasar gadis tidak tahu diri." Ucap rose teriak dengan berapi-api, Fairley tersenyum mengejek kepadanya dan menarik tangan Ax masuk ke dalam mansion tanpa memperdulikan teriakan-teriakan Rose di luar mansion.


~


Fairley berjalan di depan Ax, dengan kesal dia berjalan cepat -cepat dan memegang rambutnya yang kusut Masai akibat tarikan keras rose.


"Kau tidak apa-apa?" Ucap Ax melihat rambut Fairley yang terlihat berantakan.


Dia menarik dagunya ke atas dan melihat sedikit luka di bagian pipi kirinya. Dia memegang tangan Fairley dan membawanya masuk ke dalam mansion dan segera ke ruangannya.


"Duduk di sini." Perintahnya.


Axton berjalan dan membuka lemari dan mengambil sebuah kotak dan menarik kursi dan duduk di hadapan Fairley. Dia membuka kotak berisi obat-obatan serta kapas, dia mengusapkan obat agar luka di wajah Fairley segera sembuh.


Fairley menatap Ax, dan ketika dia sudah tersadar dan mengingat kembali apa yang telah dilakukannya tadi membuat pipi Fairley semakin merona. Semua tujuannya untuk memberitahu alasan kedatangannya kemari hilang sudah, Fairley sama sekali tidak fokus.


"Sakit?" Tanya Ax.


Fairley menggelengkan kepalanya, pipinya masih merona mengingat kejadian tadi.


"Erm, itu....aku, aku melakukannya untuk membalas wanita itu, bukannya aku sengaja menciummu tetapi aku ingin membuatnya marah dan...


Ucapannya terhenti, Ax tiba-tiba saja memberikan kecupannya. Membuat Fairley terdiam sejenak.


"Tidak usah kau jelaskan, aku mengerti dengan yang kau lakukan tetapi tetap saja aku menyukainya." Ucap Ax tersenyum membuat Fairley merasakan detak jantungnya mulai berdetak cepat ketika melihat senyuman Axton.


"Hari ini kau tidak perlu membersihkan perpustakaanku, lagi pula hari ini aku malas membaca buku-buku." Ucapnya.


"Ka...kalau begitu, aku pulang saja." Ucap Fairley lalu berdiri dan ingin mengambil tasnya.


Tangannya dipegang erat oleh Axton. "Aku ingin makan masakanmu." Ucapnya.


"Kau pasti belum makan siang bukan? Lebih baik kita makan bersama." Fairley mengangguk begitu saja, Ax membawa Fairley ke dapur dan menyuruh seluruh pelayan untuk menyingkir dari dapur agar Fairley merasa bebas untuk mengerjakan apapun yang diinginkannya.

__ADS_1


"Kau bisa masak apa lagi selain sphagetti itu Fairley?" Tanyanya.


Fairley menatap dapur besar yang beberapa kali lebih luas dari dapur restaurant paman Jhon, dia berjalan dan menatap ruangan besar seukuran kamar untuk penyimpanan seluruh makanan, mereka berdua masuk ke dalam dan melihat berbagai macam sayuran dan daging yang tersusun di rak-rak.


Ruangan besar itu layaknya kulkas raksasa, temperatur di dalam sangatlah dingin, dengan cepat Fairley mengambil beberapa potong daging dan sayuran serta bumbu-bumbu lainnya dan segera keluar dari sana.


Mereka kembali ke dapur, "Kita akan masak apa?" Tanyanya.


"Aku tidak tahu, tapi..bagaimana kalau tumisan daging dan sayuran saja," ucap Fairley.


"Kau tidak tahu, tetapi kau tetap mengambil bahan-bahannya, kau yakin kau bisa mengolahnya menjadi makanan?" Tanya Ax.


Fairley menganggukkan kepalanya dan mereka memasak berdua di dapur.


~


Telepon berdering, Thomas mengangkat telepon yang terhubung di ruang kerjanya tepat di samping mansion.


"Halo Thomas, dimana Axton?" Ucap Daren.


"Dia ada di dapur tuan, dia sedang memasak." Jawabnya.


"Memasak??" Tanya daren terheran.


"Dia sedang memasak dengan Nona Fairley."


"Owh, bersama gadis itu? Dia tentu saja tidak akan pergi ke dapur seumur hidupnya jika bukan karena gadis itu." Ucap Daren.


"Hanya itu yang aku tanyakan, bagaimana keadaan di mansion?"


"Semua terkendali sir." Jawabnya.


"Bagus, kabari kami jika sesuatu terjadi." Ucapnya.


"Baik sir."


~


Xaphier dan Nara sedang makan siang bersama Dazon di salah satu restaurant, hari itu Daneil di jemput kakeknya tuan Robert untuk berangkat ke Oklahoma karena dia merasa cucunya sudah terlalu lama tinggal di rumah Xaphier.


"Dimana Axton, Dazon?" Tanya Xaphier ketika mereka sedang makan.


"Dia kembali ke mansionnya ayah, dia sekarang memiliki hobi baru, sekarang ini Ax sangat giat membaca buku." Ucap Dazon sambil menyuap makanannya.


"Membaca buku? Dazon, Kau bercanda?" Tanya sang ibu.


"No mom, aku tidak bercanda, dia sedang senang membaca buku sampai-sampai dia lupa waktu." Ucapnya.


Xaphier menatap putranya Sambil memicingkan kedua matanya, dia menginginkan jawaban sebenarnya.


"Pacar? Ax memiliki kekasih?" Ucap Nara sambil tersenyum.


"Kau yakin Daz?" Tanyanya lagi.


"Tentu Mom, lagi pula ayah dan ibunya pasti sudah mengetahui informasi ini dari Thomas, dia kan selalu ada di sana memantau mereka berdua dan melaporkan semua kegiatan Ax kepada paman Daren dan bibi lexia." Ucap Dazon.


"Syukurlah kalau ada Thomas, aku takut jika Ax di tinggalkan sendiri dengan seorang gadis, kau tahukan maksudku," ucap Xaphier mengangkat alisnya kepada Nara.


"Aku percaya kepada Ax dia tidak mungkin melewati batas yang tidak seharusnya Xaphier."


"Maksud mom, Ax akan bermain aman?" Ucap dazon.


Ucapan Dazon membuat Xaphier dan Nara menatapnya dengan tatapan tajam penuh selidik. "Apa yang kau tahu tentang bermain aman daz?" Tanya Xaphier, tetapi tatapannya Seakan menyuruh putranya untuk berhenti berbicara yang tidak-tidak.


"Aku percaya kepada Ax, dia tidak akan melakukan sesuatu yang membuat ayah dan ibunya cemas." Ucap Nara.


~


Ciuman itu begitu intens, sampai-sampai Fairley menggapai-gapai udara untuk meraup oksigen karena Ax menciumnya tanpa memberikan ruang untuk Fairley bernapas. Mereka memisahkan tubuh mereka beberapa inci tetapi Fairley dapat merasakan hembusan napas Ax di wajahnya, dia kembali menciumnya hingga Fairley tersudut di meja dapur hingga tangannya memegang tepian meja agar dia tidak terjatuh.


Ax menarik wajahnya, sambil tersenyum melihat napas Fairley memburu karena ciuman intens Ax.


Ax menatap cctv yang masih merekam dirinya, dan tahu bahwa Thomas pasti disana sedang mengawasinya.


Dia melepaskan pelukannya dari tubuh Fairley dan menekan tombol off pada sistem cctv sehingga tidak aktif lagi.


"Mereka pengganggu saja." Gumam Ax.


Fairley mencoba menjernihkan pikirannya dari ciuman Ax yang sedang menguasai dirinya. Dia harus fokus agar tidak terjerumus oleh ciuman Ax yang membuatnya mengikuti alur yang diinginkan Ax kepadanya.


"Aku harus pulang, lagi pula kita sudah makan." Ucap Fairley.


"Kenapa? Kau memiliki pekerjaan lain?" Ucap Ax dengan nada tidak suka.


"Tidak, Restauran paman Jhon sedang tutup karena dia kembali ke Florida, aku harus pulang, lagipula hari sudah semakin sore." Ucap Fairley mencoba mengambil napas agar dirinya tetap berpikir jernih, tetapi rasanya begitu sulit jika terus berada di samping Ax, dia seakan terperangkap di dalam kepala Ax yang ingin mengikuti skenario percintaan yang diinginkan oleh Ax.


"Aku betul-betul harus pulang, ibuku sudah menunggu di rumah." Ucapnya menghindari tatapan Ax, Fairley berjalan melewatinya tetapi lagi-lagi tangannya dipegang oleh Ax.


"Kau ingin menghindariku?" Tanyanya.


"Bukan begitu, aku benar-benar harus pulang." Ucapnya.

__ADS_1


"Tidak, tetap disini bersamaku, aku ingin kau di sini bersamaku, sebentar lagi aku akan mengantarmu pulang," ucap Ax memaksa.


Fairley menghempaskan tangan Ax, "Jika..Jika aku terus bersamamu, aku seperti bukan diriku lagi, kau tahu maksudku? Ciuman..ciumanmu itu membuatku gila Ax, aku tidak bisa, aku harus segera pergi." Ucap Fairley mengambil tasnya dan segera pergi.


"Aku akan mengantarmu, jika kau menolak, aku tidak akan membiarkanmu pulang," ucapnya. Fairley tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran Ax.


Ax akhirnya mengantar Fairley pulang, Thomas ada di sana memperhatikan mereka berdua, matanya tajam menatap dua remaja yang di mabuk asmara itu, dia tahu cctv di dapur telah di matikan oleh Ax sehingga dia tidak tahu apa yang dilakukan tuan mudanya itu.


Mobil melaju kencang, hari sudah semakin gelap, rupanya mereka menghabiskan beberapa jam di dapur untuk memasak, sisanya mereka bercumbu hingga lupa akan waktu.


Fairley selalu Melirik kepada Ax yang sedang mengemudi, tatapannya selalu jatuh dibibir itu, dia memejamkan matanya tidak percaya bahwa sudah beberapa kali bibir itu menempel erat di bibirnya. Fairley menggelengkan kepalanya berusaha kembali berpikir jernih.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.


"Apa? oh tentu, aku tidak apa-apa." Dia berbohong, dia begitu gelisah, mengapa dirinya begitu saja menerima ciuman-ciuman mesra bahkan intens dari tuan muda ini? bagaimana jika dia hanya mempermainkannya saja? bagaimana jika itu hanya sebentuk kepuasan dari diri Ax tanpa memperdulikan perasaan Fairley, atau apakah dia betul-betul menyukainya? pertanyaan itu terus berputar di kepala Fairley.


"Kita sudah sampai." Ucap Ax.


"Apa? Oh, aku tidak menyadarinya." ucapnya.


"Tentu saja tidak, dari tadi kau terus melamun." senyum Ax. Fairley membuka pintu mobilnya tetapi tangannya kembali di tahan oleh Ax, dia mendekatkan wajahnya kepada Fairley, sehingga sedikit lagi bibir mereka saling bersentuhan.


Tiba-tiba ketukan Terdengar dari luar jendela mobil, mengagetkan mereka berdua. Erick mengetuk keras kaca jendela mobil, mereka berdua turun dari mobil.


"Ada apa paman?" tanya Fairley mencoba terlihat normal.


"Apa kau tidak melihat ponselmu? tetanggamu baru saja datang dan memberitahukan kepadaku jika ibumu baru saja masuk ke rumah sakit." Ucapnya, Fairley menjadi panik, dia kemudian masuk ke dalam tetapi Ax masih menggenggam tangannya.


"Di rumah sakit mana?" tanyanya.


"Di Manhattan Hospital." Ucapnya. Ax segera membawa Fairley ke dalam mobilnya dan segera menuju ke rumah sakit tempat ibu Fairley di rawat.


Fairley begitu cemas, dia menautkan jari-jarinya dan berdoa semoga ibunya baik-baik saja, sejak dulu ibunya memiliki penyakit anemia, dia kerap pingsan ketika penyakitnya kambuh lagi, tetapi baru kali ini ibunya sampai dibawa ke rumah sakit.


"Tenanglah ibumu akan baik-baik saja." ucap Ax mencoba menenangkan Fairley.


~


Mereka tiba di sana, ibunya berada di salah satu kamar, Fairley segera masuk dan menatap ibunya yang terbaring lemah, dia mendekati ibunya yang tertidur dan memegang tangannya.


"Maafkan aku Mom, aku tidak tahu jika mom lagi sakit, seharusnya hari ini aku saja yang kerja." bisik Fairley.


Axton menunggu di luar kamar pasien, dia duduk di sana. Seorang pria paruh baya sedang menatap Ax yang duduk di sana, tidak lama kemudian Fairley keluar dari kamar ibunya.


"Paman Hendrik?" Ucap Fairley heran.


"Akhirnya kau datang Fairley, tadi siang ibumu jatuh pingsan sepertinya dia sangat kelelahan, penyakit Anemianya kambuh lagi hingga sore tadi dia sesak napas dan pusing." Ucapnya.


"jadi aku bawa saja sore tadi ke sini, kata dokter ibumu akan baik-baik saja, dia harus banyak istirahat dan makan makanan yang sehat dan bergizi."


"Terima kasih paman Hendrik." Ucap Fairley.


"Jangan sungkan Fairley," Senyumnya. Matanya beralih kepada Ax yang berdiri di samping Fairley.


"Dia..dia temanku." Ucap Fairley membuat Ax berbalik dan menatapnya.


"Terima kasih atas bantuannya, paman hendrik bisa pulang sekarang." Ucap Fairley. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Jaga ibumu baik-baik, aku pulang Fairley, hubungi paman jika kau membutuhkan sesuatu." Ucapnya, sekali lagi menatap mereka berdua, kemudian dia pergi.


"Bagaimana keadaan ibumu?" Tanya Ax kepadanya.


"Ibuku sedang tidur, semoga dia baik-baik saja." Ucapnya khawatir. Ax memegang tangannya dan menyuruh Fairley untuk duduk karena tadi dia terlihat begitu cemas.


"Tunggu di sini, aku akan membeli sesuatu untuk menghangatkan tubuhmu." Ucap Ax kepadanya.


~


Dazon menghubungi Ax yang sedang membeli minuman hangat untuk Fairley.


"Ada apa Daz?" tanyanya.


"Kau dimana? dari tadi ayah dan ibuku mencarimu, dia takut kau tidak bermain aman."


"Bermain aman? apa sih maksudmu"


Terdengar kekehan dari seberang telepon, "Cuma bercanda, kau tidak pulang? kau masih bersama gadismu?" tanyanya.


"Erm, Sebentar lagi kurasa." Jawabnya.


"Jangan kelewatan Ax, kau masih belum bisa merawat dirimu sendiri apalagi mengurus seorang bayi." Ucapnya. Terdengar kembali kekehan Dazon yang selalu usil kepadanya.


"Tutup mulut Daz, Apa maksudmu dengan bayi?" tanyanya. "Sudahlah, kau bicara yang tidak-tidak." Ax segera menutup ponselnya dan mendengus.


Dia membawa dua gelas minuman hangat untuk Fairley, sekarang menunjukkan pukul 9 malam, Fairley duduk sambil terkantuk-kantuk di tempatnya duduk. Ax menyimpan minumannya dan segera duduk di samping Fairley dan menyandarkan kepalanya di bahunya agar kepalanya merasa nyaman.


Ax melepaskan jaketnya dengan hati-hati agar Fairley tidak terbangun, dia menutup tubuh Fairley dengan jaketnya, agar dia tidak merasa kedinginan.


~


Thomas mencari-cari tuan mudanya, dia sudah menghubungi tuan Dazon tetapi katanya dia belum kembali ke mansion. Setelah berbicara dengan salah seorang pria, dia akhirnya menemukan dimana keberadaan Axton.

__ADS_1


Matanya menerawangi rumah sakit itu, membiarkan para pengawal berpencar untuk mencari tuan mudanya, tiba-tiba dia mendapatinya sedang tertidur sambil duduk bersama dengan gadis itu di luar kamar pasien.


Thomas menghela napasnya, kemudian memotretnya dan segera pergi dari tempat itu, setelah sampai di mobil, hasil jepretannya di kirimkan kepada Ayah dan ibu Axton yang ada di Eropa.


__ADS_2