
Ningsih tengah mengawasi pekerja batik yang di minta Adiwijaya untuk membantu memasak berbagai makanan, Wiyasa dan Adiwijaya tengah pergi menemui ulama juga para tetua di kota itu menghadiri pengajian di kediaman Adiwijaya.
Asmirah yang sedang menyusun beberapa makanan kecil, tampak mencuri-curi pandang ke arah Yusuf yang tengah membantu Araf memasang gorden baru.
Araf tahu jika sedari tadi Asmirah tengah mencuri-curi pandang pada Yusuf, dia tersenyum simpul yang melihat adiknya salah tingkah saat ketahuan olehnya. Karena gugup ketahuan Araf tangan Asmirah tidak sengaja menyenggol vas bunga yang terletak di atas karpet permadani yang menimbulkan reaksi berantai pada vas bunga yang berjejer.
Praaank....
Semua yang ada di beranda dan ruang tamu yang sudah di sulap menjadi ruangan luas untuk menampung tamu terkejut, semua mata tertuju pada Asmirah. Wajah cantik Asmira tampak memerah karena malu.
“Mirah... kamu ndak apa-apa dek?” Anjani mendekat ke arah Asmirah yang tengah menyusun ulang vas bunga itu.
“ Ndak apa-apa mbak... tadi Mirah nggak sengaja nyenggol vasnya” Asmirah tampak salah tingkah saat Araf dan Yusuf duduk di seberang mereka, setelah menyelesaikan pekerjaan mereka.
“makanya kalo kerja itu fokus, nggak curi-curi...” Araf terdiam seketika saat Asmirah melayangkan tatapan setajam pisau, Yusuf penasaran dengan ucapan Araf yang tidak selesai. Senyuman licik tersungging di wajah Araf, membuat wajah Asmirah menjadi bete tingkat maksimum.
Awas ya mas Araf ngomong aneh-aneh di depan mas Yusuf... gumam Asmirah dalam hati menatap kesal pada Araf yang tersenyum sambil memperlihatkan muka jahilnya. Dia seakan bisa mendengar suara hati nurani Adiknya dan ingin menggoda Asmirah.
“mencuri... apa ada yang di curi?” Tanya Yusuf menatap Araf.
“ooo nggak... itu tadi aku sempat liat ‘kucing betina’ yang sedang berusaha untuk menarik perhatian ‘kucing jantan’ di halaman” ujar Araf menyindir Asmirah yang terlihat sangat kesal, Anjani kini tahu maksud ucapan Araf dan ikut dalam permainannya.
“ooo apa ‘kucing betinanya’ berhasil mas” Sindir Anjani yang langsung di pelototi oleh Amirah. Araf yang akan menjawab langsung di potong oleh Wulan yang di kedua tangannya di penuhi dengan barang.
“ eh ini anak-anak malah bahas kucing, Mirah... Jani sini tolongin mama” Ujar Wulan yang sedikit kepayahan.
Yusuf pun berinisiatif membantu mengangkat barang yang hampir terlepas dari tangan Wulan, hal tidak terduga terjadi membuat senyuman jahil tersungging di wajah Anjani dan Araf. Rupanya saat bersamaan Asmirah juga berniat yang sama dengan Yusuf, Alhasil kini tangan mereka saling bersentuhan yang menimbulkan reaksi debaran jantung di dada Asmirah.
Secepat emak-emak yang takut uang simpanannya ketahuan oleh suami, Secepat itu pula Asmirah menarik tangannya membuat barang yang di pegang Yusuf hampir terjatuh.
__ADS_1
Dengan sigap Yusuf menangkap barang itu, matanya menatap heran pada gadis itu. Wajah Asmirah mendadak menjadi merah semerah lobster rebus, Wulan heran melihat tingkah Asmirah.
“Mirah (wulan terkejut saat barang itu hampir rusak) kamu kenapa Mirah? Untung saja nak Yusuf sigap” ujar Wulan merasa lega, Anjani dan Araf hanya senyum-senyum melihat adik bungsu mereka yang salah tingkah.
Asmirah memilih mengambil langkah seribu masuk ke kamar Sabrina meninggalkan Wulan dan Yusuf yang terlihat kebingungan. Hanya Anjani dan Araf yang senyum-senyum, membuat Wulan semakin penasaran .
“Jani, Araf kalian kenapa malah senyum-senyum begitu? Trus si Mirah kenapa?” Tanya Wulan sambil meletakkan barang-barang itu dengan hati-hati. Yusuf , Araf dan Anjani langsung ikut membantu Wulan, lalu duduk di sana menyelesaikan pekerjaan.
"biasalah ma, anak alay itu sedang dalam masa puber untuk ke sekian kalinya” ujar Anjani membuat kening Wulan berkerut tidak mengerti dengan inti pembicaraan Anjani.
Sementara itu Sabrina yang tengah duduk di ranjang dengan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang fokus membaca buku terkejut kedatangan Asmirah. Matanya menatap Asmirah yang melangkah ke arah ranjangnya, dia langsung tengkurap di samping Sabrina dengan membenamkan wajahnya di bantal lembut itu.
Sabrina memilih beristirahat di kamarnya karena tidak ada yang bisa di kerjakannya, saat akan mencoba membantu semua keluarganya melarang. Lengan tangan yang belum sembuh sepenuhnya membuat Sabrina tidak bisa mengerjakan pekerjaan berat, mata indahnya kini menatap kepala Asmirah yang menyembunyikan wajahnya.
Sabrina dapat melihat telinga di balik rambut pendek sebahu Asmirah yang memerah, semerah buah tomat masak yang di jual di pasar.
“Mirah....” sapa Sabrina, sebelah tangannya membelai lembut kepala Adik bungsunya. Wajah Asmirah yang bersembunyi kini terlihat, mata jernihnya menatap Sabrina yang tersenyum menatapnya.
“Kenapa dek?” Sabrina membelai kepala adiknya penuh kasih sayang.
“Mas Araf sama mbak Anjani senang banget bikin aku malu....” Asmirah lalu menceritakan apa yang terjadi saat mereka semua ada di ruang tamu. Sabrina menjadi pendengar Yang baik apa yang di ceritakan Adik bungsunya, dia tersenyum saat Asmirah menyinggung soal Yusuf.
“ Mirah.... apa kamu suka dengan mas Yusuf?” tanya Sabrina dengan hati-hati, dia tidak ingin adiknya tersinggung atau merasa kesal.
Asmirah kembali salah tingkah, dia kembali menyembunyikan wajahnya dalam memeluk erat pinggang Sabrina. Sikap adik bungsu memberikan jawaban atas pertanyaan Sabrina. Tidak berapa lama terdengar ketukan di depan pintu kamar Sabrina.
Tok...Tok...Tok...
“mbaaak...” sapa Anjani sembari membuka pintu kamar Sabrina. Dia melangkah masuk saat melihat Sabrina mengode untuk menyuruhnya masuk, Asmirah tersenyum jahil melihat adik bungsunya yang merajuk.
__ADS_1
“aduuuh ada ‘kucing betina’ yang lagi merajuk” ujar Anjani yang duduk di ranjang di bawah kaki Sabrina. Sindiran Anjani dengan suara yang sedikit keras menarik perhatian Araf yang melintas di depan kamar Sabrina yang sedikit terbuka.
Tok... tok... tok...
Araf mengetuk pintu kamar itu dengan kepala yang muncul sebagian dari balik pintu.
“mas Araf...” Sapa Sabrina membuat Asmirah semakin menyembunyikan wajahnya.
“sorry ganggu kamu dek, masih ngambek tuh anak alay?” sindir Araf menggoda Asmirah. Kesal dengan sindiran kedua saudara, Asmirah duduk sambil memegang bantal yang akan di lemparkannya ke arah Araf.
“IIIIIIIIIIIIhhh mas ARAAAAFFF” Kesal Asmirah langsung melempar bantal itu, lemparannya ternyata langsung di tangkap sempurna oleh Araf.
Sabrina hanya tersenyum melihat ketiga saudaranya menggoda Asmirah habis-habisan.
“uluh uluh... adek mas rupanya udah gede ya sekarang” Araf membelai dagu Asmirah seperti memperlakukan kucing yang bersikap manja.
“iiih mas Araf, emang Mirah kucing apa?” Kesal Asmirah yang di goda oleh kakaknya. Mereka terlihat sangat gembira, tawa bahagia mereka terdengar hingga keluar membuat Andhini dan Wulan penasaran. Mereka diam-diam mengintip dari balik pintu yang terbuka, sebuah pemandangan hangat yang sudah lama tidak mereka lihat.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...