Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 145


__ADS_3

Rasa sakit itu tertutup oleh sebuah gelombang dahsyat dari olah raga yang sangat melelahkan,


“saya...mmmm... hah.... Ka... Mu.... mmau... Kan... Mene...mani... Kuu.... Mmmmhpp... Ke... Rum... Aah... Haaaa... Riiii ini... Mmmph..” ujar Adelia membuat Roy tersenyum smirk.


Rubah betina itu mengundang ku... Sebuah kehormatan bagi ku untuk bertemu dengannya, permainan ini akan semakin seru nantinya gumam Roy dalam hati sambil tersenyum jahat.


“boleh saja, manisku” ujar Roy menyerahkan sebuah kartu black card pada Adelia yang langsung tersenyum senang sambil terus melanjutkan aktivitas pengadonan.


Melbourne Siang hari...


Sabrina telah selesai mengerjakan semua pekerjaannya, dia melihat semua data pasien yang sudah di periksanya di atas meja. Dia meraih gagang telepon di samping meja kerjanya untuk menghubungi asisten perawat di depan ruangannya,


“Elaine, are there still patients to be examined today? (Elaine, apakah masih ada pasien yang akan di periksa hari ini?)” tanya Sabrina sambil menyusun semua data-data milik pasien.


“No, Doctor Sabrina. All checks are complete (Tidak, dokter Sabrina. Semua pemeriksaan sudah selesai)” ujar Elaine sambil memeriksa komputer di depannya.


“ Alright then, I'll be home early today. Can you come to my room now? (Baiklah kalo begitu, aku akan pulang cepat hari ini. Bisakah kamu ke ruangan ku sekarang?)”


“okay Doc... (baik Dok...)” Elaine segera merapikan mejanya lalu melangkah ke depan pintu ruangan Sabrina.


Tok... Tok... Tok....


Terdengar ketukan di depan pintu ruangan Sabrina,


“come in... (masuk)” ujar Sabrina sambil menyimpan barang-barang miliknya.


“is there anything I can help Sabrina? Are you okay?(ada yang bisa aku bantu Sabrina? Kamu tidak apa-apa Sabrina?)" tanya Elaine melihat wajah Sabrina yang terlihat begitu lelah. Selama sebulan bekerja Sabrina sudah sangat dekat dengan para staff di rumah sakit ternama itu, bahkan saat tidak ada pasien Sabrina meminta para perawat dan dokter lainnya untuk memanggil nama saja tanpa menggunakan embel-embel profesinya.


Para staff mengagumi sifat Sabrina yang rendah hati dan tidak sombong, ada juga beberapa yang julid merasa tidak senang dengan Sabrina. Bahkan mereka yang julid merasa sangat iri dengan Sabrina memiliki suami begitu menyayanginya, hal itu terjadi lantaran mereka pernah melihat Sabrina yang di antar Nicholas ke rumah sakit. Paras tampan serta perilaku lembut Nicholas sukses membuat para netijen julid panas dingin.

__ADS_1


“hmmm yeah i'm fine... it's just that my body feels very tired, oh yes, this is all the patient's data today ( hmmm ya aku tidak apa-apa... (memegangi tekuk lehernya yang terasa sangat pegal) hanya saja badan ku terasa sangat lelah, O ya ini semua data milik pasien hari ini)” ujar Sabrina menyerahkan semu file data milik pasiennya pada Elaine yang langsung mengambilnya dengan tersenyum ramah.


“I'll be home early today, if there's anything please call me (aku akan pulang cepat hari ini, jika ada apa-apa segera hubungi aku)” ujar Sabrina kembali, dia lalu berdiri dari tempat duduknya. Kepalanya terasa begitu pusing dan dia hampir saja terjatuh, Elaine melihat hal itu segera menaruh tumpukan file dan memegangi kedua lengan Sabrina. Dia menahan tubuh Sabrina dan memapah untuk duduk di kursi depan meja kerjanya.


“what about you Sabrina? (kamu kenapa Sabrina?)” tanya Elaine mendudukkan Sabrina dengan hati-hati.


“I don't know why my head feels so dizzy (tidak tahu kenapa kepala ku terasa begitu pusing)”ujar Sabrina memegangi kepalanya. Tidak berapa saat perut Sabrina berbunyi,


Krriuuuk...


Suara itu membuat wajah cantik Sabrina merona.


“no wonder you feel dizzy, you definitely haven't had lunch right? (pantas saja kamu merasa pusing, kamu pasti belum makan siang bukan?)” tanya Elaine teringat jika Sabrina sedari tadi belum ada ke kantin rumah sakit. Sabrina tersenyum malu membuat Elaine menggeleng-gelengkan kepalanya,


"just eat this, for a while (makan saja ini, untuk sementara)” ujar Elaine memberikan coklat berukuran kecil pada Sabrina. Mata indahnya menatap cokelat di tangan Elaine, ada keraguan terlihat jelas di wajah Sabrina.


“thanks, i'm sorry for that... i mean... (terima kasih, maafkan aku karena itu ... maksud ku...)” Sabrina merasa sangat tidak enak dan segan pada Elaine yang tersenyum manis padanya.


“it's okay Sabrina, I understand your habits. Eat so that you are energized (tidak apa-apa Sabrina, aku memahami kebiasaanmu. Makanlah agar kamu bertenaga)” ujar Elaine kembali mengambil file yang tergeletak di meja kerja Sabrina.


“alright, then I'll just go back now (baiklah, kalau begitu aku kembali sekarang saja)” ujar Sabrina sambil menggigiti coklat pemberian Elaine. Sabrina meraih ponselnya di dalam tas, lalu tampak memesan taksi online untuk mengantarnya pulang ke apartemen.


“are you home alone? Why not call your husband to pick you up? (kamu pulang sendiri? Kenapa tidak menelepon suami mu untuk menjemput?)” tanya Elaine sempat melihat Sabrina memesan taksi online.


“i want it.. (inginnya sih?!)”


“you mean? (maksud kamu?)”


“He's been in Sydney for two days because of work, so he can't pick up (sudah dua hari ini dia berada di Sydney karena pekerjaan, jadi dia tidak bisa menjemput)” ujar Sabrina sedikit menghela nafas.

__ADS_1


Bahkan Nicho menyuruh anak buahnya untuk menjaga ku dua puluh empat jam di tambah dengan body guard dari daddy. Pengamanannya bahkan melebihi penjagaan seorang presiden atau ratu gumam Sabrina dalam hati.


Semenjak pertemuannya dengan daddy Nicholas di Mansion utama John Abraham, Sabrina di perlakukan layaknya seorang ratu. John sangat menyukai dan menyayangi Sabrina layaknya dia adalah putri kandung, dia bahkan memerintahkan penjaga bayangan untuk terus menjaga dan melindungi Sabrina.


“why are you sighing like that, Sabrina? (kenapa kamu menghela nafas begitu, Sabrina?)” tanya Elaine heran.


“it's okay, okay I'm going home now. See you the day after tomorrow (tidak ada apa-apa, baiklah aku pulang sekarang. Sampai jumpa lusa nanti)” ujar Sabrina berdiri dengan sedikit berhat-hati.


“bye Sabrina, you take care okay (sampai jumpa Sabrina, kamu hati-hati, oke)” ujar Elaine membukakan pintu ruang kerja, lalu melangkah beriringan keluar.


Tampak beberapa body guard pribadi standby di mobil khusus mereka, mata mereka melihat Sabrina yang keluar dari pintu keluar rumah sakit lalu menaiki mobil taksi. Para body guard segera masuk ke dalam mobil mereka dan mengikuti mobil taksi yang di tumpangi Sabrina.


Supir taksi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali dia melirik ke kaca spion dan memperhatikan beberapa mobil yang mengikuti.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2