
“Sorry gentlemen, you really can't go inside because it's a sterile room (maaf tuan – tuan, anda benar-benar tidak bisa masuk ke dalam karena ini ruangan steril)” ujar petugas itu kembali.
“get rid of all of you!!!! we have to take care of young madam (menyingkir kalian semua !!!! kami harus menjaga nyonya muda)” ujar Jack memaksa masuk.
“must not know, the three of you are not allowed to enter. If you force entry it will endanger the patient who is currently in surgery (tidak boleh tuan, anda bertiga tidak di izin kan untuk masuk. Jika anda memaksa masuk akan membahayakan pasien yang saat ini sedang di operasi)” ujar petugas itu kembali. Mendengar ucapan petugas itu membuat mereka bertiga terdiam sejenak, perlahan mereka mundur dan berdiri sejenak di depan pintu ruang operasi.
Petugas medis memperhatikan penampilan mereka bertiga, dia melihat ke arah Jack dan Yohan yang mengalami cedera dan penampilan mereka terlihat kacau.
“both of you should immediately treat the wounds on your body before it gets worse, do you both feel no pain at all? (sebaiknya anda berdua segera mengobati luka-luka di tubuh anda sebelum bertambah parah, apa anda berdua sama sekali tidak merasa kesakitan?)” tanya petugas heran.
Mendengar ucapan petugas itu membuat Yohan dan Jack melihat tubuh mereka masing-masing, mereka benar – benar lupa dengan cedera dan luka tembak yang masih mengeluarkan darah. Anak buah John ikut memperhatikan keadaan Yohan dan Jack,
“It's true what the nurse said, you should both treat the wounds first. Let me here take care of the madam (benar apa yang di katakan oleh petugas itu, sebaiknya anda berdua mengobati luka – luka terlebih dahulu. Biar saya di sini yang menjaga nyonya)” ujar anak buah John. Yohan dan Jack masih enggan untuk beranjak dari depan ruang operasi, mereka menatap ke arah pintu ruang operasi dengan perasaan tidak tenang.
“if we both go for treatment then madam's safety is reduced, we should just take turns (jika kita berdua pergi melakukan perawatan maka keamanan nyonya berkurang, sebaiknya kita bergantian saja)” ujar Yohan memberi ide.
“Then you go first, your wound looks even worse (kalau begitu kamu saja terlebih dulu, luka mu terlihat lebih parah)”ujar Jack pada Yohan yang tentu tidak setuju, dia tahu jika Jack mengalami cedera yang lebih serius.
“no, no... my wound is only a small wound, you better get treatment first (tidak, tidak... luka ku hanya luka kecil, lebih baik kamu saja yang lebih dulu mendapatkan perawatan)” ujar Yohan.
“Alright, after treating the injury I'll be here soon (baiklah, setelah merawat cedera aku akan segera kemari)” ujar Jack sambil menyerahkan senjata api miliknya ke tangan Yohan. Mata petugas medis itu terbuka lebih lebar saat melihat senjata api yang berpindah tangan, dia terlihat gugup dan berusaha untuk bersikap tenang.
just think positive, maybe they are cops (pikir positif saja, mungkin saja mereka adalah polisi) gumam petugas itu dalam hati. Jack melangkahkan kakinya menuju ruang emergency,
Para perawat terpana saat melihat tubuh Jack yang di penuhi bekas luka, baik bekas luka yang sudah sangat lama bahkan ada yang baru. Mereka menatap heran ke arah Jack yang tampak tenang saat para perawat berusaha mengeluarkan peluru dan menjahit luka lainnya, dia sama sekali tidak terlihat meringis kesakitan. Tubuh Jack seakan sudah sangat terlatih dan tertempa dengan sangat baik, setelah mengobati lukanya perawat juga memberikan obat dan suntikan untuk mengurangi rasa sakit.
Jack bergegas kembali ke ruang tunggu yang berada tepat di depan ruang operasi, Yohan berdiri dari tempat duduknya melangkah menuju ruang perawatan untuk mengobati cedera. Sama seperti halnya dengan Jack, Yohan menjalani pengobatannya setelah itu di bergegas kembali.
Langkahnya sempat terhenti di tengah lorong rumah sakit saat melihat beberapa perawat terlihat sibuk, satu kantong darah di pegang oleh perawat itu yang langsung melangkah masuk ruang operasi. Yohan melihat ke arah temannya yang terlihat sangat cemas, mereka ingin masuk ke dalam tapi langkah mereka terhenti saat teringat dengan ucapan petugas sebelumnya.
__ADS_1
Para dokter segera bertindak mengeluarkan peluru yang bersarang di punggung Sabrina, dokter Maria terus memonitori keadaan janin. Mereka semua terus berupaya untuk menyelamatkan Sabrina, namun tiba – tiba saja..
Ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti ti....
Terdengar bunyi cepat dari suara mesin yang memonitor detak jantung Sabrina, grafik pada layar monitor terlihat bergerak memperlihatkan garis grafik yang terlihat melemah. Dokter Jeremy dan dokter lainnya segera bertindak cepat,
“where is the extra blood (di mana tambahan darahnya)” dokter Jeremy tampak berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
Perawat segera memasang tambahan darah dan memijat kantongnya untuk mengalirkan darah lebih cepat, perawat lainnya mengelap kening dokter Jeremy yang mulai berkeringat.
“200... Clear...”
“Shock”
Pertolongan terus di lakukan dokter untuk menyelamatkan Arman dan Sabrina, mereka terus berupaya tanpa sedikit pun merasa lelah. Para dokter berpacu dengan waktu hingga pada akhirnya sebuah keajaiban terjadi....
****
Tampak seorang pria tampan bersetelan abu - abu tua baru saja keluar dari sebuah gedung, pria itu di dampingi oleh beberapa pria bersetelan hitam lengkap dengan kaca mata hitam yang di pakai oleh masing-masing dari mereka. Wajah tampan itu tersembunyi di balik kaca mata hitam yang di kenakannya, dia lalu menaiki mobil yang pintunya sudah si bukakan oleh supir mobil itu.
Pria tampan itu duduk dengan tenang di bangku belakang penumpang, kepalanya tertunduk menatapi tangan yang memegangi sebuah foto yang di pandang cukup lama oleh pria itu. Senyuman tersungging di bibirnya, Wajahnya kemudian terangkat menatapi pemandangan di balik jendela kaca mobil.
Sementara itu kota Incheon (Korea Selatan)...
Salju turun perlahan menyelimuti negara ginseng, dinginnya udara tidak menyulutkan Sabrina untuk pergi bekerja. Seorang maid perempuan tampak tengah membantu Yohan menyiapkan sarapan pagi,
“waaa... aaa... he he he...waaa”
Terdengar suara imut yang membuat Yohan menoleh ke arah meja makan, menatap sambil tersenyum senang ke arah seorang bayi laki-laki tampan bermata biru tengah duduk tenang di kursi khusus. suara mungil dari bayi imut itu seakan menyapa mengucapkan selamat pagi padanya,
__ADS_1
“good morning too young master Yusuf, you look so excited today (selamat pagi juga untuk tuan muda Yusuf, anda terlihat begitu bersemangat hari ini)” ujar Yohan menghampiri dan menyapa dengan memberikan jari telunjuknya untuk di pegangi oleh tangan mungil bayi laki-laki yang di beri nama Yusuf. Seorang maid yang berada di dapur menatap sambil diam-diam ikut tersenyum melihat apa yang di lakukan oleh Yohan, dia semakin merasa kagum dan jantungnya berdebar – debar semakin cepat.
Tiiit...
Terdengar suara mesin pembuat makanan bayi yang menandakan jika makanan untuk bayi itu sudah matang, Yohan mengenakan sarung tangan anti panas lalu mengambil makanan bayi itu.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
Author lagi halu...
Baby Yusuf
(sumber : google.com.id.theasianparent.com)
__ADS_1