Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 86


__ADS_3

Karena kesibukan masing-masing, Sabrina dan saudara sepupunya sangat jarang bisa berkumpul seperti saat sekarang.


“Alhamdulillah, akhirnya Sabrina bisa tersenyum bahagia kembali” ujar Andhini menatap keceriaan terpancar di wajah cantik putrinya.


“Alhamdulillah ya mbak” ujar Wulan, matanya teralihkan saat Yusuf datang dari halaman kediaman menghampiri mereka berdua.


“yusuf...” Sapa Wulan sontak membuat Asmirah dan lainnya yang berada di kamar Sabrina menatap ke arah pintu.


“maaf tan, ganggu” ujar Yusuf , di tangannya ada Buket bunga mawar kuning dan biru terhias cantik.


“itu..” Andhini menatap bunga itu dengan kartu ucapan di dalamnya.


“oo ini tadi di antar kurir tan. Katanya untuk Sabrina” ujar Yusuf sambil menyerahkan bunga itu ke tangan Andhini. Mendengar namanya di panggil, sabrina turun dari ranjang melangkah menuju pintu kamarnya.


“Ada apa bu?” tanya Sabrina pada Andhini yang memegang buket mawar itu. Wajah cantik Sabrina dengan hijab menghiasi kepalanya membuat Yusuf terpesona.


Astagfirullah Suf, jangan kamu pandangi perempuan yang kelak akan menjadi milik orang lain. Kamu harus bisa berbesar hati gumam Yusuf dalam hati yang tampak galau.


“kalau begitu saya keluar dulu tan” ujar Yusuf memilih untuk membantu para tukang di halaman kediaman Adiwijaya.


Sabrina menatap ke arah punggung Yusuf yang melangkah keluar, dia dengan sigap membantu orang-orang yang tengah sibuk bekerja. Mata cantiknya menatap bunga indah itu, penasaran siapakah yang mengirimkan padanya.


Ada sebuah kartu pesan di antara bunga cantik itu.


...Congratulations on your marriage, may happiness always be with you...


...


...NIC...


...( selamat atas pernikahanmu, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu...)


...


NIC


Andhini ikut penasaran dengan apa yang di baca Sabrina di kartu ucapan itu, begitu juga Wulan dan ketiga sepupunya.

__ADS_1


‘”waaaawww.... nggak nyangka oppa Raka romatis juga, tapi kok harus pakai bunga mawar kuning ato biru?” ujar Anjani heran melihat bunga di tangan Sabrina.


“lah apa masalahnya dek, bunga merah, biru ato putih?” Tanya Araf penasaran, baginya semua bunga sama saja.


“ iya mbak... toh yang penting niatnya...” ujar Asmirah menciumi buket bunga itu.


"waah... harum banget... " ujar Asmirah menyenangi bau harum khas bunga mawar itu.


Sabrina hanya terdiam memandangi bunga itu, dia tahu siapa yang mengirim bunga dan makna dari bunga itu untuknya.


“makanya sering baca dong, katanya mbah google.... kalo bunga mawar kuning melambangkan persahabatan dan kalo bunga mawar yang biru.... kalo nggak salah melambangkan pengagum...”penjelasan Anjani terhenti saat Sabrina memegang tangannya.


“pengagum?” Andhini menatap ke arah putrinya, dia teringat dengan bunga mawar yang pernah mereka terima saat Sabrina di rawat.


“nduk... apakah bunga ini di kirim dari orang yang sama?” tanya Andhini menatap lama putrinya.


“orang yang sama? Siapa buk de? ” tanya Araf penasaran, dia belum mengetahui cerita di balik pernikahan Sabrina yang di percepat.


“mas bagus... ikut mama sebentar...” Wulan menarik tangan Araf menuju ke halaman belakang, Anjani ikut penasaran dengan apa yang akan bicarakan. Anjani memilih mengikuti Wulan dan Araf yang suda lebih dulu pergi, Andhini menatap Sabrina yang hanya menghela nafas.


“mbak...” Asmirah memegang tangan Sabrina.


“mbak ndak apa-apa dek, bunga ini.... tolong kamu berikan saja pada orang yang menyukainya” ujar Sabrina memilih untuk membuangnya, dia teringat wajah Raka yang saat itu terlihat tidak senang dengan bunga pemberian Nicholas. demi menghargai perasaan calon imamnya, Sabrina memilih untuk menjauhi Nicholas.


“baiklah mbak, jika ini keinginan mbak....” Asmirah mengambil bunga itu dan membawanya ke dapur.


Sementara itu hampir setengah jam Wulan menjelaskan duduk perkara yang terjadi sebelum Araf dan Anjani datang, dia juga memberitahu kedatangan Arman juga Adelia yang ingin menikahkan Sabrina sebagai jaminan untuk hutangnya.


Araf tampak sangat marah dan geram, dia melampiaskan amarahnya dengan memukul kuat ke arah batang pohon besar di halaman belakang. Dia benar-benar tidak menyangka jika ada ayah kandung demi keuntungan semata mencari putri yang sudah lama di buangnya untuk di jadikan jaminan hutang.


Anjani merasa sangat kasihan dengan Sabrina, dia baru mengetahui kebenaran di balik luka di lengan mbaknya.


" ....karena itulah Eyang dan Opa Candra memajukan rencana pernikahan Raka dan Sabrina. kami tidak ingin nantinya papa Sabrina datang mengambil paksa Sabrina untuk di jadikan jaminan" ujar Wulan tampak khawatir dengan keselamatan keluarga besar.


“mama tenang saja... aku akan menelepon temanku di kepolisian untuk berjaga-jaga di kediaman eyang" ujar Araf sedikit emosi.


" buat apa mas? di sini ada kamu, papa, dan pak de kamu. Dia pasti nggak akan berbuat macam-macam" Ujar Wulan mencoba menenangkan putranya.

__ADS_1


"itu nggak cukup ma, harus ada penjagaan ekstra. Orang seperti Ar....( Araf terdiam sejenak) orang seperti dia tidak akan diam begitu saja. Dia bisa berbuat nekat dengan menculik Sabrina nantinya” ujar Araf segera merogoh sakunya untuk mengambil telepon.


Araf sedang berbicara dengan temannya untuk meminta bantuan penjagaan di sekitar kediaman Adiwijaya.


***


Sebuah mobil tampak menunggu di tempat yang tersembunyi tidak jauh dari kantor KUA, penumpang juga pengemudinya yang tidak lain adalah Arman, Indah dan Adelia tampak memperhatikan pintu gerbang KUA.


Sebelumnya pagi-pagi sekali Arman sekeluarga datang ke kantor KUA untuk menanyakan informasi tentang pernikahan Sabrina. Mereka terkejut jika pernikahan Sabrina dan Raka akan di adakan beberapa hari lagi, Indah lalu mengode pada Arman untuk tenang dan sabar.


Indah pun menjelaskan maksud kedatangan mereka dan menjelaskan siapakah mereka sebenarnya.


“.....pak sebenarnya, suami saya ini adalah ayah kandung dari Sabrina. Beberapa tahun yang lalu putri kami di bawa paksa oleh tantenya...”Indah menceritakan dengan memutar balikkan fakta kebenaran sebenarnya. Petugas KUA semula tidak percaya begitu saja dengan cerita Indah, tapi Arman dan Adelia ikut mempertegas cerita Indah.


“...begitulah pak, suami saya sudah sangat merindukan putrinya dan berkeinginan untuk menjadi walinya saat akan menikahkannya. Tapi keluarga dari mendiang istri pertama suami saya tidak mengijinkan dan bahkan mengusir suami saya secaa kasar” Indah menyeka air mata buayanya sambil memberi kode pada Arman untuk bertindak.


Sebuah amplop yang sangat tebal perlahan di gesernya di balik kertas yang ingin dia serahkan pada petugas itu, mata petugas itu menatap ke arah Arman seraya merasakan betapa tebalnya amplop itu.


“ saya hanya meminta bantuan dari bapak” ujar Arman dengan wajah sedihnya.


“dari cerita istri bapak saya bisa menolong dengan cara seperti ini...” petugas itu tampak sedang mengetik sesuatu di komputernya, sebuah surat di mana Sabrina harus mendapatkan tanda tangan dari Arman untuk pernyataannya menyerahkan tanggung jawabnya pada wali hakim.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2