Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 173


__ADS_3

Matanya menatap tajam dan memeriksa setiap sudut apartemen, Nicholas melangkah terus menuju pintu depan dan mendapati Sabrina yang terduduk di lantai dengan wajah menengadah ke langit-langit.


Nicholas panik saat melihat wajah Sabrina ada bercak darah, dia berjongkok dengan tangannya membelai wajah cantik istrinya sambil memeriksa setiap bagian tubuh. Senjata api yang di pegangnya di biarkan tergeletak di lantai begitu saja, rasa khawatir dan cemas terlihat jelas di wajahnya,


Pria tampan itu menghela nafas lega mengetahui jika istrinya sama sekali tidak terluka, Mata Sabrina terbuka perlahan lalu menatap ke arah Nicholas yang membalas menatap ke arahnya. Raut wajah penuh kelegaan terlihat jelas di wajah Sabrina saat melihat suaminya,


“Nicho...” Sabrina berhamburan memeluk tubuh Nicholas, pria tampan itu dapat merasakan tubuh istrinya yang bergetar. Kedua tangan kekar itu memeluk erat tubuh Sabrina begitu juga dengan sebaliknya, Sabrina memeluk erat seolah tidak ingin berpisah lagi.


Isaac dengan luka di dahi mengambil senjata mirip seperti panahan, ujung anak panah tampak tajam dan terlihat seperti ada pengait di setiap sisinya. Pada sisi ujung lainnya terikat tali berwarna hitam yang sangat sering di gunakan oleh para pendaki gunung, lengan baju hitam Isaac tampak basah sehabis menyeka darah di dahinya.


Sebuah katrol mini di pasang pada tali hitam itu, tidak lupa persiapan tali lainnya untuk pengamanan ekstra. Isaac melakukan aksinya dengan meluncur menuju kaca apartemen Nicholas yang pecah, kaki kuat menggunakan sepatu boots ala militer menghantam keras kaca itu.


Praaaang.... Bruuuughh....


Nicholas dan Sabrina mendengar suara gaduh itu, mereka berdua langsung berdiri dan memperhatikan keadaan sekitar. Tangan Nicholas meraih senjata dari lantai lalu mengokang bagian atasnya, Kedua tangan Sabrina memegang erat lengan kiri suaminya dengan raut wajah ketakutan.


Nicholas lebih dulu melangkah di ikuti Sabrina yang di sembunyikan di belakang tubuh kekar itu, mata tajam memperhatikan keadaan sekitar apartemen itu. Mereka berdua melangkah menuju kamar utama yang samar-samar terdengar suara gaduh dari dalam, Nicholas memilih mundur saat melihat Sabrina. Dia lalu mengajak istrinya untuk bersembunyi di dapur, mereka lalu melangkah dengan hati-hati menuju dapur.


Dooor...dooor... dooor...


Isaac melepaskan tembakan ke arah pintu kamar itu, hal yang sengaja dia lakukan untuk menjatuhkan musuh jika seandainya mereka ada di balik pintu. Dia mengintip dari pintu yang sudah berlubang akibat tembakannya, tidak ada siapa pun di depan kamar itu. Isaac langsung menendang pintu itu dengan sangat kuat hingga pintu yang tidak bersalah itu roboh, mata penuh kebencian melihat ke sekeliling apartemen memastikan jika musuhnya masih ada di dalam apartemen atau sudah melarikan diri.

__ADS_1


Nicholas bersembunyi di balik meja kitchen, dia mencoba mengintip memastikan keberadaan Isaac. Kedua tangan Sabrina menutup mulutnya dan berusaha untuk mengatur nafas yang terasa sesak, tubuhnya bergetar membuat Nicholas segera berjongkok di hadapannya. Kedua tangan Nicholas memegangi wajah Sabrina yang tampak ketakutan, perempuan cantik itu dapat merasakan betapa dinginnya senjata yang di pegangi oleh suaminya.


“Brina sayang, always stay by my side. you don't worry I won't let anyone hurt you and our baby, I will always protect you (Brina sayang, selalu tetap di sisiku. kamu jangan khawatir aku tidak akan me mbiarkan siapa pun menyakiti mu dan bayi kita, Aku akan selalu melindungimu)” bisik Nicholas menenangkan Sabrina yang perlahan menganggukkan kepalanya, dia lalu mengecup kening istrinya dengan mata yang terus mengawasi pergerakan Isaac.


Mata tajam Nicholas memperhatikan pergerakan Isaac dari pantulan lemari kaca dan televisi yang berada di ruang tengah, dia lalu bergerak dengan hati-hati memosisikan tubuhnya di depan Sabrina. Wajah Sabrina berada tepat di dada bidang Nicholas, hidung mancungnya dapat mencium aroma tubuh suaminya yang sedikit memberikan ketenangan untuknya.


Senjata Nicholas mengarah ke arah Isaac yang tampak membelakangi dapur, dia tengah bersiap-siap untuk menembak. Tangan Sabrina meremas kemeja Nicholas, mata tajam itu sejenak menatap ke arah istrinya yang berada dalam kungkungan perlindungannya.


“please be careful!!! (aku mohon berhati-hatilah!!!)” bisik Sabrina cemas. Nicholas menganggukkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Isaac, dia langsung menekan pelatuk senjata api di tangan kanannya.


Dooor... dooor....


Terdengar suara tembakan berkali-kali mengarah ke arah Isaac, tembakan pertama Nicholas mampu di hindari Isaac. Pada saat tembakan kedua Isaac tidak berhasil menghindar membuat peluru mengenai lengan kanan yang memegang senjata, mata penuh dendam itu menatap nanar ke arah senjatanya yang terjatuh.


Senjata yang di pegang Nicholas mengacung ke arah Isaac yang membalas menatapnya dengan nanar, Sabrina sedikit mengintip dari balik punggung Nicholas melihat ke arah musuh. Senyuman smirk terlukis di wajah dingin Isaac, tangannya yang terluka terus menerus mengeluarkan darah segar dan menetes tepat di samping kakinya.


“what are you waiting for, shoot me right here. As you killed my brother with the same wound (tunggu apa lagi, tembak aku tepat di sini. Sebagaimana kamu menghabisi adikku dengan luka yang sama)” ujar Isaac penuh amarah. Nicholas membalas Isaac menatap dengan nanar,


“what happened to your brother was all a result of her own making (apa yang terjadi pada adikmu semuanya adalah akibat yang dia buat sendiri)” ujar Nicholas berusaha tenang, lengan kirinya terus menghalau agar Sabrina tetap senantiasa berada di balik punggungnya.


"hahahahaha... his biggest mistake was failing to kill you, now I will send you to him (hahahahaha... kesalahan terbesarnya adalah gagal untuk membunuhmu, sekarang aku yang akan mengirimmu kepadanya)” ujar Isaac sambil melepaskan ikat pinggang yang di kenakan dengan sebelah tangan, setelah ikat pinggang itu terlepas segera di ikatnya pada tangannya yang terluka.

__ADS_1


Isaac berdiri tegak dengan kedua tangan mengepal dan bersiap untuk menyerang,


“Are you afraid to lose hand to hand combat? (apa kamu merasa takut untuk kalah dengan pertarungan tangan kosong?)” ujar Isaac menantang Nicholas untuk berduel dengan cara ‘LAKIK’.


Nicholas menatap ke arah istri yang masih bersembunyi di belakang tubuhnya,


“Brina...” panggil Nicholas memberi kode pada Sabrina untuk berdiri lebih jauh dari mereka, wajah khawatir masih terlihat jelas namun dengan patuh Sabrina melangkah menjauh dari para pria itu.


Sabrina berada dalam posisi terjepit, jika dia keluar dari apartemen dia akan di berondong oleh tembakan dari anak buah Isaac. Dia berada di dalam apartemen hanya akan membuat Nicholas pecah fokus dan kalah, Sabrina segera menyingkir dengan bersembunyi di kamar maid.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2