
“what?! take back your words that demean my fiancée (apa?! tarik kembali ucapanmu yang merendahkan tunangan ku)” Raka tampak geram.
“Your fiancée?! Mr. Arman can you explain all this? (Tunanganmu?! tuan Arman apakah kamu bisa menjelaskan ini semua?)” kedua alis Nicholas hampir bertaut saat mendengar pengakuan Raka. Dia menatap tajam ke arah Arman yang tampak salah tingkah. Arman benar-benar tidak berani menatap Nicholas saat itu, tapi mengingat keadaannya yang sudah sangat terjepit dia pun mulai berbicara.
“that.... the engagement.... I apologize to you Mr. Nicholas, I also just found out that my daughter was engaged without my consent (itu.... pertunangan itu.... saya minta maaf pada anda tuan Nicholas, saya juga baru mengetahui jika putri saya sudah bertunangan tanpa persetujuan saya)” Arman gugup menjelaskan pada Nicholas.
“no one will ask for your approval, since you dumped Sabrina since then you have nothing to do with her ( tidak akan ada seorang pun yang akan meminta persetujuanmu, sejak kamu membuang Sabrina sejak itu pula kamu tidak ada hubungan apa pun dengannya)” Ujar Andhini yang sudah sangat gerah dan gusar mendengar ucapan Arman.
Adelia memegang kuat tangan Arman yang tampak akan melawan balik, tidak lupa dia mengingatkan papanya pada rencana yang telah mereka susun.
“maaf tante, tidak ada maksud papa untuk membuang kak Sabrina. Waktu itu saat kami semua akan pindah ke Ausy kehidupan kami sangat sulit sampai papa harus meminjam ke sana kemari, hingga terpaksa haruuuss....(Adelia sejenak menghentikan ucapannya menatap canggung pada Nicholas yang menatap ke arahnya) ja.. ja jadi papa dan kami ke sini datang dengan niat baik untuk memperkenalkan Calon suami pilihan papa untuk kakak” ujar Adelia dengan menahan rasa jijiknya memanggil Sabrina kakak.
“impresif... Anda sangat hebat nona Adelia, jika ada penghargaan untuk perempuan munafik tentunya anda akan meraih penghargaan itu” ujar Raka yang sudah tidak bisa menahan diri lagi. Semua keluarga menatap ke arah Raka dengan pandangan penuh tanya.
“Raka, kenapa kamu berkata seperti itu? mami tidak pernah mengajarkan kamu untuk berkatta seperti itu” Tanya Helena terkejut saat mendengar ucapan putranya. Dia selalu Mengajarkan pada anak laki-lakinya Untuk selalu menghargai dan menghormati perempuan.
“maaf mi, tapi Raka sudah tidak bisa menahan diri lagi. Sebelum Sabrina berangkat kembali ke Surakarta kami bertemu dengan tuan Arman juga nona Adelia, di saat itu mereka dengan penuh kebencian menghina dan merendahkan Sabrina” ujar Raka membongkar semua sifat asli Arman dan Adelia.
Semua terkejut saat mendengar ucapan Raka, menatap nanar ke arah Arman dan Adelia. Mata tajam Nicholas menatap dingin ke arah ayah dan anak itu membuat mereka diam seribu bahasa.
Breng**k Raka membongkar semuanya di depan mafia ini, gi mana caranya aku bisa membawa anak sialan itu? Keluarga breng**k ini sama sekali tidak bisa di tekan gumam Arman sudah kehabisan akal.
Mata cantik Sabrina menatap heran ke arah halaman depan kediaman Adiwijaya yang di penuhi dengan mobil-mobil mewah terparkir rapi. Dia mengerem sepedanya, turun dan menuntun dengan memegangi stang sepedanya memasuki halaman kediaman Adiwijaya.
Perlahan-lahan dia melewati mobil-mobil yang tidak di kenalnya, dia juga merasa heran saat melihat beberapa orang berpakaian hitam anak buah Nicholas berdiri di beberapa mobil hitam. Ribuan pertanyaan melintas dalam benaknya gerangan siapakah yang datang ke rumahnya.
Eliana dan Asmirah tidak sengaja melihat Sabrina di kejauhan yang baru saja pulang.
__ADS_1
“mbak Sabrina” ujar Asmirah membuat semua orang menatap ke arah halaman.
Dalam penglihatan Raka dan Nicholas, Sabrina melangkah Seperti gerakan yang di perlambat dalam film, Nicholas termenung menatap ke arah Sabrina. Wajah cantiknya serta tingkah laku yang lemah lembut menghipnotis Nicholas yang sedari tadi menatap ke arah Sabrina melintas di depan beranda sambil mendorong sepedanya. Hijab yang menghiasi kepala serta pakaian syari yang di kenakan Sabrina menambah nilai kecantikannya di mata Nicholas.
Sabrina sempat memalingkan wajahnya ke arah mereka yang tengah berkumpul.
That girl...isn't she the one I saw at the batik factory earlier. So.... Sabrina... turns out she's prettier than the photo I got ( gadis itu...bukankah dia yang sempat aku lihat di pabrik batik. Jadi... Sabrina... ternyata dia lebih cantik dari foto yang ku dapatkan) gumam Nicholas masih memandangi Sabrina yang sudah berlalu pergi menuju garasi.
Apa yang di lakukan Nicholas tak luput dari penglihatan Raka, saat mereka berdua terfokus menatap ke arah Sabrina. Raka tampak tidak senang dengan cara Nicholas menatap lama Sabrina, dia melihat pandangan Nicholas yang penuh perasaan.
pria itu terus menatap ke arah Sabrina, dan pandangan matanya itu menyiratkan perasaan yang berbeda. Tidak.... Ini tidak bisa di biarkan, gumam Raka dalam hati menatap dengan waspada ke arah Nicholas yang kembali ke sikapnya beberapa waktu lalu.
Sabrina menyimpan sepedanya di dalam garasi rumah kediaman Adiwijaya, dia lalu membuka pintu samping garasi yang langsung menuju dapur. Dia melihat mbok Darmi yang tengah menyiapkan makan siang.
“Assalamualaikum mbok” sapa Sabrina seraya mengulurkan tangan untuk menyalami Mbok Darmi dengan santun.
“waalaikum salam, neng Sabrina” Mbok Darmi tampak terkejut saat melihat Sabrina, dia sempat mendengar Andhini yang menelepon orang di pabrik untuk mencegah Sabrina pulang.
“kenapa mbok? Kok kaget gitu liat Sabrina, seperti liat hantu saja” ujar Sabrina tersenyum.
“eh... ndak... ndak begitu neng, mbok hanya kaget saja” Ujar mbok Darmi melanjutkan pekerjaannya.
Sabrina sempat mengintip ke arah beranda, dia merasa heran gerangan siapa yang datang ke rumah.
“mbok.... sopo sing teka? katon rame banget ing ngarep. (siapa yang datang? kelihatan begitu ramai di depan)”
“itu neng... itu... den Cakra dan sekeluarga datang. Mbok dengar juga kalo besanan kita juga ikut datang,”
__ADS_1
“ keluarga opa Wiguna?” Sabrina terkejut saat mendengar ujaran mbok Darmi.
“ iyo neng, sama itu.... itu...” mbok Darmi terlihat ragu-ragu dan bingung untuk menyampaikan pada sabrina.
“ itu apa mbok?”
“ itu... tadi saat mbok nganterin minuman mbok dengar papanya neng Sabrina juga datang bersama lanang bule. Sejauh yang mbok tahu papa neng Sabrina bilang kalo lanang bule iki calon bojonya neng Sabrina...” belum selesai mbok Darmi menjelaskan Sabrina melangkah cepat menuju beranda rumah. Langkahnya terhenti saat melihat Eliana dan Asmirah melangkah masuk ke dalam rumah.
“mbak...” Asmirah segera menghampiri Sabrina seraya memeluknya. Begitu juga Eliana bergantian menyapa dan memeluk Sabrina, terlihat jelas dari raut wajahnya yang terlihat panik dan cemas.
“Mirah... Eliana, kapan kalian datang? Trus ada apa? Kok kalian terlihat khawatir?” Sabrina memegang wajah Asmirah.
“ itu mbak.... itu....” Asmirah yang akan menjelaskan terhenti saat mereka mendengar suara Arman yang mulai mengeras.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...