Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 193


__ADS_3

Setelah merasa cukup berbicara dengan Ningsih, Sabrina lalu berdiri dari kursi yang di dudukinya dan membiarkan Ningsih untuk beristirahat. Dia lalu menyalami Adiwijaya dengan santun dan berbicara sejenak, setelahnya Sabrina menyapa Wulan, Anjani dan Asmirah dengan hangat.


Anjani tersenyum bahagia saat berbicara dengan Sabrina, dia memeluk erat Sabrina dengan mata berkaca – kaca. Berbanding terbalik dengan Asmirah yang tersenyum dan bersikap berbeda saat Sabrina menyapa seraya memeluk dirinya, perubahan sikap Asmirah di rasakan oleh Sabrina yang sejenak menatap ke arah perempuan cantik itu. Tidak lupa Sabrina mengenalkan Yohan dan Hee Na pada keluarga besarnya, mereka di sambut hangat oleh Adiwijaya dan lainnya.


Di balik sebuah tembok Rian terus memperhatikan apa yang terjadi di depan kamar yang di masuki oleh Sabrina, dia sama sekali tidak menyadari keberadaan Shu Kye dan Park Joon yang ikut mengintip di belakangnya. Rian ingin menghampiri ruangan itu namun, langkahnya terhenti saat dua orang pria berbadan tegap bersetelan rapi layaknya body guard berjaga tepat di kedua sisi pintu kamar VVIP itu. Park Joon menepuk pundak Rian sambil terus melihat ke arah ruangan itu,


“apa kamu mengenal siapa mereka?” tanya Park Joon membuat Rian terkejut dan seketika membalikkan tubuhnya.


“tuan besar, nyonya Besar?!” ujar Rian dengan mata membesar. Shu Kye dan Park Joon saling berpandangan menatap bingung Rian yang terlihat seperti pencuri ketakutan, tangan kanan Rian memegangi dadanya yang berdebar kuat.


“kamu kenapa?” tanya Shu Kye menatap heran.


“tidak apa – apa nyonya, hanya sedikit terkejut saat melihat anda dan tuan besar berada di belakang saya?!” Rian menoleh ke arah belakangnya sambil memperhatikan kedua body guard.


“kamu belum menjawab pertanyaan ku, apa kamu mengenal mereka yang masuk ke dalam ruangan itu?!” tanya Park Joon penasaran.


“maaf tuan besar, saya tidak mengenal mereka. Tapi....” Rian kembali memperhatikan pintu kamar VVIP itu yang tertutup rapat dan di jaga ketat.


“Tapi?!”


“tapi saya mendengar salah seorang dari mereka memanggil nama Sabrina...” ucapan Rian terhenti saat memperhatikan wajah kedua atasannya. Sebuah harapan sekaligus rasa senang menghinggapi hati Park Joon dan Shu Kye, mereka hendak melangkah menghampiri kamar itu namun mengurungkan niat mereka saat menatap sebuah pemandangan yang membuat jantung mereka berdua berdebar dengan sangat cepat.

__ADS_1


***


Sabrina tengah berbicara dengan dokter yang menangani Ningsih tepat di depan kamar perawatan, Jack senantiasa selalu berada di samping Sabrina. Hee Na tengah duduk di dalam ruangan sambil menjaga baby Yusuf yang masih terlelap dalam tidurnya. Gendis begitu penasaran dengan baby Yusuf berdiri tepat di depan stroller yang di jaga oleh Hee Na,


“ capa nama na?!” tanya Gendis bertanya pada Hee Na yang menatap kebingungan ke arahnya. Hee Na sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh gadis kecil itu,


“hmmm... sorry little girl, I don't really understand what you're asking ( hmmm... maaf gadis kecil, aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu tanyakan)” ujar Hee Na bersikap ramah pada Gendis.


Gendis menatap Hee Na dengan kebingungan menanyainya dengan bahasa yang sama sekali tidak di mengerti olehnya, Andhini, Wulan dan Anjani tersenyum melihat tingkah Gendis juga Hee Na.


“my daughter asked, what is the name of the baby Sabrina? (putri ku bertanya, siapa nama bayi mbak Sabrina)” ujar Anjani tersenyum ramah pada Hee Na, dia bersimpuh di depan stroller sambil jari telunjuknya mengelus lembut pipi gembul baby Yusuf. Sentuhan lembut itu membuat tidur nyenyak baby Yusuf terganggu, tubuh baby mungil itu bergerak dan menggeliat melakukan peregangan.


“ooo the young master's name is Yusuf, madam. Yusuf Azraq Wijaya (ooo nama tuan muda adalah Yusuf, nyonya. Yusuf Azraq Wijaya)” ujar Hee Na memperkenalkan baby Yusuf.


“MasyaAllah....” ucap Anjani masih menatap baby Yusuf, mata bulat nan jernih menatap diam ke arah Anjani dan Gendis. Ucapan Anjani membuat Wulan dan Andhini merasa penasaran, mereka berdua menghampiri Anjani yang masih berada di depan stroller baby Yusuf.


“masya Allah... imut banget cucunya oma...” ujar Andhini saat baby Yusuf menatap ke arah mereka berdua. Asmirah yang berada di sisi lain ruangan itu ikut merasa penasaran dengan baby yang tengah di kerumuni oleh ibu, tante dan kakaknya. Dia ingin mendekat namun ada sebuah rasa yang menahan, Asmirah hanya menatap sejenak ke arah mereka lalu memilih untuk sibuk dengan ponsel miliknya.


Park Joon dan Shu Kye termenung saat melihat Adiwijaya berserta lainnya tengah ikut mendengar penjelasan dari dokter yang menangani Ningsih bersama Sabrina, perempuan cantik itu tengah berkonsentrasi dengan file yang di pegangnya.


“suami ku.... bukankah...” ujar Shu kye terputus – putus saat sebelah tangannya menunjuk ke arah Adiwijaya. Park Joon langsung menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang akan di katakan oleh istrinya, mereka mengalihkan pandangan ke arah perempuan cantik yang terlihat serius berbicara dengan dokter.

__ADS_1


“ istriku.... Perempuan itu.... Coba lihat wajah perempuan yang sedang berbicara dengan dokter itu (menggerakkan kepalanya ke arah Sabrina) Sekilas wajahnya mirip.... “ Park Joon sekilas teringat dengan wajah Arman. Mata Shu Kye tampak berbinar – binar dan tanpa sadar dia keluar dari balik dinding di mana dia bersama suam dan Rian terus memperhatikan ke arah ruang perawatan Ningsih.


Shu Kye di ikuti oleh Park Joon serta Rian menghampiri Adiwijaya dan lainya dengan harapan besar dapat bertemu juga memeluk Sabrina cucunya, dia melangkah dengan terburu – buru. Adiwijaya mengalihkan pandangannya sejenak ke arah lorong rumah sakit, matanya membulat sempurna saat menatap dua orang yang tidak asing baginya.


Cakra yang berdiri di sampingnya juga terkejut saat melihat Shu Kye dan Park Joon yang melangkah mendekati mereka, Adiwijaya menggenggam kuat tongkat dan memperlihatkan raut wajah tidak senang. Sabrina tidak terlalu memperhatikan perubahan hawa di sekitarnya begitu juga dengan Wiyasa, mata dan pikirannya terfokus pada file juga penjelasan dari dokter yang menangani Ningsih.


Shu Kye tidak memedulikan tatapan dingin dan penuh kemarahan dari Adiwijaya beserta Cakra, di matanya kini hanya terlihat perempuan cantik yang di yakini olehnya adalah putri kandung putranya Arman. Langkah Shu kye dan lainnya terhenti saat Adiwijaya memegangi pundak Sabrina yang langsung membalas menatap ke arahnya,


“Sabrina, kamu terlihat lelah. Sebaiknya sekarang kamu dan lainnya pulang terlebih dahulu untuk beristirahat,” ujar Adiwijaya sambil sesekali melirik dan mengawasi ke arah orang tua Arman juga Rian.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2