Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 92


__ADS_3

Dari kejauhan tampak Bima dan Wibisana menghampiri Anjani juga Asmirah, mereka berdua heran melihat kedua perempuan itu yang terlihat cemas dan panik.


“dek, kok masih berdiri di sini. Ayo kita sholat keburu waktunya abis” ajak Bima pada Anjani dan Asmirah.


“ bentar mas, Mbak Sabrina nggak ada di ruang ini. Aku mencoba meneleponnya tapi tidak di angkat sama sekali” Anjani panik dan cemas, dia terus mencoba menghubungi Sabrina tapi sama sekali tidak ada yang mengangkat.


“sambil kita ke mushalla saja kamu meneleponnya dek, ayo” ajak Bima menggandeng tangan Anjani mengajak untuk beribadah bersama. Mereka berdua melangkah lebih dulu meninggalkan Wibisana dan Asmirah di belakang.


“kebiasaan ni pasangan, kalo udah berdua yang jomblo malah di lupakan trus main tinggal pergi aja” omel Asmirah kesal menatap punggung Bima dan Anjani yang sudah ngeloyor pergi begitu saja.


“namanya juga pengantin baru, masa sekarang kan lagi hot-hotnya” timpal Wibisana merasa iri. Mereka berdua serentak menghela nafas, lalu melangkahkan kaki mereka menuju ke arah mushalla.


Senyuman licik terlukis di bibir Arman setelah menerima telepon dari Sabrina, matanya menatap ke arah Indah dan Adelia yang ikut tersenyum penuh kemenangan.


“pa... kita harus menelepon tuan Nicholas sekarang...” ujar Adelia tidak sabar.


“tenang Adel, ingin menuju jalan sukses kita tidak bisa terburu-buru. Kita harus memikirkan secara matang langkah apa selanjutnya yang akan kita tempuh. Kamu tahu bagaimana Nicholas...” ujar Arman mengingatkan kekejaman pemuda itu.


“benar kata papa mu Adel, kita harus bisa membuat Sabrina dalam kendali kita. Setelah semuanya beres, kita bisa menikmati kebebasan dengan tenang” Indah membelai rambut Adelia dengan penuh kasih sayang.


“Adel sudah tidak sabar lagi ma, Adel sangat ingin melihat jal*ng itu menderita dan merasakan sakit yang lebih dari kita” Adel meremas tangannya saat mengingat kejadian sebelum Indah bersama mereka.


“tenang saja sayang, temperamental Nicholas yang kejam akan membuat Sabrina menderita dan mungkin saat Nicholas sudah bosan dia akan membuang atau membunuhnya” ujar Indah tersenyum smirk.


“ aku sudah tidak begitu sabar menanti hari itu” ujar Arman, kilatan matanya menggambarkan kemarahan dan dendam yang sangat mendalam.


Sabrina baru saja selesai menunaikan ibadahnya, dia segera naik ke dalam taksi yang kebetulan menurunkan penumpangnya di rumah sakit itu. Dia segera memberi tahu pada supir taksi untuk mengantarkannya ke alamat yang di kirim Arman.

__ADS_1


Setelah selesai melaksanakan kewajiban, Raka melihat ke sana kemari mencari sosok Sabrina di antara saf perempuan tapi batang hidung perempuan cantik itu sama sekali tidak terlihat. Raka keluar dari mushalla mengenakan sepatunya di temani Bima yang juga mengenakan sepatu miliknya.


“Bim... apa kamu melihat Sabrina? Bukannya tadi Anjani dan Asmirah mencarinya?” tanya Raka yang terus melihat ke arah pintu keluar saf perempuan.


“tadi kami ke ruang IGD tapi mbak Sabrina nggak ada di sana. Jani sudah mencoba menghubungi ponselnya bisa di hubungi tapi tidak di angkat sama sekali” jelas Bima selesai menggunakan sepatunya, Raka segera mengeluarkan ponselnya mencoba untuk menghubungi Sabrina.


Anjani, Asmirah dan Eliana menghampiri Bima cs, Anjani mengode pada Bima bertanya gerangan siapa yang hubungi Raka. Bima dengan bahasa bibir mengucapkan nama “mbak Sabrina”, Anjani cs menunggu dengan harapan Sabrina akan mengangkat teleponnya.


Raka berulang kali menghubungi ponsel Sabrina, panggilannya masuk tapi sama sekali tidak di angkat.


“Gi mana kak?” tanya Eliana penasaran.


“ sama sekali tidak di angkat” ujar Raka merasa janggal. Araf juga mencoba menghubungi ponsel adiknya, tapi hal yang sama berlaku padanya. Mereka semua bertanya-tanya gerangan apa yang terjadi pada Sabrina, ke mana dia dia pergi dan kenapa setiap telepon dari mereka sama sekali tidak di angkat.


Araf merasa ada yang tidak beres, dia mencoba menghubungi Cakra yang berada di ruang ICU bersama Adrian juga Candra bertanya keberadaan Sabrina. Dia termenung saat Cakra memberitahu jika Sabrina tidak ada di ruang ICU bersama mereka.


“Raka, sebaiknya kita bagi-bagi tugas. Kamu, Bima dan Wibisana coba cari sekitar rumah sakit. Mirah kamu temani mama dan mami Helena di ruang perawatan eyang uti dan buk de, mereka mungkin butuh bantuan kamu. Anjani dan Elia akan memeriksa toilet perempuan dan kamar ganti perawat, Aku dan Yusuf akan ke ruang CCTV untuk memeriksa” Araf membagi bagi tugas untuk mencari keberadaan Sabrina.


Semua setuju dengan pembagian tugas, masing-masing mereka segera mencari keberadaan Sabrina di setiap penjuru dan sudut rumah sakit.


Rintikan hujan mulai membasahi jalan kota Surakarta, mobil taksi yang di tumpangi Sabrina berhenti tepat depan gedung bertingkat hotel Grand Surakarta. Setelah membayar ongkos taksi, Sabrina turun dari taksi melangkah masuk ke dalam hotel. Petugas hotel dengan ramah menyambut kedatangan Sabrina, mata cantik itu melihat berkeliling mencari seseorang yang mengenalnya. Seorang pria datang menghampirinya,


“Nona Sabrina?” sapa Pria itu pada Sabrina yang menatapnya. Dia dengan ragu-ragu menganggukkan kepalanya, tangannya menggenggam erat ponsel miliknya.


“silahkan, Tuan kami sudah menunggu anda sedari tadi” ujar pria itu menunjukkan jalan pada Sabrina. Mereka berdua masuk ke sebuah ruangan meeting yang sengaja di sewa Arman untuk pertemuan mereka.


Perempuan cantik berhijab itu ragu-ragu saat melihat pria suruhan Arman membuka pintu, dengan sopan Pria itu menyuruhnya masuk. Mata Sabrina termenung saat melihat Arman, Indah dan Adelia tengah menikmati makan malam.

__ADS_1


“Tuan...” sapa pria itu, Arman tengah menggenggam garpu menusuk salah satu daging steak yang sudah terpotong di hadapannya menatap ke arah Sabrina yang masih berdiri di depan pintu.


Indah meraih gelas miliknya lalu meminum wine itu, matanya menatap ke arah Sabrina. Dia sempat terkejut saat melihat wajah cantik Sabrina,


Ooo jadi si itik buruk rupa ini sudah menjelma secantik ini. Pantas saja seorang pria kejam seperti Nicholas begitu penasaran dengannya gumam Indah yang mengakui kecantikan Sabrina.


“welcome bi**h” Ujar Adelia penuh kebencian. Sabrina hanya diam tidak menanggapi, dia menatap ke arah Arman yang menghentikan sejenak makan malamnya.


“di mana obat penawarnya” ujar Sabrina to the point, dia merasa sangat marah dan emosi melihat Arman juga keluarganya dengan santai menikmati makan malam. Tidak ada beban atau rasa bersalah dari mereka pada eyang dan bapaknya yang terbaring kritis di ranjang rumah sakit.


“kenapa harus terburu-buru? Mari kita nikmati dulu makan malam ini” Ujar Arman santai mengangkat gelas wine miliknya. Sabrina merasa sangat marah melihat perilaku Arman dan lainnya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2