Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 196


__ADS_3

Wiyasa menatap ke arah Adiwijaya yang terlihat menunggunya, mau tidak mau dia meninggalkan keluarga Kusumo yang terlihat putus asa dan harapan. Shu Kye ingin mencegah Adiwijaya dan Wiyasa pergi, namun Park Joon menahan niatnya dengan menggelengkan kepalanya perlahan. Shu Kye memeluk tubuh suaminya dengan erat, tangisan pecah seiring dengan usahanya yang gagal untuk bertemu dengan cucu yang ingin di temuinya.


Adiwijaya kembali ke ruang perawatan bersama dengan Wiyasa, mereka berdua terdiam dan larut dalam pemikiran mereka masing – masing. Tergambar jelas raut wajah rasa cemas dan khawatir di wajah mereka, hal itu membuat para perempuan keluarga Adiwijaya ikut khawatir. Mereka berpikir jika telah terjadi sesuatu dengan laporan kesehatan Ningsih yang di diskusikan bersama dokter, Andhini tampak gelisah dan menghampiri Wiyasa suaminya.


Andhini menarik suaminya ke sisi ruang perawatan agar pembicaraannya tidak terdengar oleh Ningsih yang tengah beristirahat,


“Mas, ada apa? Kenapa wajah bapak terlihat tegang? Apa (panik)... Apa telah terjadi sesuatu dengan laporan ibu mas? “ tanya Andhini berbisik menatap intens suaminya, jantungnya berdebar keras takut jika terjadi sesuatu pada ibunya.


Wulan juga merasa penasaran dengan apa yang terjadi ikut menghampiri Andhini yang tengah menginterogasi Wiyasa,


“mas, apa tenan kedaden? Mas Cakra kok ngajak Sabrina mulih dhisik? (mas, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa mas Cakra meminta Sabrina untuk pulang duluan?)” tanya Wulan penasaran lantaran saat melihat suaminya yang sangat ingin Sabrina untuk pulang lebih dulu.


Sejenak Wiyasa menatap ke arah Adiwijaya yang duduk di kursi samping ranjang istrinya, Anjani dan Asmirah duduk di sofa bersama Gendis memperhatikan Andhini, Wulan juga Wiyasa. Mereka begitu penasaran dengan apa yang sudah terjadi, wajah para orang tua terlihat sangat serius dan mendung.


“orang tua Arman.... orang tua Arman ingin bertemu dengan... ” Wiyasa menatap ke arah Andhini, dia terkejut saat mendengar ucapan suaminya. Jantung Andhini berdebar cepat, seluruh tubuhnya terasa lemas. Wulan bertindak cepat memegangi tubuh Andhini di bantu dengan Wiyasa yang memegangi lengannya, pemandangan itu menarik perhatian Anjani dan Asmirah yang segera berdiri dari tempat mereka berdiri.


Wiyasa sejenak menatap ke arah Anjani dan Asmirah yang hendak menghampiri mereka, kepalanya menggeleng perlahan seraya menuntun ke dua perempuan itu menatap ke arah Ningsih dan Adiwijaya. Anjani dan Asmirah mengerti dan memilih untuk duduk kembali, Tidak ingin ibu dan bapak mertuanya semakin khawatir Wiyasa di bantu Wulan memapah istrinya untuk keluar dari ruang perawatan Ningsih.


Perlahan mereka mendudukkan Andhini ke bangku yang tersedia di luar ruang perawatan, Wiyasa duduk di samping Andhini dengan terus merangkul pundak istrinya. Dia mengerti dengan perasaan takut Andhini saat mendengar kedatangan orang tua Arman, Wulan berinisiatif pergi mencari minuman mineral untuk di berikan pada Andhini.


“Dek, kamu tenang ya... Semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan” ujar Wiyasa menenangkan Andhini.


“ba... Ba... Bagaimana mereka....”

__ADS_1


“ dek tenanglah... “ Wiyasa mengusap lembut punggung istrinya yang tertutupi hijab Syar'i, Wulan datang menghampiri mereka seraya memberikan kemasan gelas air mineral yang sudah terpasang sedotan di atasnya.


“mbak.... minumlah ini” ujar Wulan seraya menatap dan memberi isyarat ke arah kakak iparnya, dengan sigap Wiyasa membantu memegangi dan meminumkan gelas air mineral itu,


“Bismillahirrahmanirrahim... “ ucap Andhini perlahan meminum air bening dalam kemasan itu, perlahan dia mulai tenang setelah mengucapkan istighfar berkali - kali. Andhini menatap ke arah Wiyasa dengan banyak pertanyaan yang berputar di dalam benaknya, seakan tahu apa yang akan di tanyakan istrinya Wiyasa menjelaskan apa yang terjadi.


“aku tahu kamu tidak senang mendengar hal ini dek. Tapi... mereka datang dengan harapan besar teringin bertemu dengan putri kita Sabrina. Selama ini mereka sudah mencari tahu keberadaan Sabrina, namun... “ ucapan Wiyasa terhenti saat Andhini langsung memotong penjelasan suaminya.


“Mas Arman?!!!!” ujar Andhini dingin, Wiyasa menghela nafas panjang lalu menatap ke arah lorong lantai VVIP itu. Saat berbicara dengan orang tua Arman, Wiyasa terkejut saat mengetahui jika Arman di rawat di satu lantai yang sama dengan ibu mertuanya. Kondisi Arman yang semakin lama semakin kurus karena selalu menolak makanan juga minuman, dia bahkan berkali – kali menolak meminum obat yang sudah di resepkan oleh dokter. Penolakan Arman membuat dokter yang merawatnya angkat tangan, hanya infus dan obat – obatan yang di salurkan dalam cairan infus menyokong kehidupan Arman.


Wiyasa termangu saat melihat video yang di perlihatkan Shu Kye padanya, video yang berisi rekaman di mana Arman yang sudah tampak lemah berkeras menolak setiap makanan yang akan di suapi oleh perawat. Rekaman video itu di ambil secara diam – diam oleh Rian atas perintah Park Joon, sampai detik itu Arman masih menolak untuk bertemu dengan Indra dan kedua orang tuanya.


Wiyasa kembali menghela nafas panjang, sejenak dia menatap ke arah Wulan dan Andhini.


“mas Arman.... Beliau memberi tahu mereka jika putri yang di lahirkan mbak Rianti ikut meninggal, semula mereka tidak mempercayai dan mengatur beberapa orang untuk mencari kebenarannya tapi... “ raut wajah Wiyasa tergambar jelas kesedihan, matanya kembali menatap ke arah lorong rumah sakit. Andhini dan Wulan diam seribu bahasa, mereka tidak terkejut dengan sikap Arman yang akan menyembunyikan fakta jika Sabrina masih hidup.


“ndak... aku ndak setuju mas...” ujar Andhini membuat Wiyasa menatap ke arahnya.


“Mbak... “ Wulan yang duduk di samping Andhini merangkul pundaknya, dia mengusap untuk meredakan kemarahan Andhini.


“dek...” Wiyasa berusaha untuk menjelaskan apa yang di ketahuinya. Namun kemarahan Andhini akan sikap dan perbuatan Arman pada Sabrina sudah memberikan luka di hatinya juga keluarga besar Adiwijaya, Andhini langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia hendak kembali masuk ke dalam kamar rawat Ningsih, Wiyasa memegang tangan dan menahan langkah Andhini.


“dek... “ panggil Wiyasa lembut.

__ADS_1


Tanpa di sadari Wiyasa dan lainnya, Cakra bersama Araf yang baru saja datang melangkah menghampiri mereka dengan tatapan heran sekaligus bingung. Araf yang masih berpakaian dinas baru saja sampai di rumah sakit dan sempat bertemu dengan Sabrina juga baby Yusuf akan menaiki mobil mewah yang terparkir di pelataran rumah sakit, dia tersenyum bahagia dapat bertemu dengan adiknya walau hanya sebentar. Araf sempat menggendong dan memeluk baby Yusuf, namun karena lelah Baby Yusuf rewel dan merengek membuat Sabrina kembali menggendongnya.


Cakra lalu meminta Sabrina untuk kembali pulang, tidak lupa Yohan memberi tahu alamat kediaman Sabrina di Jakarta. Cakra menatap alamat yang tertera di kartu yang di berikan Yohan, sebuah alamat di kawasan elit terletak tidak berapa jauh dari kawasan keluarganya tinggal. Awalnya Cakra mengira jika Sabrina akan tinggal di rumah mereka,


“pak lek kira kamu dan Yusuf akan tinggal di rumah, pak lek udah siap – siap untuk ngantar kamu ke rumah” ujar Cakra.


“maaf pak lek, sebenarnya almarhum Daddy nya Yusuf sudah memiliki kediaman di sini. Seumpama Brina tinggal di rumah pak lek yang ada pak lek dan semuanya akan merasa tidak nyaman dengan... “ ujar Sabrina menatap ke arah Yohan dan para body guard yang sudah bersiap untuk menerima perintah, Cakra dan Araf mengerti dengan apa yang di maksud Sabrina.


Begitu banyak dan ketatnya penjagaan yang di persiapkan Yohan akan membuat keluarga Adiwijaya semakin tidak nyaman, penjagaan yang tentunya sangat di perlukan mengingat Status Yusuf dan Sabrina.


Bahkan Kediaman mewah yang akan di tempati oleh Sabrina juga Yusuf dalam pengawalan ketat, sehingga lalat pun tidak bisa menembus dan menyakiti mereka.


....................


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2