
Bayi dalam gendongannya tertawa saat melihat ke arah Nicholas, Sabrina termenung saat melihat Nicholas yang terlihat bercahaya.
“Nicho...” Sabrina melangkahkan kakinya mendekat ke arah Nicholas, tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang perempuan cantik berpakaian indah dengan sepasang sayap berada di belakang punggungnya. Wajah perempuan itu terasa sangat familiar bagi Sabrina, wajah cantik yang sekilas terlihat mirip dengannya.
Perempuan itu berdiri di samping Nicholas tersenyum manis pada Sabrina, senyuman yang memberi perasaan hangat di hatinya. Bukan perasaan cemburu atau marah yang di rasakan Sabrina, tapi sebaliknya ada kerinduan yang teramat besar di rasakan saat melihat perempuan itu.
Perempuan cantik itu menghampiri Sabrina tanpa kakinya menginjak tanah, dia berdiri tepat di hadapan Sabrina dengan tatapan penuh arti. Sebelah tangannya membelai lembut pipi Sabrina menyeka air mata yang turun membasahi pipinya, perlahan perempuan itu mengecup dengan penuh kasih sayang kening Sabrina. Mata Sabrina terpejam merasakan kehangatan yang di rindukannya, kehangatan itu perlahan menghilang membuat Sabrina membuka matanya perlahan.
Perempuan itu kini berdiri di belakang Nicholas yang bergantian berdiri di depan Sabrina. Tangan kekar Nicholas membelai kepala bayi dalam gendongan Sabrina, mengecup perlahan kening bayi berambut lebat itu. Kening Sabrina tampak berkerut saat melihat sikap Nicholas yang terlihat begitu menyayangi bayi itu.
“Nicho” panggil Sabrina pada Nicholas yang tengah membelai lembut rambut lebat bayi itu. Senyuman tersungging di wajah tampan Nicholas saat menatap Sabrina yang membalas menatapnya kembali, pandangannya penuh dengan tanda tanya melihat sikap Nicholas.
Pria tampan itu mengangkat tangannya membelai lembut pipi Sabrina, perlahan wajahnya mendekat ke arah Sabrina mengecup lembut kening, pipi dan berakhir di bibir pink natural milik Sabrina. Mata Sabrina tampak terpejam merasakan kelembutan dan kehangatan sikap Nicholas,
“aaa...aaa..waa” terdengar suara menggemaskan dari bayi itu, membuat mata Sabrina yang terpejam segera membuka dan menatap ke arah bayi yang tersenyum senang.
“Nicho... look at this baby smile... his smile is very similar to yours... ( Nicho... lihat bayi ini tersenyum... senyumannya sangat mirip dengan mu...)” ujar Sabrina melihat ke arah Nicholas yang ternyata sudah tidak ada di depannya.
“Nicho...” panggil Sabrina yang tidak lagi menemukan pria tampan itu. Dia mencari ke sana kemari keberadaan Nicholas dan juga perempuan yang berada di belakangnya.
“nicho...” panggil Sabrina sekali lagi yang tidak menemukan keberadaan Nicholas. Sabrina terlihat panik berusaha mencari di sekitar pantai itu, tapi usahanya sia-sia.
“nicho...Nicho...Nicholas...” terdengar igauan Sabrina tengah bermimpi memanggil nama Nicholas. Pria tampan itu menatap ke arah Sabrina yang terlihat sangat gelisah, keningnya telah di basahi dengan keringat. Laptop di pangkuannya segera di matikan dan di letakkan di atas nakas samping ranjang Nicholas,
__ADS_1
“brina... Briina,” Nicholas membelai pipi Sabrina berusaha membangunkan istrinya yang tengah mengigau.
“Nicho...” mata Sabrina masih menutup dengan mulut masih memanggil nama Nicholas.
“BRINA...” panggil Nicholas membuat Sabrina segera tersadar dari mimpinya, mata indah itu terbuka mendapati Nicholas berada tepat di depannya. Segera Sabrina memeluk tubuh Nicholas dengan erat,
“Nicho.... hikksss” ujar Sabrina mempererat pelukannya, kening Nicholas berkerut dengan sikap Sabrina.
“hei... hei... sayang... calm down... take a deep breath and exhale slowly (hei... hei... sayang... tenanglah... tarik nafas dan hembuskan dengan perlahan)” ujar Nicholas membelai lembut punggung Sabrina berusaha untuk menenangkannya. Perintah Nicholas segera di laksanakan Sabrina yang berusaha mengambil dan membuang perlahan nafasnya, beberapa menit kemudian Sabrina mulai tampak tenang.
Perlahan Nicholas melepaskan pelukan Sabrina, turun dari ranjang melangkah ke meja yang berada di depan sofa. Dia menuangkan air putih dalam gelas lalu membawanya ke pada Sabrina yang tengah duduk sambil memeluk kedua lutut kakinya, mata cantik Sabrina menatap gelas yang di berikan Nicholas. Tangannya segera meraih gelas itu dan meminumnya dengan mengucapkan basmalah terlebih dahulu.
Nicholas tampak begitu mengkhawatirkan Sabrina, sebelah tangannya mengusap-usap lengan perempuan cantik itu berusaha memberikan ketenangan. Air dalam gelas itu sudah habis, dengan cekatan Nicholas mengambil gelas di tangan Sabrina lalu meletakkannya di nakas samping ranjang.
“astagfirullahaladzim... (menghirup nafas lau membuangnya secara perlahan) I.... I don't really remember.... in my dream we were at the beach, but I couldn't find you anywhere. I panicked and... (aku.... aku tidak begitu ingat.... dalam mimpi ku kita berada di pantai, tapi aku tidak bisa menemukan mu di mana pun. Aku panik dan...)” Sabrina kembali memeluk Nicholas, setetes bening air mata jatuh membasahi pipi putih itu. Senyuman terkembang di bibir Nicholas yang membalas memeluk tubuh Sabrina,
“sayang... it was just a dream, did you pray before sleeping? (sayang... itu hanya mimpi, apa kamu ada berdoa sebelum tidur tadi?)” tanya Nicholas. Sabrina termenung sejenak mengingat-ingat hal apa yang di lakukannya sebelum tertidur, perlahan kepalanya menggeleng. Nicholas melepaskan perlahan pelukan mereka, menatap wajah Sabrina. Kedua tangan kekar Nicholas menyentuh pipi Sabrina, menyeka air mata yang masih ada di pipi putih mulus itu.
“Calm down honey, it's all just a flower sleep. You'd better rest again, don't forget to pray beforehand (tenanglah sayang, itu semua hanya bunga tidur. Sebaiknya kamu istirahat kembali, jangan lupa untuk berdoa sebelumnya)” ujar Nicholas membantu merebahkan tubuh Sabrina, tangan Sabrina memegang erat lengan kekar itu.
Seakan dia tidak ingin berpisah barang sedetik pun, Nicholas tersenyum lalu ikut merebahkan tubuhnya tepat di samping Sabrina. Dia memeluk tubuh Sabrina yang membelakanginya, seakan tidak ingin kehilangan Sabrina memeluk erat tangan Nicholas dan kembali berusaha untuk tidur. Tidak lupa Sabrina berdoa dalam hati, kedua tangannya masih memegangi tangan Nicholas yang memeluk tubuhnya. Perlahan matanya kembali terpejam dalam belaian lembut Nicholas yang juga ikut tertidur menemaninya.
***
__ADS_1
Penerangan tampak temaram di ruang kerja Arman, kertas-kertas tampak berserakan di atas meja kerja yang terbuat dari kayu jati asli. Matanya menyiratkan dendam mendalam menatap tajam foto Indah yang ada di atas meja, selain foto Indah di atas meja itu juga ada foto Roy, Adelia dan Indra.
Beberapa kertas tampak berserakan di lantai dan ada beberapa di genggam kuat olehnya, tampak sangat jelas di kepala surat itu sebuah logo rumah sakit.
Arman baru saja mendapat berita dari rumah sakit tempat dia melakukan tes DNA. Tanpa sepengetahuan Indah, diam-diam Arman memerintahkan pembantu untuk mengambil sampel rambut dan sikat gigi.
Kenyataan pahit kini harus di terima oleh Arman saat tes DNA memberi tahu jika Adelia bukanlah putri kandungnya, tes DNA itu juga menerangkan jika Indra adalah putra kandungnya.
Breng**k kau Indah, selama ini kau sudah membuat ku buta dengan mengakui anak yang bukan darah daging ku... kau dan pria laknat itu juga sudah membunuh istri juga membuat ku membuang put..... gumam Arman dalam hati terhenti saat dia teringat dengan Sabrina. Seketika itu juga dia teringat akan dosa-dosa dan perlakuannya pada Sabrina, rasa penyesalan yang sangat mendalam kini di rasakan oleh pria setengah baya itu.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...