
Adrian pun mengucapkan terima kasih dan berjanji akan memberi hadiah pada para dokter pembantu juga perawat. Hal itu di sambut baik oleh mereka,
“Apakah kami bisa menemui papa sekarang?” tanya Helena pada Sabrina, mata Helena dan Eliana yang berdiri di sampingnya terpana dengan kecantikan Sabrina.
“sebentar lagi nyonya dan nona bisa menemui beliau di ruang perwa... Pera....peraaa...” Sabrina merasa sangat pusing hingga badannya terasa sangat letih, Eliana dan Helena heran menatap Sabrina yang mulai berbicara tidak jelas. Sabrina merasakan tubuhnya sudah mencapai batas, pandangannya mulai mengabur dan gelap.
Raka menatap Sabrina yang terlihat akan jatuh, dengan sigap Raka menangkap tubuh Sabrina yang sudah tidak sadarkan diri. Wiyasa melihat putrinya yang pingsan segera menghampirinya,
“Sabrina....nduk... Bangun nduk” Wiyasa memeriksa pergelangan tangan Sabrina dan bernafas lega.
“kenapa dengan dokter Sabrina” tanya Raka cemas membuat yang hadir di sana termenung dengan sikap Raka,
“tidak apa -apa nak Raka, Sabrina hanya kelelahan dan jatuh tertidur. Biarkan saya yang menggendongnya” Wiyasa akan meraih tubuh Sabrina dari pelukan Raka yang langsung di tolaknya. Semua yang hadir di sana kembali terpana melihat sikap Raka.
“Biar Raka saja om” Raka lalu membawa Sabrina menuju ruang rawat VVIP tepat bersebelahan dengan kamar Candra. Dia membopong Sabrina di ikuti Wiyasa dari belakang dengan membawa makanan yang sudah dingin.
Dengan pelan-pelan Raka meletakkan tubuh Sabrina di atas ranjang pasien yang empuk, dia sempat terpana saat melihat wajah Sabrina.
“he eehem” Wiyasa berdehem membuat Raka tersadar dan langsung berdiri di samping ranjang Sabrina.
“Terima kasih nak Raka sudah mau repot mengantar Sabrina sampai kemari. Tapi maaf sebelumnya nak Raka, biarkan saya yang mengurus Sabrina” ujar Wiyasa, dia tidak ingin putrinya terkena fitnah atau perkataan yang tidak enak nantinya karena sikap spontan Raka tadi.
“Maafkan saya om, tadi itu benar-benar tindakan spontan saya. Sekali lagi saya minta maaf” kata Raka tulus. Dia benar-benar lepas kendali dan sangat khawatir saat Sabrina tidak sadarkan diri. Raka menyadari dengan kegusaran hati Wiyasa, karena Raka bukanlah siapa-siapa bagi Sabrina
“Tidak apa-apa nak, saya juga minta maaf jika perkataan saya sudah menyinggung nak Raka. Ini semata-mata saya tidak ingin adanya fitnah saat nanti putri saya bekerja di sini” ujar Wiyasa bijak.
Helena dan Eliana masuk ke dalam ruang Sabrina yang masih tertidur pulas. Bersamaan datang perawat membawa cairan infus vitamin yang sempat di minta Wiyasa, Adrian segera meminta perawat untuk mengambil cairan infus yang di butuhkan. Perawat itu akan memasang infus namun segera di ambil alih oleh Wiyasa,
“suster, biar saya saja” pinta Wiyasa, perawat itu menatap ke arahnya.
“apa anda seorang tenaga medis?” tanya perawat itu,
“iya saya ayah dokter Sabrina kebetulan juga saya dokter umum di rumah sakit umum di Surakarta” jelas Wiyasa pada perawat,
__ADS_1
“ah... maafkan saya dok, karena lancang bertanya” perawat itu merasa bersalah,
“tidak apa-apa, anda hanya melakukan pekerjaan dan say menghargai hal itu” Wiyasa tersenyum ramah. Perawat itu mohon diri meninggalkan ruang rawat Sabrina, Helena dan Eliana menghampiri ranjang Sabrina menatap wajahnya yang cantik namun sedikit terlihat pucat.
“maaf dokter, bagaimana keadaan dokter Sabrina?” tanya Helena, sewaktu di ruang tunggu di depan ruang operasi dia sempat bertanya pada Wibisana siapa Wiyasa. Dia hanya tahu jika Wiyasa adalah ayah dokter Sabrina dan tidak mengetahui apa pekerjaannya.
“alhamdulillah dia baik-baik saja, saat ini Sabrina hanya membutuhkan istirahat yang cukup. Sebaiknya kita Biarkan dia beristirahat untuk memulihkan diri” saran Wiyasa sambil mengatur selang infus yang sudah terpasang di tangan Sabrina.
“sayang sekali dokter Sabrina tidak bisa di ganggu, padahal kami ingin mengucapkan rasa terima kasih pada dokter sabrina” Helena sedih, dihibur langsung oleh Eliana senantiasa berdiri di samping Helen.
Raka menghampiri Eliana dan Helena, dia merangkul pundak ibu yang melahirkannya menenangkan sekaligus menghibur agar tidak bersedih.
“nggak apa-apa mi, saat dokter Sabrina bangun kita bisa menemuinya dan mengucapkan rasa terima kasih kita” hibur Raka (roman-roman nya ada udang di balik bakwan nih).
“nyonya tenang saja, saat Sabrina bangun nanti, saya akan menyampaikan pesan anda pada putri saya” Wiyasa tersenyum ramah pada Helena.
“baiklah pak Wiyasa, nanti saat dokter Sabrina bangun. Saya akan ke sini lagi” kata Helena seraya membelai lembut tangan Sabrina.
“papa gi mana pi?” tanya Helena
“tenang saja mi, operasinya berhasil mungkin sebentar lagi...” Adrian menghentikan ucapannya saat melihat Candra yang perlahan-lahan membuka matanya.
Adrian segera berdiri di samping sisi ranjang Candra, begiu pun seluruh keluarga Wiguna.
“pa....” panggil Adrian dengan mata berkaca-kaca. Candar mulai sadar dan memperhatikan sekeliling, mendapati seluruh keluarganya berkumpul dengan wajah sedih.
“alhamdulillah.... akhirnya papa sadar” Adrian memeluk orang tua satu-satunya. Dia tidak merasa malu dengan apa yang di lakukan sekarang, baginya kesempatan berbakti dan membahagiakan orang tuanya.
“di mana ini?” tanya Candra,
“kita di rumah sakit, papa terkena serangan dan sudah menjalani operasi pencangkokan jantung” jelas Adrian. Candra tampak termenung dan kebingungan,
“ada opa?” tanya Eliana duduk di samping ranjang Candr, sebuah senyuman hangat tersungging di bibirnya yang kering.
__ADS_1
“opa mengira jika opa sudah berada di tempat seharusnya...” Candra akan berbicara langsung di potong oleh Adrian,
“pa.... bagaimana pun Adrian akan berusaha untuk menyelamatkan papa” Adrian memegang tangan Candra.
“papa tahu itu,” Candra masih tersenyum sempat melamun.
“opa.... kenapa kok malah melamun?” tanya Wibisana yang duduk di samping kaki kiri Candra.
“selama opa tidak sadarkan diri, opa bertemu dengan gadis berparas cantik, berhijab, santun dan ramah. Dia memakai jubah putih yang sama dengan Wibi dan Adrian pakai” jelas Candra membuat semua orang di ruangan itu saling berpandangan.
“apa papa pernah bertemu dengan dia sebelumnya?” tanya Helena duduk di kursi samping ranjang Candra.
“tidak, papa tidak pernah bertemu dengannya. Di dalam mimpi itu Papa melihat dia sangat dekat dengan Raka, haaah” Candra menghela nafas panjang merasa sedih dan kecewa karena yang di lihatnya hanya mimpi.
Bima yang sedari tadi diam berdiri sedikit jauh dari keluarganya yang menyambut senang Candra yang sudah sadar, dia merasa sangat malu dan tidak berani memperlihatkan wajahnya pada Candra. Raka menyadari apa yang di rasakan adiknya,
“bima...” Raka mengode pada Bima untuk menghampiri Candra, semua yang ada di kamar ruang perawatan hening.
*************
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1