
Nampan berisi makan siang di taruh Nicholas di atas meja yang berada tepat di depan sofa panjang yang di duduki Sabrina, karena terlalu asyik dengan pekerjaannya Sabrina sama sekali tidak mengetahui kedatangan Nicholas. Posisinya yang berselonjor di sofa panjang itu membuat Sabrina membelakangi Nicholas, satu persatu email yang masuk di baca Sabrina dengan serius.
Nicholas hendak menyapa istrinya terhenti saat Ponsel yang di pegang Sabrina berbunyi, pada layar ponsel tertera nama rumah sakit di mana Sabrina bekerja. Saat dia angkat mengangkat telepon itu Nicholas dengan cepat merebut ponsel Sabrina yang masih berbunyi,
“Nicho... Please return the phone, it's from the hospital (Nicho... Tolong kembalikan ponselnya, itu dari rumah sakit)” Sabrina melihat ke arah Nicholas yang berdiri di sampingnya dengan memegangi dan menatap layar ponsel itu. Sabrina meletakkan laptop yang di pangkunya ke atas sofa panjang itu, dia lalu berdiri dari duduknya mencoba mengambil ponsel yang masih di pegangi Nicholas.
“no sayang, you remember not a message from the doctor to always relax and reduce work. You should rest and eat the food I have brought (tidak sayang, kamu ingat bukan pesan dari dokter untuk selalu rileks dan mengurangi pekerjaan. Kamu harus istirahat dan makan makanan yang sudah aku bawakan)” ujar Nicholas hendak mengangkat ponsel Sabrina yang berbunyi sedari tadi.
“sayang... I'm pregnant not sick that requires me to sleep. I can still do housework and hospital (sayang... Aku ini hamil bukan sakit yang mengharuskan aku untuk tiduran. Aku masih bisa mengerjakan pekerjaan Rumah dan rumah sakit)” ujar Sabrina membuat Nicholas termenung sejenak. Untuk pertama kalinya Sabrina memanggil sayang pada Nicholas, tangan yang memegang ponsel terangkat ke atas.
Nicholas yang memiliki tinggi yang berbeda dengan Sabrina memudahkan dirinya untuk menjauhkan ponsel, susah payah Sabrina merebut ponsel itu dari tangan Nicholas yang terus menjauhkan darinya.
“sayaaang... Return the phone... Maybe there's an emergency at the hospital (sayaaang... Kembali kan ponselnya... Mungkin ada keadaan darurat di rumah sakit)” ujar Sabrina manja berusaha merebut ponselnnya kembali. Mendengar ucapan Sabrina membuat Nicholas menjadi sangat gemas, tanpa sadar Sabrina sudah berada dalam pelukan Nicholas.
Tangan lain Nicholas memeluk pinggang Sabrina yang tampak masih berusaha meraih tangan Nicholas yang memegang ponsel, Nicholas tersenyum menatapi tingkah laku Sabrina yang sudah tidak canggung dan malu-malu.
“Sorry sayang, but this time you have to take a break from all work. I don't want you and our child to be exhausted (Maaf sayang, tapi kali ini kamu harus istirahat dari semua pekerjaan. Aku tidak mau kamu dan anak kita kelelahan)” Nicholas menarik pinggang Sabrina untuk berdiri lebih dekat dengannya.
Sabrina termenung sejenak dalam pelukan Nicholas, ke dua tangannya berada di dada bidang pria tampan itu. Matanya yang bulat dan jernih menatap dalam ke arah mata biru Nicholas, seperti terhipnotis mereka saling berpandangan satu sama lain.
Kembali terdengar deringan dari ponsel yang di pegang Nicholas membuat pandangan Sabrina teralihkan, dengan cepat tangan Sabrina menarik lengan kemeja yang di kenakan Nicholas membuat tangan yang terangkat ke atas turun.
Sabrina segera merebut ponsel dari tangan dan langsung membelakangi Nicholas, ibu jari Sabrina menggeser icon tombol hijau untuk mengangkat telepon itu.
__ADS_1
“hello doctor Sabrina, sorry to bother you.... (halo dokter Sabrina, maaf saya mengganggu anda....)” terdengar suara asisten Sabrina dari seberang sana.
“It's okay, I'm not too busy either. What is it? (tidak apa-apa, aku juga tidak terlalu sibuk. Ada apa?)” tanya Sabrina yang mengabaikan Nicholas.
Pria tampan itu baru sadar jika sedari tadi Sabrina belum mengganti bajunya, rambutnya yang biasa di sanggul rapi kini tergerai panjang. Tangan Nicholas membelai rambut panjang Sabrina yang sedang terfokus berbicara dengan asistennya,
“just a moment, sayang... (sebentar sayang...)” ujar Sabrina hendak melangkah sedikit menjauh dari Nicholas, namun langkahnya terhenti saat tangan kekar Nicholas memeluk pinggang Sabrina. Kedua tangan itu berada di atas perut datar Sabrina, perlahan tangan Nicholas membelai lembut perut yang kini di sana tumbuh sehat buah cinta mereka.
“Nicho...” Sabrina sedikit berbisik, tangan kirinya memegang kedua tangan kekar Nicolas yang masih membelai lembut perut datarnya. Tubuh Sabrina di peluk erat dari belakang oleh Nicholas,
“You just talk, I won't interfere. just let me be like this for a while (kamu berbicara saja, aku tidak akan mengganggu. biarkan aku seperti ini sebentar saja)” Nicholas berbisik di telinga sebelah kiri Sabrina, bibirnya mengecup lembut pipi Sabrina yang kembali serius mendengar asisten itu berbicara.
Sabrina mendengar dengan seksama setiap penjelasan dari asistennya, dia membiarkan Nicholas berbuat sesuka hatinya. Tangan Nicholas mengesampingkan rambut panjang Sabrina ke pundak sebelah kanan, setelahnya perlahan tangan Nicholas menurunkan resleting baju yang berada di bagian depan.
Tindakan Nicholas tentu saja membuat Sabrina menjadi kalang kabut, dia berusaha bersikap wajar dengan menahan agar tidak mengeluarkan suara.
***
Arman tengah duduk di ruang tengah sambil menatap layar laptop yang berada di pangkuannya, pada layar laptop tertera grafik yang terlihat naik turun. Sesekali matanya menatap ke arah Indah yang tengah Mengawasi pembantu menyiapkan makanan, Indah juga meminta pembantu lainnya untuk menyiapkan hidangan penutup serta minuman untuk menjadi peneman makan malam yang sudah tersedia.
Salah seorang pembantu menghampiri Indah yang tampak sibuk menata dan menghias masakan yang sudah matang,
“Nyonya, ada beberapa bahan yang sudah habis” ujar pembantu itu sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi catatan bahan yang dibutuhkan.
__ADS_1
“kamu pergi membelinya sekarang, sebentar aku akan mengambil uangnya dulu” ujar Indah akan beranjak pergi menuju kamarnya.
“Itu nyonya...” pembantu itu kembali memanggil Indah yang hendak pergi. Indah menatap ke arah pembantu yang terlihat ragu-ragu,
“kenapa?” tanya Indah menatap ke arah pembantu itu.
“itu nyonya... Ada beberapa bahan yang saya tidak tahu dan di mana harus membelinya” ujar pembantu itu, Indah menatap pembantu itu yang terlihat kebingungan.
“kamu... tolong teruskan sisanya dan letakkan dengan rapi di atas meja” ujar Indah pada pembantu lainnya yang tengah menata meja makan.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...