
Di sebuah kamar apartemen mewah tepatnya di sebuah gedung pencakar langit kota Melbourne, Sabrina tengah duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan indah kota itu. Sudah satu bulan Sabrina berada di negara yang terkenal dengan binatang khasnya, selama satu bulan pula dia menjalani kehidupannya sebagai seorang istri.
Namun, Sabrina tidak bisa menyandang predikat istri sesungguhnya. Dalam apartemen mewah itu Sabrina dan Nicholas tidur di kamar yang berbeda, hal itu di lakukan Nicholas karena dia tidak ingin menyakiti dan memaksakan cintanya pada gadis cantik itu. Pria tampan itu tidak ingin Sabrina merasa terpaksa dan terbebani dengan statusnya sebagai seorang istri, memaksakan diri untuk mencintai dan menyayangi dirinya.
Begitu menginjakkan kakinya di negara Australia, Nicholas sudah di sibukkan dengan pekerjaannya di kediaman utama. Tak ayal karena kesibukannya itu menyita waktu hingga dia sangat jarang bertemu dengan Sabrina, sekalinya bertemu itu pun di saat mereka sarapan bersama dan tentunya tidak berlangsung lama.
Selama satu bulan pernikahan Nicholas hanya mengecup lembut kening Sabrina dan setelahnya dia lebih memfokuskan dirinya dalam pekerjaan. Selayaknya seorang Perempuan yang sudah menikah, Sabrina juga berkeinginan untuk menjadi Istri yang sesungguhnya. Dia ingin sekali mengutarakan apa yang menjadi keinginannya, namun karena merasa malu dan canggung membuat hubungan yang ada terkesan dingin dan monoton.
Setiap hari tanpa di bantu oleh Yohan, Sabrina memasakkan makanan untuk suaminya. Dia bahkan belajar dari Yohan untuk membuat makanan kesukaan Nicholas, pujian pun mengalir dari mulut Nicholas saat merasakan masakan istrinya. Sabrina tersenyum senang saat mendengar pujian tulus Nicholas, tapi karena kesibukan Nicholas harus segera pergi untuk bekerja.
Sabrina benar-benar merasa sangat bosan, untuk menghilangkan kebosanannya dia berulang kali membaca Qur’an yang tersedia di ruang baca Nicholas. Begitu banyak buku-buku bertemakan islam tersimpan di dalam ruang baca itu, terkadang Sabrina juga sering menelepon keluarganya di Indonesia yang tentu saja di izinkan oleh Nicholas.
Surat-surat penting milik Sabrina sudah lama datang dari Indonesia, ada keinginannya untuk bekerja di salah satu rumah sakit di kota Melbourne. Tapi semua itu harus di simpannya dalam hati, dikarenakan tidak ada kesempatan untuk Sabrina membicarakannya dengan Nicholas yang sangat sibuk.
Sabrina menghela nafas panjang menatap jauh ke pemandangan kota tengah hari itu,
Tok...tok...tok....
Terdengar ketukan di kamarnya, Sabrina segera meraih dan mengenakan hijabnya melangkah menuju pintu kamarnya.
__ADS_1
“yes, what's wrong Yohan? (ya, ada apa Yohan?)” tanya Sabrina menatap Yohan yang berdiri di depan pintu.
“sorry to bother you miss, I want to ask you what do you want for lunch today? (maaf mengganggu anda nona, saya ingin bertanya anda ingin makan siang dengan menu apa hari ini?)” Tanya Yohan dengan sopan.
“turns out it's lunch time, did Nic come home for lunch? I will cook then (ternyata sudah waktu makan siang, apa Nic pulang untuk makan siang? Aku akan memasak kalau begitu)” ujar Sabrina tampak senang akan melangkah menuju dapur.
“I'm sorry miss, but Mr. Nicholas just called to let me know he's going out to eat. He has also contacted you several times but is not connected at all.. (maaf nona, tapi tadi tuan Nicholas menelepon memberi tahu jika beliau akan makan di luar. Tadi juga Beliau sudah beberapa kali menghubungi anda tapi sama sekali tidak tersambung..)” jelas Yohan.
“oh..... My phone is running out of power and is charging. Did Nic leave any other messages? did he not come home today? (oh (merasa sedih) ponsel ku kehabisan daya dan sedang di charger. Apa Nic ada meninggalkan pesan lainnya? apa dia juga tidak pulang hari ini?)” Tanya Sabrina dengan wajah terlihat sedih.
“sorry miss, i don't know about it. He just asked me to ask what menu you want (maaf nona, saya kurang mengetahuinya. Beliau hanya meminta saya menanyakan menu makanan apa yang anda inginkan)” ujar Yohan, dia bisa melihat raut kesedihan di wajah cantik Sabrina.
“it's okay, I'll cook myself today, you and the other maids can rest today (tidak apa-apa, aku akan memasak sendiri hari ini, kamu dan maid yang lain bisa beristirahat hari ini)” ujar Sabrina sembari menyunggingkan senyum terpaksa.
“are you sure miss? (anda yakin nona?)”
“yes... i... ( Iya, aku...)” ucapan Sabrina terhenti saat melihat salah seorang maid datang menghampiri. Perhatian mereka teralih kan ke arah Maid yang sedikit membungkuk memberi hormat pada Sabrina.
“Master Yohan, here is the list of items that are out of stock (Tuan Yohan, ini daftar barang yang sudah habis)” ujar Maid itu menyerahkan segulung kertas kepada Yohan. Mata Sabrina terkejut saat melihat segulung daftar belanja yang harus di beli Yohan,
__ADS_1
“have all the needs in this apartment run out? (apa kebutuhan di apartemen ini sudah habis semua?)” Tanya Sabrina takjub dengan daftar belanja itu, Yohan dan maid itu tersenyum melihat ekspresi Sabrina.
“these are not only needs in this apartment, miss, there are also needs for body guards who are one floor below this apartment. Because they have to carry out their duties sometimes they don't have time to buy necessities, so young masters make policies like this (ini semua tidak hanya kebutuhan di apartemen ini saja nona, ada juga kebutuhan para body guard yang berada satu lantai di bawah apartemen ini. Karena harus melaksanakan tugas mereka terkadang tidak sempat membeli kebutuhan, jadi tuan muda membuat kebijakan seperti ini)” ujar Yohan melihat daftar kebutuhan yang panjang itu.
“the young master even though he seems stiff and cold, he is very concerned about the welfare of the lady workers. He doesn't even hesitate to spend a lot of money to fulfill and help his workers (tuan muda walaupun terkesan kaku dan dingin, beliau sangat memperhatikan kesejahteraan Para pekerja nona. Beliau bahkan tidak segan-segan mengeluarkan uang banyak untuk memenuhi dan membantu para pekerjanya)” ujar maid itu.
Sabrina ber’o’ ria saat mendengar penjelasan dari maid dan Yohan, ada perasaan kagum di hatinya untuk Nicholas yang begitu memperhatikan pekerjanya. Begitu juga dengan kebutuhan dirinya yang sudah tersedia, tidak hanya perlengkapan ibadah, pakaian serta kebutuhan Sabrina lainnya juga terpenuhi.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...