
Sabrina sangat terkejut melihat apa yang di lakukan Nicholas, dia ingin menepis tangan itu tapi terhenti saat menyadari jika statusnya kini sudah menjadi istri Nicholas. Sudah menjadi hak Nicholas untuk menyentuh bahkan memegang tangannya, mereka melangkah cepat menuju mobil yang terparkir di parkiran. Anak buah Nicholas membuka pintu untuk Nicholas dan Sabrina, setelahnya menutup pintu melajukan mobil itu menuju jalanan.
Arman tampak sangat kesal dan marah dengan kebodohan yang di lakukan Adelia.
PLAAAAAKKK.....
Sebuah tamparan cukup keras mengenai pipi mulus dan putih Adelia, bekas tamparan itu tercetak merah di pipi kanan Adelia.
“Aaaawww... Sakit pa” Adelia membentak keras ke arah Arman, dia tidak terima dengan penamparan yang di lakukan papanya.
“Adeeel... mas kamu apa-apaan? Kenapa kamu malah menampar putri kita?” Indah tidak terima putrinya di tampar Arman.
“karena kebodohan dia, satu-satunya cara untuk menekan dan mengendalikan anak sial*n itu sudah hilang. Rencana untuk membuat Nicholas dalam kendali melalui anak sia**n itu hancur berantakan” hardik keras Arman membuat Indah dan Adelia termenung. Adelia benar-benar di butakan dengan keinginannya memiliki kalung berlian tidak menyadari dengan akibat yang di terimanya.
“sekarang bagaimana kita bisa lepas dari hukuman pria kejam itu, dia tentu saja tidak akan tinggal diam” Arman terlihat sangat khawatir, tangannya yang sudah mulai sembuh terasa mulai sakit saat membayangkan hal apa yang akan di lakukan Nicholas.
“maafkan aku pa, aku benar-benar lupa dan terpesona dengan kalung ituuu..” ujar Adelia perlahan dengan perasaan penuh penyesalan.
“karena buta dengan kalung berlian, kamu merusak rencana kita” Arman sangat kesal melangkah meninggalkan Adelia dan Indah di ruang itu.
“sayang... apakah masih terasa sakit? “ Indah membelai kepala putrinya, memegang dagu untuk melihat jelas bekas kemerahan di pipi Adelia.
“ini semua gara-gara anak sia**n itu, Aku akan balas semua ini berkali-kali lipat pada si sia**n itu” Geram Adelia memegangi pipinya.
“tenang saja sayang, gadis sia**n itu sekarang ini sudah mendapat ganjarannya. Dari yang mama dengar banyak perempuan yang kehilangan nyawa karena tidak bisa memuaskan Nicholas, kamu tentu tahu apa yang akan terjadi pada gadis si**n itu” Ujar Indah menghibur Adelia.
“mama benar, aku sudah tidak sabar mendengar kabar kehancuran si jal**g itu” Adelia tersenyum smirk membayangkan nasib Sabrina yang berakhir tragis menurutnya.
“sebaiknya kita kembali ke hotel untuk beristirahat dan memikirkan rencana baru untuk menolong perusahaan papa kamu” ujar Indah merangkul pundak putrinya melangkah keluar ruangan.
__ADS_1
***
Iringan Mobil milik Nicholas dan anak buahnya masuk ke pelataran rumah sakit tempat Wiyasa dan Adiwijaya di rawat, setelah mobil terparkir sempurna Sabrina segera membuka pintu dan setengah berlari masuk ke dalam rumah sakit. Dia tidak menghiraukan Nicholas yang tertinggal di belakang, dalam benaknya ingatan tentang bapak dan eyang yang sekarat terus berputar di relung mata.
Jack yang menunggu di lobi rumah sakit melihat kedatangan gadis cantik berhijab yang tampak tergesa-gesa, dia juga melihat Nicholas mengikuti gadis itu.
“Boss (bos)” sapa Jack pada Nicholas yang baru saja masuk. Mata elang itu segera melihat gadis yang baru saja nikahinya,
“Sabrina... wait a minute (Sabrina... tunggu sebentar)” panggil Nicholas yang melihat Sabrina sudah mulai menjauh. Langkah Sabrina terhenti sejenak membalikkan tubuhnya, dia menatap ke arah Nicholas yang tengah berbicara dengan Jack sambil melangkah mendekati ke arahnya.
Nicholas menyuruh sebagian anak buahnya menunggu di lobi, hanya Jack, Yohan dan dua orang anak buah yang ikut bersama mereka menuju ruang ICU di lantai atas.
Mata cantik Sabrina tersirat rasa cemas, panik dan takut semua itu di sadari oleh Nicholas,
“Don't worry, everything will be fine, let's go to the ICU now. Your grandfather and father have been transferred there (tenang saja semuanya pasti akan baik-baik saja, kita ke ruang ICU sekarang. Kakek dan ayahmu sudah di pindahkan ke sana)” ujar Nicholas mengajak Sabrina menuju ruang ICU. Jack memimpin jalan menuju lift, setelah pintu lift terbuka mereka semua masuk ke dalam lift itu.
apa benar yang di katakan nona Arinda? Tidak... tidak aku harus mendengarnya langsung dari Sabrina... aku harus percaya padanya gumam Raka dalam hati.
Semua orang tampak begitu khawatir dan cemas, mereka masih belum mendapat kabar apa pun tentang Sabrina di tambah dengan kondisi Wiyasa juga Adiwijaya yang semakin menurun.
Araf terus mencoba mencari informasi dan menghubungi ponsel Sabrina, dia tidak tega melihat Andhini yang begitu lemah dan sedih memikirkan di mana keberadaan putrinya saat ini.
Candra dan Helena sudah pulang dari beberapa jam yang lalu, Candra sebenarnya tidak ingin pulang namun karena Adrian tidak ingin Candra kenapa-kenapa dia meminta Helena istrinya untuk mengajak Ayahnya pulang. Di temani Wibisana mereka pulang ke kediaman Wiguna,
Begitu juga Cakra yang meminta Ibu serta kakak perempuannya untuk pulang terlebih dahulu, namun Ningsih dan Andhini bersikeras ingin berada di rumah sakit saja. Wulan pun membujuk Ningsih untuk beristirahat di rumah saja, tentu saja dia menolaknya.
Segala upaya keluarga Adiwijaya membujuk Ningsih untuk beristirahat di kediaman Adiwijaya tidak membuahkan hasil. Ningsih lebih ingin berada di samping suaminya sambil menunggu kabar dari Sabrina.
“Eyang uti, sebaiknya kita kembali pulang ya biar Mirah dan mbak Anjani yang nemenin” ujar Asmirah yang duduk di samping kanan Ningsih.
__ADS_1
“benar kata Mirah bu, sebaiknya ibu kembali saja bersama mbak Andhini. Biar aku dan lainnya yang berjaga di sini” bujuk Cakra berdiri di depan Ningsih.
“ndak usah cah bagus, ibu masih ingin di sini nunggu bapakmu sadar dan Sabrina ada bersama kita, kalo di rumah ibu ndak bisa tenang. Araf bagaimana apa masih blom ada kabar dengan Sabrina? ” ujar Ningsih sambil menatapi pemandangan di ruang ICU.
Wajahnya yang tua tersirat jelas rasa cemas dan Sedih, Ningsih begitu khawatir dengan keadaan Sabrina.
“Maaf eyang uti, ponsel Sabrina masih belum bisa di hubungi” ujar Araf dengan wajah tertunduk.
ya Allah, selalu lindungilah cucuku di mana pun dia berada....doa Ningsih dalam Hati.
Ya Allah, mengapa perasaan ini sedari tadi ndak tenang dan selalu was-was? di mana pun Sabrina berada selalu lindungi dia, Ya Allah. berilah ketenangan dalam hati ku yang sedari tadi merasa cemas.... Doa Andhini dalam hati yang merasa cemas dan khawatir, Dia *******-***** jari jemarinya yang terasa dingin.
Pintu lift menutup Jack segera menekantombol lift menuju lantai ruang ICU, Nicholas menatap wajah perempuan cantik yang tersirat rasa takut dan cemas. Tangan kiri Nicholas memegang tangan Sabrina membuat dirinya langsung menatap ke samping, wajah Nicholas terlihat datar dengan mata menatap ke arah layar di atas lift yang menunjukkan angka.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1