Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 227


__ADS_3

Baby Yusuf menatap tidak senang ke arah Nicholas yang berada sangat dekat dengan Sabrina,


“Wawawawawawa”


Baby Yusuf mengeluarkan suara imutnya melayangkan protes atas kedekatan daddy dan Uminya, dia kembali mencondongkan tubuhnya meminta John untuk mendekat ke arah Sabrina. Lagi – lagi Baby Yusuf menunjukkan sikap posesif meraih dan menarik ujung Hijab Sabrina untuk menjauhi Daddynya.


Sikap Baby Yusuf membuat John dan lainnya tertawa berjamaah,


“hahahahaha.... Indeed fruit does not fall from the tree, when Nicholas was the same age as Yusuf he was also very possessive of his mother (hahahahaha.... Memang buah tidak jatuh dari pohonnya, sewaktu Nicholas seumuran dengan Yusuf dia juga sangat posesif dengan mommynya) “ ujar John tertawa senang.


“that's how boys are, he will feel very unhappy if his mother is close to us fathers (begitulah anak laki – laki, dia akan merasa sangat tidak senang jika ibunya berada dekat dengan Kita para ayah) “ ujar Adiwijaya tersenyum senang, baby Yusuf kembali dalam gendongan Sabrina. John lalu menghampiri Adiwijaya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan,


“I'm sorry for being late to greet you, Mr. Wijaya. Missing my grandson prince and daughter so much, I forgot to greet you in person (maafkan aku karena terlambat menyapa anda, tuan Wijaya. Begitu merindukan cucu pangeran juga putriku, membuat lupa untuk menyapa anda secara langsung) “ ujar John sambil memeluk hangat pria yang sudah lanjut usia itu, senyuman hangat dan penuh wibawa tersungging di wajah Adiwijaya yang menyambut uluran tangan juga pelukan John.


“It's all right, Mr. John. I understand, of course you haven't seen the children in so long (Tidak apa – apa, tuan John. Aku memaklumi, tentunya anda sudah begitu lama tidak berjumpa dengan anak – anak) “ ujar Adiwijaya perlahan melepaskan pelukan dan jabatan tangan itu, suasana yang semula dingin mencekam berubah menghangat.


John di temani Adiwijaya dan lainnya menjenguk Arman yang masih dalam masa penyembuhan, Jack dan body guard lainnya menunggu di lorong lantai rumah sakit.


Mereka lalu mengaktifkan mode penjagaan tingkat tinggi yang tidak akan mampu di tembus oleh lalat sekalipun. Arman di temani Indra menatap ke arah pintu kamar yang terbuka, saat melihat sosok John yang masuk membuat Arman sedikit ketakutan sama seperti lainnya yang bereaksi serupa. Namun untuk Arman sedikit lebih spesial aura yang di berikan John, buka aura dingin melainkan aura seorang mafia yang bertangan besi juga dingin.


Aura ingin membunuh terasa sangat kental dirasakan oleh Arman, seolah John memperingatinya untuk tidak menyakiti Sabrina.


You are lucky because you are the biological father of my daughter, if not at this moment I will send you to meet the angel of death. You better be careful really be careful with my daughter, if I just see the tears that fall on her cheeks because of you who hurt be prepared to say goodbye to this world (Kamu beruntung karena kamu papa kandung dari putriku, jika tidak detik ini juga kamu sudah aku kirim menemui malaikat maut. Lebih baik kamu berhati – hati bersikap pada putriku, jika aku melihat saja air mata yang jatuh di pipinya karenamu yang menyakiti bersiap saja untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini) gumam John dalam hati mengancam melalui tatapan dari sorot mata yang dingin, anehnya Arman seolah mengerti dan langsung menganggukkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


Park Joon, Shu kye, Adiwijaya, Rian, Indra dan Nicholas seolah juga mengerti dengan arti tatapan yang di layangkan oleh John pada Arman, kecuali Sabrina dan baby Yusuf yang terlihat memiringkan kepala kebingungan. Melihat raut wajah Arman yang tidak nyaman membuat Sabrina menghampirinya,


“Yusuf sayang, sebentar ya. Umi mau memeriksa kakek dulu, kamu sama daddy dulu ya” ujar Sabrina memberikan Yusuf pada Nicholas, tentu saja baby imut itu semakin tidak senang. Hijab Sabrina di pegang erat dan sama sekali tidak terlepas oleh baby Yusuf,


“uummmm... Ummmm... Wawawa”


Tangan kekar Nicholas sudah memegangi tubuh mungil baby imut itu, wajah baby Yusuf terlihat bad mood maksimal.


“obey?! Let umi check on your grandpa (patuhlah?! Biarkan umi memeriksa kakek mu) “ ujar Nicholas semakin membuat pipi dari baby imut itu menggembung tidak senang, baby Yusuf sudah berada dalam gendongan Nicholas. Kedua tangan Sabrina memegangi tangan mungil yang memegangi hijab itu dengan erat, bibir pink natural itu mendarat lembut di punggung tangan mungil mengecupnya dengan lembut.


“Uummmm”


Baby Yusuf masih terlihat tidak rela namun perlahan dengan belaian lembut tangan Sabrina hijab itu di lepaskan, raut wajah tidak senang tampak tercetak jelas di wajah baby imut itu.


“pa.... Papa kenapa? Apa papa merasa sakit lagi? Aku periksa papa ya?! “ ujar Sabrina yang akan segera menekan tombol untuk memanggil perawat, tangan Arman yang di pasangi infus meraih tangan Kanan Sabrina. Perempuan cantik itu menatap ke arah Arman yang tersenyum canggung,


“papa.... Tidak apa – apa Sabrina, sedikit tidak nyaman karena tidak menyambut tuan John dengan baik” ujar Arman berusaha tenang walau suaranya terdengar bergetar.


“papa yakin? Lebih baik aku periksa untuk memeriksa semuanya baik – baik saja” ujar Sabrina khawatir, kening John berkerut karena tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Sabrina pada Arman.


“it's okay, Sabrina. Papa is really - really fine ....sorry sir John, I did not greet you properly and instead... (tidak apa – apa, Sabrina. Papa benar – benar dalam keadaan baik saja (menatap ke arah John) maaf tuan John, aku tidak menyambut anda dengan baik dan malah...)” ucapan Arman terhenti saat John langsung memotong.


“no problem, Mr. Arman. I understand with your condition that you have to get enough rest, take care of your health, don't make 'my daughter' sad (tidak masalah, Tuan Arman. Aku mengerti dengan kondisi anda yang harus beristirahat dengan cukup, jaga kesehatan anda jangan membuat ‘Putriku’ sedih)” ujar John menekankan nada bicaranya pada kata putri, Arman mengerti serta paham dengan sikap John.

__ADS_1


Arman merasa senang serta bahagia melihat kasih sayang John yang tercurah pada Sabrina, dia merasa rendah diri dan malu saat teringat kembali dengan perlakuannya pada putrinya di masa lampau. Perubahan wajah Arman di sadari Sabrina yang langsung memegang dan menggenggam tangannya, senyuman hangat tersungging di wajah cantik memberi efek menenangkan bagi Arman.


Setelah bercengkerama dengan Arman dan keluarganya, John meminta Anak buahnya untuk meletakkan buah tangan yang di beli sebelum ke rumah sakit di atas meja. Tidak lupa satu bucket mawar merah yang indah di berikan langsung oleh John pada Sabrina yang menyambut senang, setelah itu mereka meninggalkan kamar perawatan Arman untuk menemui Ningsih di kamarnya.


Hal yang sama kembali terjadi saat Ningsih dan Andhini bertemu dengan John, mereka berdua terlihat gugup saat pria berbadan besar dan memiliki tinggi berbeda menyapa dengan ramah. Perlahan – lahan suasana canggung mencair oleh tingkah laku Baby Yusuf yang seperti oasis di padang gurun, sikap dan tingkahnya sukses membuat semua orang terhibur.


Setelah cukup lama bercengkerama dan juga Ningsih yang harus beristirahat, Nicholas dan lainnya memutuskan untuk kembali ke mansion. Sabrina sebenarnya masih ingin berada di rumah sakit untuk menjaga Ningsih dan Arman, tapi dia urungkan karena Baby Yusuf yang masih kecil.


......................


***Dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all***...

__ADS_1


__ADS_2