
Jack melaporkan hasil temuannya saat memeriksa kamar di mana Adelia menginap, sebelumnya dia bertanya pada resepsionis kamar milik Adelia dan keluarganya. Awalnya pegawai resepsionis sama sekali tidak memberi tahu dengan alasan menjaga privasi tamu hotel itu, merasa tidak mendapatkan info apa pun Jack mulai memainkan caranya.
Petugas resepsionis tampak ragu-ragu, Jack merasa jika dia tidak akan mendapat informasi apapun. Dia lalu memulai strategi untuk bisa mendapatkan petunjuk kamar Adelia dan membuahkan hasil, Setelah mengetahuinya Jack segera menuju lift menekan tombol menuju lantai itu. Hampir sampai di depan pintu kamar milik Adelia, Jack mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Nicholas. Matanya membesar saat melihat ponselnya dalam keadaan mati,
“sh*t, why does this phone act when you need it? (****, kenapa saat di butuhkan malah berulah ini ponsel?)” ujar Jack kesal, matanya melihat ke arah anak buah yang berdiri di belakannya.
“lend me one of your cell phones (pinjamkan salah satu ponsel milik kalian)” perintah Jack pada anak buahnya yang langsung mengeluarkan ponsel mereka. Salah seorang dari mereka mengintai di balik pintu kamar sambil mengawasi lorong lantai itu, Jack mengode pada salah satu anak buahnya untuk mencari petugas bersih-bersih yang ada di lantai itu.
Beruntung bagi mereka ada petugas kebersihan yang sedang merapikan tamu check out, dengan gerakan lihat dan akurat anak buah Jack mengambil kunci master untuk membuka pintu kamar Adelia. Jari tangan Jack menggulir kontak yang berada dalam ponsel itu, dia menemukan kontak Nicholas dan segera menghubunginya. Di saat bersamaan anak buahnya langsung membuka pintu kamar itu setelah berhasil mengambil kunci master milik petugas kebersihan.
“You guys check this whole room, find the antidote (Kalian periksa seluruh ruangan ini, temukan penawar racun itu)” perintah Jack yang kembali mencoba menghubungi Nicholas setelah panggilan pertamanya tidak tersambung.
Jack terus berusaha untuk memanggil Nicholas, sambil dia ikut membantu anak buahnya mencari-cari serum penawar itu. Hingga pada akhirnya telepon Jack tersambung dan dia masih berbicara dengan bosnya.
Adelia menatap tajam ke arah Sabrina sambil tersenyum licik, bayangan kalung berlian yang di lihatnya tadi terus berputar di kepala.
“gue mau aja ngasih ini obat penawar, tapi tentu harus ada timbal baliknya” Adelia tersenyum smirk ke arah Sabrina.
“Timbal balik?! Timbal balik apa maksud kamu Adel” Sabrina mulai tidak sabar.
“Jika lu mau serum penawar racun ini, lu serahin kalung berlian yang lu dapatkan dari Nicholas” ujar Adelia tersenyum senang.
“a....a...aapaaa?! Adel kamu jangan keterlaluan. Kalung itu bukan milikku dan sama sekali bukan hakku untuk memberikannya padamu, jika kamu sangat menginginkannya kenapa tidak kamu minta langsung pada Tuan Nicholas” Sabrina kesal karena merasa di permainkan oleh Adelia dan keluarganya.
__ADS_1
“ooo lu udah mulai berani sekarang, sepertinya lu lebih senang jika kedua tua bangka itu menemui ajalnya” Adelia menatap tajam ke arah Sabrina, sambil mengeluarkan serum penawar itu dari tas tangan yang di pegangnya.
Di saat bersamaan Nicholas masih mencuri dengar dari balik dinding, tangannya terkepal kuat saat mendengar apa yang di bicarakan Adelia pada Sabrina.
“Sorry Boss, we've searched everywhere but couldn't find the antidote (maaf Bos, kami sudah mencari di semua tempat tapi tidak menemukan penawarnya)” ujar Jack masih berusaha untuk mencari serum itu.
“No need to search anymore I already know where the antidote is, you immediately return to the hospital where Sabrina's grandfather and father are being treated. We meet there (Tidak usah mencari lagi aku sudah tahu di mana penawar itu, kamu segera kembali ke rumah sakit tempat kakek dan ayah Sabrina di rawat. Kita bertemu di sana)” ujar Nicholas mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
“KAMU....” Ucapan Sabrina terhenti saat Nicholas berdiri tepat di belakang Adelia. Mata elang Nicholas menatap Adelia lalu ke beralih ke tangan perempuan itu yang memegang botol serum penawar itu.
Adelia tampak senang bisa mengendalikan Sabrina, dia lalu sedikit memainkan botol itu dengan menggoyangkan ke kanan ke kiri. Nicholas sudah tampak kesal, dia segera meraih kuat tangan Adelia yang memegang serum itu dan memelintir tangannya ke arah punggung belakang perempuan itu.
“aaaaaa.... sakit.... sakit... lepaskan tangan gue... “ teriak Adelia merasa kesakitan, teriakannya mengundang perhatian semua orang. Kepala pelayan Nicholas beserta lainnya melihat keluar ruangan dan menghampiri mereka bertiga, mata Adelia terbuka lebar saat tahu siapa yang sudah menyakiti tangannya.
Arman terkejut melihat apa yang di lakukan Nicholas terhadap purinya, matanya semakin terbuka lebar saat Pria tampan itu mengambil paksa serum penawar racun itu dari tangan Adelia.
Dasar anak bod*h , bagaimana bisa dia begitu gegabah? Seharusnya aku tidak membiarkan dia membawa obat penawar itu. Tamat sudah riwayatku sekarang, pria ini tidak akan melepaskanku begitu saja gumam Arman dalam hati. Nicholas mendapat serum itu lalu mendorong kuat Adelia ke arah Arman dan mengambil paksa tas tangan mahal itu.
Arman berhasil menahan tubuh Adelia dan membantunya berdiri tegak, Nicholas memberikan tas Adelia pada Sabrina.
" check it out, I'm sure the other antidote is still in here (periksalah, aku yakin obat penawar lainnya masih ada di dalam sini)” ujar Nicholas masih menatap ke arah Adelia dan keluarganya. Sabrina segera meraih tas Adelia yang tentu saja membuat pemilik tas itu marah besar.
"Jangan kurang ajar lu, kembalikan tas milik gue” Adelia melangkah hendak menghampiri Sabrina, tapi langkahnya terhenti saat kepala pelayan Nicholas memblokade dengan membelakangi perempuan cantik itu.
__ADS_1
Sabrina segera membuka tas itu dan mencari-cari obat penawar itu. Mata indah itu memancarkan kebahagiaan yang tiada terkira, penawar racun di pegang erat di dadanya sambil mengucapkan rasa syukur.
“Alhamdulillah ya Allah... ” Sabrina menatap serum penawar itu dengan mata berkaca-kaca. Dia menatap ke arah Nicholas yang terlihat marah pada Arman sekeluarga,
“I thought what I said as well as what I did to you guys would have an effect, but you guys still... (aku pikir apa yang aku katakan dan juga lakukan terhadap kalian akan memberi efek, tapi kalian masih saja...)” perkataan Nicholas terhenti saat Sabrina memegang lengan jas hitam miliknya.
“si... sir... I need your help, can you take me to the hospital right now? Grandpa... father... (tu...tuan... aku mohon bantuan anda, bisakah mengantar ku ke rumah sakit sekarang juga? Eyang... bapak...)” Wajah Sabrina terlihat panik dan khawatir. Dia tidak ingin membuang-buang waktu sedetik pun. Nicholas menghela nafas panjang, amarahnya mereda saat melihat wajah cantik Sabrina dan tatapan memohon dari mata indah itu.
“Yohan... is there anything else? (Yohan... apakah masih ada hal lainnya?)” tanya Nicholas pada kepala pelayannya bernama Yohan, mata elang itu masih menatap Sabrina yang mulai menundukkan pandangannya.
“everything, it's over young master (semunya, sudah selesai tuan muda)” ujar Yohan memperlihatkan buku nikah di tangannya. Nicholas akan berbicara lagi pada keluarga Arman mengurungkan niatnya saat melihat Sabrina yang mulai gelisah, tangan kekar itu meraih tangan Sabrina lalu melangkah keluar dari gedung KUA.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...